Cicak-cicak di Perut

Sasayu – Den Haag, 31 Januari 2010

Halooow semua di manapun dan sedang apapun, salam sejahtera. Salam dingin dari Den Haag, cuaca sedang parah-parahnya, setiap 5 menit berganti-ganti, berangkat sekolah terang benderang, baru sampai sekolah hujan, keluar dari lift, hujan salju. Saya punya analogi yang pas untuk mendeskripsikan cuaca di Den Haag, yang pasti lebih parah dari mood cewek yang sedang datang bulan….hahaha.

WARNING! Bagi yang memiliki phobia binatang merayap, semoga phobianya hilang setelah membaca artikel ini. Terimakasih kepada Pak Bagong atas artikelnya, Escargot tradisional ala Pak Bagong telah menginspirasi artikel ini.

Pembaca tentu akrab dengan lagu anak-anak “Cicak-Cicak di Dinding” yang selalu diajarkan oleh Bu Guru semasa taman kanak-kanak.

Kalau lupa ini lirik lagunya:

Cicak cicak di dinding
Diam diam merayap
Datang seekor nyamuk
Hap
Lalu dimakan

Sayangnya nasib si cicak kali ini tidak sesuai dengan lirik lagunya. Bukannya kenyang makan nyamuk, si cicak yang di “HAP” oleh saya…hahahaha. (harap pembaca jangan merasa jijik dan geli).

Perkenalan saya dan Mr.Cicak ini diawali pada saat saya menginjak umur-umur ABG, seingat saya kelas 6 SD. Tau sendiri, kalau lagi ABG, hormon pertumbuhan sedang gencar-gencarnya bereaksi (amat disayangkan ke arah yang salah..hihihi). Salah satu akibatnya adalah muka yang jerawatan karena hormon yang memicu produksi minyak. Nah, namanya Ibu yang lihat anak gadisnya menderita penyakit kulit, pasti cerewet donk, kan penampilan menentukan masa depan (siapa tau ketemu cowok ganteng en tajir yang siap ngelamar….NGAREEPP!!!).

Sibuklah si Mama mencari solusi, dari ke dokter kulit, beli krim muka, disuruh pake jeruk nipis, dll dijabanin. Masalahnya sekarang terletak di saya, namanya masih kecil, ga telaten pake-pake yang begituan. Jelas aja bintik-bintik merahnya ga ilang-ilang.

Akhirnyaaa, Master Shogun pun angkat bicara (maksudnya Mak/Oma), Mak yang tinggal di Purworejo bilang,”Halah si Sasa kukulen, pakake cecek wae”. Mungkin para pembaca sering mendengar khasiat-khasiat hewan-hewan tertentu yang “katanya” bisa menyembuhkan penyakit ini dan itu. Misalnya, hati kalong dikabarkan bisa membantu meredakan asma atau darah ular yang bisa meningkatkan stamina. Kebenarannya…belum ada yang benar-benar tahu. Naaahh, konon katanya, Mr. Cicak dapat menyembuhkan berbagai penyakit kulit dari bisulan, korengan, termasuk jerawat.

Wah, mendengar ide brilian ini (perbedaan brilian dan gila memang tipis), langsung si Mama mengorder cicak dari Purworejo. Mak meminta salah satu pekerja untuk menangkap cicak-cicak yang berkeliaran. Didapatlah kurang lebih enam ekor cicak yang langsung disangan dan dipaket ke Jakarta.

Berharap melihat cicak yang sudah dikapsul, yang ada malah makhluk-makhluk kecil berbaris di sepanjang tusukan sate dengan kaki-kaki meregang. Wuihhh, untungnya, saya bukan anak yang jijikan, keenam cicak pun berakhir di perut. Dan anehnya, saya malah suka, karena menurut saya rasanya seperti abon ayam.

Khasiat cicak ini mulai bekerja tiga hari kemudian, kulit muka mulai mengelupas dan jerawat-jerawat pun mulai kering. Woaaaa, senangggg, ternyata si cicak bekerja. Buat hasil maksimal, saya berpikir untuk menangkap cicak lagi. Daripada lama menunggu paket dari Purworejo, berinisiatif menangkap sendiri. Ternyata tidak terlalu susah, hanya bermodalkan karet dan kantong plastik. Buat yang jago njepret, pasti pekerjaan mudah. Perburuan kedua dengan sukses menangkap sepuluh ekor cicak dengan bantuan Pak Supir yang dibayar Rp.1000/ekor.

Di akhir cerita, jerawat-jerawat saya pun hilang dalam waktu kurang dari dua minggu. Tapi sama saja, kalau tidak dirawat secara teratur, namanya jerawat kan pasti keluar lagi. Sejak saat itu, saya jadi lumayan telaten ngurusin muka, kan malu juga kalo liat muka bolong-bolong kayak bulan.

Setelah stock cicak habis, dan ingin mencari lagi, ternyata semua cicak dengan ajaibnya raib dari rumah. Kalau menurut adek, cicaknya kabur semua karena bau temannya dipanggang…cukup masuk akal. Dan tau sendiri donk, kalau ga ad cicak di rumah, keseimbangan ekosistem menjadi terganggu dengan banyaknya nyamuk yang berseliweran.

P.S: Butuh keberanian yang lebih untuk menulis artikel ini (nurunin pasaran gw bangetttt!!)…hahaha

About Sasayu

Dari kecil passion'nya adalah makanan, bahkan sampai cicak pun dilahapnya tanpa basa-basi. Petualangannya melanglang buana, menjelajah benua Eropa mengantarnya meraih gelar dan ilmu dalam Food Technology dan Food Science. Setelah lulus dari Helsinki, kembali ke Tanah Air untuk melanjutkan kerajaan kecil keluarga: PONDOL - Pondok Es Cendol, spesialis masakan Jawa Tengah yang cukup melegenda di Jakarta.

Arsip Artikel

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.