Duren Buto, Duren Besar Nian!

LAGI TENTANG DUREN MANGO: Duren Buto, Duren Besar Nian!
Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel

Sekayu, Jumat malam 05 Pebruari 2010

Baru tiba dari Palembang, saat masuk rumah, dua Paman kami lagi santai lesehan di lampit/tikar rotan khas Kalimantan. Hidung saya mencium aroma khas buah surga itu! Duren! Salah satu Paman yang datang dari Desa Bedegung, Tanjung Enim, Sumsel membawa mango dari kebunnya! Mango adalah nama lokal duren. Buesar nian! Gedhe banget!

Gbr 1. Dimensi mango menelan penggaris 30 cm

Sungguh! Ini adalah pengalaman pertama saya menikmati duren Buto sebesar itu! Dari kebun Paman orang roemah sendiri! Mango yang tidak kenal pupuk dan hormon pabrik. Duren lokal yang semata hanya andalkan kemurahan alam. Saya tidak larut dalam pembicaraan orang roemah dan Paman-pamannya.

Biarlah mereka bernostalgia. Saya hanyut dan tenggelam dalam pembicaraan pencecapan nikmat rasa mango di lidah-geligi-mulut-mata dan hati. Sesekali mereka menimpali. Juga menyemangati. Terima kasih, Oom! Susah payah penuh kenikmatan, saya hanya menuntaskan tujuh pongge/tujuh biji! Betul-betul nikmat! Haaa, esok ‘kan masih ada! Masih ada waktu untuk nglamuti duren ini!

Gbr 2. Lebih Besar Dari Apapun! Not apple to apple comparison……

Saya lagi sibuk dokumentasi menyusun perbandingan dimensi duren mango dengan sekenanya barang yang ada di seputaran ketika si Agus menyorongkan diri sebagai model banding. Ide nakal yang tidak boleh saya tolak! Walau asas kepatutan menjadi taruhan: membandingkan kepala dan pundak anak dengan keluasan-kebesaran duren mango!

Gbr 3 s/d 5. Dimensi, Perbandingan dan Cara Menikmati Duren

Hingga seumur-umur sekarang ini, mango Bedegung itulah rekor kebesaran duren Buto yang pernah saya nikmati. Semula saya gak pernah hiraukan kebesaran dan kekecilan duren! Apalagi duren beli di pasar! Sepanjang menikmati duren di bawah pokoknya dan jelas nampak bahwa duren tersebut matang/masak pohon, pasti enak! Dan memang enak!

Mau duren besar, maupun duren kecil, pasti enak! Masak pokok dan baru kutip, pasti enak! Gak mau lagi saya dikibulin/ditokohi/ditipu pedagang pengepul duren yang jual duren seperempat, setengah dan ataupun tigaperempat masak di antara tumpukan durennya yang jelas sebagian besar duren petik.

Bagaimana saya komplain, mereka juga tertipu beli pasokan dari pengutip nakal! Beruntung saya selalu berpenghidupan dekat kampung penghasil duren! Selalu puas nikmati duren di bawah/seputaran pokoknya! Sesekali ke kota, indera bisa saya kendalikan! Jangan beli duren sembarangan! Sekalinya, dan berkali-kali beli (setelah jebol juga pertahanan lidah), (selalu) sering tertipu beli duren petikan! Semprul! Mana ada lagi nikmatnya duren anyep/dingin?! Dipapar angin udara terbuka. Digeletakkan sekenanya!

Th 2005, saat mudik ke Solo, bersama Bapak kami beli juga duren besar di Pasar Legi. Duren Tawangmangu. Masih adikan dibanding mango. Pun begitu, saat itu harganya sudah Rp.70.000,- per buah, harga jadi setelah ditawarkan Rp.80.000,- Bukan duren petruk Jepara! Duren Tawangmangu! Melihat mango ini serta menikmatinya, saya jadi ingat almarhum Bapak! Terima kasih, Oom! Semoga Yang Maha Kuasa melimpahkan nikmat cuaca yang bagus lagi tahun depan……..

Sampunnnnnn. Suwunnnnnn. (BGJ, 100210)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.