Genit Berakronim

Osa Kurniawan Ilham

Tolong koreksi saya kalau pendapat saya ini salah. Setahu saya akronim adalah singkatan dalam bentuk sebuah atau dua buah kata yang mudah diingat atau diucapkan karena berasosiasi kepada pengertian tertentu. Kamus besar Bahasa Indonesia mencatat bahwa akronim adalah kependekan yg berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yg ditulis dan dilafalkan sbg kata yg wajar (msl mayjen mayor jenderal, rudal peluru kendali, dan sidak inspeksi mendadak). Akronim ini begitu mudah  berkeliaran di sekitar kita sehingga menjadi sebuah fenomena tersendiri dalam berbahasa Indonesia.

Tampaknya sejarah mencatat bahwa Bung Karno-lah yang memasyarakatkan akronim dalam keseharian kita. Bung Karno gemar menyederhanakan sebuah istilah, slogan atau kalimat apapun dalam sebuah akronim untuk memudahkan diingat, dipahami dan diucapkan oleh rakyat kebanyakan.

Dalam sebuah buku sejarah tentang Bung Karno yang saya baca, saat diasingkan di Ende, Pulau Flores di tahun 1934 – 1938, dengan cerdiknya Bung Karno membuat akronim dari nama ibu mertuanya (ibu dari Inggit Ganarsih) untuk memperkenalkan ide tentang kemerdekaan Indonesia. AMSI, begitu nama ibu mertuanya, dijadikan akronim untuk kalimat “Akan Merdeka Seluruh Indonesia”.

Dan kebiasaan Bung Karno berlanjut saat menjabat sebagai presiden RI. Inilah deretan akronim ciptaannya : Trikora (Tri Komando Rakyat), Dwikora (Dwi Komando Rakyat), Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri), Jasmerah (Jangan Sekali-sekali Meninggalkan Sejarah), Gestok (Gerakan Satu Oktober), Turba (Turun ke Bawah). Konon, kata Irian dalam provinsi Irian Jaya juga adalah akronim dari Ikut Republik Indonesia Anti Nederland. Pasti masih banyak yang lain, yang terlewat dari memori saya yang terbatas ini. Mungkin Anda bisa menambahkan, silakan.

Sebenarnya kaum militerlah yang gemar menciptakan akronim. Inilah contohnya : Kodam, Pangdam, Koramil, Kodim, Armabar, Armatim, Kowilhan, Akabri, Akmil, Akpol, Polsek, Polres, Polwil, Polda, Polri, Ajen (Ajudan Jenderal), Wanra, Kowad, Kowal, Kowau, Polwan. Di tingkatan operasi militer pun terdapat banyak istilah-istilah operasi yang di-akronim-kan untuk memudahkan penyebutan, pelaporan maupun untuk memudahkan kamuflase atau penyamaran. Mungkin Pak Chappy Hakim atau Pak Pray bisa menambahkan he..he…

Nah, di jaman Pak Harto penggunaan akronim juga masih berkembang. Entah karena sudah terbiasa sejak jaman Bung Karno atau karena latar belakang Pak Harto yang dari militer maka akronim juga menjadi keseharian kita saat itu. Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun), Pelita, Inpres, Keppres, Opsus (Operasi khusus), Aspri (Asisten Pribadi), pangkokamtib, Irwasbang (Inspektur Pengawasan Pembangunan), Sesdalopbang, waskat (pengawasan melekat) adalah sedikit di antara akronim yang tumbuh subur di jaman Pak Harto.

Bagaimana dengan perkembangan akronim di jaman reformasi ini ? Di satu sisi ada penurunan pembuatan akronim baru karena pemerintahan reformasi terlalu genit dalam menggunakan istilah-istilah bahasa Inggris, istilah gaulnya Asal British he..he… Baru sekarang saya mendengar pemerintah Indonesia menggunakan istilah National Summit, hanya untuk sebuah acara yang sama artinya dengan Musyawarah nasional he..he..

Di sisi lain terjadi peningkatan dalam pembuatan singkatan daripada akronim, di jaman sekaranglah tumbuh subur kebiasaan menyingkat nama seperti SBY, JK, AA, AB, TK padahal dulu orang akan tersinggung kalau namanya disingkat, karena kok seperti inisial nama penjahat saja he..he…Tapi jaman berubah, orang sekarang bangga namanya disingkat, bahkan bisa menaikkan citra dan malahan seperti mendapatkan merek baru.

Yang saya prihatinkan sekarang tampaknya terjadi penurunan kreativitas orang dalam membuat akronim. Tidak hanya penurunan kreativitas tapi juga terjadi penurunan tenggang rasa dalam membuat sebuah akronim. Contoh yang aktual adalah akronim Markus untuk makelar kasus. Saya tidak tahu dari mana asal mula akronim ini berawal. Tapi mendengar akronim Markus, saya jadi ingat dulu pernah ada akronim Petrus untuk pembunuh misterius. Yang jadi pertanyaan saya adalah apakah si pencipta akronim tersebut tidak memperdulikan perasaan warga negara yang beragama Kristiani dalam mencomot nama seorang tokoh Kitab Suci Kristiani untuk dijadikan istilah yang bisa diasosiasikan sebagai hal jahat, jelek dan tercela.

Kita harus bersyukur karena tidak pernah saya mendengar ada saudara-saudara Kristiani yang tersinggung lalu melakukan demo, protes atau hal-hal sejenis untuk penggunaan akronim Petrus atau Markus tersebut. Tapi tentu saja ini bukan sebagai pembenaran untuk kita semena-mena menggunakan tokoh kitab suci agama apapun untuk memunculkan sebuah istilah atau akronim yang berkonotasi jelek dan negatif.

Mungkin kita perlu menghentikan sifat cari gampangnya saja tapi harus mengasah kreativitas kita seperti Bung Karno atau teman-teman dari militer dalam menciptakan sebuah akronim yang bernas dan terdengar anggun dan gagah.

Kita harus hentikan kegenitan berakronim ini. Jangan sampai kelak ada akronim yang menyinggung perasaan saudara-saudari kita sebangsa dan senegara. Mohon maaf kalau ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini.

Balikpapan, 19 Desember 2009

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *