Aimee Dawis – Jakarta
Pertama kali aku berkenalan dengan Abdurrahman "Gus Dur" Wahid yang pluralis sekitar tahun 2001. Dalam salah satu liburan, aku kembali ke Indonesia, ketika sedang menempuh studi untuk gelar doktor di New York University, aku mendapat kehormatan menghadiri pertunjukan wayang orang (drama tari tradisional Jawa) di Gedung Kesenian Jakarta (The Jakarta Performing Arts Center). Pertunjukan ini diselenggarakan oleh Yayasan Warna Warni.
Sebagai penggemar berat wayang orang, Gus Dur menghadiri acara dengan keluarganya dan hadir juga Megawati Soekarnoputri, yang di kemudian hari menjadi wakil presiden mendampingi beliau.
Pertunjukan sepanjang 2,5 jam yang menakjubkan. Semua pemain mengenakan busana Jawa halus dan menyanyikan lagu-lagu Jawa kuno dengan nada dan intonasi sempurna. Baru di akhir acara, aku menyadari semua pemain adalah orang Tionghoa-Indonesia dari Surakarta, Jawa Tengah.
Gus Dur, yang tidak bisa menyaksikan pertunjukan, mendengarkan dengan penuh perhatian segala sesuatu yang terjadi di atas panggung. Ketika diundang untuk berbicara kepada ratusan orang penonton, ia berkata, "Aku bangga dengan saudara-saudaraku. Ajaran utama Islam adalah harmoni. Kita harus berjuang untuk menyebarkan pluralisme di Indonesia. Tidak ada tempat bagi diskriminasi di Indonesia!"

Sambutannya luar biasa tepuk tangan meriah oleh para penonton. Tersentuh oleh pernyataan Gus Dur, beberapa orang Tionghoa yang lebih tua – di antara penonton, matanya berkaca-kaca. "Kita harus berterima kasih kepada Gus Dur untuk semua ini," mereka menjelaskan.
Memang, itu hanya 10 tahun berselang di mana sekarang IBC (Indonesian Born Chinese) bisa merayakan Tahun Baru Imlek dengan bebas. Begitu Gus Dur masuk ke kekuasaan sebagai presiden keempat Indonesia dari November 1999 sampai Agustus 2001, ia membatalkan Instruksi Presiden tahun 1967 yang dikeluarkan oleh Soeharto, yang membatasi praktek adat dan agama Tionghoa hanya sebatas di lingkungan terbatas.
Beliau undangkan ini dengan menandatangani Instruksi Presiden tahun 2000 yang memungkinkan publik merayakan Tahun Baru Imlek secara terbuka. Di bawah Megawati, yang memimpin Indonesia dari Agustus 2001 sampai September 2004, Tahun Baru Imlek dijadikan hari libur nasional pada 1 Februari 2003.
Dibesarkan di era Soeharto, tetapi menghabiskan sebagian besar masa kanak-kanak dan masa remaja di Singapura, aku sering iri kapan aku bisa merayakan seperti teman-teman warga Singapura. Di mana perayaan Tahun Baru Imlek ini adalah salah satu yang paling penting di antara kebudayaan Tionghoa yang memiliki banyak perayaan sepanjang tahun.
Mereka tampaknya menganggap begitu biasa pertunjukan barongsai serta pajangan lampion besar berwarna merah dan keemasan yang dihiasi berbagai coretan huruf penuh makna.
Dalam satu kesempatan ketika aku kembali ke Jakarta dalam rangka liburan Tahun Baru Imlek, aku senang menghabiskan waktu bersama keluargaku, tapi tetap saja tak terlihat tanda-tanda perayaan di luar rumah.
Sahabatku, yang dibesarkan di Jakarta selama era Soeharto, sangat menyadari pembatasan ini. Meskipun dia sekarang tinggal di California Utara, sesekali dia masih kembali ke Jakarta untuk berkumpul dan merayakan Tahun Baru Imlek bersama keluarga besarnya.
Ketika ia kembali ke Jakarta pada tahun 2003 dan melihat karyawan di Sogo department store di Plaza Senayan mengenakan pakaian tradisional China, ia berseru: "Ini semua dilarang sebelumnya!" Dia bahkan lebih terkejut ketika ia melihat sebuah hong bao (amplop merah), pita merah panjang berkibar dari langit-langit kubah mal, dan berbagai boneka yang didandani dengan pakaian khas.
Tujuh tahun kemudian, pada tahun 2010, masyarakat IBC telah membuat lompatan besar. Ratusan organisasi Tionghoa bermunculan. Sekolah menawarkan Mandarin sebagai subjek utama telah menjamur di seluruh Nusantara, sementara media berbahasa Mandarin telah berkembang pada era pasca-1998.
Dengan pesatnya perkembangan ekonomi Tiongkok, Indonesia justru mulai dapat menikmati perkembangan budaya Tionghoa yang tersebar seiring dengan ekonominya dalam 10 tahun belakangan ini.
Euforia kebangkitan ini, bagaimanapun, tidak boleh "berlebihan", seperti diingatkan oleh Harry Tjan Silalahi, anggota dewan dari CSIS. Benny Setiono, seorang pemimpin dari INTI (Perhimpunan Indonesia Tionghoa), memiliki pemikiran yang sama.
Menurut mereka, kepekaan sosial dan tanggung jawab harus diwujudkan dalam masyarakat untuk menghindari kecemburuan dalam masyarakat Indonesia yang lebih besar.
Ini mungkin salah satu alasan mengapa banyak organisasi-organisasi sosial Tionghoa telah memberikan kontribusi yang cukup banyak serta bantuan keuangan untuk berbagai bencana alam dan pembangunan sekolah-sekolah Muhammadiyah. Pada minggu-minggu menjelang Tahun Baru Imlek, kuil-kuil Buddha juga telah mendistribusikan ribuan paket makanan kepada orang miskin.
Upaya ini penting untuk mendidik generasi muda IBC, yang tidak akan memiliki memori era Soeharto. Terima kasih kepada Gus Dur, mereka akhirnya bisa mengklaim warisan budaya mereka tanpa pembatasan. Namun, mereka harus sadar dari sejarah Indonesia dan dapat lebih mendalami masalah-masalah sosial, religius, dan toleransi etnis.
Untuk pelajaran ini dan banyak lagi, duo xie (多谢, banyak terima kasih), Gus Dur! Legacy Anda akan terus hidup di antara kita.
This article was published in The Jakarta Post 09 February 2010. Revised and permitted for translation and publication by Aimee Dawis for baltyra.com
Penulis adalah dosen UI, Departments of Communication and Humanities. Dan juga pengarang buku “The Chinese of Indonesia and Their Search for Identity: The Relationship Between Collective Memory and the Media”
February 16th, 2010 at 15:12
Semoga budaya indonesia semakin kaya..dan dengan kemajemukan itu bukan membuat kita menjadi terpecah2, melainkan saling mengisi dan menolong satu dengan yg lain sehingga kita menjadi warga yg harmonis.. ^^
February 16th, 2010 at 12:30
JC : itu, ada yang bilang begini = Wah, ini bisa jadi ide/inspirasi artikel nih…
ilhampst : yuks nunggu. sambil ngitungin mobil liwat sambil nyamil di gerobak-an di sekitaran CBD (juragan gerobanya kmn ya? lama g mencungul)
February 16th, 2010 at 12:09
Ikut baca ah, nunggu.com
NEv : makluuuum, jaman SMP gak ada. Lagian di SMK mana ada kelas akselerasi yak? Hahaha…
February 16th, 2010 at 11:44
Asiiiikkk…ada yang mau setor artikel ya Nev? Sopo iku? Asik yo…aku melu moco wae ah…
February 16th, 2010 at 11:42
yes..bakal ada artikel nih (ahahahaha…komforrr…
February 16th, 2010 at 11:14
Nev: walaupun bukan aku yang ditanya, tapi sebagai salah satu IBC jebolan univ negeri, boleh lah aku nimbrung ya…
Masalah jatah sekian % itu antara ada dan tiada…tanyalah resmi dari jaman jebot (Soeharto) sampe sekarang, jawab semua rektor univ negeri pasti seragam: TIDAK ADA. Namun demikian praktek itu jelas ada…karena aku melihat, merasakan dan mengalaminya.
Sebenernya ada beberapa faktor lain masalah kecilnya persentase IBC di univ negeri: keraguan IBC untuk mendaftar masuk ke univ negeri karena kuatir akan mengalami perlakuan diskriminasi, apatisme dan anggapan umum bahwa IBC tak akan diterima di univ negeri, IBC yang masih ragu akan identitasnya (socio-political process yang panjang memang), ragu akan kecinaannya/keindonesiaannya atau ke-IBC-annya, kelompok IBC yang tidak niat sekolah (berpikir ada duit semua pasti beres), dan masih banyak lagi faktor complex masalah ini.
Untungnya sekarang fenomena tsb sudah makin hilang, dan aku melihat makin banyaknya blending semua etnis di univ negeri. USU contohnya, fakultas kedokterannya sekarang perasaan ada lah kalo sekitar 30-40% etnis Tionghoa. Demikian juga Undip, fakultas yang sama, kedokteran, makin banyak saja kulihat etnis Tionghoa’nya.
Aku adalah salah satu saksi hidup minoritas di univ negeri. Diakui atau tidak perlakuan diskriminasi itu ada, baik dari dosen ataupun dari asisten dosen. Tergantung bagaimana kita masing-masing individu menyikapi dan bersikap terhadap hal-hal itu…
Wah, ini bisa jadi ide/inspirasi artikel nih…
February 16th, 2010 at 11:12
ilhampst : weks.. kamu g kenal istilah kelas akselerasi ya??
tapi sebenarnya, ada cerita bahwa beberapa posisi di perbankan itu -dulu sekali- ekslusif menjadi “hak” IBC. kabarnya karena karakteristik yang telah melekat dan umum dikenal sejak dulu sebagai ulet, teliti dan tekun (inget, jaman dulu itung2an blom pake komputer) tapi itu sih cerita dari para tetua…