Ambon Manise

Nevergiveupyo – Ambon

Halo sobat Baltyra di mana saja anda berada, 21 Desember 2009 kemarin mestinya adalah moment yang berharga karena tepat pada tanggal itu setahun sebelumnya saya tiba di Kota Ambon. Hanya saja perayaan itu menja karei tidak asyik karena pada saat yang bersamaan saya sedang berada di dusun di pinggiran Jogja. Keberadaan saya di bumi manise ini berlatar belakang panggilan perut..bukan sesuatu yang memang saya putuskan secara sadar (walau memang dari dulu penasaran dengan eksotisme alam Indonesia Timur. Apalagi ketika mengetahui bahwa di Indonesia Timur ini berada di kawasan yang disebut Triangle Coral, yang panorama bawah lautnya kabarnya luar biasa).

Baiklah, agar cerita ini menjadi cerita ini menjadi sedikit “berisi”, maka saya akan mulai dari “how to get there”. Terdapat dua alternatif utama yaitu jalur laut atau jalur udara. Perjalanan jalur laut kabarnya membutuhkan waktu 4 hari perjalanan dari Jakarta menuju Ambon dan sebaliknya. Sementara jika menggunakan jalur udara, saat ini masih tersedia beberapa maskapai nasional yang melayani penerbangan menuju Ambon. Maskapai pelat merah (Garuda Indonesia) sudah dalam tahap rencana untuk membuka rute menuju Ambon (sejak awal 2009 saya telah mendapatkan kabar tentang rencana ini. Setelah tertunda berulang kali, kabar terbaru menyebutkan bahwa mulai bulan Mei 2010 akan dimulai penerbangan, dengan rute Jakarta-Denpasar-Ambon).

Maskapai nasional yang aktif melayani Rute menuju Ambon adalah Lion Air, Batavia Air serta Sriwijaya Air dengan frekuensi penerbangan langsung dari Jakarta sehari dua kali yaitu dilayani oleh Batavia Air (take off 00.45 WIB) serta Lion Air (take off 01.30 WIB). Lama perjalanan adalah ± 3 – 3.5 jam. Dengan perbedaan waktu dari Jakarta yang 2 jam, maka ketika mendarat penumpang (yang berstatus karyawan) bisa langsung ngantor (enak kan??).

Ohya, untuk jadwal penerbangan langsung ini (direct flight), pesawat yang dipergunakan adalah pesawat yang masih baru (Airbus A320 untuk Batavia Air dan Boeing 737-900ER untuk Lion Air), jadi kenyamanan cukup lumayan lah. Jadwal lain adalah untuk pesawat yang transit di Surabaya (Batavia Air, take off dari Jakarta pukul 06.00), serta transit di Makassar (Sriwijaya Air take off 05.45 sementara Lion Air saya tidak tahu.. hehe) Lion Air adalah pesawat paling sore yang mendarat di Ambon yaitu pukul 15.00 WIT (untuk jadwal lebih lengkap bisa di-check di masing-masing website ya…) dan salah satu keunggulan jadwal sore ini adalah bisa dikombinasi dengan pesawat Garuda (di Makassar pindah pesawat).

Harga tiket relatif cukup terjangkau. Pada masa normal harga berkisar di angka Rp.800 – 900 ribu. Sementara harga tiket paling tidak bersahabat adalah masa Hari Lebaran (untuk pemudik dengan tujuan luar Ambon) dan masa Liburan Hari Natal – Tahun Baru (untuk pemudik dengan tujuan ke Ambon). Harga tiket termurah yang pernah saya dapatkan adalah Rp 567rb (off season).

Dari bandara perjalanan menuju kota dapat dilanjutkan dengan menggunakan taksi (resmi atau taksi gelap) dengan biaya antara Rp 120 – 150 ribu dengan waktu tempuh sekitar 1 jam. Alternatif lain yang relatif murah, dan terutama jika terburu-buru harus segera sampai kota dan bawaan tidak banyak, adalah menggunakan jasa penyeberangan speed boat.

Naik ojek selama 15 menit (ongkos Rp15 – 20 ribu), kemudian menyeberang dengan speed selama 10 menit (ongkos carter Rp 50 ribu, jika tidak carter maka tergantung jumlah penumpang – dalam sekali narik, tukang speed minimal harus dapat Rp 50 ribu). Bagi yang tidak sabar ingin menikmati hembusan udara segar khas ambon maka bisa mencarter ojek dari bandara sampai ke kota. Waktu tempuh sesuai pesanan penumpang dengan ongkos antara Rp 60-70 ribu.

Perjalanan menuju kota ini cukup atraktif (berkelok-kelok)  dan menyusuri pantai. Jadi bagi wisatawan bisa dianggap sebagai pemanasan…

Sementara itu untuk angkutan selama di Ambon, jenis angkutan umum dalam kota berupa mobil penumpang kecil (mobil seperti minibus dan kijang). Mayoritas mobil angkutan umum tersebut dilengkapi dengan tatanan musik yang sekelas ajeb-ajeb (dijamin tidak perlu ke diskotik – tapi kalo Shrek pasti bilang : memalukan!! Tidak level lah yau.. hehehe). Ongkos angkutan Rp.2000,00 untuk dalam kota. Taksi hanya terdapat di bandara sehingga jika membutuhkan angkutan yang lebih nyaman maka dipersilakan menyewa mobil dengan tarif sekitar Rp.400 – Rp.600 ribu per hari. Mobil sekelas Avanza dan Innova banyak disediakan. Tidak ada bus kota karena ukuran kota maupun jalan- jalan yang tidak memadai jika dilayani dengan bus.

Nah, lalu kenapa saya musti menunggu setahun untuk sharing? niat awal saya adalah agar saya punya kesempatan untuk mengunjungi lokai-lokasi indah di P. Ambon serta daerah lain di Maluku (padahal cuma ga mau dibilang cengeng karena ceritanya jadi roman-emosional sih hahahaha) Jadi mari kita mulai dari lokasi-lokasi yang sudah saya datangi…

Gambar pertama tentu gambar Kota Ambon, yang ini diambil dari Gunung Nona (ini asli nama bukit disini, dan bukan nama yang saya kreasikan sendiri lho..mohon para jejegers untuk sedikit berbaik sangka…hehehe)

Dari bukit ini pemandangan sungguh indah. Kita bisa melihat betapa “luasnya” kota Ambon. Dan di seberang teluk dapat dilihat bandara Pattimura. Bukit ini menjadi “sentra menara transmitter” milik stasiun TV (baik TVRI maupun TV swasta lokal/nasional), maupun menara transmitter milik operator seluler.

Kota Ambon di waktu malam (dari Monumen Christina M. Tiahahu. Pahlawan Nasional wanita dari Nusalaut, Maluku) selain untuk mendapatkan sudut yang lain dari kota, juga karena kalau malam- malam motret dari Gn. Nona serem juga..hehe

Gedung yang paling terang dan paling tinggi di gambar adalah Gedung Kantor Gubernur Provinsi Maluku. Lokasi Monumen yang terletak di puncak bukit ini sangat indah kala senja. Di dekat monumen ini terletak Gedung DPRD Provinsi Maluku dan rumah dinas Wakil Gubernur. Begitu strategisnya lokasi ini sehingga ketika hari cerah, fotografer amatiran pun bisa menghasilkan gambar yang cukup berwarna seperti berikut :

Pattimura Park (memorial untuk mengenang salah satu pahlawan besar Maluku, Kapitan Pattimura) Memorial Park ini berlokasi tepat di sebelah Lapangan Merdeka yang fenomenal itu (ingat kunjungan Presiden SBY ke Ambon beberapa tahun silam). Taman ini selalu ramai dengan aktifitas kawula muda Ambon. Terdapat lapangan Basket, lapangan voli serta jogging track. Lokasi yang di jantung kota dan dekat dengan kawasan bisnis dan pertokoan Ambon (satu-satunya Mall yang ada di Ambon terletak satu blok dari taman ini) memang menjadikan taman ini destinasi favorit bagi remaja.

Patung Kapitan Pattimura berbahan logam tersebut -tentu saja- merupakan hasil karya seniman di Jawa (dan sempat menimbulkan masalah karena golok yang dipegang Kapitan Pattimura bukan golok khas Maluku yang ujungnya berbentuk persegi, tetapi golok ala Jawa yang berujung runcing). Berhubung masyarakat tidak ada yang bisa bikin gantinya, maka tetap dipasang juga Kapitan Pattimura bergolok Jawa.

Mulai November 2009 ada monumen baru yang terletak di kawasan Lapangan Merdeka ini. Yaitu Monumen Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong). Indonesia merupakan negara ke- yang mendapatkan giliran dipasang Gong. Ohya, sebelum Monumen gong ini dipasang. Sempat terjadi demonstrasi dari beberapa elemen masyarakat yang mempertanyakan mengapa bentuknya gong dan bukan sesuatu yang mencerminkan budaya lokal seperti tifa. Hehe, terasa sungguh lucu karena terkesan mau menang sendiri dan tidak mau tahu sejarah mengapa bentuknya gong. Waktu itu peresmian gong ini dihadiri oleh Presiden SBY serta beberapa meneri dan duta besar negara sahabat. Gong ini cukup atraktif dan menjadi destinasi foto yang favorit di kalangan masyarakat. Lampu gong berubah dari hijau, biru, merah serta putih.

Sementara itu destinasi utama di Ambon adalah pantai. Terdapat beberapa pantai yang berpasir putih dan berombak tenang (kalau ga lagi cuaca buruk..hehehe)

Pantai Natsepa. Pantai rekreasi tujuan utama warga Ambon. Letaknya sekitar 30km dari pusat kota. Pantainya landai dan bersih. Di pinggir pantai banyak warga yang berjualan rujak buah ala Ambon (bumbunya pake kacang tanah sangrai), jagung bakar serta es kelapa muda

Pantai favorit berikutnya adalah pantai Liang (dengan lokasi sedikit lebih jauh, sekitar 40 km dari kota)

Kedua pantai tersebut favorit karena pasirnya putih dan topogtrafi lautnya landai sehingga orang bisa berenang dan bermain-main dengan aman.

Lokasi pantai di Ambon memang sangat banyak, untuk sisi pulau yang menghadap Laut Banda, pantai yang populer diantaranya adalah Santai Beach

Kemudian ada Tanjung Latuhalat

Dan Pintu Kota. Di lokasi ini terdapat dinding batu berlubang yang sangat unik (bayangkan saat senja..kemudian ada perahu nelayan lewat..dengan teknik framing dan pengambilan gambar oleh pakar sekelas mbah Gandalf, Sophie, Oom DJ serta Pam2 pasti hasilnya luar biasa).

Karena pantai-pantai ini menghadap laut lepas, maka bagi para “pemburu senja” lokasi ini menjadi menu wajib (kecuali sedang kurang beruntung, langit berawan tebal)

Spot yang unik lain di pulau ini adalah Batu Layar. Dinamakan demikian karena bentuk batu karang ini jika dari kejauhan terlihat seperti layar perahu. Pantai ini menghadap ke sisi laut Buru, kalau dari bandara ke arah sebelah kiri jadi berlawanan arah dengan kota karena untuk menuju kota arah ke kanan. (mohon dicatat : “burung camar” dalam foto ini aseli efek sensor yang terserang jamur. Maklum kamera pinjaman..waktu pinjem ga nyadar kalau kotor)

Bagi penggemar olahraga snorkeling dan diving, beberapa lokasi yang wajib kunjung adalah : pantai hukurila, morella, batu kuda serta pulau tiga.

Selain lokasi yang memang sudah dikenal sebagai destinasi wisata, Pulau ini masih menyimpan sejuta lokasi potensial seperti : pantai Amahusu.

Atau kampung tenga-tenga (di mana kita bisa saksikan Pulau Haruku di seberang laut). Lokasi ini cukup memadai jika menginginkan foto matahari terbit.

Atau Air Besar (sumber air utama bagi warga kota, yang tentu saja dikelola oleh PDAM)

Kemudian ada juga Air terjun di Pulau Tiga, yang lokasinya ada di luar Pulau Ambon. Jadi harus menyeberang dengan perahu (taman laut di kawasan ini kabarnya bagus juga. Banyak ikan tuna/cakalang. Sementara ini saya masih dalam tahap berencana ke sana)

Kemudian ada Rumah miring di Wayame

Atau berusaha menangkap suasana pedesaan yang khas..

Ada teluk perawan (kami sebut begitu karena kami tidak tahu namanya, lokasinya ada di tengah hutan, jauh dari perkampungan…hehehe, maaf horizonnya agak miring tuh)

Atau Teluk Wakasihu (dekat Batu Layar)

Atau jika sekedar ingin mendapatkan sunset dari dalam kota, bisa menunggu moment indah tersebut dari Pelabuhan Navigasi Silale…

Demikian sekelumit kisah dari Ambon Manise.

Disclaimer : foto-foto di atas semuanya adalah koleksi pribadi dari :

no. : 1,8,9,12,13,17,28 & 29 by edy kristianto no. : 6 & 7 by L.M Sopaheluwakan
no. : 5,21,22 & 27 by doni septadijaya

no. : sisanya by cumin of Saononenian :D

Terimakasih banyak dan diucapkan selamat meninggalkan komentar. Jangan tanya ini mau cerita kota atau mau “pamer” foto-2. Saya sendiri bingung juga..hehehe. ohya, mohon jangan sungkan- sungkan untuk memberikan masukan ya

6 Comments to "Ambon Manise"

  1. Teteh Euis  9 April, 2019 at 21:43

    Terima kasih yaa infonyaa , pengen banget liburan ke ambon….

  2. fuad fida  18 January, 2013 at 21:04

    wahhh kk, thx bgt. penget bgt kesana. hope i’ll be there soon!

  3. hafes  23 October, 2011 at 22:25

    wah bagus sekali, saya sebagai warga ambon sangat bangga, apalagi saya adalah raja desa Larike (batu layar) saya merasa terharu…. terima kasih…

  4. nevergiveupyo  18 March, 2011 at 09:50

    # Ali : maaf baru sempat balas komen anda. kalau anda ke ambon bisa di bulan apa saja. karena kalau anda mau snorkeling masih bisa dilakukan (kalau musim angin timur berarti ke sisi barat pulau pergi snorkelingnya dan sebaliknya). sementara itu untuk urusan hujan..jujur saja sulit di prediksi. belakangan ini masih ada gerimis2 (padahal seharusnya musim kemarau). mari silakan…semoga coretan ini bermanfaat
    # adi : makasih apresiasinya mas. just like they said in sports : better to be in the field..so just been there!
    # any : wah..kenangan yang romantis ya. semoga segera bisa nostalgia ya… masih alami koq..dan tidak banyak perubahan terjadi disana.
    terimakasih apresiasinya ya…

  5. Any Rosita  17 March, 2011 at 14:12

    Aduh Indah Sekali…..saya sudah lupa tahun berapa saya pernah berkunjung ke Pantai Liang pertama kali menginjakkan kaki di Negeri Liang yach langsung ke pantainya itu.kapan lagi yach bisa kesana.??????pasti aku akan injakkan kaki yang keseribu untuk ke pantai Liang yang romantis itu,Semoga!!!!!!!

  6. adi wibowo  17 January, 2011 at 13:52

    pemandangannya bagus bngt……..

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.