Perkenalkan, Buru Hotong!!

Osa Kurniawan Ilham

Masih ingat salah satu adegan di suatu Debat Capres saat kampanye Pilpres beberapa bulan yang lalu ? Pada saat itu Pak JK menyindir pemakaian jingle iklan Indomie dalam kampanye SBY-Boediono. Kata dia, jika masyarakat banyak memakan mie instan, import gandum akan semakin meningkat dan tak mensejahterakan petani. Untuk sindiran yang satu ini, SBY hanya bilang, “Mungkin Pak JK hanya makan mie instan yang full gandum. Kalau mie yang saya makan campuran gandum, sagu, jagung, jadi petani sagu juga meningkat,” cetus SBY yang membuat derai tawa penonton pecah.

Terus terang sampai sekarang saya masih bertanya-tanya apakah jawaban Pak SBY itu benar-benar kenyataan ataukah hanya usaha bela diri. Karena setelah saya amati detail komposisi mie instan dari merek-merek ada, yang ada hanyalah gandum. Tidak ada campuran sagu atau jagung. Atau memang saya saja yang kurang gaul ? Jadi nggak tahu kalau di pasaran sudah ada mie instan dari sagu atau jagung ?!

Menurut catatan Majalah Gatra edisi 9 September 2009, untuk bahan baku roti dan mie instan, kita harus kehilangan uang sebesar Rp. 22,5 triliun per tahunnya untuk mengimpor gandum sebanyak 4.661.358,85 Ton. Nah, melalui tulisan ini saya mau mempromosikan bahwa sebenarnya kita diberi Tuhan produk pangan lokal yang bisa dipakai untuk mengurangi ketergantungan akan gandum impor. Mungkin Anda belum kenal (wajar, saya saja juga baru tahu kok he..he..), namanya adalah BURU HOTONG, atau Setaria Italica (L) Beauv.

Tanaman Buru Hotong adalah tumbuhan pangan yang ditanam, dibudidayakan  dan dimanfaatkan oleh masyarakat Pulau Buru, Maluku. Tanaman padi ini lebih mirip alang-alang, dalam bentuk rumpun dengan ketinggian 60 – 150 cm, bisa tumbuh di dataran rendah ataupun dataran tinggi.

Sebagai tanaman semusim, Buru Hotong bisa dipanen 75 – 90 hari setelah ditanam, tergantung jenis tanah dan lingkungan tanamnya. Tidak memerlukan penanganan khusus sebagaimana padi, sehingga bisa ditanam di lahan kering, lahan tadah hujan atau pun lahan tandus, seperti daerah di NTT misalnya. Memang untuk jenis-jenis tanah tertentu, seperti misalnya tanah berlempung tinggi, pengolahan tanah mutlak diperlukan sebelum penanaman. Tapi prinsipnya tanaman Buru Hotong ini relatif tidak memerlukan banyak air, sehingga drainase air mutlak diperlukan supaya tidak terlalu banyak terendam air.

Proses pengolahan biji Buru Hotong (lihat foto di samping) tidaklah berbeda dengan padi, Cuma untuk pengupasan kulitnya tidak dapat menggunakan alat yang biasa dipakai untuk padi karena bijinya lebih kecil dan kulitnya lebih tipis dari padi.

Mengenai kandungan gizinya, untuk karbohidrat sama dengan beras, proteinnya lebih tinggi daripada beras, sorgum maupun gandum. Mengenai kandungan lemak, setara dengan sorgum tapi lebih tinggi daripada beras dan gandum. Biji Buru Hotong juga bisa disimpan sebagaimana beras karena kadar airnya yang mencapai 9%. Kadar airnya akan turun menjadi 6% kalau berbentuk tepung. Mengenai tingkat kepulenannya, Buru Hotong termasuk dalam tingkat kepulenan sedang. Biji Hotong juga mengandung zat antioksidan yaitu Tanin dan Vitamin E.

Tulisan di atas hanya bicara mengenai spesifikasi tanaman anugerah Tuhan ini. Kabar gembiranya, tanaman ini ternyata juga bernilai ekonomis tinggi. Berdasarkan penelitian Pak Sam Herodian dari IPB, tepung Hotong ternyata bisa dikembangkan menjadi mie instan, cookies dan bubur hotong.

Untuk pembuatan cookies hotong, tepung hotong masih harus dicampur dengan terigu dan pati sagu. Hasilnya akan menghasilkan cookies berkadar lemak tinggi, relatif renyah dan penampangnya memiliki tekstur berongga jika dipatahkan.

Untuk pembuatan mie instan (lihat gambar), tepung hotong juga masih harus dicampur dengan tepung terigu dan air dengan komposisi tertentu. Pencampuran tepung hotong dengan tepung terigu diperlukan karena hotong memiliki kadar gluten yang sangat rendah sehingga tidak dapat membentuk untaian mie yang elastis.

Kalau dibuat untuk menjadi bubur hotong, tepung hotong cukup dicampur dengan pati sagu.

Kalau pemerintah dan kita semua serius untuk keluar dari jebakan pangan, sekaranglah waktunya untuk melakukan promosi besar-besaran untuk memasyarakatkan budi daya buru hotong, termasuk untuk mengolahnya sebagai produk bernilai tambah seperti mie instan, cookies dan bubur instan. Tentu saja penelitian dan pengembangan mutlak diperlukan untuk bisa dikembangkan di daerah lain selain Pulau Buru.

Nah, dengan jalan ini ucapan SBY tentang mie instan non gandum bisa menjadi kenyataan, tidak lagi sekedar bela diri di ajang debat he..he..

Sumber Pustaka:

Foto dan segala informasi mengenai Buru Hotong di atas bersumber pada makalah berjudul “Pengembangan Buru Hotong (Setarica Italica (L) Beauv) Sebagai Sumber Pangan Pokok Alternatif”, tulisan Sam Herodian, Dekan Fakultas Teknologi Pertanian IPB.

Balikpapan, 25 Nov 2009

23 Comments to "Perkenalkan, Buru Hotong!!"

  1. fony  24 March, 2012 at 14:01

    tanaman itu adanya di desa TANIMBAR KEI, KEC KEI KECIL, MALUKU TENGGARA

  2. norris  1 December, 2011 at 00:25

    tanaman itu bukan di semua pula buru maluku ada … hanya di sebuah desa terpencil yaitu desa tanimbar kei .. kalau bisa di tambah desa yang bersangkutan

  3. Michael  17 March, 2011 at 18:45

    Dimana saya dapat membeli hotong atau tepung hotong

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.