A Little Fighting is Good for Our Relationship

Nuni – Melbourne

Hari-hari menjelang Valentine, boleh dunk ya nulis yang berbau agak romantis. Kebetulan udah lama nih ga coret-coret dinding wall note aye. Nah kali ini aye mau nulis soal hubungan antara suami-istri atau mungkin yang masih pada pacaran aka penjajagan. Nara sumber note ini dari berbagai sumber (termasuk penulis) ngaku deh, daripada ga jujur hi hi. Yang jelas bukan maksud untuk menggurui, tapi sekedar sharing bersama, yang bagus ambil buat diinget (syukur-2 deh) yang jelek, buang deh tuh jauh-jauh, kalau perlu suruh ke laut aja!

Lanjut ya, konon menurut penuturan beberapa pasangan entah mengapa sejak menikah dan berkeluarga nuansa untuk meresapi hal-hal yang ‘beraroma’ romantisme sedikit menurun kadar entusiasnya dibandingkan dulu ketika masih pacaran alias masih berstatus single. Kata orang sih, itu mungkin yang namanya rasa cinta bisa luntur oleh terpaan jaman dan kondisi yang berbeda. Benarkah rasa cinta itu bisa terkikis pelan-pelan dari jiwa kita?

Padahal dulu ketika masih remaja dan kemudian menginjak dewasa muda setiap menjelang Valentine pasti sebagian dari kita begitu semangat menyambutnya. Kartu-kartu lucu berwarna pink buatan sendiri atau beli dari book store sudah disiapkan untuk diberikan kepada sobat terdekat. Juga mulai mencari baju-baju bernuansa romantis untuk datang ke pesta yang digelar teman sekelas.

Kalau yang sudah kuliah mungkin bareng pasangannya menyambangi café, hotel dan restaurant yang memanfatkan moment tahunan itu untuk di-sharing bersama pengunjung setianya. Karena banyak juga ternyata pasangan muda yang suka mojok berdua ber-candle light ria dengan si doi di cafe sambil mendengarkan music-musik indah dan mengharapkan hadiah spesial seperti coklat, mawar dan ungkapan sayang dari kekasih.

Tapi apakah semua pasangan menikah akan mengalami skenario jatuh bangun seperti yang tertulis di alinea awal di atas? Ternyata engga juga ya. Banyak juga pasangan yang makin menanjak usianya makin besar pula api cintanya. Ini mungkin yang disebut sebagai cinta abadi dan soulmate yang sesungguhnya. Sayang, dalam dunia yang serba tak menentu ini, hal-hal yang serba indah dan serba kebetulan itu tidak banyak atau sering dialami setiap orang. Bisa dibilang tidak banyak pula yang mengalami cerita serba fantastis dan mulus dalam hidupnya. Seperti kata pepatah, banyak yang harus jatuh bangun di dunia yang menjadi tempat ‘ujian’ kita ini.

Ada ga sih yang lebih ampuh dari obat pembasmi nyamuk ini? Oooppss maksud saya, ada ga sih hubungan cinta yang langgeng bin mulus sepanjang jaman? Uh..hebat banget kalo ada yang begitu, tapiii, itu malah kata ahli hubungan sosial justru ga sehat, karena terlalu perfect alias sempurna (too good to be true), soale siapa sih yang sempurna di dunia ini?

Berselisih alias bertengkar katanya adalah normal dalam setiap hubungan (apapun itu) pertemanan, keluarga, pacaran, suami-istri. Tandanya manusia itu masih hidup masih punya emosi, tapi jangan diobral juga kali ya, emosi kita atau kadar kesewotan kita, karena akan mempengaruhi kesehatan fisik/badan juga, seperti jantung, stroke, dll (amit-2 deh). Jadi lebih baik, so cool, jangan mudah panasan dan kalau liat yang aneh-aneh, yang lebih bagus dari kita lebih baik, didoakan, atau kalau PINTER berdoa, semoga ketularan seperti dia (siapa aje deh). Gitu aja kok repot hi hi hi….

Lanjut ah…tapi jangan juga sih bertengkar keseringan karena itu tanda-2 hubungan juga ga sehat. Jadi kata orang pinter, selesaikan hal-hal yang bikin masalah seperti biasanya sih soal keuangan, kerja, parenting, keluarga, pembagian tugas di keluarga (ini buat yang ga punya upik abu) dan sharing hal-hal yang bikin ganjalan di hati. Niscaya, hubungan yang ruwet pelan-pelan mencair.

Setelah menyingkirkan aneka masalah, silakan melakukan setting a good relationship. Jangan pernah bilang kata telat, lebih baik ada itikad baik, daripada gerutu mulu. Maksudnya, dalam setiap hubungan porsi individualitas sebaiknya tidak terlalu besar, namanya juga 2 orang ya harus 2 ways. Jangan memaksakan kehendak, kalau ukuran baju L ya jangan coba-2 pake yang M, entar sesek loh

Ahli tersebut juga menyarankan bangun hubungan yang sehat. Maksudnya, harus ada kerjasama yang baik antara pihak pertama, kedua dan hubungan itu sendiri. Semua harus aware dengan semua pihak, jadi semua terperhatikan. Kalau udah berhubungan jangan pernah berpikir bahwa kita adalah bagian terpisah dari hubungan itu, karena justru sebaliknya hubungan itu yang harus mengkuatkan kita. Sehingga ketika sampai pada urusan mengambil keputusan, juga harus dilihat pada kerangka besar (big frame) yang melibatkan semua.

Mba psikolog ini juga menyatakan pasangan yang sukses mengelola fighting, akan lebih memungkinkan memiliki hubungan yang sehat daripada yang lari dari kenyataan alias kabuuurrrrr dari masalah. Karena pasangan telah tumbuh bersama dan saling mengerti untuk melalui konflik, mereka juga memiliki kemampuan mengembangkan praktek menyelesaikan masalah.
Jadi buat pasangan yang pernah melaului pertengkaran, jadikan itu sebagai ujian agar di lain waktu tidak terperangkap dalam hal yang sama. Kunci pokoknya, lalui setiap masalah dengan semangat cinta dan saling menerima yang dalam. Juga simpan kalimat ajian pamungkas (kalau perlu di dinding rumah) bahwa kita memiliki perjanjian mutual yang menyatukan di manapun kita berada (walau jarak memisahkan sekalipun).

Nah, berdasarkan pengalaman sehari-hari, yang jelas sih ketika sudah menikah dan berkeluarga memang banyak hal yang harus diperhatikan sehingga kadang mempengaruhi upaya kita untuk mengekspresikan cinta (kasih sayang) dengan pasangan. Kalau salah satu pihak rada sensitif, sering hal ini akan menjadi batu sandungan untuk keselarasan hubungan rumah tangga agar tetap harmonis.

Apalagi hal-hal yang menuntut perhatian itu adalah hal-hal umum dan mendasar seperti masalah finansial, kerja, hubungan sosial dengan sesama, anak dan keluarga besar. Tak ayal yang dulunya sering saling mengobral ‘ungkapan’ cinta lama-lama jadi berkurang intensitasnya karena fokus hidup yang bercabang-cabang tersebut.

Demikianlah yang namanya siklus hidup selalu berputar dan sering bisa dibayangkan akan berproses seperti apa. Namun itulah proses yang harus dialami sebagian besar dari kita. Bila selamanya sama dan tidak berproses, mungkin kita pun merasa jenuh, hampa dan tidak akan pernah belajar dari nilai-nilai yang terselip dalam setiap peristiwa yang terjadi di depan mata.
Kata orang ujian cinta bisa membantu kita semakin kuat menghadapi cobaan. Dan tentunya menjadikan kita lebih ‘dewasa’ dalam berpikir dan bertindak.

Tapi, ada syaratnya juga loh. Ini kalau masing-masing pihak tidak mengumbar ego dan emosi dan memang mempunyai niat baik untuk menyelamatkan perkawinan seperti janji mereka dulu di depan penghulu atau altar gereja. Biasanya, pasangan yang lolos dari ujian cinta akan tampak lebih bahagia dan menghargai nilai-nilai sakral perkawinan dengan sepenuh hati, apalagi ketika memaknai ‘badai’ yang menerjang sebagai penguat ikatan perkawinan mereka.

Jadi, bahagialah bila masih mendapat ujian apapun itu bentuknya karena ini bisa membentuk kita menjadi manusia yang lebih kuat menghadapi berbagai cobaan. Ujian cinta juga konon akan terus menghampiri selama kita hidup. Kalau dulu karena masalah putus cinta, pacar selingkuh dan cinta bertepuk sebelah tangan atau cinta tidak direstui, maka dalam tahap yang lebih tinggi, ujiannya akan makin bertingkat dan susah. Ssstttt….testimoni itu beneran loh, berdasarkan penuturan cerita pengalaman beberapa orang yang saya kenal.

Tapi tentu saja testimoni ini bukan bermaksud untuk menakuti-nakuti siapa pun yang akan menikah dan memiliki keluarga bahagia, karena semua itu memang sebagian dari proses alam yang harus kita lalui. Kalau kebetulan kita sedang menghadapinya, saran saya seperti juga yang pernah saya dengar, baca dan alami sendiri, tetaplah saling mengingatkan dan menguatkan, jangan putus asa, karena selalu ada jalan keluar untuk masalah apapun. Semoga kita termasuk perempuan yang beruntung, ketika pasangan atau soulmate kita selalu setia menginginkan kita menjadi his lady valentine setiap saat.

Ketika sedang bertengkar, ingat-ingatlah hal ini:
1. Dengerin persepektif dari pihak partner (pasangan) kita. Jangan mau menang sendiri (susah sih) tapi emang gitu aturannya kalau mau selamat.
2. Berpikir sebelum bertindak/ngomong, ini juga memperlihatkan tingkat intelektual kita secara keseluruhan. Kadang sesuatu yang terucap ga bisa ditarik lagi, dan jangan sampai ada kata penyesalan di akhir cerita. Apalagi kalau awalnya cuman dari hal-hal kecil, sesal kemudian tak berguna.
3. Kalau kita telanjur esmosi dan over reacting (hmmm biasanya sih kaum aye nih, gampang banget tersulut api) lebih baik take a break, istirohat dulu jangan ngomong deh, ntar salah lagi. Dan balik lagi berdiskusi (bukan berantem loh ya) kalau hati udah adem-an.
4. Cari kesempatan yang baik untuk membicarakan masalah dan siapkan jalan keluar yang normal (logika). Jangan bairkan bad feeling dan disconnection menguasai hati kita, karena akan ‘bete’ alias bad mood terus bawaannya.
5. Yang terakhir, kalau semua cara ga mempan, tanya dalam hati kita, kenapa juga dulu kita ‘demen’ sama pasangan kita. Hey girl, why you love him? Or, kenapa dulu pake kenalan sih sama temen kita kalau akhirnya begini hi hi hi (jangan sampe deh kita termasuk dalam golongan orang-2 yang merugi seperti itu.

 

Dimuat di Ozip magazine edisi Feb.

Picture : ehow

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.