Search in Archive

Select a date
Select a category
Search with Google

Will you marry me?

Sunday, 14 February 2010

Viewed 2543 times, 4 times today | 47 Comments |

Imeii – USA

Will you marry me?? Pertanyaan itu ditujukan padaku saat hari kedua perjumpaan kami, jangan bayangin suasana romantisnya saat itu… uh.. pertanyaan ini dilontarkannya saat kami di dalam truck tuanya dalam perjalanan keliling kotanya…

Deg.. I was speechless, terlalu mendadak dan tidak romantis, tidak ada tanda-tanda pendahuluan kalo beliau akan melamarku… aku ngga kasih jawaban saat itu juga, dengan diplomatis kubilang kalo kita butuh waktu untuk saling menjajaki, dan memintanya untuk mengulangi pertanyaan itu lagi 3 bulan setelah pertemuan kami, siapa tau saat itu perasaannya sudah berubah…

Selain itu aku juga membutuhkan waktu untuk mengkaji perasaanku terhadapnya setelah perjumpaan kami, walaupun sebelum itu kami telah berhubungan jarak jauh selama 1 tahun liwat jasa pak pos.. yup… by snail mail karena saat itu aku belum mengenal internet sama sekali… dalam 2 tahun hubungan kami sebelum mengikat janji di depan Tuhan, ratusan surat sudah dikirimkan kepadaku, kadang hampir setiap hari beliau memasukkan surat atau sekedar kartu ke dalam kotak pos, dan biasanya tiba di tempatku barengan, jadi kadang aku bisa terima beberapa surat sekaligus, sampai teman kerjaku suka ngeledek dan bilang ini orang gila kali ya.. aku yang terima mah senang-senang aja…

Anyway, setelah lamarannya, kami bertunangan dalam arti aku dibeliin cincin tunangan, padahal jawaban Yes belum kuberikan, kuminta waktu sebulan untuk menjawabnya. Yang ternyata hanya bertahan 1 minggu setelah kepulanganku ke Jakarta, setiap hari beliau telpon minta jawaban, akhirnya kujawab YES… dan beliau dengan tulus bilang, kalaupun aku say NO, beliau rela kalo cincin itu ngga perlu kukembalikan hihi.. jadi terharu deh (padahal itu mungkin taktiknya supaya aku say YES)…

Cerita beli cincin juga lucu, aku dibawa ke jewelry store di mall besar di kotanya, aku disuruh pilih cincin menurut seleraku, yooo jadi bingung dong, mana kutahu budget nya berapa, mana berani nanya juga, lagian melihat penampilannya begitu sederhana, makin bingung deh, takutnya cincin yang kupilih kemahalan, ntar disangka matre lagi… tapi seleraku juga ngga murah hehe..

Akhirnya ketemu juga cincin yang kusukai, tapi saat itu kubilang, coba deh kita liwatin weekend ini dulu, Senin kita balik lagi, kalo cincin ini masih ada, bolehlah belikan daku, maksudku selain mengulur waktu juga mau lebih yakin kalo beliau tidak mundur diri, ternyata sampai hari Seninnya, cincin itu masih ada di tempatnya, dan beliau tetap ngotot beliin, itu juga kami pakai keliling dulu, ngga langsung masuk ke tokonya, duduk-duduk di depan toko sambil makan popcorn, ngulur waktu.. hihi, kayak remaja kasmaran aja ya, malu-malu mau…

Sebelum menerima cincinnya daku konsultasi dengan emak dan kakakku liwat telpon, kata mereka ‘follow your heart’ , emakku juga pesan kalo rasanya ngga mau, jangan terima cincinnya. .akhirnya kuikutin kata hatiku, dan tidak sedetikpun aku menyesalinya, tentu semuanya juga berkat restu Tuhan yang setiap saat padaNya aku berdoa meminta petunjuk. $

Dari mulai meminta visa di Embassy US, saat itu aku berjanji kalo sampai visaku ditolak, artinya ini bukan jalanku, tidak akan ku re apply, ternyata semuanya lancar, mungkin juga kali itu bukan pertama kali kuminta visa US, jadi agak gampang, tanpa ditanya sedikitpun, anyway, itu tahun 2000, segalanya masih serba gampang…

Saatnya tiba, setahun kemudian…tepatnya June 2001 beliau datang ke Jakarta untuk memboyongku ke US, saat itu urusan visa tunanganku masih dalam proses sejak 6 bulan sebelumnya, udah di approved sih di imigrasi US, tapi menurut petugas di US Embassy paketnya belum dikirim ke embassy di Jakarta, akhirnya dengan sedikit desakan, visa itu keluar juga, sedikit telat sehingga kami harus mengundurkan tanggal keberangkatan ke US selama seminggu..

Aku sangat bersyukur mendapatkan beliau sebagai pendamping hidupku, kalo menurut kebiasaan orang-orang kita, kami berdua ini telat nikah, istilahnya perawan tua dan bujang lapuk (saat itu belum ada istilah jomblo)… Tuhan telah menentukan jodoh kami, sehingga walaupun telat, kwalitas pernikahan kami termasuk bagus, Tuhan memberikan jodoh yang baik padaku walaupun secara materi hidup kami termasuk pas-pasan…

Beliau adalah seorang yang amat sangat baik, sangat down to earth, perhatian dan cintanya padaku di atas segalanya, itu yang sangat kuhargai dan kusyukuri setiap saat…tidak pernah bohong padaku, palingan juga diam daripada bohong I trust him 100%.

Ttidak pernah egois, apapun yang kami putuskan adalah ‘whatever I want’, ‘whatever makes me happy’…tentu dalam ada hal-hal prinsip yang tidak bisa berdasarkan itu, dalam hal ini beliau sangat pegang prinsipnya, saat itu keras kepalanya muncul, I hate that, tapi biasanya harus kuakui kalo beliau benar, aku yang terlalu memaksakan kehendakku.. all about me, me and me…

Suatu pernikahan adalah mempersatukan dua karakter di bawah satu atap, selera kami sangat beda, dalam hal berpakaian, hobby, musik dan buku bacaan, tapi kami saling respek…. Kehidupan rumah tangga juga tidak akan harmonis kalau tidak ada yang mau mengalah, dalam pernikahan kami, harus kuakui kebanyakan suamiku yang mengalah.

Kadang aku merasa kalo diriku ini terlalu bossy dan harus slow down a bit, satu hal yang sangat kusyukuri darinya, adalah kebebasanku dalam mengatur rumah tangga dan keuangan kami, beliau tidak ikut campur, kecuali kalo kami mau membeli sesuatu yang mahal, biasanya kami rundingkan untung ruginya, butuh tidaknya…

Suatu pernikahan juga membutuhkan toleransi kedua belah pihak, harus bisa menerima kelebihan dan kekurangan pasangannya, harus selalu bersyukur dengan apa yang telah dicapai, tentu dibarengi usaha keras, untuk mencapai kebahagiaan dan kedamaian dalam rumah tangga.

Aku selalu berusaha merasa ‘cukup’ dengan nafkah yang diberikan suamiku, terutama soal materi, jangan sampai pernah membandingkan keadaan diriku dengan keadaan teman atau kenalanku, tidak akan habis-habisnya kalo daku selalu balapan atau bersaing dengan mereka yang lebih mampu, kapan bisa ada rasa damai dan bahagia di dalam hati ini kalo setiap saat perasaan iri ada dalam diriku… ketidak puasan ini pasti berpengaruh pada keharmonisan hubungan suami istri dalam hidup berkeluarga…

Awal pernikahan kami amatlah susah bagiku, tinggal di lingkungan yang berbeda banget, sendirian tanpa teman dan saudara, culture shock, language barrier (sempat lama tidak berani terima telpon masuk juga), semuanya berat, untung banget beliau dengan sabar menghiburku, mengajariku, mencoba mengerti apa yang kuucapkan, menemaniku sebisanya.. bayangin aja, dulu untuk nyala oven dan doing laundry aja musti diajarin, pertama kali mau baking pakai oven juga musti ditungguin beliau, peralatan masak dan rumah tangga yang sangat beda.. sangat berat memang, belum lagi salah pengertian terus, benar-benar bikin stress…

Seiring berjalannya waktu, mulai terjalin komunikasi yang baik antara kami, kebaikan dan kesabaran beliau juga sangat membantuku saat-saat homesick, selain itu computer skill ku juga bertambah, jadinya bisa online, cari teman, baca berita Indo dan menemukan website orang-orang senasibku di rantau US.

Satu hal yang sangat menghiburku adalah hobby baruku yaitu memasak, untungnya beliau bukan picky eater, selalu mau mencoba hasil masakanku tanpa komplen, walaupun secara halus beliau sudah menegaskan tidak mau mencoba makan pete, ikan teri, kepala ikan dan terasi..itu kuhargai… sesudah beberapa saat, aku mulai terbiasa untuk tidak kecewa kalo beliau tidak doyan dengan makanan kesukaanku, toh selera tidak bisa dipaksain..

Rasa perhatian dan cintanya yang besar terhadapku bisa kurasakan dalam hal-hal yang sepele, dan sepertinya belum luntur juga, hehe emangnya baju, pake luntur segala, sesekali beliau akan bilang: you are beautiful, walaupun aku dalam keadaan lecek baru bangun tidur, atau bilang I love you, dengan pelukan sayangnya, terasa banget deh, ngga perlu dengan materi dan hadiah yang berlebihan.

Beliau juga udah tau, jangan membelikan apa-apa buatku kalo ngga kuminta, tahun pertama saat Valentine dikasih bunga roses 1 lusin, duh hati ini sakit membayangkan berapa duit yang kebuang buat itu.. tapi ngga kubilang apa-apa karena masih sopan hehe…

Kedua kali dibeliin 1 lusin mawar saat menjemputku di airport saat aku keluar kota selama 2 minggu, ngunjungi adikku di FL, belum juga kuprotes, begitu juga hadiah Natal pertama dan kedua, setelah hadiah Valentine beikutnya baru deh kuomongin pelan-pelan, akhirnya beliau mengerti juga.. tidak perlu memberikan hadiah untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya padaku.. hiks.. ngga romantis ya ..

Kadang-kadang dalam percakapan santai kami, kusinggung soal menjadi tua bersama, seperti halnya orang tua beliau yang akan merayakan anniversary mereka yang ke 60 bulan depan. Ya.. keluarga mereka adalah keluarga yang hangat dan penuh kasih, saat pertama berkenalan juga daku sudah bisa melihat bagaimana hubungan mereka.

Ini sangat penting bagiku yang berasal dari keluarga yang bisa dibilang erat dan harmonis, ini juga menjadi nilai tambah bagiku untuk menerima lamarannya.. anyway.. saat kita ngobrol, kusinggung gimana ya kalo aku udah tua dan tidak berdaya lagi, will you still love me? Jawabannya tentu saja YES, I will always love you, even though you are an old cranky lady… dan minggu lalu saat kami di gereja, ada seorang laki-laki yang lumpuh dan duduk di kursi roda, diladenin dengan telaten sama ibu nya.

Secara iseng kutanyain suami, kalo seandainya (moga-moga tidak ya) hal seperti itu terjadi begitu, will you take care of me? Duh jawabannya membuatku makin cinta deh, YES, dengan tegas dan without a doubt, saat itu juga aku mengucapkan syukur sebesar-besarnya kepada Tuhan yang telah menjadikan beliau sebagai my better half…

Sampai saat ini kadang-kadang.. out of the blue… beliau masih suka bilang, atau setiap tahun tulis di kartu ulang tahun, anniversary: ‘Thank You For Saying YES’… biasanya kucandain: No Regret Yet?? Dan akan dijawab dengan tegas NO hihi…

Moral of the story.. IMO.. in my opinion…. daku percaya bahwa lahir, rejeki, jodoh dan mati ada di tangan Tuhan, dikejar sampai ke manapun, kalo bukan rejeki kita, bukan jodoh kita, tidak akan kesampaian, semua manusia hanya bisa berencana, berusaha sekuat mungkin, Tuhan juga yang menentukan..

Harapanku, semoga para pembaca di sini, buat yang single, semoga suatu hari, cepat atau lambat, Tuhan akan mempertemukan jodoh yang baik buat kalian, untuk pembaca yang sudah married, semoga tetap berusaha memelihara jodoh yang telah diberikan Tuhan.. ber Valentine ria setiap hari… semoga kita semua mencapai kebahagian sesuai dengan takdir dan rejeki kita… in health and in sickness… till death do us part…

HAPPY VALENTINE’S DAY ALL..

Share This Post

Posted by Sunday, 14 February 2010 on 01:41.

Categories: Kehidupan. Follow the comments to this article via the RSS 2.0.

You can leave a response or trackback to this entry

47 Responses to “Will you marry me?”

Pages: [5] 4 3 2 1 »

  1. 47
    silvia Says:

    Amin. Met bobo

  2. 46
    Imeii Says:

    Vie.. aku baru mau tutup kompor, iseng buka Baltyra ternyata ada komenmu… thanks ya…

    benar sekali ya.. banyak duit aka kaya emang ada nilai lebihnya, bisa lebih leluasa shopping or spend money, tapi hidup pas2an juga ngga kalah happynya kalo bisa enjoy dan menerima keadaan apa adanya, be grateful for what we have, kalo selalu memandang keatas bisa tersandung lho hehe

    kalo soal pamer aku ngga ikutan deh, soalnya emang ngga ada yang bisa kupamerin, kecuali hasil dapur dan hasil kebon, hehe.. toss ah.. ama tukang pamer dan nosy people, cuekin aja, lama2 juga cape sendiri.. kalo hidup disini sih, orang2 cuek ya, I can be myself, untung suamiku juga cuek bebek, ngga pernah mempersoalkan penampilan fisik orang.. tapi kalo mudik wah kudu keep up appearance, padahal aku orangnya paling males deh, suka dikritik ama cici2 dan temen2 dekat, maksud mereka sih baek, cuman lama2 capek kuping deh…pernah sekali lagi jalan2 sendirian ke mall, cuman pakai short dan kaos oblong, rambut juga dijepit seadanya krn panas banget, eh ketemu bekas temen kerja, wah aku dikritik abis2an deh, katanya tinggal di Amrik kok lancai (slebor) begitu sih… saking kesalnya kubilang aja.. ye gw kan ngga niat ketemu elo, kalo gw niat sih udah pasti gw dandan yg rapian dikit deh..

    back to you.. semoga keluargamu juga penuh cinta dan suka cita…

  3. 45
    silvia Says:

    Baru ngeh tulisan ini. Waktu itu saya lagi hibernasi sih jadi ga buka internet selama beberapa waktu.

    Betul Imeii, sy setuju banget nikah sm yg kaya ga jaminan bahagia. Sudah terlalu banyak contoh yg saya lihat secara langsung. Banyak yang kaya raya tapi bukan hanya istrinya lebih dari satu tapi masih ada cem-ceman juga beberapa orang. Amit-amit deh.

    Org yg kenal dekat dengan komen ke saya : ” You are a romantic fool.” Tiap orang punya kriteria masing2 utk cari pasangan dan semua pilihan ada konsekuensinya.

    Setuju bgt dengan ini: “…. terutama soal materi, jangan sampai pernah membandingkan keadaan diriku dengan keadaan teman atau kenalanku, tidak akan habis-habisnya kalo daku selalu balapan atau bersaing dengan mereka yang lebih mampu, kapan bisa ada rasa damai dan bahagia di dalam hati ini kalo setiap saat perasaan iri ada dalam diriku… ketidak puasan ini pasti berpengaruh pada keharmonisan hubungan suami istri dalam hidup berkeluarga…”

    Rasanya kita berdua memang setipe ya. Ga perlu cowo kaya untuk bahagia. Cowo yang berkarakter baik itu yang jauh lebih bisa diandalkan

    Kalo pas ke KBRI ketemu cewe2 yg muda-muda, mereka suka nanya saya menikah dengan orang Indonesia juga atau orang lokal. Begitu tau jawabannya, mereka langsung nanya, “Pelit kan? Itungan kan.” Adik saya juga pas dulu sekolah disini dan ada temen2 sekolahnya yang orang Indonesia juga nanya yang sama, ” Kakak iparmu orang lokal? Pelit dong ya?” Adik langsung bilang, “Kakak ipar saya ga pelit.”

    Kalau ketemu sesama orang Indonesia yg sudah menikah juga, kadang suka dilihatin merek tas yang saya bawa dll dari ujung kaki sampai ujung kepala terus mulai nanya yg menurut saya sih ga perlu ditanyain. Bahkan pas saya buka dompet, ada yg jelas2 mo liat saya punya kartu kredit/kartu ga dan jenis kartu kredit/debit saya jenis apaan. Ya ampuuun Apalagi kalo baru kenal rasanya ga pantes banget nanyain hal-hal begituan.

    Pas dulu saya remaja sampai usia awal 20-an juga males banget kalo ketemu ipar mama yg adiknya sebayaan sama saya. Ya gitu deh suka ditanya2saya sudah punya pacar ga, siapa dan kerja apa….lalu mulai pamer betapa hebat pacar adiknya dan keluarganya. Hehehe……

    Turut berbahagia buat Imeii. Smg selalu banyak cinta dengan suami.

  4. 44
    Imeii Says:

    RYc.. arigato.. amin buat harapanmu..

  5. 43
    RYc no mama Says:

    wah, asyik kisahnya ……moga2 langgeng selalu ya …

  6. 42
    Imeii Says:

    @Kornelya… thank you for the wishes… like wise.. all the best for your family..

    @JC.. same to you… have a blessed TIGER year.. thanks juga udah menampung tulisanku selama ini..

    @HN..makasih neng..

  7. 41
    HN Says:

    indah sekali kisahnya…. semoga langgeng terus yaaaaaaa….

Pages: [5] 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar

Image (JPEG, max 50KB, please)