Badai Dalam Kehidupan, Part 1

Syanti – Sri Lanka

Setiap manusia, pasti mengharapkan jalan kehidupannya berjalan dengan tenang dan damai. Akan tetapi kita tidak tahu apa yang akan terjadi sesaat kemudian. Seringkali kita tidak merasa siap untuk menghadapi badai dalam kehidupan kita………….!

Agustus 1997

Pada waktu itu saya merasa, bagaikan jatuh ke dalam lubang yang sangat dalam dan gelap, begitu banyak problem yang harus saya hadapi. Belum selesai problem yang satu, sudah datang problem yang lain, semua datang secara bertubi-tubi.

Saya merasa tidak berdaya…….saya berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan berdiri, tetapi kemudian jatuh lagi…..!

Sudah satu bulan ini kami berusaha untuk mencari rumah sewaan yang baru, karena rumah sewaan yang kami tempati pada saat itu, oleh pemiliknya diperlukan untuk ibu mertuanya yang akan datang dari Amerika. Sesungguhnya pada waktu itu kami sudah membeli sebidang tanah dan mulai membangun rumah di tanah tersebut, tetapi rumah itu belum layak ditempati,

Karena itu kami berusaha untuk mencari rumah sewaan baru, untuk itu berarti kami memerlukan uang untuk membayar uang jaminan (system sewa menyewa di Sri Lanka berbeda dengan di Indonesia. Kita harus membayar uang muka, sebagai uang jaminan dan setiap bulan kita harus membayar uang sewa rumah tersebut). Sementara uang tabungan kami habis untuk membangun rumah kami yang belum selesai juga. Karena itu kami berusaha untuk mendapatkan rumah dengan harga sewa yang sesuai dengan kemampuan kami. Dan ternyata hal tersebut tidak semudah orang membalikkan telapak tangannya.

Hari itu perasaan saya bercampur aduk, antara rasa sedih, kecewa, dan putus asa….berakhir dengan rasa penyesalan yang dalam yang membuat saya marah….marah pada kebodohan yang telah saya lakukan selama ini.

Sepanjang perjalanan pulang ke rumah dari klinik dokter keluarga kami, hasil pemeriksaan dokter, membuat saya duduk terdiam bagaikan terpaku, di bangku belakang mobil dinas kami, sambil menahan tangis.

Masih tergiang-giang perkataan dokter itu,

“Ada gumpalan daging yang cukup besar, sebaiknya di scan! kemungkinan ada fibroid di dalam kandungan , dan bila positive berarti harus dioperasi !”

Kata-kata dokter tersebut bagaikan petir di siang hari, benar-benar mengejutkan.

Sesungguhnya sudah satu tahun terakhir ini saya merasakan ada kelainan di bagian perut saya, kadang-kadang perut saya membesar bagaikan yang sedang hamil tetapi kemudian menjadi normal kembali dan haid saya sering tidak teratur.

Sebetulnya pernah saya tidak mendapatkan haid sampai tiga bulan, kemudian saya mengunjungi dokter keluarga kami. Pada waktu itu dokter menyarankan saya untuk melakukan test kehamilan…ternyata hasilnya negative. Karena hasilnya negative dan beberapa hari saya mendapatkan haid kembali dengan gumpalan darah tetapi saya menganggap itu biasa saja.. Dengan alasan tersebut saya mengambil keputusan untuk tidak kembali mengunjungi dokter ……itulah tindakan bodoh yang saya lakukan, yang membuat saya menyesali diri saya.

Seandainya pada waktu itu saya kembali mengunjungi dokter tersebut…tentunya penyakit ini sudah dapat terdeteksi semasih dini, sehingga dapat diobati tampa memerlukan operasi! Tetapi penyesalan tinggal penyesalan semua terlambat sudah!

Sesampainya di rumah saya langsung menelephone suami yang sedang bekerja di kantor. Tangis sayapun pecah tak terkendali….

”Mama tenang…jangan menangis , kita konsultasi dulu ke dokter specialis untuk second opinion “

Kata suami saya yang berusaha untuk menenangkan saya.

“Kalau harus dioperasi bagaimana ?” tanya saya sambil terisak-isak..

“ Ya kalau memang harus…ya dioperasi !” Jawab suami saya.

Mendengar jawaban suami saya yang dengan tenang dan seenaknya seperti itu…malah membuat saya menangis tersedu-sedu.

Kehilangan kandungan berarti saya akan kehilangan kebanggaan saya sebagai wanita….karena wanita memiliki kandungan membuat, wanita berbeda dengan pria.

Dengan kandungan yang dimiliki wanita dapat memberikan keturunan.

Problem rumah sewaan belum terselesaikan, sedangkan batas waktu yang diberikan oleh pemilik rumah hanya satu bulan lagi. Dan sekarang secara tiba-tiba saya harus dioperasi. Selama ini saya merasa tidak mengalami banyak problem, saya masih mampu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, saya masih active ikut pertandingan olah raga yang diadakan oleh KBRI dalam rangka menyambut hari Kemerdekaan RI.

Tidak ada keluhan seperti pendarahan dan sebagainya hanya di bagian bawah perut saya seperti mengeras dan kadang-kadang tungkai kaki saya terasa lelah sekali…..semua itu tidak terlalu saya perhatikan, itulah kesalahan besar yang saya lakukan …yang menimbulkan penyesalan yang sangat dalam..

Karena memang sejak kecil, bila sakit saya tidak pernah mengeluh atau mengerang karena kesakitan. Toh percuma mengerang maupun menangis tidak dapat mengurangi rasa sakit yang kita derita….daripada membuat orang lain susah lebih baik diam ! itulah prinsip saya.

Setelah melalui banyak pertimbangan akhirnya kami memilih Sri Jayawardhana Pura Hospital. Rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit pemerintah yang dibangun atas bantuan pemerintah Japan. Selain mempunyai peralatan yang komplit rumah sakit tersebut perawatannya terkenal sangat bagus dan bersih. Tetapi rumah sakit ini tidak free seperti general hospital.

Hasil pemeriksaan scan yang dilakukan di rumah sakit, ternyata ada fibroid atau kista di dalam kandungan saya, dan sudah cukup besar dokter memperkirakan sudah lebih dari 2 kg beratnya….!!!! Dan harus dioperasi secepatnya, tidak ada pengobatan yang lain dengan cara mengangkat kandungan saya…oh betapa menyedihkan dan mengerikan.

Dokter masih memberikan alternative, bisa dioperasi tanpa mengangkat kandungan, tetapi dengan resiko, ada kemungkinan akan tumbuh kembali dan biasanya akan berubah menjadi kanker dan akan lebih berbahaya.

Wow, kanker rahim betapa mengerikan, merupakan momok bagi setiap wanita.

Akhirnya kami memutuskan untuk dioperasi dengan pengangkatan rahim dan dokter menentukan waktu operasi adalah tanggal 19 Agustus, berarti sepuluh hari kemudian.

Dalam perjalanan pulang ke rumah saya hanya bisa berdiam diri…….19 Agustus harus dioperasi, sedangkan akhir bulan Agustus kami sudah harus meninggalkan rumah sewaan . Dapatkah kami melakukan semua itu????

Ternyata problem yang kami hadapi bertambah semrawut. Rumah sakit yang kami pilih, Sri Jayawardhana Pura hospital didirikan penduduk Sri Lanka yang mampu membayar dan untuk foreigner, mereka menamakannya paying ward tetapi selain itu di rumah sakit tersebut terdapat common ward khusus untuk penduduk Sri Lanka yang kurang mampu dan pembayarannya disesuaikan dengan pendapatan gaji pasien

Karena saya adalah foreigner saya hanya bisa mendapatkan fasilitas di paying ward dan kami tidak mempunyai cukup uang untuk itu!

Selain itu, setelah dioperasi dari rumah sakit siapa yang akan merawat saya? Dan ke mana saya harus pergi …..karena kami belum mendapat rumah sewaan yang baru. Belum lagi siapa yang akan merawat si kecil putri kami yang pada waktu itu baru berumur 9 tahun, bagaimana mungkin saya bisa dirawat dan dioperasi dengan pikiran semerawut seperti ini….oh Tuhan mengapa semua ini terjadi pada keluarga kami??? Tanpa terasa pertanyaan itu keluar dari benak saya.

Di dalam kelemahan dan keputus asaan, ternyata Tuhan mengirim malaikat-malaikat penolong melalui teman-teman kami. Salah seorang anggota di gereja tempat kami berbakti adalah seorang dokter senior yang sangat terkenal, dengan perantaraannya kami bisa mendapatkan fasilitas di common ward, berarti kami tidak memerlukan biaya yang cukup mahal. Selain itu ada seorang ibu yang mengetahui kami memerlukan uang untuk menyewa rumah baru, ia memberikan pinjaman uang untuk kami tanpa bunga dan tanpa batas waktu…oh Terima kasih Tuhan!

Pada tanggal 19 Agustus, saya dan suami berangkat ke rumah sakit dan kami menitipkan si kecil kepada tetangga kami. Sesampainya di rumah sakit, ternyata di common ward nama saya tidak terdaftar di sana. Nama saya terdaftar di paying ward untuk dioperasi pada tanggal tersebut. Oh ternyata masih ada problem yang harus kami hadapi.

Kami bertanya pada dokter yang bertugas di sana, apa yang harus kami lakukan dan apa perbedaan antara fasilitas antara paying ward dan common ward?

Dokter tersebut menjelaskan, kamar operasinya sama, team dokternya sama, obat yang diberikan sama, yang berbeda adalah hanya fasilitas kamar. Di paying ward kita mendapatkan kamar sendiri dan dapat ditunggu oleh keluarga. Akan tetapi semua biaya pengobatan tidak disubsidi oleh pemerintah….sehingga biayanya sangat mahal.

Pilihan kami tetap di common ward, karena selain biayanya yang cukup mahal dan saya tidak berani untuk di kamar rumah sakit seorang diri!

Untuk dioperasi di common ward ternyata kami harus menunggu karena masih banyak yang menunggu untuk dioperasi, berarti long waiting list.

Saya mendapatkan appoinment untuk dioperasi pada tanggal 16 Desember, berarti saya masih mempunyai waktu…dengan senang hati saya terima appointment tersebut, karena berarti saya masih bisa mempunyai waktu untuk menyelesaikan problem rumah sewaan.

Kamipun mulai berusaha mencari rumah sewaan, baik melalui iklan di surat kabar maupun dari informasi teman-teman dekat kami, ternyata tidak mudah….ada yang harganya terjangkau tetapi hanya ada satu kamar tidur dan ukurannya sangat kecil tidak bisa menampung kami bertiga, rumah lain dapurnya menjadi satu dengan rumah induk dan sebagainya dan sebagainya…. membuat saya benar-benar putus asa!

Siang itu saya terbaring, tubuh ini terasa begitu lemah.dan pikiran saya begitu penat. Kami hanya mempunyai waktu satu minggu lagi untuk meninggalkan rumah sewaan kami. Saya tidak tahu harus berbuat apa lagi, saya hanya bisa berserah ke pada Tuhan, karena saya tahu Tuhan tidak akan mencobai saya melebihi kekuatan saya….akhirnya saya tertidur dengan lelap.

Saya terbangun pada waktu si Kecil putri kami, membangunkan saya “ Mama bangun itu ada telephone call buat mama!”

Dengan masih setengah tidur saya mengangkat gagang pesawat telephone.

Saya mendengar suara salah seorang teman saya di sebrang sana, yang memberikan informasi ada rumah yang akan disewakan, berada di lantai dua dan terdiri dari tiga kamar tidur.

Haaaa rumah yang cukup besar, pasti harganya mahal, pikir saya ! Tetapi tidak ada salahnya untuk pergi melihatnya. Kemudian saya meminta suami untuk mengirimkan mobil dari kantor, saya menjemput teman saya dan kemudian pergi bersama untuk melihat rumah tersebut.

Ibu pemilik rumah tersebut, menempati lantai bawah sedangkan yang disewakan adalah di lantai dua, rumahnya cukup besar mempunyai tiga kamar tidur dan dua kamar mandi serta dapur yang cukup luas, berlantaikan teraso(cukup luxury untuk ukuran rumah di Sri Lanka pada waktu itu).

Selain mempunyai balcony yang luas juga mempunyai halaman yang sangat luas ditanami dengan berbagai jenis pohon. Kami menyukai rumah tersebut dan harganyapun terjangkau pemilik rumah hanya meminta 6 bulan uang muka sebagai jaminan. Oh ternyata Tuhan telah menyediakan rumah yang cukup baik untuk kami dan juga dalam waktu yang sangat tepat.

Kamipun mulai sibuk untuk packing .Saya bekerja tanpa mengenal lelah walaupun kondisi tubuh saya semakin memburuk….sampai akhirnya saya ambruk dari bagian pinggang sampai tungkai kaki terasa begitu nyeri! Membuat saya kadang-kadang susah untuk berdiri.

Dengan tubuh yang lemah saya berjalan tertatih-tatih, memeriksakan diri saya ke rumah sakit. Pada waktu itu dokter melakukan scan ulang, ternyata fibroid itu sudah menekan syaraf disekitarnya, sehingga saya merasa nyeri dan kadang-kadang tidak dapat berdiri dan berjalan. Dokter menyarankan untuk segera dioperasi tetapi problem saya masih harus menanti long waiting list. Jalan keluarnya dioperasi di paying ward atau menunggu sampai bila ada seseorang yang membatalkan appointment.

Karena kami tidak mempunyai uang kami memutuskan untuk menunggu , siapa tahu ada yang membatalkan apoinment sehingga saya dapat mengambil kesempatan itu.

Dalam perjalanan keluar dari ruang pemeriksaan, saya berkata pada dokter yang memeriksa saya.

“Dokter, no problem untuk saya, akan dioperasi kapan saja……tahun depan sekalipun, tetapi tolong berikan obat untuk menghilangkan rasa nyeri yang membuat saya sangat menderita!”

Pada waktu dokter itu mendengar perkataan saya, dia diam dan berpikir sejenak dan akhirnya berkata “ Ok you can come on next Sunday, may be we can do operation for you!” mungkin karena memang tidak ada obatnya.

 

. ……..bersambung

 

picture : wannabe mom, paperlessmed.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.