Urip Herdiman Kambali
: Lucy Ambarini Irawan
1/
Tiga puluh enam tahun setelah perang besar usai,
Krishna tak pernah lupa dengan kutukan Gandhari
yang diucapkan dengan penuh kemarahan.
“Kau biarkan perang ini terjadi,
sehingga seratus anak kandungku mati.
Tiga puluh enam tahun sejak hari ini,
bangsamu akan musnah dari muka bumi!“
Krishna tersenyum dan menjawab.
2/
Apakah perang besar itu bisa dicegah?
Apakah perang besar itu bisa dihindarkan?
Apakah yang dilakukannya, tiga puluh enam tahun yang lalu, benar?
Tidakkah ia bersalah, justru mendorong perang itu terjadi?
Apakah benar ia memihak Pandawa, dan memusuhi Kurawa?
Tidakkah sebenarnya ia memihak kebaikan dan kebenaran,
dan membasmi kejahatan dan angkara murka?
Begitu banyak pertanyaan beredar di kepalanya,
sama banyaknya dengan orang yang bertanya padanya.
Kenapa perang itu harus terjadi?
Krishna,
titisan Wishnu yang selalu turun ke bumi untuk membasmi kejahatan,
sadar banyak pertanyaan dan penyesalan diarahkan pada dirinya.
Tetapi ia juga manusia yang harus memilih.
3/
Krishna tersenyum dan menjawab Gandhari.
”Sebelum kau mengatakannya,
aku sudah tahu apa yang akan terjadi padaku dan bangsaku,
tiga puluh enam tahun sejak sekarang.
Aku tahu dengan cara apa aku akan pergi meninggalkan dunia ini.”
4/
Dan tiga puluh enam tahun kemudian,
terjadilah seperti yang sudah diramalkan.
Semua diawali dengan canda diantara sesama untuk menguji tiga orang resi.
Namun tak ada canda dengan para resi.
Semua terlihat sebagaimana adanya.
Dan bencana itu pun akhirnya datang.
Langit menjadi gelap.
Angin datang menderu-deru.
Hujan turun berhari-hari.
Menaikkan permukaan air laut
dan menenggelamkan negerinya
5/
Krishna tersenyum,
ia tahu bahwa waktunya untuk pulang ke Kahyangan telah tiba.
Di antara semak-semak dekat tepi sungai,
ia duduk beristirahat dan kemudian melakukan yoga raja.
Merenung.
6/
"Telah kulakukan apa yang seharusnya dilakukan seorang duta.
Aku datang ke Hastina menawarkan perundingan,
tetapi yang kutemukan hanyalah jebakan untuk menangkapku."
"Dan telah kuberikan kesempatan yang adil pada kedua belah pihak
untuk memilih bantuan dariku,
karena kedua belah pihak adalah saudaraku semua.
Duryudhana yang pertama memilih,
dia memilih bala tentaraku.
Berikutnya Arjuna yang memilih,
tentu saja ia memilihku sebagai penasihatnya.
Karena pilihannya hanya ada dua,
aku atau bala tentaraku."
"Aku tahu akan ada banyak yang menyesali pilihanku
dan peran yang kumainkan.
Tidak apa, karena mungkin mereka tidak menyadarinya."
Krishna tersenyum mengingat apa yang dikatakannya pada Gandhari
setelah perang
tiga puluh enam tahun yang lalu.
7/
Seorang pemburu melihat sesuatu yang tersembul dari semak ilalang,
dan membidiknya.
Anak panah meluncur deras
dan menancap tepat di tengah benda itu.
Pemburu itu menghampiri buruannya
dan terkejut melihat apa yang dipanahnya.
Bukan hewan buruan, tetapi kaki Sang Krishna.
“Maafkan saya, paduka,
saya kira kaki paduka hewan buruan hamba…”
kata Jara, si pemburu dengan terbata-bata,
sembari memegang kaki Krishna.
Krishna tersenyum tipis.
“Tidak apa.
Kau telah membuka jalan kepulanganku menuju Kahyangan.
Terima kasih,”
jawab Krishna dengan lemah, hampir tanpa suara.
Jakarta, 30 Juli 2009 – 27 Januari 2010
Urip Herdiman
January 30th, 2010 at 15:13
aah, aku mau kirim foto makro-ku aah…
(Vera mah omongnya doang, tapi realisasinya ga pernah ada, ahahaha. Tuh udah mulai gilak. Omong sendiri, komen sendiri, nyahutin sendiri, hihihi)
January 30th, 2010 at 15:11
Terima kasih juga untuk Baltyra (Bro JC) dan semua pembaca setia Baltyra dan Pojok Fiksi.
Hihihi, jadi spt ajang penerimaan award ya? Terima kasih semua komentarnya
January 30th, 2010 at 11:34
Mas Urip, terima kasih kiriman spesial ini! Vera Ernawati, terima kasih sudah menjadi kurir untuk artikel ciamik ini!
January 30th, 2010 at 09:55
matur nuwun Mas Urip. Karena kebijaksanaannya dan keadilannya, maka aku lebih mengagumi Krishna daripada Yudhistira.
January 30th, 2010 at 09:45
Urip HK>>>
Trims cerita Mahabharatanya! Pakem ini jadi Kresno Dhuto di Brontoyudo Joyo Binangun? Wis…. banyak yang dilupakan sudah! Keseringan nunggu goro-goro saja. Yang lain theklak-theklak ngantuk!
January 30th, 2010 at 07:44
Terimakasih Mas Urip, mengingatkan pada episode pewayangan yang kerap terlupa
January 30th, 2010 at 06:00
Halo Pak Urip n Lucy – sama seperti Pak Dj. saya baru ngerti juga cerita ini, terimakasih sharingnya
January 30th, 2010 at 04:25
Hallo… Urip Herdiman Kambali
: Lucy Ambarini Irawan
Terimakasih untuk ceritanya….
Dj. yang tidak pernah tau cerita tersebut jadi sedikit ada pendangan.
Nama Krishna dalam pewayangan sih pernah dengar,tapi soal cerita 36 tahun setelah perang dsb. baru kali ini baca.
Sekali lagi…. TERIMAKASIH….!!!
Salam Damai dari Mainz…