Thursday, 11 February 2010
Hariatni Novitasari – Surabaya
Dekat-dekat dengan Valentine, lebih banyak aku mendengar orang bicara tentang “Cinta”. Tertegun sejenak dengan kata itu, memutuskan untuk membuat beberapa buah kamus yang kebetulan ada di rumah. Dalam kamus, dibedakan antara cinta terhadap keluarga, dan cinta terhadap manusia lainnya dalam arti romantis.
Dalam otakku berseliweran puzzle-puzzle tentang banyak kejadian cinta di depan mataku. Pengalaman banyak sahabat dan teman. Mereka yang hetro, lesbi ataupun gay. Lalu, aku ingin sebuah peribahasa yang indah “Cinta adalah sebuah perasaan indah, yang akan datang dalam hidupmu, meskipun hanya satu kali saja” Adakah cinta adalah sebuah perasaan yang akan dengan begitu saja diberikan dengan tulus? Ataukah cinta harus dihitung dengan cermat, bahkan ditimbang untung-ruginya sampai semiligram beratnya, seperti yang disampaikan oleh tokoh Tuti dalam Layar Terkembang besutan Sutan Takdir Alisyahbana?
Tiba-tiba puzzle itu, berhenti pada kisahku sendiri. Tentang cinta pertama. Suatu hal yang sudah lama aku lupakan, dan tiba-tiba saja muncul kembali ke permukaan. Aku kemudian, berusaha untuk mengingat setiap detailnya. Rasanya, seperti aku membuka kembali kotak kayu yang telah lama aku simpan di gudang dan menjadi berdebu. Aku juga harus membuka kembali enam buah daily report untuk mengingat kembali percintaanku dengan lelaki ini.
*****
Aku jatuh cinta terhadap Angin, 15 tahun yang lalu. Saat itu, malam 17 Agustus. Di kota kami, setiap malam perayaan kemerdekaan, sekolah SMP dan SMA diwajibkan mengikuti pawai ini. Aku ikut menonton saja. Lelaki itu, berdiri di bawah lampu jalan. Sinar lampion juga jatuh ke mukanya. Dia tampak syahdu sekali. Saat itu, aku tahu aku telah jatuh cinta dengan lelaki itu. Dia berasal dari sekolah lain. Lalu, temanku memberi tahu siapa nama dia. Dia adalah orang yang sangat terkenal di sekolahnya. Ketua OSIS, dan memiliki kecantikan sebagai seorang lelaki. Wajahnya sangat lembut dan halus.
Angin, lalu menjadi teman dalam mimpi-mimpiku. Cinta monyet sekali. Aku terlalu takut untuk mendekatinya. Meskipun aku tahu dimana dia tinggal. Aku ini siapa, berani mendekati dia. Seorang gadis biasa. Seperti pungguk merindukan bulan saja. Namun, pada saat bersamaan, keminderan ini meletup menjadi satu kekuatan, aku harus menjadi sesuatu. Aku tidak boleh menjadi orang biasa saja. Aku harus mampu menunjukkan tiap potensiku. Itulah yang tercetus dalam diriku 15 tahun yang lalu.
Lelaki ini kemudian mengisi hatiku, dan tentu saja banyak catatan harian ketika jaman kuliah. Ketika masa itu blog belum tren, aku membuat semacam surat-surat yang tidak pernah terkirimkan. Setiap catatan itu pasti aku dului dengan kata, dear Angin… Di dalamnya, ada pula ucapan-ucapan ulang tahun buat dia. Dari masa ke masa. Yah, dia berulang tahun pada bulan September.
Karena cintaku terhadap Angin, akhirnya seperti ada hubungan kuat antara dia dan aku. Misalnya begini, pada satu masa, aku ingin tiba-tiba saja lewat di depan rumahnya. Ketika itu, alangkah terkejutnya aku, ketika aku mendapati di rumah dia, berdiri tenda dan bendera hitam. Ayah Angin meninggal dunia. Atau, ketika aku mendapati seorang anak lelaki yang aku rasa punya kedekatan hubungan dengan dia di tempat les. Pulang les, aku ikuti anak lelaki itu. Anak itu berbelok di rumah Angin. Ternyata, dia adalah adik Angin.
Setiap kali aku melewati sebuah jalan di kota kami, aku selalu merasa dia juga pernah melewati jalan yang sama. Atau ketika aku makan di satu tempat, aku pasti merasakan dia pernah makan di tempat ini. Aku persis seperti Fanton Drummond yang mencari jejak Olenka Dayton.
Di catatan harianku, bertanggal 8 September 2002, “Aku tetap melihat milyaran bintang di langit biru kota kita. Aku terus mencarimu di sudut-sudut kota kita. Walau aku tahu, aku tidak pernah menemukanmu lagi. Walau aku ada di setiap sudut jalan, menyusuri gang-gang sempit, pasar-pasar, gedung-gedung, bahkan got-got. Kita tidak mungkin bertemu di kota kita. Kehidupan membawa langkah kaki menjauh dari akar dan pangkal darimana kita berasal. Ruang dan dan waktu seakan telah menjadi musuh sekaligus dewa bagi kita.”
Aku kehilangan jejak Angin ketika dia lulus SMA dan kuliah hukum di Kota Y. Setelah itu, aku tidak pernah lagi mendengar cerita tentang dia. Apalagi setelah aku pindah ke Surabaya dan jarang pulang, sudah terputus sama sekali informasi dan berita tentang dia. Aku mulai hari-hariku sebagai mahasiswi di Surabaya. Yang mulai terbenam dengan tugas bikin essay dan mengejar deadline di buletin fakultas.
Sok sibuk setiap weekend keluar kota untuk acara ini dan itu, atau acara ngikutin teman roadshow ke pondok pesantren. Bertemu dengan orang-orang yang menarik. Orang-orang yang nyambung dalam pembicaraan. Jatuh cinta, dan patah hati datang silih berganti. Tetapi, “diri” Angin tetap saja ada. Dia seperti telah menjadi sebuah pegangan bagiku di masa-masa sulit. Semangat untuk bangkit lagi.
Aku tidak tahu Angin telah berubah bagaimana saat itu. Tetapi, bagiku dia tetap saja seperti anak lelaki berusia 16 tahun yang aku lihat di bawah tiang lampu. Dia tetap saja seorang yang sangat istimewa.
Lama berselang, cintaku terhadap Angin berubah menjadi cinta yang tidak ingin memiliki. Angin telah menjadi semacam soul. Dia telah merasuk ke dalam jiwaku menjadi kekuatan buatku. Dalam sebuah daily report bertanggal 18 Oktober 2001, aku menulis “Aku tidak akan membunuhmu. Kamu adalah nyawa jiwaku, yang memberi kehidupan kepada jiwaku. Tentang nyawa raga, itu yang diberikan oleh Tuhan. Apalah artinya aku tanpa nyawa jiwa. Tiada arti. Andaikan aku seorang pelukis, kamu adalah objek lukisan yang paling indah dan misterius”
Dalam kisah-kisah cantik, dia telah menjadi semacam pangeran berkuda putih. Suatu istilah yang dijadikan gojlokan terhadapku. Sampai seorang dosenku, MJK bertanya “Benarkah ada pangeran berkuda putih itu?” Sangking dia penasaran dengan sosok itu, dan beranggapan aku telah menciptakan tokoh imaginerku.
Aku tetap mempertahankan Angin dalam beberapa lama. Dia telah menjadi ide yang mengkristal dalam hatiku. Sampai dengan bekerja dan selesai kuliah, kadang memikirkan Angin. Aku mencintai lelaki itu. Dulu, di setiap tempat yang aku singgahi, aku senang sekali menggoreskan namanya di atas tanah, di atas batu, dan di pasir laut. Pada satu malam di Senggigi, aku duduk di pantai, kala itu bulan purnama, bintang Orion begitu nyata, dan tiba-tiba aku merasa menjadi sangat dekat dengan dia. Wish you were here, Angin.
Ketika aku sedang asyik membuka-membuka daily report, aku menemukan sebuah kartu pos. Tidak ada tanggal dan tahunnya. Tetapi, karena kartu pos itu bergambar seorang perempuan Sasak sedang membuat gerabah dan aku pergi ke pantai, kejadian itu pasti terjadi November 2004. Disana aku menulis, “Setiap kali aku ke pantai…. Haru, bahagia dan sedih menjadi satu. Hari ini aku ke pantai, dan mengingatmu (lagi). Aku menuliskan lagi namamu di pantai. Ada rasa takjub ketika semua isi semesta berkonjugasi: air, pasir, dan rembulan di bawah langit penuh taburan bintang. (Tapi, aku tidak ingin menunjukmu menjadi sebagai satu bintang).”
Namun aneh, entah tepatnya kapan, aku lupa. Tiba-tiba saja, aku sudah melupakan dia. Dia sama sekali telah terhapus. Aku semacam telah terbebas dari sebuah perasaan yang sangat membelenggu. Ide tentang dia tiba-tiba juga menjadi sangat aneh. I can’t figure him out. Bahkan, sosok pemuda 16 tahun di bawah tiang lampu juga telah lenyap. Kekhawatiran ini pernah tercetus dalam sebuah catatan bertanggal 20 Maret 2002, “Angin, nanti sepuluh tahun lagi, apakah perasaan ini masih ada? Apakah aku akan merasakan terharu ketika aku membaca lagi tulisan-tulisan ini? atau mungkin aku akan tertawa dan berkata “ah, konyol!”
Aku heran, mengapa menjadi hilang begitu saja. Apakah sosok Angin tidak mampu lagi bertahan menjadi penyemangat di dalam diriku? Jarak waktu sekian lama, mungkin saja sudah menghapus itu semua. Ketika frame of reference masing-masing orang telah berubah, apakah hal seperti itu masih bisa dipertahankan. Aku tidak tahu, Angin sekarang telah menjadi seperti apa? Apakah dia telah menjadi seorang Cassanova yang berpindah dari satu pelukan perempuan satu ke perempuan lainnya? Ataukah, dia menjadi seorang lelaki family man, seorang lelaki baik-baik? Ataukah, dia telah menjadi seorang pengikut gerakan radikal yang ingin membom banyak tempat di negeri ini? Entahlah…..
Tapi yang jelas, sepertinya aku telah menjadi orang yang sangat rasional, dan tidak percaya dengan kisah-kisah seperti dalam cerita Hans Cristian Anderson. Kalau pangeran berkuda putih itu akan datang suatu hari nanti. Dia akan membebaskanmu dari kutukan Sang Naga, dan akan mengajakmu pergi jauh, ke kerajaannya. And, they live happily ever after…
Namun, apabila suatu hari nanti, kalau aku bertemu dengan Angin, aku pasti akan bilang. “Dulu, aku pernah mencintaimu. Dulu, kamu merupakan tempat berpegang di saat sulit. Karena itu, aku ingin berterima kasih terhadapmu….”
Note: Dalam tulisan ini, pertama kalinya aku membuat semacam pengakuan. Butuh keberanian untuk mengungkapkannya. Jauh di dalam diriku, aku sebenarnya bukan orang yang se-extrovert kenampakannya. Aku sebenarnya, adalah orang yang selalu menjaga dengan rapi perasaanku… :D

February 23rd, 2010 at 21:41
Mbak Rosda: waduh Mbak….tak tunggu orang nya ga datang2… kudanya kenapa ya? Kenapa ga ganti Kuda Grandia saja ya? hehehe
February 18th, 2010 at 20:55
HN…pangerannya lagi dalam perjalanan, tunggu ya…ntar juga dia sampai ke tempatmu…..hehehehehee
February 13th, 2010 at 18:00
Mbak Imeii: aku bisa membayangkan kamu ngintip tetanggamu itu. Iyah Mbak, lagunya Nikka Costa itu bisa bikin hanyut, apalagi dengan suara anak2nya itu. Tpai, kalau lagu kebangsaanku itu lebih di Heaven Knows nya Rick Price.
Mbak LInda: Iya Mbak, tidak semua hal harus diceritakan, dan tidak semua hal bisa dikeluarkan. Kadang, menunggu masa untuk keluar.
February 13th, 2010 at 17:57
Raras: Lhoh, jaman melu kelas MJK awakmu wes ga ABG maneh yo? hehehehe. Fans MJK masih banyak hingga saat ini. Kampus tambah enak ae.
Mbak Lani: semoga yang kedua ini, ada cerita yang seru, hehehehe.
Mbak Syanti:terima kasih sudah mampir. Tidak pernah mati, mungkin sama dengan tidak pernah melupakannya ya Mbak?hehe
Tante SU: ah cinta pertama? sudah lupa tuuuh…hiihhihi
February 13th, 2010 at 12:31
HN : ya, kadang2 seseorang yg ekstrovert memang perlu menyimpan beberapa hal hanya untuk dirinya sendiri. seperti aku.
banyak hal yang tidak akan pernah terakui keluar, karena memang bukan seharusnya untuk dikeluarkan