Junanto Herdiawan – Tokyo
Bagi kita yang sempat bepergian dengan Japan Airlines (JAL) dalam beberapa minggu terakhir ini tentu akan merasakan suasana yang berbeda. Mulai dari ground crew hingga cabin crew, semuanya menyambut kita dengan kehangatan yang berlebih. Di pesawat, senyuman yang diberikan juga berbeda. Mereka seolah berkata, “Terima kasih masih mau bepergian dengan JAL…”. Sejak dibangkrutkan pemerintah Jepang, JAL masih terseok seok untuk bangkit kembali. Oleh karenanya, mereka memberikan program apresiasi bagi para penumpang yang masih setia menggunakan JAL.
Bangkrutnya JAL di awal tahun 2010 ini memang cukup mengagetkan dunia penerbangan. JAL adalah perusahaan terbesar keenam di Jepang. Kebangkrutan JAL juga merupakan kebangkrutan terbesar di luar perusahaan keuangan sejak Perang Dunia II.
Membangkrutkan Japan Airlines (JAL) adalah sebuah keputusan politis yang sangat berani dari pemerintahan Jepang yang baru. Hal ini berbeda dengan pendahulunya, yang memilih kebijakan bail out untuk menyelamatkan JAL. Istilah “too big to fail”, nampaknya tidak berarti bagi JAL.
Operasi JAL yang merugi, hutang yang membengkak, kebijakan penerbangan yang tidak efisien, dan birokrasi yang lambat, membuat kebijakan bail out bagai menebar garam di air laut. Mengapa JAL bisa bangkrut? Masalah mendasar dari JAL adalah “permainan’ dari segi tiga besi (iron triangle) antara pengusaha, penguasa, dan politisi dalam operasional JAL selama ini.
JAL dianggap sebagai sebuah perusahaan besar kebanggaan negeri yang tak boleh bangkrut (too big to fail). Oleh karena itu suntikan likuiditas secara massif diberikan terus menerus kepada JAL. Namun di sisi lain, operasi JAL tidak dibenahi secara serius. Tekanan dari kekuatan politik dan pemerintah pada eksekutif JAL untuk melayani ambisi mereka membuka route-route yang tidak menguntungkan, telah menambah beban operasional JAL. Hal ini ditambah lagi dengan berbagai masalah birokrasi dan remunerasi yang tidak efisien.
Sejak merugi di tahun 2001, lonceng kematian bagi JAL memang seolah hanya menunggu waktu. Tragedi 9/11, wabah virus SARS, Flu Burung, ancaman teroris, di samping resesi ekonomi, telah memukul JAL secara bertubi-tubi. Meski melayani lebih dari 217 airport dan 35 negara, JAL menjadi perusahaan penerbangan yang gemuk dan tidak efisien. Hutangpun membengkak hingga mencapai sekitar Rp 200 triliun.
Bangkrutnya JAL semakin memperkuat adanya masalah serius yang dihadapi oleh perekonomian Jepang. Meski masih memegang gelar sebagai negara dengan perekonomian terkuat nomor dua di dunia, Jepang bagai macan yang terluka. Ekonominya melesu, pengangguran dan kemiskinan meningkat, dan perusahaan besar berguguran.
Upaya bangkit tentu menyakitkan. Kadang ini yang membuat kita enggan berbenah. Dalam kasus JAL misalnya, program restrukturisasi akan memakan banyak korban. JAL harus mem-PHK lebih dari 15.000 karyawannya, memotong fasilitas pensiun, dan menutup route-route domestik yang tidak menguntungkan. Lebih parah lagi, JAL juga harus memotong banyak kontrak dengan biro perjalanan, hotel, dan berbagai jaringan pariwisata yang telah ada selama ini. Hal itu bisa merugikan kalangan pengusaha, penguasa, dan tentu politisi yang punya kepentingan selama ini.
Dari JAL kita belajar, bahwa intervensi yang berlebihan dari pemerintah dan kekuatan politik, akan merugikan sebuah perusahaan atau lembaga. Baik itu perusahaan penerbangan, perbankan, bahkan lembaga negara yang independen, memerlukan ruang bagi professional untuk bekerja. Politisi, penguasa, dan pengusaha (the iron triangle), kadang memiliki tendensi untuk ikut campur dalam kegiatan usaha ataupun lembaga atas nama rakyat.
Salam










February 12th, 2010 at 11:15
pesan-nya mantap…
ganbatte jun-kun ^^
February 11th, 2010 at 12:27
seleksi alam memang tidak kenal siapa saja.
February 11th, 2010 at 00:18
pak Iwan.. EVA masih ada, hidup dan segar bugar (at least sp tahun lalu ya, soalnya kita masih pakai, mungkin tahun ini bakal pakai juga, kalau harga tiketnya sesuai kocek), kalo ttg Adam air.. gelap aah..
February 10th, 2010 at 16:06
“Memanjakan anak akan merugikan anak itu sendiri di masa depan”..gitu kira-kira pelajaran yg bisa dipetik.
Dulu pernah naik JAL, kelas bisnis, gratis, penerbangan malam, 3 kursi sendirian, sandaran kaki bisa turun naik…lumayan jadi orang kaya semalam..kwkwkwk…
February 10th, 2010 at 08:18
JH>>>
Tarik menarik segitiga besi adalah penguat sekaligus penghancur bisnis apapun!
Kalau besarnya karena makan banyak fasilitas dan kemudahan, biasanya akan runtuh pada generasi ketiga……
February 9th, 2010 at 17:37
Aduh..semoga cepat bangkit JAL, saya sangat terkesan dg keramahtamahan mereka.
Genki des, Ohayo Gozaimaz, Konichiwa, itulah sapaan2 hangat kru JAl dengan senyumnya yg super duper ramah, baik di ground saat check in maupun di udara.
Tapi begitu sampai CKG, kok wajah2 burem,tidak sumringah, leyeh2 senderan di dinding. Itulah yg kuamati setiap tiba di tanah air.
Semoga kru2 di CKG bisa mencontoh pelayanan super spt kru2 JAL. Lho kok malah ngeluh ttg Cengkareng nih….
February 9th, 2010 at 16:18
Pak Iwan ha ha ha…komennya bikin aku ngakak nih…
February 9th, 2010 at 14:21
Menjamurnya LCC apa bisa mempengaruhi krisis JAL ini ya?
February 9th, 2010 at 12:23
Sir Richar Brandson mungkin perlu ditiru pemilik maskapai penerbangan. Tahun 1979 dia mempelopori penerbangan murah London – NY (mirip Metro Mini dan bebas merokok). Wuahhh…bludak. Nah, kayak bini ini, terobosan bagus. Yang sekarang malah bikin orang males terbang. Udah ditelanjangin via scan, dilucuti propertinya (cairan diatas 100ml) dan banyak macamlah. Belum lagi delay…
February 9th, 2010 at 12:13
Hahahahaha… aneh-aneh emang orang Indonesia. Soal masakapai penerbangan, mirip dengan perusahaan event organizer. Muncul kayak jamur di musim hujan. Terus bangkrut kayak pasir di sapu ombak. Lihat aja, PanAm, TWA, Braniff, Sabena, Ansett (masih ada nggak ya?). Banyak lagi…
Tapi, jangan sekali-kali menamakan maskapai penerbangan mirip nama suami istri. Eva Air (Siti Hawa) punya suami namanya Adam Air. Dua-duanya udah mati (?)