Kerbau

Handoko Widagdo – Solo

Mengapa kerbau menjadi begitu terkenal pada awal Februari 2010 ini? Setelah Hariatni Novitasari menulis tentang adu kerbau di Tator (http://baltyra.com/2010/02/01/perjalanan-ke-tator-part-4-habis/), sekarang bahkan presiden pun bicara tentang kerbau. “Ada yang membawa kerbau, SBY badannya besar, malas dan bodoh seperti kerbau…”, demikian kata Presiden saat membuka rapat dengan seluruh anggota Kabinet Indonesia Bersatu II dan semua gubernur yang membahas Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) di Istana Cipanas. Apa istimewanya kerbau?

Benarkah kerbau itu identik dengan malas, dungu dan lamban?

Dalam artikel Mbak Hariatni, dijelaskan bahwa adu kerbau adalah tradisi yang terus dilestarikan. Karena kerbau melambangkan kekuatan. Karena penasaran, aku memposting komentar demikian: "Hariatni, aku kok jadi bertanya-tanya, mengapa ya di Asia Tenggara kerbau kok mewarnai budaya secara kuat. Ada Minangkerbau, ada adu kerbau, ada balapan kerbau di Sumbawa, gambar kerbau di Vietnam, Kamboja, dll.”

Dan Mbak Hariatni menjawab: “Pak Handoko: kalau saya menduga, itu ada kaitannya dengan budaya agraris negara-negara di Asia Tenggara. Peran kerbau sangat besar dalam budaya pertanian. Untuk membajak sawah, karena dia lebih kuat daripada sapi. Selain itu, kemudian mereka juga diadu untuk menunjukkan seberapa kuat mereka".

Benar sekali pernyataan Mbak Hariatni ini. Kerbau itu pekerja keras, kuat dalam penderitaan, meski lamban tapi penuh dengan kekuatan. Itulah sebabnya di negara-negara Asia Tenggara, kerbau lebih sering dipakai sebagai perlambang kerja keras. Pada jaman dulu, di Jawa, nama-nama seperti Kebo Anabrang, Kebo Kenongo dan kebo-kebo lainnya dipakai oleh para panglima tentara. Bahkan di tahun 50-70-an, di pedesaan Jawa masih sering kita temui nama GUDEL (anak kerbau). Gudel diasosiasikan dengan kuat dan cool.

Dalam penanggalan China, kerbau adalah salah satu dari 12 binatang terpilih. Kerbau dipilih sebagai simbol kerja keras. Jadi karakter tahun kerbau adalah karakter dimana semua orang dituntut kerja keras.

Kerbau juga berarti berkah dan keselamatan. Di Keraton Kasunanan Surakarta, kita kenal Kyai Slamet. Kyai Slamet adalah kerbau albino yang dikeramatkan. Bagi pedagang sayur di sepanjang Sukoharjo dan Wonogiri, mereka akan bersorak apabila dagangannya dimakan oleh Kyai Slamet. Kyai Slamet sering jalan-jalan sampai Wonogiri. Namun menjelang Bulan Syura, Kyai Slamet pasti pulang ke kandang di alun-alun selatan.

Setiap tanggal 1 Syura, Kerbau Kyai Slamet digiring dari alun-laun selatan Keraton Kasunanan menuju ke Mangkunegaran pada malam hari. Sepanjang jalan, masyarakat menunggu tahi kerbau. Bahkan mereka berebut tahi kerbau Kyai Slamet. Untuk apa? Ada kepercayaan bahwa tahi kerbau Kyai Slamet membawa berkah dan keselamatan.

Jadi jangan kaget apabila malam 1 Syura, kita melihat masyarakat berebut tahi kerbau. Ketika mereka mendapatkan akan berucap: ”Puji Tuhan” bagi yang beragama Nasrani; atau ”Alkhamdullilah”, bagi yang beragama Islam, sambil menggenggam tahi kerbau tersebut. Inilah tradisi.

Jadi masihkan kita mengasosiasikan kerbau dengan kemalasan, kebodohan dan kelambanan?

Tadi pagi (3 Februari 2010), di salah satu radio ibukota, Farhan (presenter terkenal) mengatakan: ”Para pendemo dilarang membawa kerbau. Nanti Pak SBY marah. Khususnya para pendemo yang mendukung Pak SBY dilarang membawa kerbau….tapi harap membawa kambing hitam.”

Mana lebih baik? Kerbau atau kambing hitam?

 

Ilustrasi:

Pos Indonesia & ence-ence.blogspot.com

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.