Program 100 hari di Republik Mimpi Kali Yee…

Sumonggo Thursday, 4 February 2010

| Viewed 908 times, 1 times today | 37 Comments |

Sumonggo – Sleman

Alkisah di sebuah negeri yang (seharusnya) makmur dan sejahtera, kita sebut saja sebagai Republik Mimpi Kali Yee (karena Republik Mimpi sudah jadi nama di acara sebuah televisi swasta). Sang pemimpin saat awal berkuasa menggelar program yang diberinya nama program 100 hari. Ketimbang Kabinet Bersatu sepertinya lebih cocok untuk diberi nama Kabinet Bersaku.

Mungkin maksudnya para anggota kabinet perlu memperbesar saku bajunya masing-masing supaya muat menampung penghasilan yang makin gede. Setelah 100 hari, para menteri mempromosikan kesuksesannya masing-masing, tentu saja dengan nilai yang mengagumkan. Lha wong target dibikin sendiri, terus dinilai sendiri, bagaimana tidak bagus? Singkatnya semua terlihat baik-baik saja. Bagaimana kalau kita sebut kabinet tersebut sebagai kabinet bondho nekat, karena sering mengabaikan suasana kebatinan rakyat. Mau tahu bagaimana sejumlah kenekatannya?

Kenekatan pertama adalah menaikkan gaji pejabat tinggi 10-15%, dengan bermacam istilah untuk ngeles, apakah itu remunerasi apa tunjangan, hmmm … dasar orang memang belum pernah merasakan di-"tunjang" (bhs Jawa: disruduk).
 Baru saja mulai kerja sudah naik gaji?

Kenekatan kedua, adalah pengadaan mobil mewah seharga 1,3 milyar buat para penggede, uenakkk tenann …… Makin rajin bekerja atau makin nyenyak saja tidurnya nih …. Apakah mobil mewah baru itu nantinya akan lebih memudahkan mereka untuk berempati dengan kesulitan rakyat? Benar-benar suatu pertunjukan ketidakpedulian yang luar biasa bagi rakyat kecil yang hidupnya makin terhimpit. Sementara kabarnya pagu raskin yang kualitas berasnya kerap mbuh-mbuhan, akan diturunkan dari 15 kg per rumah tangga miskin perbulan menjadi 13 kg.

Kalau soal pengadaan yang mewah-mewah, memang jagonya, jangan lupakan pengadaan pesawat kepresidenan VVIP. Lho penting tho citra dan wibawa kepala negara mesti dijaga, meski rakyat mati terinjak-injak karena antre zakat atau berebut air celupan batu. Jangan coba bertanya berapa kilogram nasi aking yang bisa diperoleh bila dibarter dengan mobil baru pak menteri. "Biarin, yang punya negeri ini gue, emang elu mau apa? Suka-suka gue." Mungkin begitu yang ada di benak mereka, bila mendapat protes karena kenekatannya yang ngudubilah dalam menghambur-hamburkan uang rakyat.

Kenekatan ketiga, menambah-nambah jabatan baru, misal wakil tukang kebon, wakil office boy, wakil tukang ganti taplak, wakil tukang ganti lampu, wakil tukang kipas-kipas, dst ….. Mungkin nanti jika bapak menteri terlalu sibuk dan merasa gatal, maka perlu juga diadakan wakil tukang garuk-garuk. Gimana tho dulu si boss besar pilih menteri mestinya pilih yang becus bekerja dong, jangan cuma bisa gunting pita doang?

Kenekatan keempat, pagar istana bernilai 22 milyar, sepertinya beliau lupa bila pagar terbaik adalah terpenuhinya rasa keadilan rakyat. Bayangkan bila nilai sebanyak itu untuk mengamankan (baca: memperbaiki) gedung-gedung SD yang hampir  runtuh, sehingga anak-anak kita merasa aman dan tidak was-was ketiban tembok atau atap saat sedang belajar di sekolah. Jangan salahkan jika nantinya pagar istana disikat pemulung yang kelaparan.

Suara-suara penderitaan rakyat laksana blowing in the wind saja, malah nekat tarik suara sendiri untuk meluncurkan album baru. Hmm … ketimbang bikin rekaman baru, sebaiknya putar ulang rekaman janji-janji waktu kampanye dulu. Jangan kaget bila hari ini ada demonstran yang membawa kerbau dan tikus, mungkin besok ada yang membawa sapi, monyet, atau entah binatang apa lagi.

Tak heran sekarang masih bertimbun masalah seperti Bank Kenduri, yang konon aliran dananya dipakai untuk "kenduri". Para pemimpin bukannya sibuk bekerja dan melayani rakyat, tapi malah sibuk melayani diri sendiri, dan tak lupa melengkapi politik pencitraan dengan politik (maaf) bangsat.

Di satu sisi menghimbau untuk santun, di sisi lain tak mampu menjaga kehormatan mulut. Mungkin mereka lupa dampak sistemik dari kenekatan-kenekatannya seolah memberi "teladan" bagi yang di bawah. Mau dibikin satgas ini itu, atau tim sekian-sekian, hanya sekedar untuk menghibur saja. Entah itu koalisi atau oposisi, mau bikin pansus sekian biji, sepertinya ujungnya tak sulit ditebak, toh ada semboyan yang disepakati bersama di antara mereka dalam deal-deal politik untuk mengedepankan "win-win solution" alias "Kita untung bangsa buntung".

Nuwun
 

Ilustrasi: Koran Tempo

Categories: Ekonomi & Politik
Tags:

37 Comments to “Program 100 hari di Republik Mimpi Kali Yee…”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 37
    Dewi Aichi Says:

    Mas Sumonggo: dari tadi kok kebetulan baca tentang DPR melulu ya…

  2. 36
    Dewi Aichi Says:

    Mas Sumonggo, wah makin nyesek dadaku , kenapa ya, pengelola negara selalu dipegang oleh orang-orang yang ngga punya hati, pantas mereka ngga pernah kena penyakit hepatitis, lah hati saja ngga punya, gimana mau kena hepatitis.

    Kenapa orang-orang yang punya hati seperti kita(ehemmm), terutama mas Sumonggo, ngga duduk di posisi mereka, coba kalau ada 100 pejabat saja seperti ini, pasti akan berubah keadaan. Kenapa ya para pejabat dengan antusias malah berbinar2 menerima mobil mewah dan segala tunjangan yang lain? Coba seandainya mereka bilang, wah…aku ngga mau pakai mobil mewah, aku hanya ingin gaji yang memang pantas aku terima sesuai dengan tugas dan kewajibanku mengabdi kepada negara.
    Apalagi anggota DPR kalau memang ini benar, duhhh…pantas pada rebutan pengen jadi anggota DPR. Gaji pokoknya 15 juta lebih dikit, tunjangan listri 5 juta setengah kurang dikit, tunjangan aspirasi 7.200.000, tunjangan KEHORMATAN 3.150.000, tunjangan komunikasi 12 juta huauauaua…mantap, buat berkomunikasi dengan CEM2AN, tunjangan pengawasan 2.100.000,total rp. 46.100.000/bulan, ato rp.554.000.000/tahun.
    masih ada gaji ke:13(no. hantu) tiap bulan Juni…rp.16.400.000 kalau belum turun lho ya…kayanya ngga ada turunan, nanjakkkk terus..!
    Dana penyerapan ( reses) :Rp 31.500.000
    Dalam satu tahun sidang ada empat kali reses jika di total selama pertahun
    totalnya sekitar Rp 118.000.000. Sementara penghasilan yang bersifat
    sewaktu-waktu yaitu:

    Dana intensif pembahasan rencangan undang-undang dan honor melalui uji
    kelayakan dan kepatutan sebesar Rp 5.000.000/kegiatan
    Dana kebijakan intensif legislative sebesar Rp 1.000.000/RUU

    Jadi hampir 1 M/tahun kali jumlah anggota…hiks hiks hwaaa…..kembalikan uang rakyat ke rakyat, jangan ke kantong mu!

    data tahun 2006, jumlah yg diterima anggota DPR 761.000.000, dan 2007 mencapai 787.100.000, lak mundak to, kapan ke-turunan? sumber :www.kabarinews.com

  3. 35
    HN Says:

    Mbak Lani, lha lek nyolong, yo tekan duitku barang, Mbak… aku bayar pajak, bayar retribusi. bahkan mangan neng warung yo kena PPN 10 persen. Mung mangan neng kaki lima ae ga kena PPN, hehehe.

  4. 34
    Lani Says:

    HN : halah, larang wong rak metu soko kantonge dewe, duit nyolong…jelas wae mrk gak peduli.

  5. 33
    HN Says:

    Kenapa ya Pak, 100 hari sekarang jadi tren buat ngukur kinerja para pemimpin: mulai dari presiden, gubernur, sampai dengan para bupati/walikota….

    Btw, pagar istana 22 M itu apa dari emas ya bahannya? kok larang…mbok gawe pring, luweh murah dan ramah lingkungan….

  6. 32
    J C Says:

    Ojo sungkan Mas Sumonggo, kedukan panjenengan bukan kelas pacul lagi, tapi BACKHOE…hihihi…

    Waduh, mesaki men, kebo kok di’razia…

  7. 31
    Sumonggo Says:

    Silakan menunggu artikel berikutnya tentang razia kerbau, ha ha ….

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar.

Image (JPEG, max 50KB, please)

Archives



Internet Sehat

Advanced NewsPaper customized by Team Baltyra.com