Cinta dan Status

Adhe Mirza Hakim – Bandar Lampung

Terik matahari terasa menyengat, rasanya agak malas untuk keluar dari mobil, ademnya udara yang keluar dari AC, menahanku untuk bertahan beberapa saat, tiba-tiba HP ku berdering, kulirik layar ponselku melihat satu nama yang sangat kukenal dekat, Mba Rosa sudah ku kenal sejak kami sama-sama kuliah dulu, sebenarnya dia berbeda angkatan denganku, tapi karena ada beberapa mata kuliah yang harus dia ulang, membuat dia sering bertemu denganku akhirnya kami jadi akrab satu sama lain.

“Halo ..”

“Mba Rosa, apa kabar?” tanyaku riang karena sudah lama nggak bertegur sapa,

“Dhe, kamu sibuk saat ini?”

“Tidak, ada apa mbak?

“Boleh aku bicara agak serius?” suaranya terdengar parau seperti habis menangis,

“Tentu boleh, aku siap mendengar mbak,” jawabku pelan.

Terjadilah percakapan yang sangat mengharu biru, aku lebih banyak mendengar, sedang mba Rosa, berbicara panjang lebar terkadang diselingi isak tangisnya, aku berusaha menghibur dan menenangkannya, semampuku. Aku biarkan dia mengeluarkan semua unek-uneknya agar dia lega, dan bisa berpikir jernih kembali. Karena menurutku orang yang sedang kalut harus berada dekat orang yang bisa dipercaya dan mau mendengarkan keluh kesahnya.

Kurang lebih 1 jam pembicaraan itu dilakukan, aku yang tadinya mau turun dan menghadiri acara syukuran di suatu kampus, terpaksa jadi ‘ngadem’ lebih lama di dalam mobil. Rasanya ingin sekali aku ‘terbang’ menemui mba Rosa, yang berbeda kota denganku. Tapi aku hanya bisa mendengarkannya dan mendo’akannya dari jauh.

Aku jelaskan selintas apa yang menjadi kegundahan mba Rosa diatas, dari semua kesedihan yang telah dikisahkannya padaku, terkesan dia menyesal telah menikah dengan “Lelaki yang salah”. Aku jelas menangkap maksudnya di saat dia mengkisahkan “Sejak awal kami menikah, belum sedikitpun dia memberi nafkah uang kepadaku, semua biaya pesta pernikahan kami, aku yang mebiayainya, kini biaya rumah tangga termasuk biaya kuliah anaknya aku yang menanggungnya! Aku capek hati dan pikiran Dhe”, ucap mba Rosa sambil terisak..

Mba Rosa, adalah seorang career woman yang sukses dan mempunyai jaringan relasi yang banyak dan berkelas, teman-temannya banyak dari golongan politikus, pejabat, birokrat, akademisi, pengusaha dan seniman.

Tidak heran kalau kariernya melejit selain hubungan relasi ini, dia juga duduk sebagai pengurus di satu organisasi. Sering dia harus bepergian ke Luar Negeri dengan visa diplomatik, memungkinkan dia memperoleh berbagai kemudahan saat harus travelling around the world, di mataku dia adalah sosok yang ‘sempurna’ dari sisi pencapaian karier. Kantor dan Rumah di daerah yang bergengsi, mobil dan deposito yang lebih dari cukup untuk hidup seorang diri, sering jalan-jalan ke LN dan menyenangkan keluarganya.

Secara fisik dia manis dan ramah, terbukti temannya banyak, hanya di urusan ‘Jodoh’ yang tampaknya ‘tidak seberuntung’ kariernya. Manusia itu tiada yang sempurna, kalau dilihat umurnya yang sudah melewati kepala 4, untuk mencari laki-laki yang sebaya rasanya sudah jadi Lakor semua (kecuali duda cerai hidup atau mati), kalaupun mau cari yang masih bujangan, paling umurnya selisih jauh.

Sebenarnya aku tidak mau menyinggung soal ‘kesendirian’ mba Rosa, bagiku pilihan ‘hidup melajang’ bagi seseorang itu adalah masalah hak asasi yang nggak boleh diganggu-gugat, tapi bagi sebagian besar masyarakat yang hidup di Indonesia, perempuan yang melajang sampai melampaui usia kepala 3, benar-benar harus didorong agar bisa mendapatkan jodohnya. Kasihan juga aku sama mba Rosa yang cukup tertekan dengan kondisi yang seperti ini.

Jika aku mendapat kesempatan main ke rumahnya, dia sering curhat kalau dia lagi dekat sama seseorang. Pernah sampai ada kejadian, mba Rosa telah menyebar undangan pernikahannya dengan salah seorang pria lajang, ternyata oh ternyata lelaki yang selama ini dipercaya dan sangat disayanginya sampai tiap bulan disubsidi biaya hidupnya oleh mba Rosa, berselingkuh dengan wanita lain. Hancur berkeping-keping hati mba Rosa, lagi-lagi aku hanya bisa jadi pendengar yang baik dan hanya menguatkannya secara mental.

Kini kisah mba Rosa masih seputar kegagalan cintanya, aku tidak bisa menilai secara objective kisah mba Rosa, walaupun dia karibku, urusan rumah tangga tetap menjadi masalah pribadi yang tidak boleh di intervensi oleh pihak luar. Kecuali kedua belah pihak sepakat menunjuk seorang mediator untuk menengahi urusan mereka berdua.

Rasanya belum lama aku mendengar kabar kedekatan mba Rosa dengan bung Jhoni. Saat itu wajah mba Rosa berbinar-binar dipenuhi rasa cintanya pada sang pria yang statusnya seorang duda cerai hidup. Profesinya sebagai seorang pekerja seni, membuat dia bergaya hidup easy going, sangat jauh berbeda dengan etos kerja mba Rosa yang selalu bekerja keras untuk mencapai sesuatu. Bung Jhoni memiliki anak yang berusia remaja dari perkawinannya terdahulu, anak ini ikut bersama bung Jhoni, otomatis menjadi tanggungan mba Rosa.

Aku pernah dimintai tanggapanku tentang bung Jhoni, berhubung aku tidak begitu mengenalnya, aku hanya bisa berdo’a semoga mba Rosa mendapat laki-laki yang tepat. Pada saat hari pernikahan mereka, aku hadir di acara resepsi pernikahan yang di lakukan di satu hotel berbintang dengan sangat meriah, tamu yang datang kebanyakan para relasi mba Rosa, yang kebanyakan selebritas di pemerintahan.

Ada sebagian kecil artis-artis dari kalangan seniman ibukota yang juga hadir, tentu ini teman-teman dari bung Jhoni. Menu hidangan di pesta itu aneka rupa, nggak habis-habis dimakan oleh tamu yang silih berganti hadir dalam pesta tsb. Mba Rosa malam itu tampil sangat cantik, mengenakan busana pengantin dari daerah orang tuanya, begitu juga dengan bung Jhoni yang tampak gagah dan tampan walau sudah berumur.

Rasanya aku nggak bisa menerima kenyataan ‘pahit’ yang harus diterima oleh mba Rosa, jika membayangkan bagaimana pesta pernikahan mereka begitu meriah dan ditaburi oleh do’a-do’a yang indah dari semua hadirin yang datang. Aku juga sangat bersyukur kepada Tuhan, akhirnya setelah penantian yang begitu panjang mba Rosa menemukan juga ‘Pelabuhan hatinya’, do’aku saat itu semoga mereka berdua menjadi pasangan yang berbahagia sampai akhir hayat (do'a yang klise banget!).

Kisah mba Rosa yang di luar perkiraanku itu, tidak aku tanggapi secara serius. Bagiku mba Rosa saat ini sedang masuk ke dalam phase ‘adaptasi’ dalam perkawinannya yang masih hitungan bulan. Aku bilang “Sabar mba, jangan bandingakan hidup mba saat ini dengan hidup mba sebelum menikah, karena ini merupakan dua hal yang berbeda”, maksudku tidaklah fair membandingkan hidup seorang diri yang bisa bebas merdeka dengan hidup berumah tangga dimana seorang istri harus membagi hidupnya dengan seorang suami sampai ajal memisahkan, ini idealnya lho, tapi saat ini trend perpisahan perkawinan ditentukan oleh ‘vonis hakim PA’ hehehe.

Aku memberikan sedikit ilustrasi mengenai pasangan suami istri, kita tidak usaha bicara yang muluk tentang love and passionate, tetapi kita bicara dari sisi kebutuhan saling melengkapi kehidupan. Di satu sisi mba Rosa diberi Tuhan kemampuan financial yang kuat dengan basis jaringan relasinya yang baik, sedang bung Jhoni bisa melengkapi kebutuhan mba Rosa akan kehadiran seorang suami yang bisa menjaga dan melindunginya, walau kemampuan finansialnya sangat jauh berada dibawah mba Rosa. “Coba jika mba sakit di tengah malam, tiada orang yang menemani mba malam itu, rasanya sedih kan? Jika ada suami di sisi mba tentu jauh lebih meringankan dan membantu membawa mba ke dokter” aku teringat kalau mba Rosa itu tidak bisa mengendarai mobil, dia selalu memakai supir. Kalau malam hari tentu supirnya tidak bekerja.

Mba Rosa terdiam mendengar  ucapanku, “Mba telah diberi Tuhan kemudahan dalam mercari rizki, jika pada saat ini mba harus berbagi sama bung Jhoni dan anaknya, anggaplah itu memang sudah menjadi bagian dari rizki mereka juga.” Pesan yang sebenarnya ingin aku sampaikan, segala sesuatu ada plus dan minusnya.

Dulu mungkin mba Rosa tidak di pusingkan oleh urusan financial karena hanya hidup seorang diri, kini dia harus berbagi dengan suami serta anak tirinya tetapi status kelajangannya telah berganti menjadi ‘Kawin’ di KTP. Tiada lagi pandangan penuh selidik dan pertanyaan nyinyir dari orang-orang tua yang merasa ‘gerah’ dengan status ‘kelajangan’ mba Rosa.

Untuk sementara urusan mba Rosa masih bisa di-handle-nya. Cukup lama dia tidak menelponku lagi, dalam hati aku bersyukur semoga mereka sudah rukun kembali. Ternyata dugaanku tidak selalu benar, suatu malam di saat aku dalam perjalanan keluar kota, hp ku berdering kembali, terdengar nama si penelpon di ucapkan oleh hpku, Rosa…Rosa, “duuh…apalagi ini ? ” pikirku. “Adhe, apa aku mengganggu waktumu?” selalu pertanyaan yang sama dilontarkan oleh mba Rosa jika menelponku. “Tidak mba, dengan senang hati” kataku pelan, dalam hati aku berpikir “hmm ada apalagi gerangan?”

”Dhe, siang tadi aku meletakkan jabatan fungsionarisku di Organisasi, “Apa? Lho kenapa dilepas?” tanyaku heran, setahuku mba Rosa sangat cinta mati dengan kegiatan keorganisasian yang telah dirintisnya sejak usia remaja. Apalagi jabatan fungsionaris pada organisasi besar itu telah mempertemukannya dengan sejumlah tokoh penting negeri ini. “Apa alasannya mba?” lagi-lagi aku nggak faham dan agak menyesalkan tindakannya tersebut, terlalu premature untuk melepas posisi penting di saat semua orang berlomba-lomba untuk meraihnya, bahkan kalau perlu pakai uang untuk mendapatkan posisi yang diduduki mba Rosa saat ini.

“Dhe, aku berhenti karena menghindari sikap cemburu suamiku!”, “Mba, kalau Cuma sekedar cemburu, kenapa mba harus berkorban begitu besar untuk dia?” kataku masih dalam tensi nggak habis pikir. Pasti ada sebab lain yang lebih krusial daripada sekedar masalah cemburu. Yang aku tahu, keterlibatan mba Rosa dalam Organisasi besar itu terjadi jauh sebelum dia mengenal bung Jhoni. Ibarat kemarau setahun disiram hujan sehari, sangat tepat untuk menggambarkan keadaan mba Rosa saat itu. Upaya dia selama puluhan tahun dalam berorganisasi, harus terhenti hanya gara-gara api cemburu dari suami yang katanya tidak bisa memenuhi nafkah finansialnya? Duuh mau ikutan marah aku mendengarnya.

Cukup lama aku mengenal dekat mba Rosa, aku tahu sekali bagaimana jiwanya yang penuh dengan kebebasan, sering aku beradu  pendapat dengannya, dalam berdiskusi kami kadang-kadang mempunyai sudut pandang yang berbeda, tapi kami mensyukurinya sebagai suatu hikmah. Kami tetap dekat di hati walau fisik kami dipisahkan oleh tempat yang berjauhan. Aku ingat bagaimana mba Rosa ingin menikah dengan seorang laki-laki yang berasal dari daerahku, tetapi ternyata belum berjodoh. Kami mempunyai selera makan dan fashion yang sama, walau usianya lebih tua dariku, aku bisa mengikuti semua ide-idenya, dia bagai seorang kakak perempuan yang baik buatku (kebetulan aku tidak punya kakak perempuan kandung).

Kedekatan kami berdua juga didasari oleh kesamaan latar belakang keluarga, kami sama-sama anak tentara, yang masa kecilnya selalu berpindah-pindah tempat mengikuti kedinasan orang tua kami. Kebiasaan pola didik dari orang tua tentara, membentuk karakter yang keras walau tampilan kami selembut salju (hihihi…lebay banget nih!). Kami berdua suka jalan berdua dengan gaya cuek, yang namanya jaim buang deh jauh-jauh, mba Rosa juga mengajari aku untuk mencintai ‘Lukisan’, kami sama-sama senang mengkoleksi lukisan (walaupun bukan yang mahal, hehehe), bedanya mba Rosa bisa melukis diatas kanvas, sedang aku hanya sebagai penikmat lukisan saja.

Kalau mengenang masa-masa kedekatan kami berdua, indah banget, yang masih kuingat sampai hari ini julukan yang diberikan oleh mba Rosa padaku “Tukang Pijat Ekstasi”, maksudnya gini di awal tahun 90-an pernah ngetop lagu ‘Ekstasi’ yang dinyanyikan oleh Deni Malik, kalo nggak salah ingat, beat lagu itu yang agak menghentak-hentak membuatku agak trance, hehehe….

Saat mendengar lagu itu, aku sedang memijat kepala mba Rosa yang pusing 7 keliling pasca ujian semesteran di kampus. Sangking semangatnya mijat karena effek samping lagu ekstasi itu membuat mba Rosa semakin ketagihan dipijat. Besok hari saat mau minta di pijat, dia request lagu ekstasi dulu sebagai music pengiring aku memijat, hehehe…..

“Dhe, kamu harus tau sebenarnya alasan yang paling kuat membuatku harus mundur dari Organisasi, karena tindakan abang (dia memanggil bung Jhoni dengan sebutan abang) sudah di luar batas toleransiku, bukan sekedar cemburu tapi abang juga sudah memanfaatkan namaku untuk mendekati sejumlah Tokoh Penting, dalam memperoleh tender-tender pekerjaan yang diinginkannya, dengan kata lain dia telah mengambil kepentingan untuk dirinya sendiri, sekali dua aku masih mau membantu menghubungkan dia dengan teman-temanku, tetapi lama kelamaan dia semakin mengandalkanku untuk semua proyek-proyeknya, ini yang aku tidak mampu Dhe !” tampak ada nada putus asa dalam suara mba Rosa.

Aku sangat faham dengan sifat mba Rosa, dia adalah sosok yang sangat anti ‘mengkaitkan’ hubungan persahabatan dengan dunia bisnis. Bagi mba Rosa, jika kita ingin berbisnis lakukan sesuai dengan mekanisme yang ada, jangan terlalu banyak makan budi baik seseorang, nanti kita harus berhutang budi lebih banyak pada ybs, kalau sudah seperti ini maka tidak bisa lagi ditemukan suatu hubungan persahabatan yang “Equal”, di mana kita bisa saling berargumen secara fair, tanpa harus takut dengan dominasi pihak yang kuat.

Lagi-lagi aku hanya bisa mengelus dada, begitu besarnya ‘pengorbanan’ mba Rosa terhadap bung Jhoni. Kembali aku yang berada di luar ‘garis’ hanya bisa menatap prihatin tanpa bisa bertindak, yuup aku adalah orang luar yang tidak bisa berkomentar terhadap pernikahan mereka, walupun mba Rosa adalah sahabat dekatku.

“Dhe, sedih rasanya aku harus dicemburui olehnya, kamu kan mengenalku, apa di usiaku yang setua ini masih pantas dicemburui? Berapa kali aku harus mangkir dari acara-acara organisasi yang seharusnya aku hadiri karena posisiku sebagai ketua bidang Pengkaderan, di mana aku harus hadir menemui semua kader-kader penerus organisasi yang berada di daerah, tetapi di saat acara pelantikan pengurus baru di beberapa daerah aku selalu mangkir dengan alasan sakit. Lama kelamaan aku merasa tidak enak sendiri, pasti semua pengurus bertanya-tanya kenapa aku sering tidak hadir? Daripada harus merasa berdosa, maka aku putuskan untuk resign dari kursi Ketua yang selama ini aku pegang.” Jelas mba Rosa panjang lebar, aku hanya bisa terdiam mendengarnya.

Ini sudah keputusannya demi menyelamatkan pernikahannya, aku sangat menghargai ‘upaya keras’ mba Rosa untuk mempertahankan rumah tangganya. Dalam hati masih ada tanya yang menggantung sampai seberapa lama mba Rosa dapat bertahan???

Tulisan ini aku buat sekedar untuk sharing di ‘Hari kasih Sayang’, memaknai arti cinta dan kasih sayang kadang berbeda sudut pandang bagi setiap individu. Pemahaman terhadap pengertian cinta dan kasih sayang yang berbeda ini menghadirkan banyak kisah percintaan yang indah maupun yang menyedihkan.

Kita tidak perlu berargumen panjang lebar mengenai ‘kepasrahan’ seorang wanita untuk meraih Cinta dan Statusnya, seperti artikel yang pernah kutulis sebelumnya tentang “Derita Ani”, bagaimana Ani dengan naïf nya membela perasaan ‘Cinta’nya terhadap suaminya (Budi) sampai dia rela menyandang status sebagai ‘Narapidana’ yang diganjar hukuman 8 (delapan) tahun, karena telah mengorbankan adik kandungnya sendiri (Putri) untuk diperkosa suaminya, hmmmmm….benar-benar di luar akal sehat! Tapi inilah ‘Perbedaan’ kisah cinta dari salah satu anak manusia yang mana masih banyak kisah-kisah cinta lainnya yang mungkin lebih memilukan lagi.

Aku bukanlah orang yang bisa memahami cinta dan kasih sayang dari sisi romantisme cinta, karena aku tidak bisa mengungkapkannya secara puitis seperti yang dilakukan orang lain, bagiku cinta dan kasih sayang adalah suatu hal yang nyata, harus diraih, diperjuangkan, dipelihara dan dipahami bahwa tiada yang sempurna dalam hidup ini, bisa masuk akal tapi adakalanya absurd dan irrasional.

Sedikit pesan yang mungkin dapat kusampaikan dalam memaknai hari ‘Kasih Sayang’ ini “Setiap manusia membutuhkan kasih sayang dalam hidupnya seperti membutuhkan makanan untuk hidup, layaknya makanan, kasih sayang itu dalam aneka bentuk dan rasa, setiap individu bisa saja memiliki selera yang sama atau berbeda sama sekali, disinilah kita harus memahami perbedaan sebagai satu hal yang membuat kasih sayang itu menjadi penuh warna”.

Buat admin Baltyra dan segenap Baltyrans di manapun berada, semoga kita semua bisa memaknai jurnalisme dengan dasar kasih sayang, walaupun berbeda ide dan pandangan tidak menghalangi untuk duduk berdampingan dengan damai. Salam damai selalu and Gong Xi Fa Cai.

About Adhe Mirza Hakim

Berkarir sebagai notaris dan PPAT yang tinggal dan berkeluarga di Bandar Lampung. Berbagai belahan dunia sudah ditapakinya bersama suami dan anak-anak tercintanya. Alumnus Universitas Sriwijaya dan melanjutkan spesialisasi kenotariatan di Universitas Padjadjaran. Salah satu hobinya adalah menuliskan dengan detail (hampir) seluruh perjalanannya baik dalam maupun luar negeri lengkap dengan foto-foto indah, yang memerkaya khasanah BALTYRA.com.

My Facebook Arsip Artikel

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.