Jelutung si Pohon Permen Karet

Handoko Widagdo Thursday, 11 February 2010

| Viewed 2332 times, 27 times today | 105 Comments |

Handoko Widagdo – Solo

Aku yakin bahwa semua pembaca telah pernah mengunyah permen karet. Tapi aku juga yakin bahwa hampir semua pembaca tidak tahu bahwa karet untuk permen karet berasal dari getah tanaman yang tumbuh di rawa-rawa Kalimantan dan Sumatra.

Nama pohon tersebut adalah Jelutung atau Pantung. Demikianlah orang-orang Kalimantan menyebut tanaman permen karet ini. Di Sumatera tanaman jelutung disebut labuai, di Semenanjung Melayu disebut ye-luu-tong, dan di Thailand disebut teen-peet-daeng. Tanaman rawa hutan hujan tropis ini mempunyai nama latin Dyera spp.

Marilah kita mengenal barang sedikit tentang pohon jelutung. Seperti telah disebutkan di atas, selain dari getahnya, jelutung juga diambil kayunya. Kayu jelutung cukup bagus karena pohon jelutung di alam diameternya bisa mencapai lebih dari 2 meter. Tinggi pohon jelutung bisa mencapai 40 meter. Artinya jelutung adalah pohon yang besar.

Daun jelutung mirip sekali dengan daun pule. Bijinya berada dalam polong lonjong berwarna coklat.

Selain sebagai bahan permen karet, getah jelutung juga bisa digunakan untuk bahan perekat, vernis, ban untuk motor/mobil balap, water proofing serta sebagai bahan isolator dan barang-barang kerajinan lainnya. Foto dibawah ini adalah patung yang dibuat dari getah jelutung, produk masyarakat dayak di Kalimantan Tengah.

Indonesia adalah pengekspor getah jelutung terbesar di dunia. Namun sayang, saat ini hutan jelutung banyak yang musnah karena penebangan kayu dan kebakaran. Padahal, getah jelutung adalah salah satu sumber ekonomi masyarakat sekitar hutan yang cukup berarti. Penebangan jelutung dilakukan karena kayu jelutung juga layak dijadikan kayu bangunan dan bahan mebeler.

Upaya penanaman kembali jelutung kini telah dimulai. Berbagai pihak telah membantu masyarakat untuk menanami lahan rawa yang rusak karena aktifitas penebangan dan akibat kebakaran. Di Kalimantan saja, luas lahan hutan rawa yang rusak lebih dari 400 ribu hektar.

Apakah mengebunkan jelutung ekonomis? Menurut Balai Informasi Kehutanan Jambi, satu hektar kebun jelutung, per tahun, bisa menghasilkan sampai 13,5 juta dari getahnya. Jika jelutung sudah tak menghasilkan getah, saat diameter pohon sudah mencapai 50 cm, pohonnya bisa ditebang untuk dijadikan kayu. Dalam satu hektar kebun jelutung bisa neghasilkan 117 juta! Lahan rawa, apalagi yang rawa gambut, sangat tidak layak untuk dijadikan kebun sawit. Oleh sebab itu lahan rawa yang sudah terbuka harus ditanami dengan tanaman asli yang bisa tumbuh di rawa-rawa. Jelutung adalah salah satu jenis tumbuhan asli yang cocok ditanam di lahan rawa.

Nah daripada rawa terbuka tak memberi manfaat, mari kita tanami dengan tanaman permen karet. Selain memberi hasil, penutupan lahan rawa juga bisa menyumbang penyerapan karbon. Artinya, sambil mengurangi pemanasan global, kita dapat hasil.

Kita peduli, hutan lestari, masyarakat berseri. Semoga.

Sumber:
1. Petunjuk Lapangan Budidaya Jelutung Di Lahan Rawa, World Education Indonesia, 2009.
2. Jelutung. Balai Informasi Kehutanan Provinsi Jambi.
3. Jelutung (Dyera spp.) Dan Strategi Pengembangannya Di Lahan Rawa Kalimantan Selatan Sebagai Penunjang Peningkatan Ekonomi Masyarakat Lokal. Program Studi Budidaya Hutan, Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat. Bahtimi, Yusuf. Mei 2009.

Foto dari teman-teman World Education Indonesia, Proyek Tanjung Puting.

 

Categories: Agriculture
Tags:

105 Comments to “Jelutung si Pohon Permen Karet”

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 [4] 3 2 1 »

  1. 40
    ilhampst Says:

    Pak Hand : kalo gitu ntar patung2 jelutung juga dibuat dari recycle kondom ya? Hehehe…
    jangan sampai habis lah pak

  2. 39
    Handoko Widagdo Says:

    Baltyrans, mari kita kembalikan komens-nya ke urusan jelutung. Bayangkan kalau semua hutan jelutung di Kalimantan dan Sumatra habis, maka permen karet akan dibuat dari karet hasil recycle kondom

  3. 38
    ilhampst Says:

    Mbak Lani : aku waktu kecil dibilang bandel, gara2 suka narik rok kakak2ku, dan macam2 kebandelan khas anak kecil lainnya, untung gedenya gak lagi hahaha…

  4. 37
    Lani Says:

    Ham, Nev : geli bin guling2 baca komen kalian, aku percaya Ham malah msh ngompol bin umbelen kkkkkkk…….kowe wis pecicilan, sampai dikerik mrocot soko jiretan bapakmu wakakakak…..dasar weluuuuuuut……

    DA : aku percoyo kok, usia boleh sama karo aki, tp pengalaman wes lbh jero soko dia kkkkkkk….dlm hal itu aki kudu kalah bin ngalah karo kowe…..

    BJ : opo iki, wes ngomongken pohon karet kok njuk mbleber tekan KONDOM….sak-jane yo wes ngerti tp meh nulis mau tanganku rodo kagok hehehhe….

    Hand: wakakakka……nek orangutan podo ngerti nganggo kondom, mrk mengko malah mendekati punah luwih cepat……mrk jg KB niru sedulure heheheh……

  5. 36
    Bagong Julianto Says:

    Mas Hand’>>>

    Gak belajar tapi langsung praktek?!
    Okelah, tapi jangan terlalu lama ngecamp di TP!
    Kasihan, nanti si Sari sama si Tiwi jadi korban?!
    Nhah!
    Lhoh?!
    ……….
    ……….
    ……….
    Wuakakaaaaaaaaaaa

  6. 35
    Bagong Julianto Says:

    DA>>>

    Iyolah, ‘nek ngono!

    “Kondom termasuk salah satu alat kesehatan”, dipakainya di jempol kiri, sementara jempol kanan untuk nguthik-uthik…… upil!
    Anak-anak! Itu piwulang Bu Guru dari Brazil, negeri sepak bola!
    Wuakaka…

  7. 34
    Handoko Widagdo Says:

    Mas Bagong, soalnya munyuk gak ada yang berminat pakai kondom, jadi aku gak belajar perkondoman

  8. 33
    Bagong Julianto Says:

    Mas Hand’>>>

    Lhoh, gimana ini?! Ilmu permunyukan dan perdurenan apa tidak ada hubungannya dengan ilmu perk**d*man?
    Semuanya menyejahterakan lho?!

  9. 32
    Dewi Aichi Says:

    Pak Han: nyuwun agunging pangapunten, ampun duko njih pak..!

  10. 31
    ilhampst Says:

    Nev : aku gak pake ikutan playgroup, makanya sekarang pelampiasannya di Baltyra hehehe

Pages: « 11 10 9 8 7 6 5 [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar.

Image (JPEG, max 50KB, please)

Archives



Internet Sehat

Advanced NewsPaper customized by Team Baltyra.com