Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Makan di Ketinggian 10,000 kaki

Thursday, 4 February 2010

Viewed 2829 times, 3 times today | 36 Comments |

Junanto Herdiawan – Tokyo

Penerbangan antar daerah atau negara adalah laku yang bisa membosankan. Tak banyak pilihan yang bisa kita lakukan. Tapi laku itu juga bisa menyenangkan kalau kita rajin mengamati berbagai hal selama perjalanan. Satu hal yang sering saya catat adalah sajian makan di pesawat (inflight meals). Setiap melakukan perjalanan udara, saya sering mencatat dan memotret menu makan di pesawat. Semula hanya keisengan, namun lama kelamaan jadi sebuah pertanyaan, dari mana dan bagaimana sebenarnya makanan di pesawat itu disiapkan.

Beberapa bulan lalu, saya beruntung bisa bertemu dengan pak William Wongso dalam sebuah penerbangan Garuda, dari Jakarta ke Makassar. Selain pakar kuliner, beliau adalah juga culinary advisor dari maskapai Garuda Indonesia. Setelah saya memperkenalkan diri, dua jam penerbangan adalah cerita tentang inflight meals.

Menurut pak William, persiapan makanan selama penerbangan bukan hal sederhana. Keketatan persyaratan harus dipenuhi, mulai dari mutu makanan, higienitas, hingga penyajian. Proses dari belanja bahan hingga disajikan tak boleh lebih dari 24 jam guna menjaga kesegaran sajian. Pak William punya cita-cita untuk memperkenalkan menu Indonesia ke dunia internasional, salah satunya melalui inflight meals di jalur domestik maupun internasional.

Sejak pak William menjadi penasihat kuliner, penyajian inflight meals di Garuda Indonesia memang mengalami kemajuan. Dibandingkan dengan maskapai penerbangan internasional lainnya, Garuda Indonesia tak kalah hebat dalam menyajikan sajian di udara. Selain menyajikan mini tumpeng di kelas bisnis, Garuda Indonesia juga menawarkan kopi luwak, kopi termahal sedunia yang khas banget dari Indonesia.

Snack Risoles di GA 218 / photo by Beby

Seorang kawan SMA yang juga pramugari senior di Garuda, Beby Rosvarini, paling antusias kalau diajak bicara soal makanan penerbangan. Maklum, itu kan yang digeluti Beby setiap hari. Baru-baru ini, ia mengirimkan foto makanan (hot refreshment) business class GA 325 jurusan Surabaya – Jakarta.

Menu yang disajikan adalah Nasi Goreng Seafood. Hmmm tampilannya begitu membuncah dan nampak lezat mendegut ludah. Nasi goreng adalah makanan khas Indonesia yang dikenal di mancanegara. Kalau ingat lagu Wieteke Van Dort, Geef Mij Maar Nasi Goreng, maka tak ada keraguan lagi soal kelezatan nasi goreng Indonesia. Hal inilah yang rupanya dijual oleh Garuda Indonesia kepada penumpangnya. Soal snack, Garuda juga berbenah diri. Sajian snack di kelas bisnis GA 218 misalnya, menyajikan risoles yang sungguh menarik dan khas Indonesia. Kita berharap Garuda bisa semakin maju dan bersaing dengan maskapai besar lainnya di dunia internasional.

Prawn and Scallops SQ / photo by JH

Lain Garuda Indonesia, lain pula maskapai penerbangan lainnya. Salah satu yang menarik adalah Singapore Airlines. Kalau Garuda Indonesia, merekrut pak William Wongso sebagai penasihat kulinernya, SQ merekrut chef handal dari berbagai negara untuk duduk sebagai International Culinary Panel. Salah satu chef yang terkenal adalah Sir Gordon Ramsay dari Inggris. Ia juga kerap muncul di TV pada acara memasak “The F word”. Selain itu ada juga Matthew Moran, chef terkenal Australia yang sering mendapat penghargaan dari Sydney Morning Herald.

Beberapa menu yang sempat saya catat dalam perjalanan dengan SQ adalah appetizer yang dinamai “Prawn and Scallop in Balsamic and Fennel Salad”. Udang yang disajikan segar dan scallopnya terasa hidup dalam kuluman lidah. Ada juga “Spiced Duck Leg in A Honey Citrus Sauce with Roasted Vegetables and Potatoes”. Ini adalah kaki bebek goreng yang sangat renyah direndam dalam saus sitrus. Menu lain yang juga menarik adalah saat perjalanan Tokyo-Singapore pekan lalu. Seleksi makanan Jepang dari SQ cukup variatif. Menunya adalah “fried chicken curry, cold udon, salad, dan nasi”. Perjalanan Jakarta – Singapore yang pendek juga dikebut dengan menu “Scrambled eggs with chicken sausage, glaced tomato and hash brown”. Rangkaian menu tersebut menarik dan pas di lidah para traveler yang sedang mengudara.

Spicy Duck Leg SQ / photo by JH

Maskapai penerbangan lain, seperti Emirates misalnya, tak mau kalah dalam menyajikan menu penerbangan. Untuk kategori penerbangan Timur Tengah, jagoan soal inflight menu adalah Emirates. Tak heran, sebab Emirates memang pernah meraih “Outstanding Food Service Award” untuk kategori maskapai Timur Tengah. Sajian menu mereka dijamin halal, enak, dan tentu penyajiannya menarik.

Di Jepang, maskapai penerbangan Japan Airlines (JAL) yang bangkrut beberapa minggu lalu sebenarnya memiliki menu inflight yang unik. Kira-kira tahun lalu, JAL memperkenalkan menu Jepang bekerjasama dengan Kyoto Cuisine "Mebaekai" dengan tema the `haute cuisine of Japan'.

Pilihan makanan yang disajikan dijamin segar, baik mentah, rebus, maupun panggang. Apakah dengan bangkrutnya JAL, menu-menu menarik ini masih bisa mengudara? Kita tak tahu ….
Meski bervariasi dan menarik, tapi rupanya tak semua orang sependapat dengan saya soal menikmati inflight meals. Gadis muda Jepang yang manis dan kebetulan duduk di sebelah saya saat perjalanan pekan lalu, terlihat tak tertarik dengan menu makanan yang disajikan. Mungkin ia lebih mementingkan selimut dan bantal selama penerbangan.

Well, kalau begitu ceritanya, mungkin lebih baik kita ambil selimut dan bantal, lalu tidur….. Sambil berharap lekas sampai tujuan. Salam.

Cold Udon and Chicken Curry SQ / photo by JH

Nasi Ayam / photo by JH

Scrambled Egg and Sausage / photo by JH

Share This Post

Posted by Thursday, 4 February 2010 on 01:27.

Categories: Food. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

36 Responses to “Makan di Ketinggian 10,000 kaki”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 36
    junantoherdiawan Says:

    Teman-teman, matur suwun komentarnya. Inflight meal memang menarik untuk dibahas, menunjukkan betapa delicatenya urusan yang satu ini. Thanks juga share dan tukar pengalamannya dengan maskapai lain. Menambah kaya tulisan. Salam….

  2. 35
    Edy Says:

    Jeng Lani: Paling mumet nek numpak mid east airlines saat pulang kampung, isinya mayoritas kan mbak2 tkw yg sudah 2 tahun baru mudik tuh, dijamin ora iso turu, ruameee ne poll. Paling ces ples yo nenggak red wines 2 botol lan liyer liyer penak.

  3. 34
    adhe Says:

    Garuda didadaku, pokoke paling suka makanan di Garuda, dijamin halal ini yang no 1.

  4. 33
    Sierli Says:

    Ngacaii..ngecess..ngacaiii lagi..ngeces lagi..

  5. 32
    Lani Says:

    EDY : mau yg white either red wines gak iso milih, soale alergi

    Pam-Pam : udah tau, liat penampilan burger siapan itu kenapa tetep ae di EMBAT??????? nek kuwi kesalahanm dewe…yo rak?

    HN : nek kurang pedes sangu lombok dewe sekiloooooooo kkkkkkkk

    buat diriku, dipesawat dlm perjalanan jauh, tiap 2 jam sekali bangun, jalan2, stretching….itu penting menghindari blood clog

  6. 31
    Edy Says:

    Saya nggak pernah berharap makan enak di atas pesawat, yg saya incar adalah red wine nya. Minum wine, nonton filmnya/denegr cd, sambil liyer2 nganti zzzzz….tau2 sampai tujuan.
    Dari bbrp airline yg pernah kucoba nntuk international flight SQ/JAL/BA/Emirates/Etihad/ QA, paling oke ya SQ.

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)