Perjalanan ke Tator (Part 4 – Habis)

Hariatni Novitasari – Surabaya

 

Meriahnya Adu Kerbau

Siang itu, sekitar seribu orang berkumpul di lapangan Kecamatan Sa’dan. Mereka akan menyaksikan adu kerbau. Dari semua prosesi pemakaman, sepertinya adu kerbau adalah momen yang paling ditunggu. Tidak hanya seru dan menegangkan. Tetapi juga, melibatkan judi yang tidak kalah besar perputaran uangnya.

Para lelaki, perempuan, dan anak-anak, semua berduyun-duyun menuju lapangan yang tidak terlalu jauh dari kediaman keluarga Ne’ Toni. Mereka berebut untuk datang terlebih dahulu karena bisa mencari posisi yang enak untuk menonton. Mereka segera mencari tempat di tempat yang tinggi. Yang datang belakangan, harus rela berdiri di pinggiran lapangan. Anak-anak kecil lebih nekat lagi, mereka banyak yang memanjat pohon supaya bisa menyaksikan pertandingan kerbau ini dengan nyaman. Hari itu (31/12/09), ada 14 pertandingan kerbau. Jadi, ada 28 ekor kerbau yang akan diadu.

Panasnya sinar matahari tidak menyurutkan semangat para penonton untuk menunggu dimulainya pertandingan. Di sela-sela para penonton, beberapa orang bandar judi mulai mengumpulkan uang dari para petaruh. Aku mencoba bertanya kepada beberapa orang lelaki disana, setiap pertandingan paling tidak total nilai taruhannya sebesar Rp. 160 juta. Kita tinggal mengalikan saja ada beberapa pertandingan disana. Biasanya, jumlah minimal taruhan adalah Rp. 20 ribu. Tetapi, rata-rata uang taruhan per orang adalah Rp 50 ribu atau Rp. 100 ribu.

Sebenarnya, berjudi menjadi daya tarik yang luar biasa untuk mengumpulkan ribuan orang untuk datang ke tempat ini. Banyak diantara mereka datang dari Rantepao, Makale, atau tempat-tempat lainnya di Toraja. Datangnya orang-orang dari penjuru negeri Toraja, karena berita diselenggarakan acara pemakaman biasanya telah tersebar dari mulut ke mulut. Dari beberapa orang yang sempat aku tanya lagi, mereka sebenarnya juga menang dan kalah dalam satu hari. Menang Rp. 50 ribu, kalah Rp. 100 ribu. Jadi, sebenarnya sama saja mereka kalah Rp. 50 ribu.

Hari itu, ini sebenarnya adalah pertandingan adu kerbau kedua yang aku lihat. Yang pertama, seharusnya di Lembang Tampan, untuk pemakaman Marebila. Sayang sekali, aku hanya menemukan sawah tempat pertandingan telah kosong. Tidak ada kerbau disana. Sebabnya sangat konyol. Adu kerbau dilakukan di sawah belakang rumah Marebila.

Tetapi, jalan menuju ke sawah itu berlumpur, becek dan licin. Karena takut terpeleset dan sepatuku menjadi kotor, jalanku menjadi sangat lambat. Sehingga, ketika sampai di tempat, orang-orang sudah kembali ke atas. “Kembali Mbak, pertandingan sudah usai. Kerbaunya sudah lari…” Ya, akhirnya aku kembali ke tongkonan dengan setengah kecewa. Sepatu akhirnya juga kotor dan becek. Tak dapat aku menyelamatkannya dari lumpur-lumpur bercampur sedikit kotoran babi.

Nah, karena adu kerbau di Sa’dan ini menjadi pertandingan yang akan aku saksikan pertama kalinya. Memang, pergi ke Toraja tanpa melihat budaya adu kerbau ini pasti tidak akan lengkap. Inilah bagian dari kehidupan sosial dan budaya orang Toraja. Inilah kehidupan nyata orang Toraja. Di mana ritual suci bercampur dengan judi. Di mana keresahan akan bercampur dengan kegembiraan. Kalau pergi ke Toraja hanya untuk melihat makam batu dan tongkonan, itu bisa dilakukan dalam waktu satu hari. Dan, bisa dilakukan kapan saja. Tongkonan dan makam batu, tidak berpindah tempat. Dia bagian dari masa lalu. Sementara adu kerbau, adalah bagian dari kekinian.

Sekitar jam 2 siang, pertandingan akan segera dimulai. Seorang lelaki buta sibuk menertibkan para penonton yang sampai memakan separuh lapangan. Dia mengayunkan tongkatnya ke kanan dan ke kiri. Aku bisa menghindar dari tongkat si lelaki ini, dan sedikit ada di tengah lapangan. Seorang lelaki setengah baya kemudian berteriak, “Hai cewek…mundur!”

Ada yang menarik dari pembagian barisan penonton-penonton di lapangan ini. Semua pojok di empat penjuru mata angin harus dikosongkan. Pasalnya, kerbau yang kalah bertanding, larinya pasti salah satu pojok lapangan itu. Jadi, sedikit aneh juga kondisi lapangan.

Tidak lama setelah penertiban itu, si kerbau dituntun ke tengah lapangan. Penonton bersorak sorai. Dia seperti ksatria yang akan bertarung di Knight Tales saja. Tidak lama, lawannya juga masuk. Dari sisi lapangan yang lainnya. Mulailah mereka beradu kekuatan. Tanduk lawan tanduk…. Sungguh menegangkan. Pertandingan di sesi pertama ini berlangsung tidak lama. Hanya beberapa menit saja. Kerbau yang kalah langsung menuju salah satu pojok itu, dan lari, mencari tempat yang aman. Para penonton bersorak-sorai di lapangan. Persis seperti menonton sepak bola dan pemain favorit mereka memasukkan gol ke gawang.

Pertandingan pertama selesai. Para bandar kemudian berkeliling lagi. Membagikan uang taruhan. Dan, mengkoleksi taruhan di pertandingan berikutnya. Para penumpang tumpah ruah lagi ke tengah lapangan. Pertandingan kedua, belum pula dimulai.
Hari semakin senja. Langit sudah berubah menjadi hitam. Baru tiga pasang kerbau yang diadu. Uli dan aku segera meninggalkan tempat itu. Karena kami harus ke Batutumonga. Tak lama setelah itu, hujan turun dengan lembutnya. Membasahi bumi Sa’dan. (****).

 

Tip dan Rekomendasi

Kalau Anda ingin bepergian ke Toraja, berikut ini ada beberapa tips berdasarkan dari pengalaman kami mengunjungi tempat itu.

Pesanlah tiket Anda pergi-pulang dari Makassar kalau Anda sudah tahu pasti rencana stay Anda di Toraja selama beberapa lama. Bis jurusan Makassar-Toraja atau sebaliknya, bisa saja sulit mendapatkan seat, terutama di saat-saat peak season seperti Natal dan Tahun Baru.

Saat yang paling pas mengunjungi Toraja adalah musim kemarau (sekitar Juni-Agustus). Mengunjungi Toraja di musim hujan bisa membuat beberapa jadwal terganggu. Daerah-daerah seperti Bori, Deri dan Batutumonga rawan turun hujan sepanjang hari.

Kecuali, Anda memang suka mengunjungi Toraja di musim itu dengan asumsi hawanya lebih dingin. Karena itu, siap-siap saja membawa rain coat. Tetapi, kalau kelupaan, rain coat bisa dibeli di toko-toko yang berderet di sepanjang Jl. Ahmad Yani dan Andi Mappanyuki (dekat Pasar Rantepao).

Mengunjungi Toraja pada saat Tahun Baru, bisa menjadi pengalaman tersendiri. Selain perayaan Tahun Baru khas Toraja, Anda harus mengantisipasi tidak adanya angkutan umum, sedikit warung makan yang buka, dan susahnya mencari rental motor karena orang biasanya membawa sepeda motornya buat mudik.

Menyewa sepeda motor adalah cara yang paling cepat dan murah untuk mengunjungi site-site yang ada di Toraja. Bagi independent traveler, sangat mudah untuk mengikuti peta yang diterbitkan oleh Dinas Pariwisata karena cukup akurat. Sewa sepeda motor berkisar Rp. 50 ribu (di Lebona Travel) sampai dengan Rp. 60 ribu (di pangkalan tukang ojek di pojokan Jl. Andi Mappanyuki). Penyewaan mobil berkisar Rp. 650 ribu per hari.

Mengunjungi rumah adat tongkonan dan makam, bisa dilakukan dalam waktu sehari saja. Itu sudah cukup. Kecuali Anda memang sedang melakukan studi tentang tongkonan dan tau tau. Yang lebih menarik lagi adalah pergi ke pesta adat/pesta pemakaman. Informasi ini bisa didapatkan baik di Dinas Pariwisata, ataupun bertanya kepada tukang ojek. Mereka biasanya tahu dimana digelar upacara pemakaman. Tongkonan yang masih asli atapnya, salah satunya ada di Kete’ Kesu. Kalau tau-tau, bisa mengunjungi Londa atau Lemo. Di Kete’ Kesu, ada juga tau-tau, yang satu lokasi dengan tongkonan.

Di Rantepao, hostel yang harga terjangkau dan asyik, bisa mencoba Duta College 88 di Jl. Sawerigading. Di penginapan bermodel cottage ini, Anda akan menginap di tongkonan dari kayu. Di depan masing-masing tongkonan ada taman-taman penuh bunga yang sejuk. Anda juga akan mendapatkan sarapan berupa pancake yang ditaburi dengan irisan pisang segar. Yummmyyy…

Kalau Anda masih memiliki waktu menunggu flight Anda ke kota tujuan di Makassar, saatnya sight seeing di kota Makassar. Tapi, jangan lupa membawa sun block, karena matahari di kota ini yang teramat panas. Di kota ini, Anda bisa mengunjungi Pelabuhan Paotere. Selain melihat akitvitas pelabuhan, Anda juga bisa mencoba makan di rumah makan ikan bakar Paotere yang merupakan langgalan para pejabat negeri ini seperti SBY, JK, Andi Mallarangeng dan Anis Matta.

Tapi, kalau Anda kesini siang hari, suasana ruang makan akan seperti asbak, karena penuh dengan asam rokok para pengunjung yang bercampur dengan asap dari ikan yang dibakar. Selain ke Paotere, Anda juga mengunjungi Benteng Rotterdam, yang kebetulan terletak dekat Chinatown di Jalan Jampea dan tempat membeli oleh-oleh di Jl. Sombaopu. Kalau Anda pergi ke Jl. Jampea, jangan lupa mampir ke warung kopi legendaris, Warung Kopi Phoenam yang telah ada di sana sejak 1946. Di sini, Anda bisa menikmati kopi bersama dengan roti kaya.

Serendipity: Look for something, find something else, and realize that what you have found is more suited to your needs than what you thought you were looking for. (Lawrence Block).

 

 

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.