Sumonggo – Sleman
Alkisah di sebuah negeri yang (seharusnya) makmur dan sejahtera, kita sebut saja sebagai Republik Mimpi Kali Yee (karena Republik Mimpi sudah jadi nama di acara sebuah televisi swasta). Sang pemimpin saat awal berkuasa menggelar program yang diberinya nama program 100 hari. Ketimbang Kabinet Bersatu sepertinya lebih cocok untuk diberi nama Kabinet Bersaku.
Mungkin maksudnya para anggota kabinet perlu memperbesar saku bajunya masing-masing supaya muat menampung penghasilan yang makin gede. Setelah 100 hari, para menteri mempromosikan kesuksesannya masing-masing, tentu saja dengan nilai yang mengagumkan. Lha wong target dibikin sendiri, terus dinilai sendiri, bagaimana tidak bagus? Singkatnya semua terlihat baik-baik saja. Bagaimana kalau kita sebut kabinet tersebut sebagai kabinet bondho nekat, karena sering mengabaikan suasana kebatinan rakyat. Mau tahu bagaimana sejumlah kenekatannya?
Kenekatan pertama adalah menaikkan gaji pejabat tinggi 10-15%, dengan bermacam istilah untuk ngeles, apakah itu remunerasi apa tunjangan, hmmm … dasar orang memang belum pernah merasakan di-"tunjang" (bhs Jawa: disruduk).
Baru saja mulai kerja sudah naik gaji?
Kenekatan kedua, adalah pengadaan mobil mewah seharga 1,3 milyar buat para penggede, uenakkk tenann …… Makin rajin bekerja atau makin nyenyak saja tidurnya nih …. Apakah mobil mewah baru itu nantinya akan lebih memudahkan mereka untuk berempati dengan kesulitan rakyat? Benar-benar suatu pertunjukan ketidakpedulian yang luar biasa bagi rakyat kecil yang hidupnya makin terhimpit. Sementara kabarnya pagu raskin yang kualitas berasnya kerap mbuh-mbuhan, akan diturunkan dari 15 kg per rumah tangga miskin perbulan menjadi 13 kg.
Kalau soal pengadaan yang mewah-mewah, memang jagonya, jangan lupakan pengadaan pesawat kepresidenan VVIP. Lho penting tho citra dan wibawa kepala negara mesti dijaga, meski rakyat mati terinjak-injak karena antre zakat atau berebut air celupan batu. Jangan coba bertanya berapa kilogram nasi aking yang bisa diperoleh bila dibarter dengan mobil baru pak menteri. "Biarin, yang punya negeri ini gue, emang elu mau apa? Suka-suka gue." Mungkin begitu yang ada di benak mereka, bila mendapat protes karena kenekatannya yang ngudubilah dalam menghambur-hamburkan uang rakyat.
Kenekatan ketiga, menambah-nambah jabatan baru, misal wakil tukang kebon, wakil office boy, wakil tukang ganti taplak, wakil tukang ganti lampu, wakil tukang kipas-kipas, dst ….. Mungkin nanti jika bapak menteri terlalu sibuk dan merasa gatal, maka perlu juga diadakan wakil tukang garuk-garuk. Gimana tho dulu si boss besar pilih menteri mestinya pilih yang becus bekerja dong, jangan cuma bisa gunting pita doang?
Kenekatan keempat, pagar istana bernilai 22 milyar, sepertinya beliau lupa bila pagar terbaik adalah terpenuhinya rasa keadilan rakyat. Bayangkan bila nilai sebanyak itu untuk mengamankan (baca: memperbaiki) gedung-gedung SD yang hampir runtuh, sehingga anak-anak kita merasa aman dan tidak was-was ketiban tembok atau atap saat sedang belajar di sekolah. Jangan salahkan jika nantinya pagar istana disikat pemulung yang kelaparan.
Suara-suara penderitaan rakyat laksana blowing in the wind saja, malah nekat tarik suara sendiri untuk meluncurkan album baru. Hmm … ketimbang bikin rekaman baru, sebaiknya putar ulang rekaman janji-janji waktu kampanye dulu. Jangan kaget bila hari ini ada demonstran yang membawa kerbau dan tikus, mungkin besok ada yang membawa sapi, monyet, atau entah binatang apa lagi.
Tak heran sekarang masih bertimbun masalah seperti Bank Kenduri, yang konon aliran dananya dipakai untuk "kenduri". Para pemimpin bukannya sibuk bekerja dan melayani rakyat, tapi malah sibuk melayani diri sendiri, dan tak lupa melengkapi politik pencitraan dengan politik (maaf) bangsat.
Di satu sisi menghimbau untuk santun, di sisi lain tak mampu menjaga kehormatan mulut. Mungkin mereka lupa dampak sistemik dari kenekatan-kenekatannya seolah memberi "teladan" bagi yang di bawah. Mau dibikin satgas ini itu, atau tim sekian-sekian, hanya sekedar untuk menghibur saja. Entah itu koalisi atau oposisi, mau bikin pansus sekian biji, sepertinya ujungnya tak sulit ditebak, toh ada semboyan yang disepakati bersama di antara mereka dalam deal-deal politik untuk mengedepankan "win-win solution" alias "Kita untung bangsa buntung".
Nuwun
Ilustrasi: Koran Tempo








