Family Corner
Me – Balikpapan
5 Februari 2005…5 Tahun yang lalu tidak terasa bagiku pernikahan yang aku dan suami jalani telah melewati masa-masa kritisnya (orang-orang bilang seperti itu)
Tidak pernah terbayangkan kami akhirnya melewati hari ini juga, kendati 2 minggu menjelang 5 Februari kami mengalami suatu guncangan yang hebat..untungnya selama 5 tahun ini suami telah banyak belajar untuk menjadi orang yang lebih sabar dan mulai melunak..kendati aku belum juga sepenuhnya untuk menjadi pribadi yang benar-benar bisa melunak dengan prinsipku.
5 Tahun pernikahan membuat kami bertukar karakter dan kami belajar banyak dari semua itu.
Tahun-tahun pertama pernikahan sempat membuatku putus asa,lelah dan hampir pudar semua rasa cintaku menghadapai karakter suami yang keras dan kasar sedangkan aku bukan type orang yang terbiasa dikerasi..sempat shock ketika dia pernah berkata “Apa yang saya bilang harus didengar dan tidak boleh dibantah”…selama semua yang dikatakan benar kenapa harus musti saya bantah…tapi jika tidak benar bagaimana?? Apakah saya hanya akan mengiyakan kendati saya tau itu salah….hal seperti ini yang biasa membuat kami selalu memanas..tahun pertama menikah kami memiliki egois yang tidak pernah ingin terkalahkan..kami memiliki watak yang keras hingga akhirnya aku jenuh sekali….
Tahun kedua menikah kami hampir bercerai…saya muak disetiap pertengkaran selalu tersisip kata-kata berpisah dalam kalimat amarahnya…suami terlalu protective dalam segala gerakku, pesimis dan sensitive…saya yang hopeless, tertekan dan mendendam makin memperparah keadaan rumah tangga kami, tidak ada kejujuran dalam hubungan kami …tentang apa yang kami rasakan..kami terlalu pintar menyimpan semua masalah hingga akhirnya tanpa kami sadari perlahan tapi pasti kami menghancurkan separuh cinta yang pernah ada….
Tahun ketiga kami mulai lelah dengan setiap permasalahan yang ada dengan bantuan salah satu Pendeta Gereja yang juga Orang Tua Nasrani anakku membawa titik terang dalam kehidupan keluarga kami..kami tau mereka dipakai Tuhan untuk membantu kami…Saya mulai melemah dengan keadaan tubuh yang terserang beberapa penyakit akibat dari Stress, saya mulai melunak berusaha untuk kembali mencoba sabar dan berjuang untuk keluarga ini terlebih untuk anak terkasih tapi suami tetap pada pendiriannya…susah baginya untuk membuang rasa egois yang dianggapnya sudah cukup mendarah daging dan pantang untuk dilepasnya..
”Laki-laki itu memang harus egois”…saya hanya diam dan mengelus dada…”Kenapa saya harus menikahinya…saya menyesal Tuhan, saya menyesal” terucap kata itu dalam doa ku kepada-Nya …aku marah, ini tidak adil bagiku dan aku pun mulai menjauh dari-NYA. Tidak ada yang kudapatkan dengan menjauhi-NYA…tiap malam kami masih bertengkar dan tiap malam airmata terus mengalir..pedih sekali…aku sakit…teramat sakit…
Dokter mendiagnosa bahwa kedua ginjalku terinfeksi, dia masih mengantarku bolak-balik Rumah Sakit untuk check up sana-sini…malam hari badanku demam aku terbaring lemah…aku tertidur..tengah malam aku terbangun mendapatinya menatap sambil mengelus rambutku…”Maafin papa ya??? Papa terlalu sayang mama…”…aku terlalu lemah untuk untuk mengiyakan dengan kata-kata, aku mengangguk pelan tak terasa airmata ini jatuh lagi…
Tahun keempat kami mulai menata kembali kepingan-kepingan cinta yang mulai berserakan yang sepertinya tidak memungkinkan kami untuk membuatnya indah dalam sekejap mata…Kami mulai berbenah diri…tidak ada lagi uneg-uneg yang tidak tersampaikan kami belajar mengutarakan hal-hal yang tidak kami sukai dan hal-hal apa saja yang harus tetap dipertahankan.
Kami belajar untuk lebih legowo menerima kritikan satu sama lain, kami belajar untuk tidak terlalu sensitive dan mudah tersinggung…kami belajar untuk mengalah jika ada salah satu dari kami yang mulai mengeras karakternya..Kami mulai menyatukan visi misi kami ke depannya dalam berbagai hal. Seperti saat kami membangun sebuah rumah, suami yang bertanggung jawab untuk memilih bahan-bahan yang terbaik buat rumah kami sedangkan saya bertanggung jawab untuk pengaturan ruangan, warna cat, model keramik, tata letak lampu dsb.
Dalam hal seperti ini pun terkadang terselip pertengkaran kecil tapi kami berdua berusaha untuk tidak membuatnya semakin besar…kami tidak ingin tahap pembelajaran ini kandas begitu saja.
Anakku mulai tumbuh, walau terkadang pertengkaran di depannya tak terhindarkan..saya tidak mau kami bertengkar di hadapannya tapi terkadang saya yang terbawa emosi tidak bisa membendungnya..dan jagoanku hanya menangis..duh..sedihnya melihatnya seperti ini…awalnya dia shock melihat kondisi ini tapi saya tetap mencoba untuk tenang….terkadang saya merasa menjadi seorang pembohong ketika dalam keadaan menangis saya memeluknya dan berkata “Tidak ada apa-apa sayang, mama dan papa cuma berbicara, kami tidak marahan kok”..saya tidak bisa menjadi pembohong yang hebat dalam hal ini, saya terisak pilu mendekapnya.
Dalam hal ini pun kami berdua sadar tidak gampang untuk menjadikan diri kami benar-benar baik…Kami berpelukan ketika kami sadar bahwa dengan pertengkaran ini kami melukai hati jagoan kami..kami berusaha untuk menghindari pertengkaran yang menyakitkan anak kami tapi sungguh sulit sekali untuk melakukannya..satu hal yang perlu diingat kami harus tetap belajar memperbaiki diri…
Dan hari ini 5 Februari 2010 Pernikahan kami berusia 5 Tahun setelah tahun demi tahun kami jalani dengan keputusasaan, kami jalani dengan watak kami yang keras diracik dengan bumbu egois yang melukai diri kami sendiri maupun anak kami, sekali lagi kami sadar bahwa kami harus berbesar hati menerima pasangan dengan segala kekurangan dan kelebihannya…selalu belajar untuk memupuk cinta yang hampir mati..selalu belajar untuk mencintai dengan tulus tanpa pamrih dan selalu ingat bahwa Tuhan memiliki rencana besar dan indah disetiap pertengkaran yang pernah ada… menjauhiNYA adalah kesalahan fatal yang pernah aku lakukan.
5 tahun awal yang berat bagiku dan suami tapi sekarang kami akan optimis bahwa kami masih memiliki rencana-rencana indah untuk keluarga dan anak kami, cita-cita yang harus kami gapai bersama-sama dengan penuh kasih tanpa kekerasan walau kami sadar saat kami melewati 5 tahun ini kami masih akan menghadapi berbagai masalah yang lainnya.
Pernikahan mengajarkanku untuk dapat menyelesaikan masalah-masalah yang ada didalamnya bukan untuk menghindarinya. Belajar dari kesalahan masa lalu kami berdua membuat kami kuat untuk menghadapi masalah lain yang akan datang.
Dengan Cinta untuk suami tercinta dan anak terkasih….
Salam,
Me-Balikpapan











April 22nd, 2010 at 07:56
Pingkan: Silahkan….copy paste aja…GOOD LUCK ya??
April 21st, 2010 at 13:57
Mbak, selamat atas 5 tahun perkawinannya
ijin copy paste boleh? saya mahasiswa psikologi sedang buat tugas akhir tentang penyesuaian di awal pernikahan. Sharing Mbak tentang tahun pertama dan kedua pernikahan ingin saya pakai untuk latar belakang kalau boleh. Terima kasih.
March 12th, 2010 at 10:21
Cinde Laras: hehehe..kalimat terkahir aku suka mbak “gede kepala”…boleh jg kalo pertanyaan yg sama aku tanyakan ke suami hahaha..maksih komentarnya mbak…
March 10th, 2010 at 13:06
@Me: SELAMAT HARI JADI PERKAWINAN YANG KE 5 ! Semoga sukses dan langgeng selamanya : )
Aku baru saja selesai hari jadi yang ke 17, lumayan sudah lebih separuh usia kenal pria yang sekarang jadi bapak anak-anakku. Pacarannya 6 taun, sampe diledekin kayak “cinta karet”, kesana-sini lengket. Tapi biarin, orang mau ngoceh apa ternyata memang gak boleh didengar kalo itu soal kekurangannya pasangan kita, sejauh sama-sama setia dan sayang satu-sama-lain.
Apapun jadinya, istri ditakdirkan menjadi pelengkap bagi kekurangan suami, begitupun sebaliknya. Istri juga jadi penguat untuk suami, begitupun sebaliknya. Dalam hal saling merasa benar sendiri, kayaknya usia akan menuntun setiap pasangan untuk akhirnya bisa menjaga tenggang rasa, kalo satu marah-satu lagi diam, mendengarkan, tunggu sampai ucapannya selesai. Kalau satu protes-satunya lagi harus ikhlas menerima kritikan. Sebuah perahu tak punya dua nahkoda, seorang lagi harus mau jadi navigator atau ABK. Mulai memikirkan konsep, bahwa setelah berkeluarga, tak ada lagi “kamu” dan “saya”, tapi “kita” ! Apalagi sudah ada anak-anak di tengah keluarga. Mereka adalah korban paling menderita bila sesuatu terjadi, dan mereka sama sekali tak dapat membalas atau menyelamatkan diri dari bencana yang pastinya tak pernah mereka inginkan dari kedua orangtua, perceraian. Mereka yang akan menanggung beban psikis, mungkin juga lahirnya (jadi gak mau memperhatikan badan sendiri). Bukan “kamu” dan bukan “saya”.
Tetaplah sabar, suatu saat pasti ada masa dimana suami Me akan “tumbuh lebih dewasa”. Mereka tidak dibesarkan untuk menjadi pendengar, mereka lebih suka action-bertindak, sementara perempuan dibesarkan sebagai makhluk yang paling suka bicara. Soal ego pria lebih besar itu…, secara guyon aku pernah bicara pada suamiku: “Bapak tau gak kenapa volume kepala pria lebih besar dari volume kepala perempuan ? Karena pria memang gede kepala….”, hehehehehe…….
February 8th, 2010 at 09:46
Hehehe, bukan orang penting sama sekali. Setelah nulis itu komen, baru kepikiran, “Deeuh, error deh. Nti disangkain dari keluarga orang penting.”
Tapi apa boleh buat sudah terlanjur ditulis. Maksudnya sih dunia kan kecil banget…..Satu sama lain ada terhubung begitu
Apa yang buat saya OK untuk dibagikan, belum tentu OK buat anggota keluarga yang lain. Ada orang2 yang kita pengen stay in touch, ada yang enggak. Itu aja.
Sorry ya jadi salah paham.
February 8th, 2010 at 08:51
Kucing belang:terimaksih komentnya…emang sih kalo kita ga pintar2 menyingkapi saat berantem di depan anak…kasiannya si anak…anakku sekarang udah pintar kalo dia lihat ortunya berantem kemudian baikan lagi saat tidur dia cuma bilang “kakak ga suka liat papa mama kelai-kelai(berantem)..sampe kakak bangun dari tidur” duh..miris bgt
Catrine Mok: Hidup ISENG!!! halah mbak ini macam2 aja…hehehe tapi kalo ga iseng ga afdol ya mbak
..saya rasa iseng dibutuhkan dalam rumah tangga biar rumah tangga kita ga monoton…makasih udah mampir ya mbak??
SU:Kayanya mbak SU n fam orang penting deh…aku jadi penasaran hehehe..aku tunggu share-mu ya mbak…(ih..beneran loh penasaran
)
Bagong:Makasih pak..duh jgn dibilang udah lulus pak..masih banyak masalah yang harus ditempuh dalam rumah tangga ini hehehe…makasih ya pak??
February 5th, 2010 at 22:09
ME>>>>
Selamat!
Dalam 5 tahun pertama sudah menguji diri!
Dan lulus!
Summa cumlaude!
Saya yakin menjadi cermin bagi keluarga muda lain!
February 5th, 2010 at 16:08
Sharingnya bagus bgt. Nasehat Pak Dj n Mas Han jg bgs.
Nti kpn2 sy share juga ah. Slh satu knp sy ga mau go public dimn sy berada n penampilan sy seutuhnya, krn sy pengen melindungi org2 yg saya kasihi. Sy aslinya msh blj utk terbuka n org2 yg sy kasihi mrk tipe very private people juga. Kalo sy share pengalaman hdp, mrk akan merasa terusik. Mknya maaf bgt sy blm bisa ‘go public’.
February 5th, 2010 at 15:09
Me, happy anniversary !!
Semoga langgeng dan bahagia selalu.
kalo aku sm suami udh kenyang yg seperti kamu alami 5 thn ini. tp bukan waktu masa2 awal perkawinan. Jaman2nya seperti itu waktu pacaran. ego tinggi, tuntutan tinggi tapi kemauannya msh setengah2. hihihihi
aku pacaran 9 tahun ( abis itu “maksa” minta dikawinin ).
sering berantem and cemburuan tp. Skrg udh jarang, udh hafal cara mengatasinya.
Yg ada malah sering kangen pengen cari gara2 sama suami. Soalnya aku tipe istri yg paling seneng isengin suami dlm segala hal. hehehhehe
Sekali lg Selamat ya, me !!
salam buat suami dan anakmu…