Bukan Bupati Biasa

Hariatni Novitasari – Surabaya

Ketika saya sudah berkelana di dunia Morpheus, tiga pesan singkat masuk ke telepon genggamku. Ketika jam 3.30 pagi aku bangun, aku baru membaca tiga pesan singkat itu. Semua memberitahu acara Kick Andy di Metro TV, “Bukan Bupati Biasa”. Tentang tampilnya lima kepala daerah di sana. Ada bupati Lamongan, bupati Jombang, bupati Wakatobi, bupati Sragen dan bupati Gorontalo. Kalaupun aku membaca SMS di malam itu, percuma saja, aku tidak memiliki televisi, jadi tidak bisa menonton acara itu.

Dari lima orang itu, kebetulan, saya pernah bertemu dan mengadakan wawancara dengan ketiga orang bupati itu. Bupati Wakatobi, Hugua, bupati Lamongan, Masfuk dan bupati Sragen, Untung Wiyono.
 
Dengan bupati Lamongan, Masfuk, terakhir bertemu dengan bupati Lamongan Juni tahun lalu. Dari semua jawaban wawancara itu, selain materi utama, saya juga mencatat satu kata mutiara dari Pak Masfuk. Katanya begini, “ketika kamu minder, akan hilang semua potensi yang kamu miliki”. Kita tidak bisa melakukan apa-apa. Semua potensi yang sebenarnya kita miliki akan lenyap. Kata mutiara Pak Masfuk inilah yang aku share ke salah satu teman yang kirim SMS itu.
 
Kata mutiara itu berasal dari pengalaman pribadi Masfuk. Karir Masfuk bukan berasal dari kalangan birokrat, politisi ataupun militer, seperti kebanyakan kepala daerah. Tetapi pengusaha yang merintis usahanya dari bawah. Dari seorang penjaja panci keliling sampai dengan memiliki banyak toko emas dan usaha lainnya. Dia kemudian memimpin Lamongan dengan ala sebuah perusahaan. Hasil model kepemimpinannya ini tidak sia-sia. Dia berhasil mengubah Lamongan.
 
Dulu kala daerah yang sangat tertinggal. Meskipun dekat dengan ibukota Jawa Timur, Surabaya, dan pusat pabrik, Gresik. Joke yang sering dia pakai di banyak seminar dan forum untuk menyebut Lamongan adalah “Lamongan biyen panggonan buang jin” Bagaimana tidak, pejabat yang bermasalah di lingkup pemerintah provinsi Jawa Timur, selalu dibuang ke Lamongan. Ketika menjadi bupati pada 2000, Masfuk perlahan bisa mengubah image ini.
 
Perlahan dia membuat terobosan. Tanjung Kodok yang panas dan gersang, dia sulap menjadi Taman Wisata Bahari Lamongan (WBL) yang terkenal itu. Dengan proyek multiyears bernilai Rp. 30 miliar, sekarang ini per tahunnya, paling tidak WBL bisa memberikan pemasukan ke dalam Pendapatan Asli Daerah (PAD) sekitar Rp. 9 miliar (APBDN 2008. Kalau dihitung secara kasar, dalam waktu kurang lebih empat tahun, sudah bisa menutup biaya pembangunan.
 
Belum lagi pembangunan Lamongan Integrated Shorebased (LIS). Dengan LIS ini, Lamongan bisa menarik kapal-kapal yang berlayar di samudera untuk kulakan BBM ataupun docking kapal di Teluk Lamong. Padahal, secara potensi laut, masih kalah dengan Tuban. Usut punya usut, si investor ini, awalnya menginginkan Tuban untuk menjadi lokasi shore based ini. Sayang seribu sayang, ibu bupati mbulet saja, tidak mau menemui investor. Kesempatan ini, langsung diambil oleh Masfuk. Si investor langsung ditemui di Surabaya. Akhirnya, jadilah LIS itu di Lamongan. Bukan di Tuban.
 
Terobosan lainnya adalah menciptkan BELA (becak Lamongan). Yaitu, becak yang dikemudikan oleh sepeda motor. Penemuan dia ini telah banyak ditiru di daerah lainnya di Indonesia, termasuk Kota Gorontalo. Tidak ketinggalan pengajaran Bahasa Mandarin di sekolah-sekolah, mulai dari tingkat SD sampai dengan SMA. Alasan dia sangat sederhana mengadakan pembelajaran di pendidikan formal ini. Yaitu, anak-anak Lamongan akan memiliki nilai lebih. Saat ini, kemampuan berbahasa Inggris telah dianggap wajar.
 
Selama 10 tahun menjadi bupati, Lamongan memang banyak mengalami kemajuan. Meskipun apa yang dilakukan Masfuk masih dikritik banyak orang. Misalnya dengan adanya ketimpangan Lamongan Utara-Tengah dan Selatan. Daerah selatan dinilai kurang maju daripada dua wilayah lainnya. Tapi sekarang ini, pemda Lamongan sedang menjajagi kerjasama dengan Sorini Agroindustri untuk mengembangkan industri jagung di Ngimbang (Lamongan Selatan). Ketidaksempurnaan memang saja masih ada, tetapi banyak sekali yang telah dilakukan bupati yang sangat ramah dan pintar menirukan logat/dialek berbagai macam bahasa ini.
 
 
 
Orang kedua yang pernah saya wawancarai adalah bupati Wakatobi, Hugua. Hugua adalah orang Wakatobi. Tepatnya Pulau Tomia. Sejak kecil, Hugua diasuh oleh neneknya yang sangat keras dengan pendidikan. Diantara pulau-pulau di Wakatobi, nilai keungggulan Tomia terletak pada kemajuan pendidikannya.
 
Seperti halnya Masfuk, Hugua adalah orang yang sangat terbuka dan mudah sekali diwawancarai. Dipancing saja dengan satu pertanyaan, puluhan jawaban akan keluar dari mulutnya. Betapa bersemangatnya dia memaparkan pembangunan di Wakatobi sebagai daerah baru.
 
Daerah yang terdiri dari 142 pulau mekar dari daerah induk, Kabupaten Buton pada Desember 2003. Akan tetapi, baru menyelenggarakan pemilihan kepala daerah langsung (Pilkada) pada 2006. Jadi Hugua adalah kepala daerah pertama di Wakatobi yang dipilih orang rakyat. Bukan hal yang gampang untuk mengenalkan Wakatobi di penjuru dunia. Bahkan di Indonesia saja, masih sangat sedikit yang mendengar nama Wakatobi. Banyak yang berpikiran daerah itu ada di Jepang. Padahal, daerah ini sangat terkenal dengan pemandangan bawah lautnya. Sebanyak 750 species koral (di dunia ada 850 species koral) adalah di tempat ini.
 
Melihat potensi ini, Hugua kemudian gencar melakukan promosi Wakatobi. Visi dan misi pembangunan dia letakkan pada sektor andalan, wisata, perikanan dan kelautan. Pertanian sama sekali tidak dilirik, karena di Wakatobi lahannya sangat tidak subur karena berasal dari batu kars. Tidak tanggung-tanggung, Hugua menjadikan Nadine sebagai duta wisata Wakatobi. Dia juga menghidupkan kembali festival Kabuenga yang dijadikan sebagai event tahunan. Untuk model pembangunan dan mengatasi banyak persoalan, dia menggunakan model mekanisme kolaborasi stakeholder yang dikembangkan bersama dengan Japan International Cooperatioan Agency (JIC) Capacity Development Project (CD Project). Mudahnya dia menerima inisiatif pihak luar karena dia lama bergerak di Lembaga Swadaya Masyarat (LSM) Sintesa.
 
 
 
Hasil yang bisa kita lihat, adalah telah berhasil dibangunnya bandara Matahora di Pulau Wangi-Wangi. Sekarang ini, pesawat komersil (Express Air) sudah bisa melayani penerbangan ke daerah ini, tiga kali dalam seminggu dari Kendari. Sebelum mendapatkan ijin operasional bandara, penerbangan ke daerah ini dilakukan dengan pesawat carter Susi Air. Pemda harus membayar dan mensubsidi penerbangan ke daerah ini. Usaha ini dilakukan Hugua untuk mempermudah akses ke Wakatobi. Kendala akses ke tempat ini menjadikan orang malas datang. Infrastruktur jalan raya juga telah mulai dibangun dari bandara Matahora ke pusat pemerintahan di Wanci.
 
 
Bertemu pertama kali dengan Untung Wiyono tahun 2006, pada riset kedua saya di daerah ini. Pertama kali saya datang ke Sragen tahun 2004, dan tidak bertemu dengan Untung Wiyono. Saat itu, Sragen tengah gethol mengembangkan one stop service (OSS) perijinan. Reformasi pelayanan dipangkas di daerah ini. Yang susah dibuat mudah. Yang lama dibuat cepat. Sangat bertentangan dengan idiom birokrasi lama, “Kalau bisa diperlambat, mengapa dipercepat?”
 
Tidak berbeda jauh dengan dua bupati lainnya, Untung adalah orang yang sangat bersemangat. Puluhan tahun bergerak di bidang industri minyak dan usaha lainnya, menjadikan Untung ingin kembali ke daerah dan membangun Sragen. Saat itu, Sragen adalah nama daerah yang sama sekali tidak pernah terdengar di kancah domestik Jawa Tengah. Kalah dengan Solo. Sragen adalah daerah perbatasan dengan Ngawi di Jawa Timur.
 
Di awal Untung menjabat sebagai bupati, setiap habis Maghrib, dia menyelenggarakan rapat informal untuk mengoreksi bersama-sama anggaran (APBD) yang telah disahkan oleh DPRD. Setiap malam, Untung “mengerjai” para kepala badan, kepala dinas, dan kepala kantor untuk rapat sampai dengan jam 12 malam. Ini dilakukan untuk mencuci otak para birokrat. Hasilnya, cespleng. Sragen bisa melakukan efisiensi anggaran sampai dengan Rp. 12,2 milyar.
 
Setelah mengadakan reformasi perijinan, banyak keuntungan yang didapat daerah ini. Pertama, jumlah usaha kecil yang melakukan formalisasi usaha meningkat daerah 6.373 (2002) menjadi 8.150 (2005). Kedua, terjadi kenaikan investasi dan perkembangan usaha. Peningkatan investasi skala besar per tahunnya mencapai 14,4 persen, dan pada UMKM 5,7 persen per tahun. Ditambah lagi penyerapan tenaga kerja mencapai 12,5 persen per tahun. Ketiga, adalah kenaikan PDRB yang terutama disokong oleh sektor pertanian, industri, dan perdagangan (hotel dan restoran).
 
Dalam hal sumber daya manusia (SDM), Untung menerapkan pola rekruitmen PNS yang berbeda dari daerah lainnya. Dia meminta keringan pusat (presiden) untuk mengakan rekruitmen sendiri. Yaitu tes kemampuan berbahasa Inggris (tes TOEFL). Bupati sendiri yang menyeleksi orang-orang ini dalah tes wawancra. Orang-orang asli Sragen yang telah sukses di sektor swasta “dibajak” dan diminta kembali ke Sragen, dan diberi gaji sama ketika mereka di swasta. Awalnya mereka dikontrak satu tahun. Lalu, mereka ditawari menjadi PNS.
 
Di tiap satuan kerja perangkat daerah (SKPD), diberikan insentif uang. Biar tidak melakukan korupsi. Setiap SKPD harus memiliki unit usaha yang menguntungkan secara ekonomi. Misalnya saja Kantor Pengelolaan Data Elektronik (KPDE) yang telah mampu menjadi konsultan banyak daerah di Indonesia untuk membuat wide area network (WAN). Bagi instansi yang tidak bisa memiliki usaha, insentif diambilkan dari APBD.
 
 
 
Dari para bupati “nyleneh” ini, ada satu hal yang mereka ugemi bersama, yaitu sedikit nakal. Artinya, tidak terlalu manut dengan aturan-aturan pusat. Tak jarang, aturan-aturan pusat yang banyak dan tumpang tindih itu justru membuat daerah tidak bisa berkreasi.
 
Saya yakin, di Indonesia raya tercinta ini, sebenarnya masih banyak orang-orang yang seperti mereka. Yang dengan segala keterbatasan mereka bisa membuat terobosan. Meskipun, kepemimpinan mereka tidak sempurna. Andai saja semakin banyak kepala daerah di negeri ini seperti mereka.
 
 
Note :
Bukan Bupati Biasa Kick Andy Show tayang pada tgl 22 Januari 2010

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.