Cinde Laras
"Matanya kok agak juling, Han…? Yang kayak gitu 'kan gak bisa dipercaya…?"
Hanum melirik sedikit, ada betulnya juga yang dibilang Desi. Tapi Hanum cepat-cepat menepis pikiran itu.
'Hhh…, tidak muingkin! Darsono bukan pria seperti itu…. Kata-katanya lemah-lembut, sikapnya santun, dan dia suka bekerja keras. Darsono itu memikat!', batin Hanum terus-menerus memercayai pendapatnya sendiri.
"Terserahlah! Semua kamu sendiri yang menentukan…. Aku 'kan cuma kasih saran…. Pilih sendiri lah!", Desi mengangkat bahunya, lalu pergi.
Hanum tertunduk. Bukan sekali ini ada yang bicara soal Darsono yang baru dikenalnya selama tiga bulan. Waktu yang cukup singkat buat dirinya dan Darsono untuk saling mengenal satu-sama-lain. Senyum Darsono manis sekali…. Bahkan kadang terlalu manis hingga kadang membuat Hanum terpana melihatnya. Senyum itu melumerkan…, melumatkan…. Seperti api yang melelehkan lilin menjadi cairan, sebelum akhirnya mengeras lagi saat dingin.
Tapi rasa tertarik itu sangat sulit dihubungkan dengan akal sehat. "Tak ada logika", begitu yang Vina Panduwinata ucapkan dalam syair lagunya. Aneh sekali. Hanum belum pernah menemui rasa seliar itu sebelumnya. Dan dia tiba-tiba menjadi begitu bergairah tiap kali bertemu, menghitung detik-demi-detik untuk saat yang tiba-tiba begitu dinanti. Dan jam dinding di kamarnya seakan makin melambat. Euphoria ini, bagai menyihir otaknya, membeku…hingga tak bisa berfungsi seperti dulu.
*
"Darsono tidak ada! Dari kemarin dia pergi ke Solo!", teriak Joko menyahut dari dalam kamar kost. Hanum heran, tidak biasanya Darsono pergi tanpa pamit padanya, biar cuma pulang kampung ke Boyolali sekalipun. Tapi ke Solo? Ke rumah siapa dia?
Jari Hanum menekan tombol handphone yang digenggamnya. Nomor Darsono tertera di sana. 'Hhh…, tidak diangkat. Ada apa sebenarnya?', Hanum bertanya-tanya dalam hati. Entah mengapa dia gundah sekali. Sejak pacaran dengan Darsono enam bulan yang lalu, baru kali ini Darsono tidak bisa dihubungi.
"Cuma empat juta saja…. Aku perlu untuk membeli buku yang diperlukan untuk semester ini. Takut keburu kehabisan…. Ini 'kan limited edition…, imported lagi…", bujuk Darsono tiga hari yang lalu. Hanum iba. Dengan orangtua yang cuma pensiunan PNS seperti Bapak Darsono itu, masalah ekonomi memang menjadi kendala yang cukup serius. Maka Hanum mengambil sejumlah uang dari tabungannya untuk Darsono.
"Terima kasih, ya…. Aku akan mengembalikan uang kamu kalau Bapak sudah kirim wesel…", kata Darsono sambil mencium pipinya. Ahh…, sentuhan itu yang membuat Hanum sering mabuk. Lelaki lain belum pernah ada yang sehangat ini. Hangat…. Siapa juga yang bisa tahan dengan pesonanya?
Tapi Darsono sekarang tidak ada! Kemana saja dia?
*
"Han…, kamu gak apa-apa?", tanya Desi khawatir. Baru saja Hanum memberitahunya berita tentang Darsono. Desi sedih, melihat Hanum yang kini lunglai. Seperti bunga yang terlanjur dicabut dari akar, lalu dibiarkan layu dan kering….
"Kenapa dia tega, Des?", Hanum terisak lirih. Desi menghela nafas pelan. Diusapnya rambut Hanum yang bergelombang.
"Aku 'kan sudah pernah bilang…. Kamu sendiri yang tidak mau percaya…. Mau diapakan lagi sekarang? Nasi sudah jadi bubur…. Kamu gak boleh lesu begini…", ujarnya lembut. Tapi tangis lirih Hanum tak juga berhenti.
Desi beranjak dari sisi springbed, tangannya meraih kembali handphone Hanum yang tergeletak di atas meja belajar. Dibacanya sekali lagi pesan yang tertera disana :
"HANUM…. MOHON MAAF…. AKU HARUS MENIKAH DENGAN SUSI. DIA SUDAH HAMIL…."
January 28th, 2010 at 02:34
CINDE : baca alasan2mu mengapa dijuduli KENTAL, aku se777…mmg kita sewajibnya…seharusnya…mengenal jg sisi buruk/negatif, jgn yg baik2 sj, bukan berarti klu ngerti, tau, yg buruk2 utk membohongi/ngapusi org lain, bukan itu tentu sj akan ttp agar kita jg ngerti, bhw tdk semua menungso itu punya hati spt YUDISTIRA, putih, mulus…..yg lbh penting lagi berpikir positif, dibarengi dgn logika tetep jalan…wlu itu jd angel/sulit, terutama klu lagi kejatuhan CINTA…..lg kena panah si cupid+madly in love, sptnya yg keliatan semuanya serba INDAH, MANIS…sampai gak liat lagi ini sak-jan2-e buaya? apa YUDISTIRA ya????? klu gak percaya knp EDDY SILITONGA punya lagu JATUH CINTA SE-jut2- rasanya hahahha…..CINTA oh CINTA…seranganmu lbh hebat dr bom Hiroshima dan Nagasaki….
January 27th, 2010 at 20:39
Kenapa Kental ?
Alasan 1:
Kental curiganya si teman yang bisa mengendus ketidak-beresan Darsono. Dalam budaya Jawa disebut Kala Menga, erat kaitannya dengan primbon tentang ciri fisik manusia, khususnya saat seseorang mengucapkan sesuatu yang buruk tentang orang lain yang sedang dalam taraf menjalin hubungan.
Misal :
- Orang juling dibilang berhati dua.
- Orang berkulit putih/terang gampang kena penyakit.
- Orang keriting punya pikiran mbulet,suka berputar-putar dan licik.
- Orang berhidung besar punya hawa nafsu yang besar juga.
dsb.
Alasan 2:
Kental cinta butanya si Hanum – orang yang barangkali gak pernah diajari tentang bagaimana seorang lelaki bisa berubah jadi buaya. Orang yang dibesarkan di tengah keluarga yang hanya mengajarkan kebaikan, kadang malah tidak “pintar” membaca isi hati orang. Ada baiknya kita mengenalkan rasa curiga. Karena cuma Yudistira yang tidak bisa menipu dan selalu percaya pada ucapan orang lain. Dalam dunia nyata, tak semua orang punya hati setulus Yudistira. Kalaupun ada, barangkali cuma sedikit. Sayangnya, masih banyak saja orang lugu kayak Hanum ini. Berharap terlalu tinggi, karena silap mata. Hingga akhirnya harus menelan pil pahit karena dibohongi oleh orang yang mulai dicintainya sepenuh hati. Catat !, ….SEPENUH HATI. Jadi barangkali akan lebih baik jika setiap perempuan menggunakan hanya 50% saja cintanya pada lelaki yang dipilihnya, sisakan yang 50% lagi untuk dirinya sendiri dan Tuhannya : )
Alasan 3:
Kental akal bulusnya Darsono. Licin sekali. Pandai membawa diri dan ramah adalah sikap yang selalu ditunjukkan setiap buaya. Jadi hati-hati saja kalau mau mengenal pria, yang biasanya suka pake cara SKSD (sok kenal sok dekat) itu gak jauh-jauh amat dari sifat playboy. Apalagi kalo kemana-mana kenalannya wanita. Lampu merah langsung menyala.
January 25th, 2010 at 20:25
Kenapa judulnya kental, Cinde?
Kental sedihnya?