Penyakit Injury Time

Osa Kurniawan Ilham

Saya sangat tertarik dengan teori Fisika yang diajukan oleh Prof. Yohanes Surya bahwa dalam kondisi tertentu alam dan segala benda yang ada di dalamnya diciptakan untuk bisa menyesuaikan diri secara teratur untuk mencapai tujuannya. Secara populer teori ini dinamainya MESTAKUNG (Semesta Mendukung). Banyak fenomena yang menjadi bukti adanya teori tersebut. Kalau Anda menaburkan pasir secara vertikal, lihatlah bahwa butiran pasir secara mengherankan akan menata dirinya sendiri hingga menghasilkan bentuk kerucut. Contoh lain, burung Bangau yang terbang berkelompok, secara otomatis akan membentuk formasi terbang V.

Teori Mestakung ini juga membuktikan fenomena sosial manusia bahwa bila dalam kondisi tertekan, secara psikologis manusia akan mengatur dirinya sendiri untuk beradaptasi dengan tekanan tersebut untuk tetap menghasilkan sesuatu. Contohnya adalah anak-anak kita cenderung untuk lebih giat belajar ketika besoknya ada ujian daripada ketika jadwal ujian masih di minggu depan. Para pelajar akan lebih kreatif mencari cara (termasuk menyontek kalau perlu he…he…) ketika menemui jalan buntu saat ujian atau mengerjakan tugas.

Satu fenomena yang juga bisa dijelaskan oleh teori mestakung adalah fenomena Injury Time. Coba lihatlah bagaimana pertandingan sepak bola selalu semakin seru dan mencapai klimaksnya ketika memasuki masa injury time. Seringkali gol-gol yang menentukan terjadi di masa yang sangat singkat tapi sangat menentukan itu. Pemain sepak bola (perkecualian untuk sepak bola Indonesia ya he…he…) seakan-akan berlipat-lipat tenaganya saat injury time padahal energi mereka sudah terkuras habis sepanjang 2 x 45 menit sebelumnya. Sir Alex Ferguson seringkali mempolitisir isu injury time ini ketika MU menelan kekalahan. Masih ingat saya ketika MU mengalahkan Manchester City dengan skor 4-3 dalam pertemuan pertama di musim ini. Citizen kalah karena gol Michael Owen di detik-detik terakhir masa injury time dan kemudian Mark Hughes mempermasalahkan injury time yang katanya terlalu panjang itu.

Tapi sayangnya, di Indonesia injury time lebih cocok menjadi sebuah penyakit ketimbang sebuah fenomena yang menarik. Kita seakan-akan telah mengutuk diri sendiri dengan membiarkan penyakit injury time ini beranak pinak di negeri ini dari generasi ke generasi, dari masyarakat kebanyakan yang berada di dasar piramid sampai para pejabat dan kaum elit yang bertahta di puncak piramid. Kita telah membiasakan budaya yang jelek ini dengan terbiasa berleha-leha ketika tenggat waktu masih panjang lalu hanya terbiasa bekerja keras ketika mendekati batas waktu atau di masa injury.

Lihatlah di masa pendaftaran CPNS, antrean panjang akan selalu menghiasi pemandangan di hari dan saat-saat terakhir, padahal pendaftaran sudah dibuka 2 – 3 minggu sebelumnya. Setali tiga uang juga terjadi di masa pendaftaran pemilu, entah pemilu legislatif, pilpres maupun pilkada. Panitia pendaftaran pasti dibuat harus tetap stand-by karena pendaftaran biasanya pasti ramai di saat-saat terakhir. Demikian juga saat SBY mengumumkan menterinya saat tahun 2004 atau 2009 yang lalu, selalu molor dan molor sampai batas waktu yang ditetapkannya sendiri semakin dekat.

Bukti adanya penyakit Injury Time yang paling aktual adalah berhubungan dengan diterapkannya Free Trade Area ASEAN – China sejak 1 Januari 2010 lalu. Seingat saya perjanjian FTA ASEAN – China ini sudah ditandatangani di tahun 2002 dulu. Bahkan pasar bebas sudah sudah mulai disepakati di tahun 1990-an saat Pak Harto masih berkuasa dulu, jadi sudah lebih dari 15 tahun yang lalu. Saya ingat sejak ditandatanganinya kesepakatan pasar bebas ini, semua pejabat seakan latah selalu mengucapkan kata pasar bebas dan globalisasi di setiap pidatonya. Banyak seminar, simposium dan konferensi yang diadakan untuk “katanya” membicarakan persiapan menghadapi pasar bebas ASEAN – Cina.

Tapi setelah lebih dari 10 tahun berlalu, menjelang pemberlakuan pasar bebas di 1 Januari 2010, mulai bulan Oktober 2009 (3 bulan sebelum pemberlakuan pasar bebas) pemerintah dan pengusaha ribut. Banyak yang berteriak bahwa kita tidak siap menghadapi serbuan barang-barang made in China. Pemerintah pun juga tampak kedodoran antara siap dan tidak menghadapi pasar bebas Asean ini. Lalu biar kelihatan selalu dianggap sebagai negara yang menghormati kesepakatan internasional, akhirnya tetap dipaksakanlah pasar bebas 1 Januari 2010 ini. Yang jadi pertanyaannya adalah ngapain saja pemerintah selama ini, ke mana saja mereka setiap selesai pidato dan berseminar mengenai pasar bebas dan globalisasi, kok kelihatan mereka kikuk di masa injury time pemberlakuan pasar bebas ini ?!

Saya jadi ingat acara Kick Andy ketika mewawancarai Alm. Gus Dur. Saat Andy F. Noya menanyai kenapa walaupun Gus Dur selalu tidur di dalam sebuah seminar tapi dia tetap bisa menjawab semua pertanyaan bahkan mengerti alur pikiran para pembicara sebelumnya. Dengan santai Gus Dur menjawab bahwa orang Indonesia itu biasa ngomong ngalor ngidul kalau sedang berseminar. Walaupun ngomongnya lama dan panjang, yang diomongkan saat Gus Dur mau tidur sebenarnya sama saja dengan yang diomongkan saat Gus Dur terbangun he…he…

Sekarang, semua pedagang pasar menyatakan gembira karena merasa angka penjualan akan meningkat karena banyak barang murah dari Cina yang akan diserbu oleh pembeli. Pemerintah juga senang karena sudah terbukti mampu menghormati perjanjian internasional itu. Lalu tahun-tahun berikutnya, para pengusaha akan merelokasi tempat usahanya ke luar negeri karena selain mengalami penurunan omset di dalam negeri juga tidak tahan dengan urusan pungli dan korupsi yang masih marak di birokrasi kita. Berikutnya kita akan menemui angka pengangguran yang semakin meningkat karena banyaknya pabrik yang tutup diikuti dengan kenaikan angka kejahatan……. lalu revolusi sosial tinggal menunggu waktu saja.

Moga-moga semua kekuatiran saya di atas hanyalah mimpi buruk saja, yang akan berakhir setelah saya bangun tidur he..he….

Balikpapan, 7 Januari 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.