Catrine Mok – Bangka
Kadang hidup memang sulit dimengerti….
Kadang nasib seperti mempermainkan kita ….
Suka atau tidak, di sinilah kini aku berada…
Seorang wanita, siapapun dia, pastilah berharap hadirnya buah hati dalam hidupnya. Hanya saja seringkali kehadirannya tidak kita ketahui kapan dan bagaimana prosesnya.
4 tahun sudah aku menjalani kehidupan rumah tanggaku. Manis, pahit, getir, tangis dan tawa silih berganti menemani hari-hari kami selama ini. Jatuh bangun dalam pencobaan demi pencobaan, aku dan suami memutuskan untuk tetap bertahan. Tidak boleh ada kata menyerah. Itu yang selalu kutanamkan dalam diri suamiku. Aku percaya harapan selalu ada selama kami mau berusaha. Doa adalah kekuatanku sampai saat ini.
Tak terkecuali saat aku harus merelakan dokter mengangkat rahimku satu tahun yang lalu, tepatnya 5 January 2009. Saat itu benar-benar berat kurasakan. Tak pernah terpikirkan aku akan kehilangan semua harapanku untuk memiliki seorang anak. Membayangkannya saja tak pernah.
Hampir 3 jam operasi berlangsung ketika dokter menyodorkan pada suamiku surat persetujuan pengangkatan rahimku. Dokter telah berusaha sebisa mungkin mempertahankan rahimku, tapi kondisinya sudah tidak memungkinkan lagi. Adenomiosis dirahimku telah melekat. Jika tetap ngotot untuk dipertahankan, malahan bisa memperparah kondisiku, itu yang disampaikan dokter pada suamiku.
Dari dokter yang menanganiku itu juga, aku tau suamiku telah memilih yang terbaik bagiku. Suamiku rela membuang keinginannya memiliki anak kandung demi melihatku sehat, pulih seperti sediakala.
Terima kasihku yang tak terhingga untuk kesungguhan dan ketulusan seorang suami seperti dia. Dengan besar hati ia menerima keadaanku apa adanya. Mencintaiku dan tidak berubah sedikitpun. Dukungan dan semangat yang kurasakan itulah yang membuatku dapat terus bertahan sampai saat ini. Aku tau ini baru awalnya. Jalan kami masih sangat sangat panjang. Kesungguhan dan ketulusan itu akan terus diuji. Dan itu tak akan pernah berakhir dalam hidup kami.
Aku tidak berani menyalahkan Tuhan atas apa yang telah terjadi. Sekalipun sakit, sekalipun berat, sekalipun aku mempertanyakan kenapa aku yang harus mengalami semua ini, aku selalu menemukan satu fakta tak terbantahkan : TUHAN telah terlalu baik bagi hidupku.
Aku kembalikan semuanya pada TUHAN, memohon agar selalu diberi kekuatan dan menyerahkan hidup pernikahanku juga hati suamiku ke dalam tangan-Nya.
Aku hanya manusia biasa, ada banyak ketakutan, kegalauan, kecemasan dlm hatiku. Aku tak bisa selalu memantau ataupun mengontrol suamiku. Aku tak bisa selalu mengikutinya kemana saja hanya untuk menjamin dia tak akan berpaling dariku. Yang bisa aku lakukan hanyalah mempercayakan penjagaan atas perasaan dan hati suamiku kepada TUHAN-ku.
Aku percaya hidup pernikahanku tak akan pernah padam ditangan-NYA.
Saat ini, setahun telah berlalu.
Kesehatanku pulih dengan cepat. Aku kembali bekerja, mengisi kekosongan dalam hatiku dan menjaga agar pikiranku tidak terus mengingat kejadian itu. Jujur, aku tetap merindukan seorang anak dalam hidupku. Aku selalu memikirkan bebagai macam cara untuk mendapatkannya. Mempertimbangkan mengadopsi dari panti asuhan bahkan sampai “indent “dari orang yang kurang mampu.
Namun sekali lagi, jalan TUHAN itu sungguh ajaib bagiku….
Beberapa hari setelah kuutarakan keinginanku pada sepupuku, ia membantuku mencari berbagai kemungkinan itu, sampai akhirnya melalui sepupuku inilah aku dibukakan jalan untuk sampai pada calon “Anakku“.
Jadi akhirnya melalu seorang perantara, seorang spiritualis, aku dipertemukan dengan ibu yang mengandung calon “Anakku “. Begitu melihatnya aku tau ada keputusasaan yang mendalam dalam dirinya. Kebingungan dan ketidakberdayaan. Detik itu juga aku teringat adikku, tak terbayangkan bagaimana perasaanku jika adikku sendiri yang seperti itu.
Masih muda, manis, terpelajar dan bukan gadis nakal. Itu kesimpulan pertamaku.
Aku langsung menyukainya. Belakangan setelah bicara banyak dengannya aku dapat lebih memahami situasinya Dia pun setuju nantinya menyerahkan bayi yang dikandungnya padaku. Artinya kami bersepakat. Thanks, God !
.
Aku tahu tidak mudah baginya memilih mempertahankan kehamilan ini. Sementara semua orang yang dekat dengannya menginginkan agar ia aborsi.
Ya, gadis ini hamil diluar nikah.
Bagiku, bagaimanapun juga, kenyataan itu tidak menyurutkan keinginanku.
Anak ini berhak mendapatkan kesempatan untuk tetap hidup. Tak perduli status ke dua orang yang telah menyebabkannya ada. Anak ini tidak bersalah.
Aku berharap gadis ini, yang telah kuanggap sebagai adikku sendiri, dapat menemukan kebahagiaannya setelah semua ini berakhir. Perjuangannya untuk sampai pada hari ini pun sangat berat. Kehidupan yang dijalaninya selama inipun menyimpan banyak duka. Bebannya memang terlalu berat saat ini.
Tapi aku percaya, suatu hari nanti kebahagiaan akan datang padanya. Dia layak untuk mendapatkan seorang laki-laki yang baik, bertanggungjawab dan mencintainya dengan tulus. Dan bukan laki-laki pengecut yang tega meninggalkannya dalam jurang kepedihan dan sakit hati, Masa depannya masih sangat panjang….
Adikku, …
Hidup memang kadang sulit untuk dimengerti…
Kadang nasib seperti mempermainkan kita ….
Namun,….
Tetaplah tegar, tetaplah bertahan…
Jangan perdulikan orang yang memandangmu negative,
Jangan biarkan masa depanmu ditutup oleh masa lalu…
Sesungguhnya,…aku bangga padamu…
Hati yang terbuka dan luas seperti hatimu telah sangat langka saat ini..
Karna itu …Jangan biarkan duka terus bergelayut di hatimu…
Tegakkan kepalamu, sambut hari esok…
Kami ada disini mendampingimu…
Kami akan selalu ada untukmu…
Kelak ketika “Anak Kita“ lahir,
Kau akan tetap dan selalu menjadi bagian dari hidup kami,
Kapanpun kau mau, kapanpun kau butuh,…
Kami selalu ada untukmu..
Tanpa batas…Tanpa akhir….
(Teriring BIG THANKS buat Ko ed Chandra Kanic, Vawensa Adipratama & ann Aimee, terima kasih telah membawa cahaya dalam hidup kami,… )
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
Pages: [10] 9 8 7 6 5 4 3 2 1 »
February 20th, 2010 at 12:36
Thank you, my Sista.
GBU
January 30th, 2010 at 19:03
@piper : Thanks, Hadir Jauh2 dari Tokyo hanya untuk menyampaikan support pada kami.
YA dan AMIEN. Tuhan itu hanya sejauh doa. Tinggal dlm pengharapan adalah hak istimewa kita selaku anak2-NYA.
Sekali lagi terima kasih…..
GBU
January 29th, 2010 at 23:23
Sekedar ikut rusuh, setuju dengan JL. Of course urutan gemblung pertama ya suhunya alias Buto ijo yang bahkan gendernya apa juga masih diributkan
January 29th, 2010 at 23:21
Catrine, saya jarang nongol di sini, tapi khusus artikel mu kali ini beneran saya salut dengan ketegaran kamu dan suami. Saya banyak belajar dari ceritamu
*** Serahkan segala kekhawatiranmu pada Tuhan. TanganNya tidak kurang panjang untuk menggapaimu dan telingaNya tidak kurang tajam untuk mendengar harapan harapan yang ada di hatimu. Berdoalah selalu. Semua akan indah tepat pada waktuNya. Salam kenal dan salam hangat dari Tokyo!
January 29th, 2010 at 09:32
JC : sopo….sopo..sambil tingak-tinguk mode ON, sing disebut sesepuh GEMBLUNGWATI? yg jelas bukan diriku lo yauw…..
January 29th, 2010 at 09:14
Koq ada bau2 namaku n Nev disebut yah? Wuih, Bumil udah muncul tho? Mau motong siapa Mee? Hihihi
January 29th, 2010 at 09:06
aimee… ak koq disebut2 di barisan penuduh? ak kan ga pernah meragukan tingkat kegemblunganmu mee…
* moga selalu sehat ya
January 29th, 2010 at 09:00
RYc no mama: ora rebutan, klu gt dipisah ant gemblungwan/i gmn? mau diadakan dimana penobatannya? halaaaaaah…..
kowe melu nggelar tikar, emank mau urun pacitane pisan? juadah bakar, karo tempe bacem nyamleng kuwi……..hikkkkkks ngomong dewe kapokmu kapan rak ono barange
tp nek rak ono sing gemblungwan/i, baltyra ora rame