Tiger for a pet! Why not?

Josh Chen – Global Citizen

Membaca berita di beberapa sumber berikut:

Sungguh membuat mulut ini mangap, ndlongop…

Bagaimana tidak…

Pemerintah Indonesia telah merancang rencana untuk menyelamatkan harimau Sumatra dari kepunahan, akan mengijinkan warga sipil memiliki harimau yang lahir dari penangkaran atau juga zoo. Harimau yang rencananya akan diijinkan sebagai binatang peliharaan di rumah ini, akan dibandrol seharga $100.000, cepekceng dollar, alias sekitar satu miliar rupiah…

Luar biasa…luar biasa…

Departemen Kehutanan mengatakan rencana dapat dilaksanakan tahun ini juga, mengesampingkan sorotan pemerhati lingkungan yang memeringatkan bahwa fokus reservasi seharusnya adalah melindungi 200 ekor harimau yang tersisa di alam liar.

"Kami tidak menjual atau menyewakan harimau. Kami hanya memberikan otorisasi orang-orang untuk menjaga mereka," demikian Darori, Kepala Konservasi Departemen Kehutanan.

"Syarat ketat akan diberlakukan, harimau-harimau tsb bukan milik mereka, tetap milik pemerintah” demikian tambahnya.

Masih ditambahkan lagi, Departemen Kehutanan akan menarik “setoran” sebesar $100.000, yang dikatakannya sebagai “jaminan terhadap konservasi”

Hopo tumoooonnn…

Daerah minimum yang diperlukan untuk memelihara sepasang harimau adalah seluas 60m2 namun jika ada luasan 3 kali ukuran lapangan bola, akan lebih baik, demikian ditambahkan lagi oleh para pejabat Departemen Kehutanan.

Kesehatan harimau-harimau itu akan dipantau oleh para ahli dari pemerintah, dan hukuman berat akan diterapkan jika ditemukan penganiayaan.

Pejabat kementerian yang lain, Didi Wuryanto, menepis kekuatiran bahwa dengan diterapkannya ini akan menyebabkan kepunahan harimau yang masih di alam lebih cepat karena permintaan tinggi untuk hewan peliharaan.

Perburuan dan penangkapan harimau di alam liar akan dengan gampang diketahui oleh aparat terkait dan juga harimau tangkapan dari alam bebas akan susah menyesuaikan diri di lingkungan barunya. Biasanya mereka stress, menolak makan dan kemudian mati, demikian Didi Wuryanto menegaskan.

Ada sekitar 30 ekor harimau yang lahir di penangkaran, dan masih menurut Wuryanto, "Ide ini menjual harimau kepada publik muncul setelah beberapa usulan pengusaha kaya membeli mereka".

"Mereka tidak hanya ingin kuda sendiri. Mereka ingin prestise, dan harimau menjadi salah satu pilihan. Tapi kita tidak untuk uang memutuskan ini semua. Kami ingin menyelamatkan harimau”

Wuiiiihh…betapa mulia hati para pejabat Departemen Kehutanan itu!!

Departemen Kehutanan sejak jaman jebot, menebang hutan bersama dan berkolusi dengan mafia kayu, mengepras lebih dari 60 juta hektar hutan tropis asli Indonesia, rupanya masih saja kurang. Setelah hutannya, sekarang harimaunya. Yakinlah, jika di tengah hutan itu ditemukan Snow White & 7 Dwarfs, itupun akan dilego mereka, lengkap dan termasuk satu paket dengan si Nenek Sihir yang senang ngomong sama cermin itu!!

Speechless…

Tidak malah mengurus CAFTA supaya siap, ini yang diurus yang tidak-tidak saja, malah jualan macan. Jangan remehkan orang kaya di Indonesia, harga segitu ($100.000) kecil!! Hanya sekedar uang receh itu harga semiliar untuk sepasang harimau.

Jelas, gamblang dan pasti, akan jadi lahan bisnis yang menggiurkan, mari kita lihat…

Petshop akan makin terdiversifikasi, bukan hanya jualan makanan untuk anjing dan kucing, akan jual makanan macan berbentuk pellet yang ukurannya mungkin sebesar piring makan kita! Akan dijual juga di petshop rantai macan yang besarnya mungkin seukuran rantai jangkar kapal.

Salon memandikan binatang peliharaan harus diperluas, karena nantinya harus memandikan macan. Ini berarti termasuk shampoo, bedak, sabun, juga harus tersedia. Produsen pet personal care makin laris manis.

Semua gunting kuku untuk pet harus didesain ulang, karena yang digunting kuku macan.

Cambuk bukan hanya untuk sadomachosist di sex shop, tapi pembuat cambuk akan makin tajir karena petshop juga akan kulakan cambuk. Buat pawang macan melatih peliharaan-peliharaan itu.

Akan ada jam-jam khusus sehari 2x pagi dan sore untuk bawa macan peliharaan jalan keliling kompleks perumahan, untuk kencing dan berak. Akan dipasang jam-macan (bukan jam malam) di seluruh kompleks perumahan elite.

Biasa tanda: “Harap pelan banyak anak-anak”, ini akan menjadi “Pastikan anak anda di rumah jam 07:00 – 08:00 dan 17:00 – 18:00. Jika anak anda di luar rumah dan dibrakot macan pada jam-jam tsb, pemilik macan tidak bertanggungjawab”. “Pastikan kirik dan kucing anda di dalam kandang masing-masing, jika sampai menjadi snack para macan, pemilik macan tak bertanggungjawab”.  Silakan tambahi sendiri pengumumannya.

Di kompleks-kompleks perumahan yang memelihara macan, dijamin maling-free, rampok-free. Lha siapa yang berani coba?

Mobil-mobil petshop harus didesain ulang, investasi ulang. Biasa Suzuki Carry atau Daihatsu Gran Max cukup, ini minimal harus L-300 fully modified untuk mengangkut macan dari satu tempat ke tempat lain.

Akan terbentuk asosiasi, atau organisasi atau perkumpulan para pemelihara macan. Dan dalam waktu-waktu tertentu akan diadakan lomba macan. Jangan heran di penghujung tahun 2010 di mall-mall akan terlihat kerangkeng-kerangkeng di pelataran parkir, itu untuk lomba macan. Akan ada macan lompat galah, off-leash, macan guling-guling, macan lenggak-lenggok, macan kemayu, macan six-pack, bila perlu macan engklek.

Premi asuransi akan naik secara signifikan terutama untuk profesi pelatih atau pawang macan.

Bank-bank akan meluncurkan produk baru, yaitu KPH, Kredit Pemilikan Harimau atau KPM, Kredit Pemilikan Macan. Dengan bunga menarik, angsuran akan disesuaikan dengan life-span macan (berapa tahun ya?). Surveyor atau yang melakukan appraisal harus diasuransikan full-coverage, termasuk pengaturan ahli waris ke anak dan spouse (istri/suami).

Karantina di seluruh dunia harus membuat kriteria dan peraturan baru untuk macan peliharaan ini. Semisal pejabat, duta besar yang memiliki macan, ditugaskan ke luar negeri, tentu saja macan peliharaan yang membanggakan itu akan dibawa serta. Peraturan internasional jelas, bahwa binatang hidup yang masuk ke satu negara harus dikarantina dan diperiksa sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku di negara itu.

Indonesia tidak akan takut lagi menghadapi CAFTA, penangkaran, pusat kawin-biak harimau akan menghasilkan tiger-cubs unggulan, yang siap export ke China dan negara ASEAN yang khusus akan menyembelih si loreng ini untuk keperluan pengobatan tradisional. Konon dipercaya seluruh bagian tubuh si loreng bermanfaat untuk bahan jamu tradisional resep ciamik warisan dari jaman para kaisar Tiongkok kuno.

Para dukun Ki Gendeng Bangeti, Mama Loreng (pas banget), Ki Koplak Mbuhapalagi, akan gembira ria, karena stock untuk jimat pasien-pasien mereka akan selalu tersedia. Kumis harimau dan kulit dahi harimau yang dipercaya dapat meningkatkan wibawa dan kegarangan yang memegang akan selalu ada. Potongan “anu” macan, cuilan pelir macan, dsb tak akan putus stock. Mencari bahan baku jimat tak perlu sembunyi-sembunyi berbisik-bisik lagi. Akan ada pemasok yang siap dan resmi.

Akan berdiri pusat sertifikasi macan-macan ini. Baik untuk tiger-cubs for export, ataupun bagian-bagian macan tadi. Sustainability akan dikedepankan dan diikuti dengan ketat. Akan ada seminar atau konferensi internasional tiap tahun untuk membahas sertifikasi atau sustainability permacanan internasional.

Industri pengolahan makanan alternatif akan berkembang subur. Terobosan kuliner baru akan marak. Macan goreng, steak macan, macan masak kecap, macan asam manis, abon macan, sate macan, sosis macan, you name it! Sebagai informasi, bau kencing macan menurut para ahli baunya persis popcorn butter yang baru matang dan masih hangat (serius ini). Jika tidak percaya, tunggulah nanti macan peliharaan anda kencing dan ciumlah sendiri.

Industri baru akan banyak muncul. Dompet kulit macan, tas kulit macan, ikat pinggang kulit macan, jam tangan dengan kulit macan, dan yang premium adalah tas LV dari kulit “anu” macan.

Harus diakui, implikasi ekonomi dan efek berantai yang akan ditimbulkan dengan kebijakan baru ini bakalan luar biasa. Ekonomi akan bergerak, berputar dengan paradigma-paradigma baru. Nama Indonesia akan dengan segera melambung-melejit-melesat di dunia internasional atas kiprah dan kepeloporannya ini, sebagai satu-satunya negara di muka bumi yang mengijinkan kepemilikan harimau sebagai binatang peliharaan secara resmi. Bila perlu diternakkan atau di-GMO-kan sekalian (Genetically Modified Organism).

Sungguh hebat ide terobosan Departemen Kehutanan ini!! Di tengah krisis finansial mendera dunia, ternyata Departement Kehutanan memiliki ide brilian ini. Sekali menggebrak, langsung menawarkan multiple-effect solutions!! Masalah duit semiliar untuk sepasang macan itu masuk ke kantong siapa, ya entahlah itu. Nanti ada makelar macan, ya tidak tahu juga lah itu.

Dan yang jelas Departemen Kehutanan akan bebas korupsi. KPK tidak perlu capek bekerja mencari bukti, merekam pembicaraan orang dsb. Soalnya yang mulai bernyanyi si A, si B korupsi, dijamin akan jadi penghuni perut macan.

Departemen Kehutanan Republik Indonesia memang patoet dipudjiken…lebih dipudjiken lagi jika DPR meloloskan aturan ini…

 

 

Foto 1 & 2: AFP, BBC
Foto 3-5: Liger di Denpasar, Bali (Liger = Lion tiGer)
(thanks to Sop, inspired me tengah malam dengan artikel dari salah satu sumber di atas)

About J C

I'm just another ordinary writer. Seorang penulis lepas dengan ketertarikan bidang: budaya, diversity, fotografi, ekonomi dan politik.

Arsip Artikel Website

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *