Jalan Hidup Seni Seorang Amron-Paul Yuwono

Note Redaksi:

Dua tayangan Accupunto dan Marvell Technology rupanya menginspirasi seorang pembaca sekaligus kenalan lama, yang sekarang tinggal di Amerika. Oom ODB kemudian mengusulkan untuk sebisa mungkin menampilkan kiprah orang-orang Indonesia di dunia internasional. Dan seketika itu juga mengirimkan daftar kenalan beliau yang cukup mencengangkan kiprahnya.

Bukan itu saja, nama Amron-Paul Yuwono sudah agak lama dikenal Redaksi, melalui perbincangan dengan Lani, kami mengenal sosok Amron yang kemudian kami ketahui juga sempat masuk White House dan merias Maya Soetoro Ng, adik tiri Presiden Obama.

Rencana kemudian disusun, kemudian jatuhlah pilihan kepada Emon, yang kayaknya pas banget untuk berinteraksi dan interview, karena kelihatannya memang di situlah kelihaian Emon ini…(hehe…)

Ke depan, semoga masih ada kesempatan untuk melakukan interview orang-orang Indonesia yang berkiprah di dunia internasional dan mereka berkenan untuk berbagi dengan kita semua.

Inilah yang pertama…

An Exclusive Interview by Hariatni Novitasari – Surabaya

Ketika Barack Obama dilantik menjadi presiden Amerika Serikat ke-45 pada 10 Januari tahun lalu, Amron-Paul Yuwono menjadi salah seorang Indonesia yang hadir di momen bersejarah itu. Dia lah yang menjadi make up artist Maya Soetoro-Ng, adik tiri Barack Obama.

Namun, tidak mudah meretas hidup di dunia seni dan menjadi seniman. Lelaki kelahiran Yogjakarta 26 Oktober 1967 ini berbagi cerita hidupnya dengan sobat Baltyra semua.

*****

Apa yang mendorong Mas Amron-Paul tertarik untuk mendalami seni tata rias? Adakah yang menginspirasi untuk belajar ilmu tata rias?

Since I was growing up, I have been in love with what so called “beauty and creativity”. Making others beautiful and stylist somehow satisfy me and making myself happy. I remember when I had to put make up on my mom, my younger sister and friends. I was teenager back then. Autodidact lah ceritanya. Then continue doing make up for theater and performances. In 2000 when I got laid off from work at the Academy of Art College, I received a scholarship to go to school in cosmetology in San Francisco. Within a year, I passed ujian negara and received my license.

Amron-Paul tidak saja menyukai dan mendalami seni tata rias. Tetapi juga seni musik, seni tari, drama, film, design, fashion, koreografi dan sebagainya. Baginya, seni adalah panggilan hidup dia. Art is art. Dia menyukai semua seni, dan tidak bisa memilih salah satu darinya. Karena, dalam seni selalu saja ada kreativitas. Itu yang sangat Amron-Paul sukai dari seni.

Bisa ceritakan perjalanan karier Mas Amron-Paul, dari Jogjakarta sampai di San Fransisco?

I remember growing up painfully in Indonesia. I was bullied continuously since Kindergarten to High School. Everyday, I had to go through fear and no one to talk to about it including my own family. I felt so alone and grew up to be a very shy and lack of self-confidence. Right after High School I had a suicidal thought. Before I ended my life, I thought I would do something that's I would never dare to do. I left Indonesia while my dad was coma in the hospital with the help of my dad's sister who lives in Australia. I was so afraid of my dad. And that was the only window of chance if I wanted to run away.

Setelah tamat dari SMA BOPKRI I, Yogjakarta pada tahun 1986, Amron-Paul meninggalkan Yogyakarta dan Indonesia. Sebelum akhirnya mendapatkan beasiswa kuliah di universitas Tulsa, Oklahoma untuk double major-nya di bidang Telecommunication (Emphasized in Drama, TV & Film) dan Fine Arts, Amron-Paul sempat tinggal di Singapura bersama dengan keluarga misionaris dan belajar bahasa Inggris.

Di Amerika Serikat inilah, Amron-Paul mulai terlibat lebih dalam di dunia film dan theater. Pada tahun 1987, Amron-Paul lolos dalam sebuah audisi dan mendapatkan peran sebagai Woodstock, si kecil burung kuning dalam lakon “Snoopy the Musical” di Broadway Musical School. Disinilah dia mendapatkan nominasi sebagai aktor pendukung terbaik. Setahun kemudian, Amron-Paul terlibat dalam theater jalanan “Manifesto” di Belanda. Yaitu, proyek universitas di kelas drama yang berhubungan erat dengan dengan International Theater. Pada tahun yang sama, Amron-Paul memperoleh penghargaan di bidang seni desain.

Setelah empat tahun tinggal di USA, pada tahun 1990, Amron-Paul kembali ke Indonesia. Di tanah air, dia mengelola International Youth Hostel di Yogyakarta yang dikenal dengan nama “Vagabond”. Ini kemudian menginspirasi Amron-Paul untuk membuka hotel butik bersama dengan keluarganya. Dia sendiri dan sahabat Amerikanya Terry Stark yang mendesain hotel yang disebut dengan nama Jogja Village Inn itu (aka DUSUN) – www.jvidusun.co.id

Tidak lama berada di Indonesia, Amron-Paul kembali meninggalkan tanah air. Kali ini, dia tinggal di Australia. Tetapi, dia tidak tinggal terlalu lama di negeri kanguru ini, dia kemudian kembali ke Amerika Serikat. Kali ini, dia memutuskan untuk tinggal di San Fransisco. Di kota inilah, dia membuka galeri dan toko yang diberi nama Gecko Gecko Indonesian & Asian Art (www.geckogecko.biz). Sayangnya, setelah empat tahun usaha ini harus ditutup dengan terjadinya krisis ekonomi di Amerika Serikat.

Dalam berkesenian, tentunya Mas Amron-Paul menemukan banyak hambatan. Apakah hambatan dan bagaimana mengatasinya?

Hambatan pasti selalu ada but we can not just give up. Hambatan terbesar sebagai seniman hidup di US adalah time management. Living in San Francisco, one of the most expensive cities in the world is paying the bills for rent, food and transport. This is just basic survival. I have to work two part time jobs in Banana Republic Clothing Store and Clarks Shoes 12 hours a day and almost seven days a week. Besides those 2 part time jobs I do I also jave my own business as an Independent Beauty and Style Consultant- www.marykay.com/apyuwono. Being creative is away too expensive here in the US. Yes it can be very exhausted, but because I am doing what I love to do, that help me to get through my days.

Bisa diceritakan suka dan duka berkecimpung di dunia seni?

My dad always had a fear about me being an artist. We grew up not with the silver plate on our table. So my dad always wanted his kids to grow up to be successful person such being doctor, engineer, businessman, etc. He was very strict about it. So I had to learn art behind his back all the time. He said that if I was to become an artist I would never get rich! Somehow that's true but again happiness is not always measured by how much money we have. But look with art, I have able to see the world and meet many great people around the world.

Pada saat inaugurasi Obama, Mas Amron-Paul menjadi penata rias bagi Maya Soetoro-Ng. Mas Amron-Paul-Paul bisa menceritakan pengalaman itu?

Bermula ketika aku bertemu dengan Maya di Hawaii sebelum inaugurasi. I mentioned to her that I am cosmetologist now. She called me a few days before the inauguration to help her on her make up. I was so honored to be able to work with her in the Blair House and White House for almost 2 weeks interacted directly with the whole President’s family. It was like a dream. They're very nice down to earth people.

Amron-Paul pertama kali bertemu dan berkenalan dengan Maya Soetoro-Ng ketika Maya berusia 18 tahun. Pada waktu itu, Maya tinggal di Yogjakarta bersama dengan ibunya, Ann Dunham. Pertemuan di Hawaii dan merias Maya di inaugurasi seperti sebuah reuni bagi keduanya setelah belasan tahun berpisah. Selama berada di Blair House dan White House, tidak jarang dia bertemu secara langsung dengan Presiden Obama dan Michelle. Dalam kesempatan ini, presiden Obama sering menyapa dalam bahasa Indonesia.

Mas Amron-Paul juga terlibat dalam pembuatan film Hollywood, Milk, Mission St. Rhapsody dan Eat Pray Love. Bisa diceritakan pengalaman di masing-masing film? Bagaimana kesan-kesannya?

Di situ saya hanya terlibat sebagai extra kecil saja kok. But I am so thankful was able to get involved with them. I learned a lot about professionalism working with Hollywood production. I loved being in it, walaupun peranku kecil. But both project has a personal connection for me. "MILK" is a historical story about the life struggle of my hero Harvey Milk, the first gay politician in SF. I myself gay and living in SF as my second home. Eat Pray Love is a true story based film, about someone finding herself and one of the place it took place in Indonesia my home sweet home. Though I was born in Java but I am so close to Bali, the people and its culture.

I am very excited about the next project coming up. I have been contacted to help out a film called “Trans Sumatra” by one of my favorite’s Indonesian film directress, Nia Dinata. She is so talented and brave. Most of her movie has brought up very sensitive issues of women, gay and Chinese in Indonesia. I love her movie “Berbagi Suami” (Love For Share) and At Stake. I am so honored that Nia Dinata asked me to be on her movie and play as myself. The film is planning to be shot in Philadelphia this month. Joko Anwar is another film director I admire and respect. I once worked close with him but looking forward to do more projects with him in the near future.

Dalam Eat Pray Love (EPL), Amron-Paul berperan sebagai extra turis Jepang. Film yang shooting di tiga negara (Italia, India dan Indonesia), bercerita tentang otobiografi jurnalis Elizabeth Gilbert. Di Indonesia, film yang dibintangi oleh Julia Robert yang berperan sebagai Liz Gilbert ini pengambilan gambar dilakukan di beberapa daerah di Bali.

Film Milk, adalah sebuah film besutan sutradara Belanda Gus Van Sant yang bercerita tentang Harvey Milk yang memperjuangkan hak-hak kaum gay di San Fransisco. Untuk perjuangannya ini, Milk harus berhadapan dengan kelompok konservatif seperti Anita Bryant dengan organisasinya Save Our Children. Perjuangan ini harus ditebus dengan mahal oleh Milk. Dia ditembak oleh sesama politisi, Dan White pada 27 November 1978. Harvey Milk diperankan oleh aktor kawakan, Sean Penn. Film yang pertama kali dirilis secara terbatas pada 2008 ini di Castro Theatre dua minggu menjelang referendum pernikahan kaum gay di San Fransisco.

Amron-Paul Yuwono & Milk

Menjadi seorang gay tidak mudah, terlebih ketika harus berdamai dengan diri sendiri dan menerima keadaan diri mereka apa adanya. “ Being gay bukanlah sebagai pilihan. Tetapi kita dilahirkan sudah begini.” Tak jarang, bagi yang gagal melalui fase ini, menjadi frustasi dan bunuh diri. Atau, memilih menjadi closeted, dengan menikah dan memiliki anak.

Amron-Paul-Paul mengungkapkan keinginannya untuk menjadi contoh yg baik kepada anak-anak muda yang kebetulan gay. Di Indonesia, sangat sedikit sekali sosok yang bisa dijadikan contoh sukses. Sedikit diantaranya adalah Prof. Dede Oetomo. “Saya ingin menjadi seperti beliau.

Helping others to educate on tolerance, hoping with the right education banyak anak-anak gay muda agar tidak salah arah dalam memilih jalan hidup dan bisa menjadi sukses juga. Tuhan itu sangat adil, boleh dibilang kami, kaum gay ciptaan-Nya ini dilahirkan dengan berbagai macam talenta seni yang tinggi.

Masing-masing selalu mempunyai kelamahan dan kekuatan tersendirilah. But imagine, how wonderful life is if we all can live together side by side peacefully and full of tolerance and acceptance no matter in difference of what our religions, races, sexual orientations, sexes, nationality are? We don’t have to agree with everything but… imagine… (just like John Lennon wrote on his best hit song).

Amron & Miss Asian-American

With Bill Orrell Co-owner George Takei (Star Trek)

Mayor of San Fransisco

With Ira Maya Sopha

With Lance Bass N-SYNC

Reichen Lehmkuhl Amazing Race Winner

With Tamlyn Tamita (Joy Luck Club)

With Benjamin Bratt (Mission St. Rhapsody Film)

28 Comments to "Jalan Hidup Seni Seorang Amron-Paul Yuwono"

  1. mulyadi  21 May, 2013 at 03:24

    Sukses selalu

  2. mulyadi  21 May, 2013 at 03:20

    Sukses slalu

  3. Maskoki  10 October, 2012 at 14:10

    Turut bangga dgn kiprah Amron Paul, setidaknya menggugurkan image bahwa Gay adalah seperti yang diperagakan oleh oknum-oknum gaya nusantara ( Ko Budijanto ) yang hanya mengumbar nafsu dan tidak memiliki prestasi apapun kecuali memburu para anak muda
    Semoga kiprah membanggakan Amron dapat ditiru gay muda lainnya

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.