Avatar, Coraline, [email protected] Life & Facebook

Enthung Queen – dalam dunianya

Jogja sore hari, mendung menggantung di bagian utara kota Jogja. Gelap dan tampak berat. Namun berhubung keinginan nonton Avatar sudah lama sekali belum terpenuhi, maka biarpun tampaknya mau hujan, saya tetap berangkat juga ke Amplaz ( Ambarukmo Plaza ) dengan tujuan utama Studio 21.

Masih sore. Saya nonton yang jam 4.30 pm.

Setelah sejumlah iklan, film pun mulai diputar di layar yang jauh lebih lebar dibanding layar laptop saya. Jujur saja, yang mula-mula ada di benak saya adalah film Avatar yang ada di TV, yang film kartun tapi kemudian “dimanusiakan “ seperti mmmmm…film Asterix dulu itu. Makanya ketika yang muncul pertama kali adalah tokoh Jake Scully dengan adegan membuka mata dan narasi yang mengatakan : “Sooner or later we always have to wake up”, saya agak kaget, woah….! Kok film Amerika tentang mantan marinir lagi ?! Kopral pula !!

Tapiiiiiiiii………begitu saya mengikuti adegan demi adegan, ck ck ck…saya kagum, saya senang, saya menikmati filmnya dengan intens. Hebat ! Hebat teknologinya, hebat animasinya, hebat make up artisnya, hebat karakternya, hebat daya khayalnya. Hasil besutan sutradara James Cameron ( sekaligus penulis skenarionya ) ini memang luar biasa menarik dan menghibur.

Dan satu gagasan untuk menulis timbul. Sekali lagi sebuah analisa secara otomatis muncul dalam sel-sel kelabu saya. Analisa yang muncul dari fenomena-fenomena yang akhir-akhir ini banyak sekali saya temui, mungkin tidak terpikirkan oleh orang lain, tapi saya memikirkannya sudah sejak lama.

Sebelum saya nonton Avatar, saya sudah nonton Coraline. Sebuah film kartun apik yang disutradarai oleh Henry Selick, yang diambil dari novel karya Neil Gaiman ( 2002 ) dengan judul yang sama. Coraline sangat berbeda dengan Avatar yang penuh adegan canggih dan high tech.

Animasi Coraline tidak se “wuah “ Avatar, tapi tak kalah cantiknya. Yang membuat saya sangat tertarik adalah ide ceritanya. Daya khayalnya yang setara dengan Avatar, meskipun dalam bentuk yang lebih sederhana. Salah satu perbedaannya adalah genre filmya. Jika Avatar termasuk film American science fiction epic, maka Coraline termasuk film kartun berjenis stop motion 3D horror fantasy.

Sumber ide cerita Avatar dan Coraline mirip.Mereka sama-sama bercerita tentang mimpi akan kehidupan yang lebih baik. Yang satu adalah mimpi seorang mantan marinir biasa, lumpuh dan baru saja ditinggal mati saudara kembarnya yang brilian, dan kemudian harus menggantikan tugas yang sama sekali di luar dugaan dan kemampuannya, karena dia bukan seorang ilmuwan seperti saudara kembarnya.

Yang lainnya adalah mimpi seorang anak perempuan kecil yang menginginkan perhatian ayah-ibunya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka. Dua-duanya bercerita tentang mimpi. Bahkan karakter bangsa Na’vi dalam film Avatar pun diangkat dari mimpi ibunda James Cameron, jauh sebelum James Cameron memproduksi film ini.

Nonton film Avatar mengingatkan saya pada Coraline. Nonton Coraline memberikan ide cemerlang dalam otak saya untuk membuat sebuah karya instalasi yang pada akhirnya saya ikut sertakan dalam pameran akbar Exposign 2009 di JEC, tahun lalu. Dan ide tersebut di ramu oleh fenomena Facebook yang sudah mulai mendarah daging bagi sebagian besar manusia di berbagai belahan dunia.

Karya instalasi saya yang berjudul Dream @Virtual Life adalah hasil olahan daya khayal yang diilhami oleh film Coraline dan fenomena Facebook. Kemudian film Avatar mengingatkan saya, membuka mata saya, bahwa ide dan daya khayal itu sifatnya sangat universal. Saya tidak hendak mengatakan bahwa saya secanggih James Cameron, tapi ternyata daya khayal dan impian itu sama sekali tidak mengenal batasan ruang dan waktu.

Dunia virtual adalah dunia yang ajaib. Jake Scully tidur dalam tabung canggih yang menghubungkan dia dengan tubuh avatarnya. Jiwanya terhubung—dalam dunia maya—menjadi satu kesatuan antara Jake Scully dan avatarnya. Dalam film Coraline, si gadis kecil Coraline Jones memasuki lorong sempit di dapur ketika dia dalam kondisi tidur ( tetapi merasa bahwa dia tidak tertidur ), menuju dunia yang mirip dengan dunianya sendiri, dengan rumah yang sama, tetangga yang sama, tapi dengan karakter dan jiwa yang berbeda.

Jika Jake Scully adalah seorang mantan marinir yang lumpuh, menjadi avatar Jake, yang tangguh, seorang prajurit hebat, penunggang Ikran yang gagah, bahkan menjadi seorang Toruk Mac’to, penakluk dan penunggang Toruk, mahluk terbang yang mirip dengan gabungan naga dan burung raksasa berwarna orange merah , maka Coraline menemukan ibunya ( dalam dunia “mimpinya” ) sedang memasak makanan kesukaannya sambil bernyanyi-nyanyi, sementara ayahnya sedang asyik berkebun. Coraline bahagia dengan hidupnya.

Ketika Jake harus terbangun ketika dia tertidur di dunia “maya”, dunia bangsa Na’vi, maka Coraline juga harus pergi menyusuri lorongnya untuk kembali ke kamarnya, ketika pagi telah tiba dan ia harus bangun tidur.

Dua-duanya terlibat dalam dunia mimpi yang ( seolah-olah ) menjadi sebuah kenyataan.

Seperti Facebook. Entah di sadari atau tidak, sebenarnya Facebook mengantarkan penggunanya menuju dunia mimpi. Dunia maya, dunia virtual. Dunia ajaib yang mampu menjadikan mimpi menjadi tampak nyata, bahkan adakalanya menjadi benar-benar nyata, atau malah menjadikan dunia mimpi menjadi dunia mimpi yang lain. Complicated ? Sebenarnya tidak sama sekali.

Contohnya, seorang teman yang tinggal di belahan dunia yang lain berulang tahun. Kita mungkin bisa mengirimkan kata-kata ucapan melalui telpon atau sms, atau mengirim kartu ucapan, meskipun hal ini sudah langka dilakukan orang. Dengan dunia virtual Facebook kita bisa mengiriminya bunga, kue ulang tahun, hadiah-hadiah mahal bahkan juga uang sebagai hadiah. Kita akan dengan semangat mencari gift apa yang paling indah, menarik dan cocok untuk di berikan pada seseorang. Sementara si penerima pun akan merasa senang, bahagia, dan bahkan mungkin terharu, merasa diperhatikan dan kemudian akan mengirim hadiah-hadiah juga kepada kita.

Hadiah itu tidak nyata, tentu saja. Tapi rasa dan ketulusan—baik si pemberi maupun si penerima—adalah nyata. Rasa bahagia, senang dan fun itu adalah rasa yang nyata. Contoh lainnya, kita mengenal beberapa game di dunia virtual Facebook, seperti farmville, farmtown, mafia wars, pet society, mob wars, yoville, island paradise, cafe world, happy pet dan lain sebagainya.

Game-game tersebut ternyata mampu membuat sesorang menjadi seperti Jake Scully dengan avatarnya. Dalam Farmville, dan Farmtown seseorang bisa menjadi seorang petani yang kaya, dengan kebun, ladang dan hewan-hewan piaraan yang beraneka macam. Bisa membeli sebuah mansion yang mahal, memperlebar tanah ladangnya, menghasilkan banyak coin. Bahkan ada yang menyempatkan diri untuk online karena harus “panen” sebelum keburu tanamannya mati.

Dan rasa gembira yang nyata akan dirasakan ketika mendapatkan bonus atau kiriman-kiriman gift. Dalam Pet Society, seseorang meleburkan dirinya ke dalam petnya. Dengan rajin terus online untuk mengunjungi teman, memberikan makan ( feeding ), memberi hadiah-hadiah, memandikan karakter pet temannya yang di kerubungi dua ekor lalat, tanda dia kotor dan perlu di bersihkan ( seperti tamagochi mungkin ), mengumpulkan coin dan pernak-pernik untuk memperindah rumahnya.

Membeli bibit sayur, bunga dan pohon untuk di tanam di kebun mungil. Seperti ayah ke dua ( di dunia mimpinya ) Coraline yang memiliki sebuah taman yang begitu indah. Dalam Café world kita bisa menjadi seorang koki sekaligus pemilik resto yang hebat.

Dalam Mafia War, seseorang bisa menjadi seorang Don, pembunuh bayaran, memiliki kasino, mengadakan transaksi illegal tanpa harus takut masuk penjara, mengumpulkan uang sekian juta dolar setiap tiga jam. Membunuh lawan-lawannya dengan “aman “, dan bahkan juga bisa terluka atau terbunuh dalam pertarungan virtual.

Rasa puas memenuhi rongga dada ketika berhasil membunuh lawannya dan mendapatkan bonus, entah bonus tenaga, bonus berupa coin dan juga bonus benda-benda pendukung. Teman-teman dalam satu “komplotannya” juga akan mendapatkan bonus karena telah membantunya bertarung. Seseorang juga bisa menjadi seorang peragawati atau model yang terkenal dan hebat dalam Sorority Life. Atau meskipun terdampar di sebuah pulau terpencil, namun hidup senang dengan pulau khayalannya yang penuh dengan tanaman dan berbagai macam binatang yang kadang-kadang aneh dan tidak mungkin kita miliki dalam dunia nyata.

Tak heran jika ada seseorang yang kemudian memiliki lebih dari satu account Facebook semata-mata untuk kepentingan game. Addicted, nyandu, bahkan ada yang menjadi freak karenanya.

Karakter-karakter dalam game adalah avatar yang kita perankan, sama seperti ke dua orang tua dan teman serta tetangga Coraline di dunia keduanya.

Dalam konsep [email protected] Life, saya mengatakan bahwa di dunia mimpi, kita bisa menjadi apa saja, bisa menjadi siapa saja, bisa ber-apa saja, di mana saja. Tidak ada jarak, tanpa batas, dan bebas. Daya khayal tingkat tinggi yang tidak mungkin dijangkau oleh dunia kasat. Jake Scully, veteran marinir yang lumpuh menjadi seorang warrior yang tangguh, hebat dan tampan. Memiliki pasangan wanita yang tak kalah hebatnya.

Coraline memiliki orang tua yang sangat memanjakannya, tetangga-tetangga yang ajaib, pertunjukan sirkus tikus-tikus yang aneh, taman yang luar biasa cantik, dan kucing yang bisa bicara….benar-benar surealis. Dunia mimpi yang saya kemas dalam bentuk karya instalasi, saya coba sajikan dengan boneka besar, sebesar manusia normal ( boneka wanita, entah mengapa ), memakai baju kaos kuning dan celana jeans serta sepatu boot hitam dari bahan wool. Posisi tidur telentang di sangga kursi kecil yang ditutupi kain hitam. Di sekitarnya, di atasnya tergantung bola-bola kecil dari plastik yang menggambarkan gelembung-gelembung udara yang kita lihat saat kita memejamkan mata.

Debu peri yang mengantarkan ke dunia mimpi. Beberapa bola rotan di sertai boneka-boneka kecil lainnya sebagai pelengkap. Di sana ada empat boneka malaikat kecil berbaju putih. Satu boneka berbaju putih, bersayap putih tapi berambut merah menyala. Satu lagi berbaju putih, berambut putih, bersayap putih, namun memiliki ekor dan tanduk merah, yang satunya lagi berbaju putih, berambut putih, bersayap merah, yang terakhir adalah boneka malaikat hitam, berbaju hitam dengan bentuk seperti sayap burung gagak, bersepatu merah, bermata merah, tanpa sayap malaikat, namun kepalanya di lingkari hallo ( lingkaran aura malaikat ).

Saya hanya ingin menunjukkan bahwa di dunia mimpi malaikat bisa menjadi setan dan setan menjadi malaikat. Seseorang bisa menjadi penari salsa, gadis cina yang sayu malu, anak kecil yang penuh semangat ( boneka-bonek kecil lainnya ), bisa menjadi apa saja, di mana saja.

Sama seperti Jake Scully yang tinggal di dunia Pandora di tahun 2154. Pandora sendiri sebenarnya ( dalam dunia nyata ) adalah bulan yang serupa bumi, milik planet Polyphemus dalam tata suryaAlva Centaury. Coraline menempati sebuah rumah di dunia khayal di balik rumahnya. Tempat yang bisa dijangkau ketika ia membuka sebuah pintu kecil tersembunyi di dalam dapur. Merangkak dalam lorong yang begitu lembut dan berwarna-warna cemerlang bagai pelangi, menuju dunia absurd sama seperti dunia kaum Omaticaya. Dunia yang indah, dunia khayal yang juga bisa kita nikmati dalam ladang yang penuh tumbuhan subur di Farmville/Farmtown, atau rumah mewah yang bisa kita atur dan kita hiasi dalam dunia Pet Society atau Yoville.

Dunia mimpi tidak hanya indah dan memberikan kesenangan. Adakalanya juga memberikan ketakutan dan kegelisahan. Seperti malaikat yang menjadi serupa dengan setan vice versa, seperti dalam klimaks semua film, termasuk juga dalam film Avatar, di mana klimaksnya terjadi saat penghancuran rumah pohon raksasa, adegan pertempuran yang tidak seimbang, keributan, kepanikan, kesedihan, kehancuran, merupakan sebuah nightmare. Mimpi buruk.

Dalam Coraline hal ini digambarkan dengan kemarahan sang ibu kedua yang ternyata “seorang” monster. Ia menjadi marah ketika Coraline menolak mengganti matanya dengan mata kancing, sebagai tanda bahwa ia telah menyerahkan jiwanya, cintanya dan hidupnya untuk hidup dalam dunia khayalnya.

Bedanya terjadi pada akhir film, meski keduanya sama-sama happy ending. Jake Scully kemudian “memilih” untuk terus hidup di dunia avatarnya sebagai bangsa Na’vi, suku Omaticaya, memilih untuk melanjutkan kehidupan dunia mimpinya. Mentransfer dunia mimpi menjadi dunia nyata. Coraline memilih untuk tinggal di dunia “siangnya “, dunia nyata dengan ayah-ibunya yang apa adanya, kembali ke dunia nyata dengan membawa sebuah pengertian bahwa apapun yang terjad di kehidupannya di dunia nyata adalah sesuatu yang pantas untuk di syukuri.

Dalam dunia kita, jika kita pengguna aktif Facebook, dunia nyata dan dunia virtual sering kali meleleh dan lebur jadi satu. Dunia virtual bisa di manfaatkan untuk kepentingan dunia real, begitu juga sebaliknya. Seorang teman menyebar undangan pernikahan melalui Facebook dan ia “berhasil”. Fleksibel, ekonomis dan praktis. Seseorang lainnya mendapatkan pasangan dari dunia virtual ini. Mewujudkannya ke dalam dunia nyata, membangun rumah tangga dan bahagia.

Lainnya lagi menemukan network dan komunitas asyik dari dunia virtual, membahas politik dari dunia nyata, membangun usaha dan menghasilkan uang secara nyata. Ada cupcake yang bisa saling di kirimkan ( gambarnya ) dan diterima secara virtual ( kecuali kalau mau menjilati layar computer…iihh…), tapi ada juga yang bisa diterima secara nyata, di beli dan dibayar dengan uang beneran, melalui semacam toko online.

Ada saatnya dunia virtual memberikan mimpi buruk, seperti yang di alami Prita, namun seperti juga dalam film, ada klimaks yang hiruk pikuk, sedu sedan dan diakhiri dengan akhir yang penuh senyum kemenangan. Ada hal-hal yang tidak terlalu penting namun bisa juga menjadi penting, hal-hal kecil, figuran-figuran yang membumbui dunia khayal ini, seperti misalnya fatwa MUI yang menyatakan bahwa Facebook bakal di haramkan. Sambil lalu yang kadang menyebalkan tapi membuahkan obrolan seru.

Dunia virtual ini begitu ajaib. Dunia ajaib yang mampu menjadikan mimpi menjadi tampak nyata, bahkan adakalanya menjadi benar-benar nyata, atau malah menjadikan dunia mimpi menjadi dunia mimpi yang lain, saya sampai menuliskannya dua kali, saking takjubnya saya dengan dunia virtual ini. Saya tak hendak menyebut dengan teknologi, meskipun tak bisa di punkiri, bahwa teknologi adalah nyawa dari dunia virtual ini, namun, teknologi canggih ini bagi saya lebih merupakan alat transportasi untuk membawa dunia impian kita menjadi “nyata” dalam dunia virtual yang ajaib. Atau bahkan benar-benar membawanya menjadi nyata dalam dunia real.

Dan rasanya tidaklah mengherankan jika saya juga bisa mengatakan seperti apa yang di katakan Jake Scully dalam tubuh manusianya kepada Neytiri yang seorang Na’vi dari dunia avatarnya, ketika mereka bertemu untuk pertama kalinya. Dunia virtual bertemu dengan dunia nyata. Dunia mimpi bersatu dengan dunia bukan mimpi. Mengapa tidak ?

“I see you…..”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.