Uiiiihhh, nggilani!!

Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel

Nggilani adalah bahasa Jawa yang berarti menjijikkan. Kata dasar gilo berarti jijik. Menjijikkan, kalau dalam pemahaman subyektif saya merupakan kesatuan nilai rasa mata, rasa lidah dan rasa pikir.

Hanya saya juga ragu, bisakah rasa itu dikuantitatifkan semisal rasa mata 33,333%; rasa lidah 33,333%; rasa pikir 33,334% dalam memandang satu obyek tertentu. Saat mata melihat suatu obyek, bersamaan otak membangun pengertian tentang benda itu dan memerintahkan rasa lidah untuk merumuskan benda itu. Sesuai karakteristik benda itu, dibentuklah pemahaman: nggilani atau tidak nggilani; bisa dimakan atau tidak; bisa dicium atau tidak, bisa dibaui atau tidak. Ditolak atau diterima. Dst dsb. Ternyata pula pemahaman itu berkembang dan bervariasi: nggilani bisa dimakan atau tidak; tidak nggilani tidak bisa dimakan dst dsb.

Bagi saya, rasa pikir yang 33,334% akhirnya mendominan rasa mata dan rasa lidah saya. Saat melihat suatu benda dan segera saya rasapikirkan benda itu tidak nggilani, maka rasa lidah saya pun tunduk! Ayo, makan! Ayo, telan saja!. Ayo pegang! Ayo buang dst dsb.

1. Meulaboh, 1994: Orang Ambon Tidak Makan Lele?!
Lagi merantau di Acheh Barat. Ada arisan Pujakesuma. Boss ikut, sayapun ikut. Bukan arisannya, tapi silaturahminya. Lengkap pesertanya. Bukan hanya PUtra JAwa KElahiran SUMAtera saja. Saya setengah keturunan Sumatera dan lagi keluyuran, tentu saja boleh ikut. PUtra setengah JAwa KEluyuran SUMAtera. Ada yang sebelah Jawa (isteri atau suami), ada yang hanya punya menantu dan merasa jadi Jawa.

Ini perkumpulan sosial dan bukan membangun sentimen etnis. Ada boss, ada transmigran, ada tentara-polisi, ada pedagang, ada ulama, ada guru, ada partikelir. Boss PLN, arek Suroboyo bersaksi: orang Ambon tidak makan lele. Itu ikan makan bangkai dan tai! Beta tidak makan ikan makan bangkai dan tai!

Saat dinas di Ambon, baru beberapa hari, sang Boss sudah menuntaskan hobby: mancing! Di dekat kantor ada sungai. Saat mancing, didapatlah ikan lele sebesar lengan. Bukan saja seekor! Dengan penuh bangganya sang Boss pulang dengan menenteng lele sebesar lengan itu!

Orang-orang di sepanjang jalan melihat dengan penuh tatapan kagum. Ini dalam pandangan Boss. Yang sesungguhnya terjadi adalah: Nggilani! Orang Jawa makan ikan makan bangkai dan tai! Dalam pandangan orang Ambon, ikan lele selalu dijumpai berada di dekat pekuburan dan sungai tempat nongkrong melepas hajat! Susah payah Boss menjelaskan kenikmatan ikan lele! Tetap tidak berhasil! Satu kali, saat ada acara di rumah Boss, disajikanlah menu sambel goreng ati dan lele cincang goreng! Enak! Enak! Kata anggota Boss yang wong Ambon! Sejak itu, ikan lele tidak dipantang makan oleh orang Ambon.

Kesimpulan: rasa jijik bertahan sampai muncul instruksi yang menolaknya!

2. Kuala Simpang, 1999: Ingus Asin Rasa Sayang
Tubuh kecil itu tergolek lemah. Badannya panas menahan sakit demam. Sebentar ke kiri, sebentar ke kanan dimiringkannya badan dan kepala melawan arah curahan ingus. Mamanya tercenung di sebelahnya dalam diam. Mimik wajah isteri, seolah bilang: kalau dizinkan Nak, biarlah Mamamu saja yang sakit!

Secepat itu, saya mendekatkan wajah saya ke wajah Agus, anak kami yang baru terkena flu. Dengan satu gerakan kilat, mulut saya menyedot ingus Agus. Sekali sedot lubang hidung kiri, segera ingus itu saya ludahkan. Dengan gerakan yang sama, lubang hidung kanan Agus saya sedot tuntas. Ada rasa asin. Selintas, mata merah Agus menatap saya dan kemudian dilanjutkannya istirahatnya. Sejak saat itu, tak pernah lagi Agus sakit flu lebih dari satu hari. Tehnik sedot inguspun makin saya kuasai. Sekali sedot untuk kedua lubang hidung. Bukan ditelan, tentu saja. Tetapi tetap ada rasa asin.

Kesimpulan: rasa jijik dibedakan, ditandai dan dikalahkan oleh rasa sayang.

3. Pekanbaru, 1989: Ini Bukan Sayur Tumpang, Adik Baru Berhajat
Sejak Sabtu kemaren malam liburan ke Pekanbaru. Nginap di rumah Makcik. Suaminya polisi pujakesuma juga. Asli kelahiran keturunan, bukan putera Jawa keluyuran Sumatera seperti saya. Keluarga relatif baru dengan satu anak puteri baru beberapa bulan. Minggu pagi itu saya lanjutkan lagi tidur-tidur ayam saya. Pak Lik dinas, Mak Cik ke pasar.

Sekejap saya terlelap, si puteri terbangun dan menangis serta merampas perhatian saya. Saya angkat bopong tubuh itu. Tangan kanan memegang kepala, tangan kiri meraih bokong. Ada basah becek terasa di tangan kiri. Dan aroma kecut busuk khas tajam segera saya hirup.

Berhajat dia! Saya baringkan dia di perlak/terpal plastik. Saya buka popoknya. Haa, mas jadi Ibu. Sungguh, hajatnya seperti sayur tumpang penampakannya. Ada padatan, ada cairan. Warna kuning coklat kehijauan. Sayur tumpang adalah sayur tempe setengah busuk khas Jawa Tengah. Tempe sehat dipaparanginkan selama 3-4 hari untuk mendapatkan efek fermentasi setengah busuk.

Nyaris tidak ada bahan makanan kadaluarsa bagi wong Jawa. Tempe setengah busuk jadi tumpang. Tempe busuk jadi sambel. Busuk tidak selalu berarti limbah. Tidak pula berarti busuk harus dibuang. Tetap ada fungsi dan peran. Tapi hajat bayi perempuan, adik sepupu saya, mesti saya bersihkan. Tampak seperti tumpang, jelas aromanya tidak seperti tempe busuk. Saya ceboki pula. Pengalaman pertama memang sulit dilupakan. Bahkan adik kandung saya belum pernah saya cebokkan. Membuangkan hajat adik kandung, seingat saya, merupakan hal yang harus segera kami hindari. Kalau bisa, segera berlari ke luar rumah ketika adik bayi hendak berhajat. Kalau tahu. Entah, saat di Pekanbaru, naluri saya diasah. Sebetulnya karena kepepet juga.

Kesimpulan: pemahaman rasa jijik, berkembang memuai dan menyusut dipacu oleh keadaan.

4. Sampit, April 2004: Saya Meracuni Derita Tubuh
Lagi liburan Paskah di Sampit, Kalimantan Tengah. Agus ditunggui Mamanya main di Timezone. Ada cukup waktu bagi saya untuk memanjakan diri. Ke toko buku! Sebuah buku Terapi Auto Urin menyita perhatian saya. Terapi air seni sendiri. Kamis beli, Jumat selesai baca, Sabtu pagi saya laksanakan minum air seni sendiri.

Pengalaman, kesaksian dan penelusuran serta kajian ilmiah yang disajikan penulisnya yaitu seorang Doktor Pathology dan Mycotoxicology: Dr Iwan T Budiarso, memacu semangat saya untuk segera memulai hal baru (bagi saya) tapi rupanya sudah sedemikian lama dan jauh maju di beberapa tempat di dunia ini (India, Cina, Taiwan, Jepang, Amerika Serikat dan Jerman).

Nggilani, tapi tidak nggilani! Beliau sembuh dari derita sakit jantung oleh terapi auto urin. Disebutkan urin mengandung mineral, vitamin, enzim, hormon, asam amino, antibodi, antigen, allergen, garam dan nutrien lainnya.

Sebagai pekerja di perkebunan kelapa sawit, seharusnya saya sehat bagas waras. Udara bersih, irama aktivitas tubuh stabil teratur. Mesti bangun seputar 05.00 pagi, berolah fisik sepanjang siang di alam terbuka.

Kenyataannya?! Saya terkena angin duduk Pebruari tahun 1998, malam setelah siangnya ada kunjungan Boss. Campuran antara stress, gaya makan gaya istirahat dan gaya hidup amburadul. Perut padat keras gembung, ada tekanan angin ke organ atas lambung, rasa sakitnya sungguh minta ampun. Semula saya duga masuk angin biasa. Isteri lagi mudik ke Pekanbaru. Lengkap sudah derita tubuh, jiwa raga!.

Semalaman tergolek di ranjang, saya banyak minum air hangat dan akibatnya beser makin menjadi-jadi, terkencing terus hampir setiap jam. Hasil general check-up: kandungan asam urat saya melebihi batas normal. Penyakit oleh sebab gaya makan dan atau gaya hidup tidak disiplin. Tubuh manusia unik. Berbeda tiap pribadi. Konon begitu kandungan asam urat melebihi batas normal dan gaya hidup tidak juga direparasi, maka tinggal tunggu waktu untuk segera mendapat berbagai penyakit organic: ginjal, hati, jantung, paru-paru, kanker otak dst. Saya harus merubah pola makan dan gaya hidup! Mesti ini itu begini begitu, wis sarbini pakai sepatu.

Sejak itu saya sarapan hanya juice buah semangkok gajah ditambah madu dua sendok teh. Rajin tanya rahasia dan kiat hidup sehat setiap jumpa pribadi tampak tua yang masih segar prima. Banyak kiat dan rahasia rupanya. Pun begitu, saya merasa tidak benar-benar sehat bagas waras.

Tubuh ini mulai menua, organ dalam makin capek bekerja menggiling dan mencerna bahan makanan yang bertubi-tubi menimpanya. Tidak semuanya bahan yang ramah giling ramah cerna! Makanan yang enak bagi lidah dan mata saya tapi rupanya begitu nggilani bagi organ tubuh saya. Makanan yang menggilanikan organ tubuh! Makanan juga yang akan mereparasi organ tubuh.

Bentuknya cairan. Diproduksi oleh tubuh sendiri. Itulah urin. Air kencing. Air seni. Penyembuhan dan reparasi diri sendiri dengan air seni sendiri. Pengalaman unik pribadi lepas pribadi di banyak tempat di dunia. Pengalaman yang sangat berbeda satu dengan yang lain tapi mendapatkan kesehatan dan kesembuhan bagi tubuhnya. Dorongan untuk lepas dari derita tubuh, mengatasi nggilani rasa lidah dan nggilani rasa mata saya.

Lagi pula, tidak ada orang lain yang melihat saya minum air ajaib itu. Akhirnya saya mengoleksi lebih dari 7 buku tentang terapi air seni. Persis seperti yang disebutkan di buku , saya mengalami reaksi koten-nano yaitu reaksi awal saat dimulainya reparasi total organ tubuh. Banyak ragam bentuk reaksi koten-nano, yang saya alami adalah mual dan (maaf) mencret-mencret dengan bentuk cairan tinja hijau coklat kehitaman dengan aroma bau yang, sungguh amat sangat teramat busuk nggilani tenan! Busuk sekali!

Aroma terbusuk yang pernah saya hirup! Itulah racun yang selama ini bergelantungan di organ tubuh saya. Wis, nggilani tenan!

Kesimpulan: rasa jijik/nggilani itu unik, seunik tubuh manusia pribadi lepas pribadi. Tinja (bisa) nggilani, air seni tidak nggilani!

Jadi pemahaman tentang nggilani? Up to you!

Sampunnnn. Suwunnnnnn. (BJ, 310110)

 

Illustrasi:

http://1.bp.blogspot.com
http://my.opera.com/dico4ndrean/

35 Comments to "Uiiiihhh, nggilani!!"

  1. Bagong Julianto  10 September, 2012 at 17:37

    Olvie,

    Ada pengalaman juga tampaknya?!
    Ayo dishare… bikin yang lebih ngguilllluuuuannnniiiii…

  2. Olvie  10 September, 2012 at 15:47

    Posting serius tapi bikin senyum2 yg baca…. kreatif

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.