Parangtritis 1 Suro

Dewi Aichi – Brazil

Masyarakat Jogja, wilayah Gunung Kidul, khususnya yang bekerja sebagai nelayan, pada tanggal 1 Suro biasanya mengadakan larung sesajen ke laut. Tradisi ini sebagai ungkapan, rasa syukur atas rejeki yang diberikan Tuhan, doa keselamatan bagi masyarakat pada umumnya.

Tradisi ini biasanya mengundang masyarakat untuk mengunjungi pantai Parangtritis, sehingga pada tanggal 1 Suro, suasana di pantai Parangtritis sangat ramai. Entah itu masyarakat Jogja sendiri, atau yang datang dari luar Jogja.

Ritual ini diadakan 1 tahun sekali, tepat pada tanggal 1 Suro. Bagi masyarakat yang kebagian membawa sesajen dan segala perlengkapannya, memakai baju putih. Diawali dari desa mereka, kemudian kirab sambil membawa sesajen, hasil pertanian yang disusun seperti bentuk gunung, tumpeng dengan segala perlengkapannya seperti buah-buahan, kepala kambing,ingkung(ayam panggang utuh), jajanan pasar, dan yang tidak boleh ketinggalan adalah kembang 7 rupa , kemenyan.

Sesampainya di laut, semua sesaji itu di lempar 1 per satu dengan disertai doa bersama. Masyarakat sangat khusuk dalam menjalankan ritual larung sesajen. Mitos yang sudah melekat dalam masyarakat bahwa Ratu Kidul (RK) itu ada, maka ritual tersebut dipersembahkan untuk RK.

Tahun ini kebetulan bersamaan dengan kalender Islam, tahun baru Hijriyah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, di pantai Parangtritis dan hampir seluruh pantai selatan di wilayah DIY menyelenggarakan ritual larung sesajen. Rautsan masyarakat biasanya memadati pantai. Ada kepercayaan bahwa, bagi yang akan datang ke pantai, dilarang memakai baju warna hijau. Karena itu warna kesukaan sang RK.

Melarung sesajen adalah puncak ritual sedekah laut. Pada saat larungan, para nelayan pantang melaut. Selain itu, pada Jum'at Kliwon juga pantang bagi para nelayan untuk melaut.

Saya pribadi memandang acara tradisi melarung sajen ini untuk bisa dikembangkan menjadi penunjang kemajuan pariwisata. Dengan dikemas lebih apik dan serius, tradisi melarung sajen disertai dengan menampilkan kesenian tradisional, dijadikan sebuah parade budaya yang agung, sehingga mempunyai nilai jual di bidang pariwisata.

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

15 Comments to "Parangtritis 1 Suro"

  1. Dj. 813  6 November, 2013 at 04:08

    Dewi Aichi Says:
    November 5th, 2013 at 21:23

    Wakakakakakkaakaaa…..pak DJ, percayaaa percayaaaaa…..
    —————————————————————————————

    Mbak DA…
    Percaya ya…???
    HALELUYA . . . ! ! !
    Sama saudara, ya harus percaya ya….
    Hahahahahahahaha…!!!

    Koh Tiongan…
    Nyangkul Dj. tidak bisa, hanya bisa ngarit saja.
    Hahahahahahahaha….!!!

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.