Mak Comblang Mulai Beraksi

Alexa – Jakarta
Pulang dari perkawinan Pao-Pao kami (aku, Nay dan Ipop) satu mobil – saat aku bilang mau ke BePe (Blok M Plaza) untuk potong rambut – eh mereka malah ngajak ngupi-ngupi dulu di sana. Dalam perjalanan Nay memuji kegantengan suami Pao…”masa sih?”, tanyaku. Iya lagi – ganteng tuh, Ipop menguatkan. Nay langsung bilang, “Tuh lelaki kali mandang bondonya Pao kali yee?,” langsung mulutnya aku sumpel pakai Calamary Goreng yang kami beli di Gedung Ungu yang terletak di Bunderan Pancoran, “Jagalah Hati –jangan kau kotori”.
Trus kulanjutkan kalau Nina yang jadi MC pernikahan tadi juga masih single, berada pada lingkungan yang sama dengan Pao -mana cantik dan gak kalah tajir dengan Pao. Bukti paling jelas adalah saat aku mau lihat lokasi suatu apartemen eh mereka maksa ikut dan di sana aku cuman lihat-lihat dan ambil brosur doang, Nina langsung beli dua dan Pao beli satu – keduanya langsung bayar gonjreng gak pakai KPA. Tapi walaupun memiliki kondisi yang sama, lelaki memilih mendekati Pao, kutegaskan bahwa apa yang didapat Pao-Pao karena dia adalah orang yang baik, titik.
Sampai di BP kami berjalan menuju café Excelso, ada beberapa pasangan kekasih berjalan merapat dan Nay dengan usil bilang,”Pasti tuh mereka habis ML atawa lagi pingin ML.” Gubraak, aku dan Ipop langsung ngakak ketawa. “Sok tau deh lu, lu khan masih single mana tau lagi,”kata Ipop dan aku berbarengan. “Yah gue dah semateng ini masa gak tau urusan kulit ketemu kulit n daging ketemu daging sih,” kata Nay yang bikin aku dan Ipop tambah ngakak, “Maksud loh, biar single dah icip-icip juga?”, tanya Ipop. Nay menjawab, “ Yah gitu deh, gue masih prewi tapi kalau nyerempet-nyerempet sih jangan ditanya.”
Setelah menghadap cangkir masing-masing pembicaraan makin seru diselingi dengan bunyi beep sms masuk ke HP Ipop – sepertinya dari orang iseng.Lucu-lucu sih jadi tiap kali Ipop membacakan kami pasti ngakak – tiap nomor itu ditelpon Ipop tidak diangkat sehingga akhirnya aku coba menelpon, eh diangkat anak kecil tapi langsung dimatikan abis itu dia telpon ke nomor ku tapi tidak bicara, dasar orang stress. Nay mengeluhkan kelajangannya yang belum berakhir juga, aku dan Ipop mencoba membantu menganalisa. Dari pacar pertama Nay sewaktu di bangku kuliah – Nay memutuskan Zandi karena masa depan belum jelas: Lha iyalah, sama-sama baru selesai kuliah Nay mengharapkan Zandi dah stabil secara financial. Kesimpulan: kesalahan ada pada Nay.
Pacar kedua Mul Keple – teman kuliah juga, pacaran saat dah sama-sama kerja. Disebut Keple karena Mr. Jam Karet tapi di atas kertas masa depan cemerlang (terbukti kemudian). Nay mutusin Keple karena tidak tahan jam karetnya. Kesimpulan: Nay kurang toleran seharusnya Keple masih bisa dicuci otak.
Pacar ketiga- Donny Brownies alias Brondong Manis – Insinyur elektro, 5 tahun lebih muda dari Nay, penghasilan lumayan banget-banget. Diputusin Nay yang sebel karena saat lihat-lihat jam tangan mewah di Mall, Donny nanya, “Mau enggak beliin gue?”. Emang gue tante girang apa?, kata Nay dengan sensi. Kesimpulan: Nay terlalu sensi dan cepat ambil keputusan.
Pacar keempat – Desta si Duda Dodol – duda tiga kali cerai tanpa anak, bisa-bisanya minta “masa percobaan” dengan Nay untuk memastikan bahwa Nay bisa dibuahi. Lha yang sukses cerai tiga kali tanpa anak  dia kok malah mau coba-coba. Kesimpulan: Nay tidak salah.
Nah pacar kelima yang bikin kami kaget. Indra – the famous lawyer yang juga yunior kami di kampus. Sudah beristeri dan beranak dua – “Beneran elo pacaran ama dia?,” perasaan dia alim, kalem dan perkawinannya harmonis deh. Nay menjelaskan semua berawal saat perusahaannya memakai jasa lawfirm tempat Indra bergabung, masalah hukum yang dihadapi termasuk ruwet karena perusahaan ini dibentuk atas desakan Pak Harto pada konglomerat-konglomerat – jadi ada 60 shareholder yang semuanya konglomerat dan pengusaha papan atas. 
Beberapa kali pertemuan panjang akhirnya Indra mengajak untuk naik ke atas (buka kamar) setelah sebelumnya mereka business dinner di resto suatu hotel. Nay yang dah terpesona dengan kepintaran dan ketampanan Indra tidak menolak, pembahasan beberapa dokumen hukum dilanjutkan di sana tapi hanya sebentar karena akhirnya mereka lebih tertarik untuk melakukan hal-hal yang lebih kreatif di kamar itu.
Hubungan bisnis dan percintaan sama gencarnya dan seperti lelaki lain yang berselingkuh, si Indra mengeluhkan isterinya yang dianggap kurang inilah-kurang itulah sampai-sampai dia membahas mengenai “kekejaman” isterinya terhadap anak mereka. Gimana Nay gak mau percaya, saat Indra cerita itu selalu sembari mencucurkan airmata. Untung ada kakak kelas kami Danny Boy yang selalu berhubungan dengan Nay, Danny yang mengenal keluarga Indra mengajak Nay berkenalan dengan isteri Indra.
Setelah kenalan itu, Nay jadi berteman dengan isteri Indra dan terus terang jadi gak yakin dengan cerita Indra karena isterinya itu wanita yang lembut. Akhirnya Nay tak tahan dan ingin membuat pengakuan dosa ke isteri Indra,”Sebenarnya gue….”. Belum lagi Nay menyelesaikan ucapannya, isteri Indra yang feeling so good sudah menukas, ”Gue gak mau dengar….asal elo tau ya bentar lagi suami gue mau gue sale. Kalo lo minat beli aja.” Nay langsung tergugu.
“Coba deh kalian mikir, gue nih kurang apa – tampang dan potongan ada, cari duit jago, masak …hajar bleh (emang masakan Nay uenak tenan), koq lagi-laki barang sebiji aja gak dapet. Gue heran ama perempuan-perempuan macam kalian-dah punya suami baik-baik malah disia-sia gak diurusin,” kata Nay dengan muka prihatin. Aku dan Ipop berpandang, “Nay, sebenarnya gue ama Dudi dah ada rencana mau nyambungin elo ama Boim – ingat enggak kakak kelas kita?,” kataku dan Nay membesarkan matanya terperangah. “Cuman si Boim gak kayak dulu yang tinggi besar – sekarang dia beratnya 130 kg, Boo. Gue ama Dudi dah challenge Boim supaya turunin berat paling enggak lima kg gitu baru kita ketemuin dia ama elo, tapi lo mau enggak ama Duda beranak dua – enak lagi paket hemat (beli satu dapet tiga),” kataku berpromosi.
Nay mesem-mesem gak penting, “Boleh dicoba deh. Gue setuju dia turunin berat badan dulu. Kalo enggak kan serem juga ya Boo, ntar malam pengantin jantung dia jebol – kan gak lucu ya.”
Kami bertiga senyum-senyum terus berhompipah – “Yuk, maree…hidup mak Comblang modern”.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *