Thursday, 11 February 2010
Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta
SOSOK Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur penuh salah sangka. Meski sudah 40 hari kepergiannya, dia masih ramai dibicarakan. Dengan penuh pujian juga makian.
Gus Dur begitu masyur. Dikenal baik dan dimusuhi permanen. Kehadirannya sangat dekat dan akrab bagi siapapun yang mau mengerti. Disertai obrolannya yang kocak atau pendapatnya yang pedas.
Dia menyimpan puluhan juta pengikut setia yang berani tarung membelanya. Juga memelihara jutaan musuh yang tiada henti memakinya. Di negerinya dia dikenal luas sosoknya. Tapi tak diketahui cara jalan pikirannya.
Kadang dia lebih pantas dikenang indah di Israel daripada di sini. Dia lebih disayang oleh komunal Gereja Mormon di Utah, dibanding dicintai di masjid atau surau yang bertebaran di pelosok nusantara. Atau lebih sering dia diberi anugerah dan rangkaian penghargaan oleh banyak institusi berbau liberal bahkan berlatar Yahudi. Sedangkan banyak institusi bernafaskan Islam malas memberi gelar apapun kepadanya.
Kelompok yang berlainan keyakinan dengannya justru lebih menyayanginya, daripada dengan seagamanya nan gemar mengejeknya melalui corong-corong mesjid di kampung-kampung atau pinggiran kota.
Saya pernah terpaku melihat foto Gus Dur terpampang tak begitu cantik di dinding kelenteng besar Bun San Bio, Tangerang, Banten. Dia dipuji-puji setinggi langit bagai dewa keberuntungan dari delapan penjuru mata angin. Bagi kelompok etnis Cina di tempat itu, Gus Dur bagai dewa penolong. Baru pertama kali seorang presiden Indonesia menginjakkan kaki ke kelenteng tua itu.
Ketika dia wafat, saya juga menyaksikan fenomena ajaib tentang penghormatan seseorang yang sudah mati, sejak saya jadi manusia di bumi Indonesia. Berbondong kaum etnis Cina melakukan doa bersama serentak di berlainan tempat. Mereka datang ke tempat ibadah hanya untuk mendoakan seorang Gus Dur!
Bagaimana mungkin ini bisa terjadi? Bagai sudah diperintah oleh nurani, mereka rela berdiam lama merenung, mengharap, mendoa akan kebahagian untuk seorang Gus Dur di dunia sana. Apa yang menggerakkan mereka?
Bagi golongan minoritas keturunan Cina di Indonesia, Gus Dur mungkin saja bagai seorang ‘nabi‘ atau dewa penolong. Di kalangan umat Islam sendiri, sosoknya seperti membelah menjadi dua. Ia banyak dipuja dan juga dihina. Agaknya sulit mencari satu orang pun dari kalangan keturunan Cina yang membencinya. Tapi mudah sekali mencari muslim yang membencinya.
Sebuah kekeliruan bila menyebut jasa Gus Dur bagi kaum keturunan Cina di sini, karena dia menjadikan Imlek sebagai hari libur. Jujur saja, yang membuat Imlek menjadi hari libur nasional secara resmi adalah Presiden Megawati Soekarnoputri. Namun pencetusnya adalah Gus Dur.
Ketika dia sebagai presiden, Imlek hanya libur fakultatif (bagi yang merayakan), seperti liburnya orang-orang di Bali karena perayaan keagamaan yang sifatnya lokal. Barulah semasa Megawati, rakyat Indonesia tahun 2002 mendapat hari libur nasional tambahan secara resmi, yaitu Imlek.
Wah, kalau menghargai Gus Dur berjasa bagi kaum keturunan Cina, karena dia menjadikan Imlek sebagai hari libur, sama artinya menghargai Presiden Soeharto sebagai orang yang berjasa bagi umat Hindu Bali dan pemeluk agama Buda di Indonesia. Kenapa?
Sebelum 1982, Hari Raya Nyepi dan Hari Trisuci Waisak, bukanlah hari libur resmi di Indonesia, tetapi libur fakultatif. Nah, mulai 1982 kita mendapat 2 hari tambahan sebagai hari libur nasional, Nyepi dan Waisak.
Gus Dur banyak mengembalikan hak-hak dasar kaum keturunan Cina di Indonesia. Selama lebih 35 tahun mereka mengalami penghinaan agama, budaya dan sosial dari pemerintahnya sendiri. Banyak pembatasan yang memenjarakan mereka. Aksara bercorak Cina dilarang terpasang secara visual di manapun di bumi Indonesia. Buku dan majalah dari luar negeri disensor. Bukan sekedar menghitamkan halaman artikel miring tentang Indonesia atau menutup gambar jorok. Tapi juga mensensor jika ada visual huruf-huruf Cina yang terpasang di setiap lembar kertas majalah yang beredar. Nama Cina mereka dipaksa diganti.
Ketika dia menjadi presiden, semua kekangan yang membelenggu kaum keturunan Cina, dibuka dan dibebaskan sebebasnya. Keinginan ini dia sudah pendam lama. Hanya saja ia tak punya wewenang untuk mewujudkannya. Baginya pelarangan budaya Cina oleh pemerintahan Orde Baru adalah sebuah kekejian sosial, kejahatan hak asasi juga kekerasan pada budaya.
Hal yang sama pun dilakukan Gus Dur untuk mengangkat harkat harga diri bangsa Papua. Meski mereka bagian dari bangsa Indonesia, mereka seperti halnya kaum keturunan Cina, terpinggirkan sepinggir-pinggirnya. Selama Orde Baru tak ada kemajuan berarti dilakukan untuk mengangkat hak-hak dasar orang Papua. Mereka lebih banyak menjadi obyek. Sedangkan kekayaan bumi Papua menjadi subjek. Untuk dikeruk, diambil atau dijual kepada orang asing. Hasilnya bukan untuk kesejahteraan orang Papua tentunya.
Ketika memasuki millenium kedua, Gus Dur ingin melihat sesuatu yang baru untuk harapan cerah bagi Papua dan juga Indonesia. Dia memberikan nama baru untuk Irian, meski yang diminta bangsa Papua adalah kemerdekaan Papua dari Indonesia.
Nama Irian Jaya yang tak mencerminkan budaya setempat, diubahnya menjadi Papua, tepat 1 Januari 2000, hari pertama di millenium baru. Mereka dibolehkan mengibarkan bendera Bintang Kejora, bendera entitas bangsa Papua. Menyanyikan lagu patriotik sebagai himne untuk Papua, dibolehkan sekeras-kerasnya. Apapun boleh dilakukan.
Semua pintu untuk menuju sebuah negara baru bagi orang Papua, dibuka oleh Gus Dur, selebar-lebarnya. Tunggu apa lagi?
“Tidak boleh ada negara dalam negara. Kalau itu terjadi, Anda akan berhadapan dengan saya”, kata Gus Dur di depan Theys Eluay ketika berdialog dengan tokoh-tokoh Papua. (*)
February 25th, 2010 at 11:37
Begitu banyak ragam pemahaman dan pengaplikasian ajaran ISlam, saya lebih seneng dan cocok dg pola ISlam ala Nahdhiyin ( Gus Dur), yang mencoba membaur dg budaya setempat, tidak memaksakan budaya arab. Begitulah ajaran wali songo dahulu sehingga sukses mengIslamkan nusantaradan terbbukticocok untuk masyarakat Indonesia yg beragam.
February 13th, 2010 at 11:39
Pak Iwan, saya sampai kini tidak mengerti. Kenapa Gus Dur justru masih dibenci oleh banyak warga yang keyakinan imannya sama dengan keyakinan imannya Gus Dur? Salahnya di mana? Warga yang menganut keyakinannya atau ajaran keyakinannya?
February 13th, 2010 at 10:07
Bung ISK, thanks ya artikelnya, ternyata GUS DUR tambah ngetop didalam negeri setelah beliau meninggal, semalam nonton acara in memoriam Gus Dur @Metro TV, bagus dan menghibur jadi berasa kehilangan setelah orangnya gak ada.
February 13th, 2010 at 09:28
Terima kasih Kornelya. Gus Dur sebenarnya bukan siapa-siapa dan biasa saja. Kebetulan dia hidup di sebuah negeri yang goblok dan berpikir linier. Jadilah dia kontroversial. Coba kalau Kornelya atau saya yang waras berada dikumpulan sejuta orang tidak waras, yang gila jadinya kita. Hahahaha…
February 13th, 2010 at 09:28
ISK : Serius Lani, itu bener. Aku denger dari Radio Ausralia waktu masih SD tahun 1979. Ada penyiarnya bernama Istas Pratomo, yang suka fakta aneh. Karena aneh, saya sulit lupanya. Sampai email ini ditulis.
———–
aku percoyo 2 rius kok heheh….wah, th ’79 msh pakai kathok monyet/igik playon… to njenengan kkkkkkkkk? aku tahun sak mono wis nang univ hihihihihi…..
February 13th, 2010 at 02:43
Pa Iwan, Gusdur, bapak rakyat Indonesia. Tidak munafik, berani menatap dan menata kebinekaan rakyat Indonesia secara terbuka dengan asas persamaan hak sebagai warga negara negara. Penetapan gelar pahlawannya boleh kontroversi, tetapi mencatat jasanya dalam sejarah Indonesia secara jujur adalah suatu kewajiban pemerintah. Salam!!
February 12th, 2010 at 23:15
Serius Lani, itu bener. Aku denger dari Radio Ausralia waktu masih SD tahun 1979. Ada penyiarnya bernama Istas Pratomo, yang suka fakta aneh. Karena aneh, saya sulit lupanya. Sampai email ini ditulis.
February 12th, 2010 at 23:06
ISK : komen 29…..yah, cm geli aja, mosok sampai segitunya seh…dikasih tanda tangan diselangkangan sampai kg mandi hihihihi…..