Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Liburan dengan Pritha (Indigo)

Thursday, 11 February 2010

Viewed 2339 times, 7 times today | 38 Comments |

Cinde Laras

Ngomong-ngomong soal liburan, aku jadi teringat waktu libur panjang kemarin. Namanya juga mau nglencer, ya pengennya ke tempat yang asyik. Terpikir satu tujuan, kota kelahiran tercinta = Jogja ! Lalu sampai di Jogja mau kemana aja ? Nha…, sepakat sudah kami berlima sekeluarga untuk jalan-jalan ke Candi Ratu Baka dan Kraton Jogja, di samping juga keliling-keliling ke tempat wisata lainnya.

Tujuan nomer satu : jalan-jalannya ke Kraton Jogja dulu, dengan alasan lebih dekat jaraknya dengan penginapan. Lumayan, pagi-pagi sudah bisa cuci mata ke dalam lingkungan Kraton yang sewaktu saya kecil dulu cuma bisa saya bayangkan seperti apa isinya. Betul-betul jaman sudah berubah, semua serba terbuka, termasuk tempat-tempat yang dulu dianggap sakral untuk kalangan rakyat jelata. Hmm…, beruntung betul anak-anak saya bisa menemui jaman seperti sekarang ya ?

Tapi…,sssttttt…, saya sedang jalan-jalan sama Pritha ! Apa saja yang dia lalui selama piknik bersama kami ya ?

Hmm…, pertama : saat keluar dari penginapan di kawasan Prawiro Taman. Si anak sulung ini bilang….
"Tau gak kenapa aku cepet-cepet masuk kamar semalem, Bu…?".
"Emang kenapa ? Paling-paling kamu capek…", jawabku asal menebak.
"Ada eyang-eyang yang selalu duduk ngawasin di bawah pohon nangka…. Yang punya penginapan dulu kali, ya ?", dia berkisah.

Wah…, baru semalam kami datang ke Jogja sudah dengar cerita beginian.
"Ah…, yang penting kita gak diganggulah…", ujarku malas, bete. Untungnya Pritha juga jadi ikutan males ngebahas, kalau tidak bisa panjang itu cerita….

Yang kedua : saat sudah sampai di Kraton Jogja, tepatnya waktu melintasi Regol Pratapa di dalam pagar Kraton. Dan yang anakku itu katakan seperti ini….
"Bu…, di sana ada peri cantiiiik sekali, rambutnya sebahu. Di kepalanya ada untaian bunga-bunga kayak penganten eropa. Baunya wangi 'kan ?", jarinya menunjuk ke sebuah tempat yang mirip pos penjagaan bercat putih, seperti warna tembok Kraton Jogja pada umumnya.

Regol pertapa dan pos penjagaan

"Mana ?", saya bertanya-tanya. Gak ada sesosok bentuk pun yang tertangkap mata saya, cuma bau wangi itu memang ada. Pos itu sendiri terletak di dekat Patung Dwarapala, di jalur menuju Bangsal Kencana di tengah Kraton.

"Perinya baru senyum-senyum sambil menggoyangkan badan, tolah-toleh ke kanan-kiri…", kata anakku lagi.
"Kenapa dia di situ ?", tanya saya penasaran.
"Kayaknya memang untuk menjaga gerbang Kraton, mungkin juga untuk menarik hati pengunjung…", katanya lagi.

Waduh…, lama sekali saya melotot ke arah dalam pos penjagaan itu, gak juga terlihat sosoknya. Ya udahlah, yang penting saya tahu kalau di sana tidak kosong. Jadi saya bisa hati-hati untuk tidak mengganggu keberadaan si penghuni….

Ketiga : saat kami makin masuk ke dalam, ke halaman Bangsal Kencana. Bau harum kembali tercium, lalu Pritha melihat sekeliling.
"Kalau ini bau apa ? Apa di sini juga ada ?", tanyaku pada si anak, dan dia mengangguk mantap.
"Banyak, Bu…. Tapi macam-macam…", jawabnya.

Alis saya kontan berkerut. "Macam-macam ?", tanya saya heran.

"Iya…, macam-macam…. Ada yang bagus, tapi juga ada yang tidak bagus, tampangnya serem…. Gak usah diomongin deh…", jawabnya lagi, sedikit malas. Aku masih penasaran, tapi tak berani mendesaknya.

"Ya…, bentuknya ada yang indah tapi ada juga yang gak enak dilihat. Makanya di sini baunya bukan bau seperti yang di depan tadi…. Kalau yang di depan itu bau kembang Kanthil, bentuknya cantik dan hawanya baik…. Kalau yang di sini bau melati, tidak semuanya enak dipandang, hawanya juga ada yang tidak menyenangkan…", anakku menjelaskan.

Bau kanthil dan bau melati ? Hmm…, susah bagi saya membedakan baunya secara signifikan, karena semua terasa harum di hidung saya. Jadi begitu ya ?, ternyata yang suka bunga kanthil dan bunga melati itu jenis makhluknya berbeda….

Lalu anak saya menunjuk ke arah tandu yang diletakkan di dalam sebuah gazebo di halaman dekat gerbang itu.

"Yang njagain pegang tandunya sih prajurit gagah yang wajahnya cakep…, pake seragam warna merah…, cuma yang naek tandu wajahnya gak cantik…, malah yang satunya lagi rambutnya awut-awutan kulitnya berbulu…", kata anakku lagi. Duh…, saya lihat lagi tandu yang diletakkan dalam bangunan kecil tak berdinding itu, dan saya masih saja gak lihat siapa-siapa di sana.

Tak lepas genggaman tangan saya dari lengannya, karena tiba-tiba saya jadi takut kenapa-kenapa. Hal yang membuat anak saya tersenyum geli…. Ah…, anak itu….

Ke empat : saat kami berkunjung ke museum kereta. Di dalam museum itu memang terasa sedikit "berat", rasanya kaki saya pengen cepet-cepet mengajak kabur keluar. Tiap kali masuk semakin ke dalam, rasanya semakin bertambah "berat" saja, untuk bernapas saja rasanya sesak. Apalagi sewaktu sampai ke ruangan Kereta Nyai Jimat….

Kereta Nyai Jimat

"Bu…, kepalaku pusing…", Saras mengeluh sambil memegang pelipisnya. Aku juga merasa begitu, tapi aku masih tahan. Saras lalu kugandeng dan kuajak keluar ruangan. Sementara si ucok yang periang itu seperti tidak merasakan apa-apa, dia sibuk berlarian kesana-kemari.

Betul saja…, sampai di luar anak dan bapak yang sama-sama bisa merasakan "keindahan" dimensi lain itu saling bertukar cerita.

"Ada mata yang besar sekali, tapi gak tampak ujud tubuhnya. Dan ada banyak pengawal bersenjata tombak siap menjaga di samping kiri-kanan kereta. Mereka langsung siaga waktu melihat aku masuk tadi, malah mereka juga ramai-ramai mengantar kita pergi sampai keluar ruangan…", kata suami. Duh Gusti, jadi merinding….

"Iya…, di sana tadi memang yang paling berat, berwibawa sekali…. Berarti prajurit jaman dulu itu gagah-gagah dan tinggi-tinggi ya, Pak ? Alisnya bagus-bagus deh…", celetuk Pritha.

Haduuuh…, saya jadi makin pengen cepet-cepet ngibrit dari sana segera mungkin. Mana tahaaan…. Sehabis kami keluar dari Museum Kereta, kami lalu menuju petilasan Bangsal Kemagangan yang sudah ambruk saat gempa tahun 2006 lalu.

Kemudian kami melanjutkan melihat-lihat museum cendera mata dan eks-kantor Sinuhun Sultan HB IX, Alm. Untungnya, disana sepertinya Pritha sudah malas bikin komen macam-macam soal keadaan sekeliling. Untung lagi bagiku, si ucok sudah merasa kelaparan berat, jadilah kami bergegas kembali ke mobil. Lega juga bisa lekas keluar dari sana. Slamet-slamet-slamet….

Siang itu, kami langsung meluncur ke Pasar Beringharjo, menikmati gado-gado Bu Hadi yang sudah jadi langganan Eyang Kakungnya anak-anak sejak beliau masih berkuliah di Jogja tahun 1960 dulu. Kelezatan yang membuat saya sedikit terhibur setelah sepagian mendengar celotehan Pritha tentang Kraton Jogja.

Share This Post

Posted by Thursday, 11 February 2010 on 00:15.

Categories: Jalan-jalan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

38 Responses to “Liburan dengan Pritha (Indigo)”

Pages: [4] 3 2 1 »

  1. 38
    Giordano Says:

    Mba Cinde laras…..peri2 yang suka dilihat pritha kayak peri2 yang di eropa gak sih kecil2 seukuran barbie, bersayap,,,,kalo iya berarti peri indonesia dan eropa sama ya??? jadi peri itu masuk ke golongan jin ya…. saya ngefans bgt sama hal2 yg berbau fantasi….hehehee blz yaa…. >

  2. 37
    Cindelaras Says:

    @Kanakin: Hiya itu, di kebunku di parung sana juga banyak pohon nangka, yang nongkrongin katanya gendruwo komplit pake rambut diwut-diwut dengan badan gede setinggi pohon. Kata ibuku, pohon sawo juga banyak penunggunya, apalagi yang sudah tua.

  3. 36
    Cindelaras Says:

    @Phie: Harusnya dicoba di sumur gumuling juga yo ? Kali2 bisa liat bayangan “temen” lain disana

  4. 35
    Kanakin Says:

    Entah kenapa pohon nangka suka ada “penghuni”nya, mungkin frekwensinya cocok barangkali. Kalau bawa Pritha ke Bali dia akan melihat banyak “raksasa” disana, ada yang sudah ribuan tahun masih “terperangkap”, kadang2 manusia malah bisa membantu “membebaskan” mereka.
    Oleh sebab itu waktu kita jadi manusia, pergunakan se-baik2nya untuk hal2 yang baik karena dalam bentuk lain (bagi yang percaya reinkarnasi), kesempatan itu sudah hilang. Ada teman yang juga indigo bilang dia masih bisa melihat Kwan Kong (salah satu panglima perang dalam cerita SAMKOK) dengan pasukannya.

  5. 34
    phie Says:

    mbak Cinde, pdhl daerah dkt Taman Sari kan sering buat foto prewed tuh. klo yg sumur itu aku ga tau, ke Taman Sari cuma 2x dan ga konsen krn panasnya bgt2 wkt itu. klo soal tuyul yg disusuin ama yg punya emang bnr ya, dulu tetangga nenekku piara tuyul sih jd suka diceritain nenekku si ibu itu ga prnh pake baju di rmh krn nyusuin mulu dan si bpk klo jln2 pasti nggendong tangan di blkg itu lg nggendong si tuyul. jd rmh nenekku dmn2 selalu nemu bawang lanang/kothong biar duitnya ga dicolong tuyul tetangga….hehehe…

  6. 33
    Cindelaras Says:

    @SU:

    Wow ! Hebat banget sudah membuktikan kalo kepercayaan pada Tuhan bisa mengalahkan semua yang jahat. Salut. Memang kuasa Tuhan tak ada bandingnya.

    Aku sih cuma bisa baca-baca pake cara agamaku sendiri, dalam Islam juga ada cara-cara untuk mengusir setan dan jin jahat. Malah ada beberapa doa khusus yang aku pelajari dari beberapa kerabat. Cukup manjur juga. Alhamdulillah, sampai saat ini tetap selamat dengan bimbingan Tuhan.

    Kami menyebut jin – bukan roh – untuk makhluk gaib yang menampakkan diri kepada manusia dalam dimensi tertentu. Yang diliat anakku itu adalah jin. Ada yang baik dan ada yang jahat.

    Dalam agama kami, kami diajarkan pengetahuan bahwa bila seseorang terlahir di dunia, dia akan disertai sepasang gharin (jin penyerta). Kedua jin gharin itu memiliki rupa yang sangat mirip dengan manusia yang disertainya. Itu sebabnya, seringkali ada orang bicara telah bertemu dengan seseorang yang telah dikenalnya, yang sesungguhnya sudah dinyatakan meninggal dunia. Dalam pengertian kami, yang ditemuinya adalah gharin, jin penyerta dari si orang yang meninggal.

    Yang sudah meninggal, sudah selesai urusan duniawinya. Dan sedang di alam kubur untuk menanti saat dibangunkan bunyi sangkakala saat kiamat tiba. Dalam kubur ini juga, agama kami mengenal adanya siksa kubur. Yaitu siksa yang dialami seseorang saat ditanya apa saja yang dilakukannya di dunia oleh sepasang malaikat penjaga kubur, Munkar dan Naqir. Apakah “pengakuan”nya saat ditanya oleh kedua malaikat penjaga kubur itu sesuai dengan catatan yang dibuat oleh malaikat lainnya (Raqib dan Atid, pencatat amal perbuatan saat hidup) yang telah menuliskan amal perbuatan orang itu selama hidupnya? ataukah tidak?. Begitulah….

    Kalau jin yang jahat, tidak hanya terdiri dari gharin yang jahat. Karena memang ada ciptaan Tuhan yang berupa jin lainnya(jin yang tergolong bukan dari jenis gharin), dan jin yang diciptakan Tuhan ini juga memiliki sifat yang dapat terpengaruh oleh bisikan syaitan maupun sebaliknya – memiliki sifat yang baik – hingga suka membantu manusia. Misalnya seperti berjenis-jenis makhluk gaib yang bentuknya menyeramkan atau semacam fairy (peri) seperti yang diliat Pritha di pos jaga depan Regol Dana Pratapa itu.

    Seringkali kita melihat gambar fairy yang dibuat dalam cerita disney, berupa perempuan cantik lengkap dengan bunga teruntai di rambutnya. Ternyata anakku melihatnya memang terlihat seperti itu. Cantik dan di rambutnya teruntai bunga. Jadi Tuhan menciptakan jin seperti halnya Tuhan menciptakan manusia. Ada yang cantik, ada juga yang buruk rupa.

    Bila saat si manusia tiada, jin penyertanya akan tetap hidup, karena usia gharin lebih lama dari umur manusianya. Gharin ini akan menjadi baik – bila yang disertainya dulu adalah manusia yang baik, akan menjadi jahat – bila manusia yang disertainya dulu juga jahat. Gharin akan beranak-pinak selama hidupnya yang bisa mencapai ribuan taun. Begitu pula dengan jin, usianya sangat panjang dan beranak-pinak.

    Bila gharin baik yang menyertai orang yang baik, dia kan menurunkan anak-anak gharin yang baik juga. Maka setiap saat orang yang disertainya ini akan berbuat baik, para gharin baik yang menjadi pengikutnya akan membantu apa yang dia lakukan, tanpa syarat. Itu sebabnya kadang kita bertemu dengan orang hebat yang melakukan hal hebat dengan kekuatan, yang kalau kita logika, gak akan bisa dilakukannya.

    Sesungguhnya, gharin juga akan menjadi jemaah bagi orang yang disertainya bila sedang beribadah. Itu sebabnya, dalam Islam, saat mengucap salam seusai sholat, kami akan menoleh ke kiri dan ke kanan sambil mengucap salam. Bukan hanya mengucap salam kepada sesama manusia, tapi juga mengucap salam pada gharin yang menyertai kami serta jin muslim yang ikut beribadah bersama kami. Jin tidak berujud, dia gaib. Manusia yang diciptakan Allah menjadi makhluk yang paling sempurna inilah yang akan menjadi imam (pemimpin) untuk mereka, termasuk sebagai imam saat sholat.

    Jin jahat juga bisa membantu manusia, tapi selalu ada syaratnya. Seperti tuyul yang minta digendong di punggung dan diteteki oleh istri si empunya tuyul, atau peri jahat yang ada dalam susuk yang digunakan oleh seorang perempuan agar terlihat cantik. Saat syarat tidak dipenuhi orang yang meminta bantuannya, orang itu akan menerima sanksi dari si jin jahat.

    Dalam pengertian kami, setiap roh itu pemberian Tuhan yang bersifat suci, yang dibawa seseorang sejak Tuhan menciptakannya. Yang jahat adalah jiwanya – yang bisa memiliki sifat buruk karena pengaruh bisikan syaitan (setan). Sedangkan nyawa adalah energi yang bisa membuat seorang manusia hidup dan mati. Jadi ada 3 dalam setiap diri manusia, roh – jiwa – nyawa.

    Anyway, sejauh kita percaya pada Tuhan, apapun baik. Dalam agamaku ada ayat yang menyebutkan itu, yaitu ayat yang turun sesaat setelah Muhammad bertemu dengan seorang Raja Nasrani. Bunyinya : “Lakum dinukum waliyadiin”. Artinya: “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”. Itulah ayat yang turun untuk menuntun agar setiap muslim bertoleransi pada makhluk lain ciptaan Tuhan. Salam

  7. 32
    SU Says:

    Imeii: Bener….kita kudu sadar GA perlu takut sama mereka. Roh Tuhan lebih besar dari mereka. Kudu subdue and take dominion over those yang dicuri oleh mereka selama ini

    Gong Xi Fa Cai ya buat Imeii dan semua. Smg Tuhan memakmurkan segala area dalam kehidupan, memberi kesehatan …..just as your soul prospers.

  8. 31
    bernadette Says:

    seram ceritanya.^^; May God bless us all always.. ^^

Pages: [4] 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)