Sunatan Massal dan Kampanye Balon

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Pada suatu pagi, sebulan yang lalu, Hp ku berdering,
“Assalamu’alaikum” terdengar suara menyapa,
“Walaikumsalam, ini siapa?” sahutku pelan,
“Ini mba Rima, dari Panti Kasih Ibu”
“Oh…ya, ada perlu apa mba?” tanyaku
“Kami mau mengundang ibu ke acara sunatan massal, Senin lusa jam 1 siang”
“Waduh..saya masih diluar kota saat ini, tapi mudah-mudahan Senin sudah ada ditempat, saya usahakan datang” jawabku menyetujui undangannya,
“Terimakasih bu, kami tunggu ya”
“Ya” pembicaraan singkat itu berakhir.

Tibalah hari Senin siang aku menyempatkan diri untuk mengunjungi panti Kasih Ibu, setiba di sana aku sedikit surprise, ini acara Sunatan Massal apa Pesta Perkawinan? Acaranya meriah banget dengan organ tunggal dan tarub/tenda yang menutup seluruh halaman panti. Kulihat ibu panti dan beberapa pengurusnya sedang berdendang lagu dangdut sambil berjoget bersama. Saat mereka melihatku masuk, salah satu pengurus langsung mempersilahkan aku untuk mengambil makan siang yang telah mereka siapkan, asli mirip acara undangan Pernikahan, “berapa besar biaya yang harus mereka keluarkan ya?” pikirku.

Setelah mengambil makan siang yang mereka sediakan, cukup sederhana bagiku, tapi sudah lumayan mewah untuk ukuran anak-anak panti asuhan. Sambil makan aku memperhatikan mereka yang bernyanyi dan berjoget bersama, tampak terpancar raut kebahagiaan di wajah mereka. Lalu mataku menangkap gambar spanduk yang tergantung di salah satu sudut tembok panti, hmmm….ternyata sponsor acara ini dari salah satu balon (bakal calon) Bupati di salah satu daerah di tempatku. Pantes aja acara sunatan massal nya gede-gedean kek gini.

Usai makan, aku menyempatkan diri melihat acara sunatan yang masih belum selesai, menurut keterangan yang kudapat dari pengurus Panti, jumlah anak-anak yang disunat hari itu ada 100 anak, yang terdiri dari sebagian anak panti dan anak kaum dhuafa yang berada disekitar panti. Paramedis yang membantu di acara ini, terdiri dari 5 dokter umum dan beberapa mantri kesehatan, yang secara bergantian menangani semua anak-anak kecil itu. Usia yang paling muda disunat berumur 2 tahun, ini juga atas permintaan anak itu sendiri yang memang mau disunat, semoga jadi anak sholeh ya.

Motret sunatan massal, asli sambil merem ketakutan hiiii…

Sebenarnya aku tidak kuat melihat prosesi sunatan massal itu, asli ngeriii… jadi saat mengabadikan foto-foto sunatan melalui camera ponselku, mataku sambil merem memotretnya, hehehe…untung nggak salah motret. Setelah mengabadikan beberapa adegan sunatan, aku beralih ke ruang utama Panti, dimana sudah tergolek puluhan anak-anak kecil yang sudah selesai disunat, didampingi oleh para orang tuanya masing-masing. Ada yang masih nangis, ada yang diam, ada juga yang diajak ngobrol oleh orang tuanya, tapi yang banyak kulihat para orang tua sibuk mengipasi anaknya yang tampak kepanasan, cuaca siang itu memang cukup terik, apalagi lokasi Panti ini berada dekat pantai.

Sunatan Massal, duuuh kecil2 sdh pd berani, umur 2 th….waduhh!

Sebelum pulang aku masih menyempatkan diri berbincang-bincang dengan ibu Pengurus Panti, beliau tampak senang melihat aku bisa hadir di acara sunatan massal ini. Dalam perjalanan pulang, aku sempat berpikir “Semoga amal baik sang Balon tetap dihitung terlepas dari niat utamanya yaitu untuk menggalang suara massa pemilih dari Pilkada yang akan berlangsung”.

Bagi wong cilik biaya menyunatkan seorang anak cukuplah besar, paling murah yang kutahu, kalau sunat dengan Mantri di Puskesmas bisa mencapai Rp.150.000,-/orang, apalagi jika memakai jasa seorang dokter bisa lebih mahal lagi, paling murah Rp.300.000,- ini khusus biaya di daerahku lho, kalau di daerah lain ada yang bisa lebih murah justru bagus banget.

Ritual sunatan untuk sebagian keluarga berbeda-beda, tergantung keyakinan dan budaya masing-masing, bagiku sendiri yang mempunyai 2 anak laki-laki, tidaklah terlalu istimewa untuk merayakan acara sunatan anakku dengan cara pesta gede-gedean, cukup sunat pergi ke dokter, lalu syukurannya, aku membuat nasi besekan/takir yang dibagi-bagikan ke para tetangga sebagai rasa syukur bahwa anakku telah disunat.

Bagi keluarga yang memiliki kelebihan rizki, pesta sunatan anaknya diadakan besar-besaran, layaknya “Penganten Sunat”, bahkan pakai acara “Wayang Kulit” semalam suntuk serta orkes dangdutan. Sering aku diundang ke acara pesta “Penganten Sunat” ini, dari yang diadakan di hotel sampai di rumah, intinya meriah banget, sejauh itu untuk menyenangkan hati anak dan mengumpulkan kerabat, teman dan handai taulan yoo…monggo.

Kembali ke acara sunatan massal tersebut di atas, aku mencoba mengestimasi biaya kampanye yang dikeluarkan si Balon, paling sedikit dia harus mengeluarkan biaya 10 juta, misalnya dia membantu untuk biaya paramedis dan dokter yang menangani bocah-bocah tersebut. Biaya kampanye seorang Balon, khususnya untuk jadi Kepala Daerah Tk.II (Kapupaten atau Kotamadya) bisa mencapai miliaran rupiah.

Tim Sukses (TS) para Balon ini biasanya sudah bergerilya 6-12 bulan sebelum acara Pilkada resmi dilakukan. Tema kampanye yang sedang ‘in’ saat ini (khusus di daerahku sesuai dengan pengamatanku), antara lain mengumpulkan ibu-ibu pengajian untuk dibawa berwisata Ruhani ke Masjid Kubah Mas yang ada di Depok – Jabar, dengan menyewa berpuluh armada bus untuk mengangkut ratusan ibu-ibu pengajian dengan harapan suara ibu-ibu ini akan member efek yang siknifikan.

Maklum khabarnya ibu-ibu bisa mempengaruhi suara pemilih dalam keluarganya. Lalu memberi biaya ibadah Umroh secara gratis kepada para Kepala Desa / Lurah bersama wakilnya, dengan harapan semoga Kepala Desa / Lurah yang bersangkutan bisa mempengaruhi pilihan warganya terhadap Balon tertentu yang telah menghadiahinya umroh gratis tersebut. Nah…bisa kebayang kan biaya kampanye yang model beginian dananya segede apa?!

Mbok Yem, salah seorang khadimat di rumah, sempat berdialog seperti ini;
“Bu, sudah tau belum, kalau Pak Lurah mau pergi Umroh bulan depan?”
“Tidak,” jawabku singkat,
“Kabarnya Pak Lurah pergi umroh bareng Pak Carik sekalian, mereka berdua dibayarin oleh salah satu calon Bupati yang mau pemilihan nanti”, jelas mbok Yem panjang lebar, tampaknya dia senang bisa kasih berita bagus buatku.
“Syukurlah kalau Pak Lurah dan Pak Carik bisa ber-umroh secara gratis, tapi mereka juga harus berusaha kuat untuk mengumpulkan suara buat calon Bupati yang meng-umrohkan mereka,” kataku.
“Iya, kalau warganya mau ngikutin apa kata Pak Lurah, kalau tidak gimana bu? saat kita mencontreng calon Bupati yang kita pilih nanti, kan tidak diketahui oleh Pak Lurah, bisa aja kita pilih yang lainnya, bukan yang dianjurkan oleh Pak Lurah,” sahut mbok Yem lagi.

Aku tersenyum mendengar argument terakhir dari mbok Yem, semoga aja itu para Balon tidak sakit hati jika tahu upaya kampanye nya ibarat menebar garam di lautan luas, dengan kata lain “Nggak ngefek!” hehehe.

Di suatu sore, aku menemukan selembar Kalender th 2010 dengan model salah seorang Balon Bupati (yang kabarnya masih adik kandung salah satu Menteri di Kabinet Indonesia Bersatu) aku bertanya pada Wawa, khadimatku yang setia,
“Kalender ini dari siapa?”

“Dari ibu RT, tadi nganterin ke sini, bukan cuma kalender kita juga dikasih piring beling kecil ½ lusin” jawab Wawa,
“Mana piringnya?” tanyaku penasaran ingin tahu, Piring seperti apa yang dibagikan secara gratis itu,

“Ini bu, piring kecil yang bisa dipakai buat tatakan gelas atau cangkir” jelas Wawa,
“Hahaha…ya ampuun, piring kek gini dibagi-bagikan secara gratisan, udah mirip iklan sabun colek aja, yang suka kasih hadiah gratisan piring seperti ini,” kataku sambil ketawa,

“Kalau di tempat saya, bukan piring seperti ini bu, tapi kami dikasih jilbab sama buku Yasin yang ada foto Balonnya,” kata Wawa,
“Ada-ada aja cara Balon menarik simpati,” sahutku sambil tersenyum.

Itu hanya sedikit dialog seputar kampanye Balon Bupati yang terjadi di rumahku. Selain upaya kampanye yang menggunakan cara-cara di atas, ada juga yang umum dilakukan, dengan memasang spanduk, umbul-umbul dan stiker yang disebar disembarang tempat, alih-alih member dukungan, yang ada malah umpatan jengkel yang dikeluarkan oleh orang-orang yang melihatnya.

Misalnya peletakan spanduk yang asal tancap, dipinggir jalan, di tembok rumah, sekolah, perkantoran, pohon dan penempelan stiker di kendaraan umum paling banyak di angkutan kota (angkot) dan angkutan pedesaan (angdes), pokoke bikin mata sumpek aja. Dengan singkatan nama para Balon beserta wakilnya yang bunyinya terdengar unik, misalnya Petani, Andalan (seperti judul kontrasepsi KB aja), Pemuda, Yes, Oke, Paijo (hehehe…koq nama pak Bon dipake buat singkatan juga) dan lain-lain.

Euphoria kampanye yang berlebihan bener-bener bisa buat ‘bangkrut’ kalau salah strategi, kalau punya harta yang nggak habis selama 7 turunan tidak masalah, tapi yang modalnya terbatas bisa jadi hutang sana sini.

Masih lekat dalam ingatanku, saat Pak Tegar berniat mencalonkan diri sebagai salah satu wakil dari Balon Bupati, dengan harta rumah dan kendaraan yang dimilikinya yang didapat selama jadi anggota Dewan yang terhormat digadaikan untuk mendapatkan sejumlah dana segar untuk ‘membeli Perahu Partai’ tertentu yang diharap dapat menggolkan harapannya sebagai wakil Bupati.

Ternyata harapan tinggallah harapan, sang Ketua Partai tidak memenuhi janjinya, sedang upeti sudah terlanjur hilang ditelan bumi, yang ada tinggal kekecewaan dan gugatan ke Pengadilan. Semoga Pak Tegar selalu tegar menghadapi cobaan berat dalam hidupnya, jangan sampai hara-kiri ya pak.Rumah dan mobil bisa saja hilang, tapi masih ada keluarga yang setia mendampingi pak Tegar.

Saat ini bakal ada 3 daerah yang akan mengadakan Pilkada, semua Balon Kepala Daerah Tk.II saling bertarung sengit melalui TS masing-masing, bahkan untuk mendongkrak perolehan suara, ditariklah artis ibukota yang sebenarnya masih Putra Daerah untuk menjadi wakil pendamping Balon Kepala Daerah.

Tetapi ada kabar yang cukup mengejutkan bahwa Pilkada disalah satu daerah ditunda untuk waktu yang tidak ditentukan! Wueeedaan….nasib, nasib gimana mau bayar hutang kalau yang ternyata Pilkada yang diharap terancam gagal! alasan penundaan karena issue bahwa daerah pemekaran ini tidak mempunyai sumber PAD (Pendapatan Asli Daerah) yang memadai, sehingga APBD yang mereka ajukan ke Pemerintah Pusat, terancam tidak mendapatkan dana tambahan untuk melakukan perhelatan Pilkada, haiyaaaa….oe kata juga apa!

Buat apa banyak-banyak buat pemekaran daerah, yang ujung-ujungnya malah membuat repot dan menjadi beban Negara saja. Kalau sumber daya alamnya melimpah itu masih mending, lha kalau yang ‘minus’ justru malah jadi benalu buat Pemerintah Pusat.

Cukup sampai disini dulu, apapun pilihannya yang penting minumnya ‘Teh botol’ hehehe…., pesan moral yang ingin disampaikan “Kampanye Pilkada ibarat Perjudian harta dan harga diri”.

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.