A Series of Unfortunate Events

Sasayu – Den Haag

 

A Series of Unfortunate Events: Buang Sial di Negeri Angin

Halo Baltyrans di manapun anda berada…

Kali ini cerita dari saya agak berbeda dari cerita2 sebelumnya yang diracik di dapur. Ide kisah kali ini muncul karena insiden yang terjadi minggu lalu yaitu kecolongan sepeda untuk kedua kalinya, insiden yang amat sering terjadi di Belanda, heran juga yaaa, dengan jumlah sepeda lebih banyak dari jumlah penduduk, angka statistic pencurian sepeda mencapai 900.000/tahun.

Pembaca mungkin pernah mendengar tentang novel fiksi anak2 dengan judul yang sama “ A Series of Unfortunate Events” yang salah satu serinya diangkat ke layar lebar “Lemony Snicket’s A Series of Unfortunate Events”. Kisah ini menceritakan kejadian buruk beruntun yang menimpa tiga bersaudara setelah orang tua mereka meninggal yang disebabkan oleh paman mereka yang ingin mengambil harta warisan peninggalan.

Somehow, saya merasa memiliki kisah yang hampir mirip mengenai kejadian buruk beruntun selama saya tinggal di Den Haag….mostly tentang kehilangan barang. Hal ini juga disebabkan karena saya orangnya gubrakan en gegeran, yang sayangnya sudah mendarah daging diturunkan dari gen orang tua…hehehe.

Dicopet
Saya datang ke Belanda dengan harapan menemukan kota yang lebih aman, angka kriminalitas lebih kecil….ternyataaaa…sami mawon…podo waeee. Pencopetan terjadi di supermarket, ketika saya sedang mengantri di kasir. Dompet saya masukkan ke tas pinggang. Bodohnya, saya lupa meninggalkan uang 300 euro di rumah, karena berencana menukar uang besar dengan teman saya (pada waktu ini terjadi, belum punya bank account).

Setelah membayar uang di kasir yang ternyata cuma 5 euro, saya berjalan pulang ke rumah. Baru nyadar deh di rumah… dompetnya udah ga adaaaa!! Huksss…duit makan satu bulan melayang begitu saja….

Dirampok
Suatu hari minggu, saya bersama teman2 saya berangkat ke gereja. Gereja yang dituju berganti2 tempat setiap minggunya. Ternyata hari itu kita salah tempat karena salah jadwal. Pulang ke flat….liat pintu…hmm…ada yang salah nih…kok pintunya kebuka?? Masuk ke flat, kenapa BH dan CD bertebaran…kayak habis adegan silat. Pertama yang dilihat adalah laptop ga ada…mateeeeeee!!

Baru 2 minggu lalu dicopet, sekarang uda kerampokan. Gila apa?! Masa nyampe di Belanda 2 bulan ada kejadian2 kaya gini. Setelah di daftar barang2 yang hilang…sepertinya yang merampok sesama student. Masa kamus, weker, calculator dan charger amblas juga. Untungnya kali ini di cover sama asuransi, walopun ga fully covered…better than nothing lah. Menyesalkan sekali karena student apartment yang seharusnya aman, ternyata ga ada CCTVnya. Bule2 ternyata bisa gaptek…hahahaha.

Pencurian sepeda
Akhirnya beli sepeda, karena transport di sini cukup menguras kantong. Hitung2 sekalian olahraga. Belilah sepeda lipat, karena waktu itu ga berani naik sepeda besar, manalagi di Jakarta naik sepeda hanya sebatas keliling kompleks dengan ditemani pembantu karena ortu takut dibacok, diculik, dipalak…bla…bla…bla…

Baru juga si sepeda berumur sebulan, amblas juga diambil orang beserta kuncinya…cape dehh. Heran juga, pas sepedanya hilang juga di hari Minggu…wondering apa ya maksud Tuhan..hehe. Nah, untuk insiden terakhir, saya punya dua asumsi mengenai raibnya si kecil (sepeda lipat lagi), karena saya parkir di depan apartemen sahabat saya yang di pinggir danau.

Mungkin ga yaa, si kecil ketiup angin terus nyemplung gitu ke danau? Terlintas ide untuk menyelam ke danau itu untuk mengecek apakah bangkai si kecil ada di dasar danau (ide gila untuk menghibur diri ga diambil orang…..hahahaha)

Stranded in Airport
Saya diberi jatah pulang ke Tanah Air dua tahun sekali. Namanya baru menclok di Eropa, sayang donk kalo summer pertama dihabiskan di Tanah Air…mending muter2 keliling Eropa. Lewat winter kedua…udah mulai pengen pulang…akhirnya pesen tiket ke Indonesia. Cari2 travel agent yang menawarkan diskon. Untungnya ada sepupu yang kerja di travel agent dan dia menawarkan diskon 20% kalau membeli lewat dia.

Kesempatan tidak disia2kan. Saya bersama teman2 menggunakan jasanya untuk memesan tiket. Hari yang ditunggu2 pun tiba…”Indonesiaaa, here I come”. Sampai di check-in desk, ternyata nama saya ga kedaftar aja….OMG!!! (kenapa sih selalu gw yang kenaaa??!!!) Usut punya usut, ada pihak ketiga yang menghapus nama saya.

Balik deh ke Den Haag….Panik and marah, saya hubungi sepupu, untungnya dia bisa bergerak cepat, dan langsung memesan tiket baru tanpa harus menambah biaya. Dua hari kemudian, saya kembali ke bandara Schipol, sambil berdoa, ”Tuhan, pulangkanlah anakmu ini ke pelukan ibunya”.

Ternyata Tuhan berkehendak lain, sudah masuk pesawat, disuruh turun lagi dengan alasan pemeriksaan mesin jadi keberangkatan ditunda dua jam kemudian. Ternyata pengecekan mesin memakan waktu lebih lama, akhirnya hari itu penerbangan dibatalkan……halaaahhhhh…susah amat sih mau pulang ke Indo.

Ambil positifnya, sebagai kompensasi, penumpang diberi penginapan gratis di hotel bintang lima….lumayaaannnn. Tapi untung pesawat tidak jadi terbang, karena ternyata tangki avturnya bocorrr…ngeriiii…kalau sampe nyemplung ke laut (amit2). FYI, sampai saat ini tiket pesawat saya dan teman-teman belum dibayar ke sepupu. Sungguh heran, malah kita yang mengejar-ngejar untuk membayar.

Caught in the fire
Merupakan hal biasa bagi student perantauan bekerja sambilan untuk menambah uang saku. Dua tahun terakhir ini, saya bekerja di sebuah restoran Indonesia di Den Haag dua hari dalam seminggu, lumayan sambil menambah pundi-pundi euro, bisa sambil makan siang gratis :P. Nah, biasanya si Oom (panggilan buat si empunya resto) sore-sore mengantar anak bungsunya ke pulang ke rumah. Jam-jam segitu, saya ditinggal sendiri deh di resto. Tidak masalah sih, karena tidak terlalu banyak pengunjung, dan biasanya saya menghabiskan waktu bersih-bersih di dapur.

Nah, hari itu ternyata cukup banyak pelanggan yang memesan ‘take away’, karena ditinggal sendiri, jadinya terpecah antara masalah dapur dan melayani pembeli. Pas lagi bakar sate, datanglah pelanggan, satenya ditinggal sebentar, dan udah di set ke 1 (pake grill listrik).

Nahhhhh ini diaaaa bagian serunya, sambil ngutak-ngatik mesin kasir, TIBA-TIBA! Seorang wanita Belanda berteriak-teriak,”Mevrouw, jouw keuken is verbrandt!!”.

Muak jangggggg!!! Jantung rasanya ser2an…naik-turun, manalagi si Oom belum balik pula. Sangking paniknya, saya malah balik ke dapur, dan ketika saya buka pintu dapur….OMG DRAGON!! Apinya udah ke atap-atap, en saya malah berusaha mematikan apinya, saat itulah seluruh atap roboh di depan muka saya….OKEEHH, it’s time for me to run…ngaburrrrrrr!!!

Kurang dari 5 menit, polisi, pemadam kebakaran, ambulance, sudah berbaris di jalan. Ooo Tuhan, terimakasih masih diberi kesempatan hidup….Telepon Mama, malah dimarahin,”Bocah gendeng, malah ngobong omah wong ki kepiye?”

Hadohhhh, cape deh, anak perempuan satu-satunya nyaris masuk headline koran pagi karena ketimpa pavlon, malah dituduh sebagai arsonis. Herannya, saya masih dipekerjakan di restoran itu. Logikanya sih, si Oom malah untung, karena berencana renovasi, malah diganti asuransi….hahahaha. Sisi baiknya, sekarang saya tidak perlu lagi mencuci piring, karena dapurnya fully make over, jadi sudah modern…hehehehe.

Saya tidak bermaksud meratapi hidup dengan menceritakan kisah-kisah di atas. Malahan saya belajar untuk lebih mensyukuri hidup dengan kejadian-kejadian aneh bin ajaib yang mampir selama saya menimba ilmu. Lagipula, banyak orang yang makan asam garam kehidupan lebih dari saya.

From a little girl who used to live in her own happy world, saya yang dulu tidak empati dan tidak sensitive dengan kesusahan hidup orang lain, sekarang memiliki perspektif hidup yang lebih baik.

Ada satu lagu dengan judul “Before The Morning” dinyanyikan oleh Josh Wilson yang cocok dengan kisah kali ini. (thanks to Ricky for sharing this song). Ini sebagian liriknya:

Do you wonder why you have to
Feel the things that hurt you
If there’s a God who loves you where is He now

Maybe there are things you can’t see
And all those things are happening
To bring a better ending

Someday somehow you’ll see you’ll see

Would you dare would you dare to believe
That you still have a reason to sing
Cause the pain that you’ve been feeling
It can’t compare to the joy that’s coming
So hold on you gotta wait for the light
Press on and just fight the good fight
Cause the pain that you’ve been feeling
It’s just the dark before the morning

Keep thriving :D

http://en.wikipedia.org/wiki/Lemony_Snicket’s_A_Series_of_Unfortunate_Events

http://www.aero.lr.tudelft.nl/~bvo/fiets/nlbybike.htm

http://www.onlylyrics.com/hits.php?grid=11&id=1038814

 

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.