Belenggu Identitas

Cinde Laras

Identitas seseorang dapat membelenggu? Kajian menarik yang sekilas sempat aku lihat dalam iklan Mario Teguh di MetroTV. Menarik sekali. Tak perlu melihat dulu sebelum aku mengambil pelajaran, sedikit banyak memang aku lebih suka mengupasnya sendiri. Mengapa MT menyebut identitas seseorang dapat membelenggu?

Identitas adalah simbolisasi ciri khas yang dapat mewakili seseorang sehingga membedakannya dengan individu lain. Bagi masyarakat umum, identitas bisa ditunjukkan dengan adanya KTP. Bagi seorang pegawai, identitas bisa ditampilkan dengan cara menunjukkan kartu nama atau kartu tanda pengenal pegawai. Begitupun bagi seorang polisi, identitasnya dapat dilihat dari kartu tanda anggota kepolisian yang disandangnya. Semua ciri tentang orang itu tertera disana. Ada nama, tempat dan tanggal lahir, alamat, jenis kelamin, status marital, dsb. Itu adalah ciri identitas yang diterakan dalam bentuk tertulis.

Bagaimana dengan identitas tak tertulis? Biasanya orang akan menilai dari apa yang disandang seseorang pada saat saling bertemu. Misalnya, seseorang akan tau bila orang lain adalah seorang koki karena dia memakai baju putih bercelemek dengan topi tinggi di atas kepala. Atau seseorang pasti disebut perawat bila mengenakan baju seragam khas suster rumah sakit lengkap dengan topi berbentuk kotak di atas rambutnya. Begitu pun dengan penampilan seorang pria yang mengenakan seragam tentara dengan pistol terselip di pinggannya, pasti semua mengira dia adalah personil militer.

Lalu? , mengapa identitas disebut belenggu? Dimana letak belenggunya? Bisa jadi yang dimaksud oleh MT adalah belenggu identitas tak tertulis di kala seseorang dihadapkan pada suatu pekerjaan yang mengharuskan dia menanggalkan kebiasaan sehari-harinya dalam berpenampilan. Bayangkan saja. Bila seseorang berniat untuk melamar pekerjaan sebagai seorang tenaga marketing, pastilah perusahaan yang bersedia mempekerjakannya akan meminta dia tampil sebagai pribadi yang menarik, berpakaian menarik, bertutur-kata menarik, dan bisa memberikan pengetahuan tentang produk yang dipasarkannya kepada klien. Sekarang bayangkan bila orang itu cuma mau berpakaian sehari-hari, dengan memakai daster misalnya – meskipun harganya mahal, lalu dia menawarkan produk pada orang asing di suatu tempat umum. Dijamin tak akan ada orang yang tertarik membeli produknya.

Contoh lain, selama ini satpam di banyak tempat selalu tampil kaku, miskin senyum, dengan baju yang mirip dengan seragam tentara perang, berselempang ikat baju dari kulit, lengkap dengan pentungan. Lalu si satpam ditugaskan untuk memeriksa para pengunjung yang datang satu demi satu di pintu masuk. Siapa juga yang merasa tidak seram melihatnya? Maka alangkah baiknya bila satpam-satpam itu tampil perlente dengan jas dan dasi kalo perlu, menyapa ramah orang yang datang kayak penerima tamu di hotel-hotel berbintang. Tentu saja dengan tidak meninggalkan kewaspadaan pada gerak-gerik setiap tamu yang mencurigakan. Wah, kalau satpam semua punya keramahan dalam penampilan seperti itu, alangkah senangnya para tamu. Jadi satpam kan tidak harus tampil sangar to? Ramah tapi tegas, sepertinya itu lebih baik.

Contoh lainnya lagi adalah penampilan seorang ibu rumah tangga. Ya, biasanya ibu rumah tangga itu selalu tampil pake daster. Dengan dandanan minim, dan pengetahuan terbatas tentang dunia luar. Bayangkan bila si ibu bisa tampil beda. Tak perlu mewah, tapi setidaknya berbaju lebih pantas saat suami tiba dari kantor. Berdandan demi suami itu tak ada jeleknya. Dan tak ada salahnya menambah ilmu dari berbagai sumber agar saat diajak bicara suami bisa lebih nyambung. Tentu saja hal ini tak berlaku untuk para wanita bekerja yang sudah dari sananya punya kebiasaan berdandan dan wangi saat ke kantor. Dan pengetahuan mereka bertambah karena setiap saat bertemu dengan relasi di tempat kerja. Hal yang sangat jauh berbeda dengan para ibu rumahan yang cuma sering bertemu tukang sayur dan para tetangga saja. Biar pekerjaan di rumah itu luar-biasa berat, karena butuh waktu 24 jam, ibu rumah tangga kan boleh dandan. Jadi, dandan dong, Bu! , biar suami tambah sayang…. Betul?

Pendek kata, demi mencapai suatu target, seseorang seharusnya belajar untuk bisa melepas belenggu identitas diri yang ditengarai bisa menghambat usahanya. Dan aku pikir, identitas itu juga bisa berupa sifat seseorang. Seorang yang pendiam tidak perlu pelit bicara saat diharuskan menjadi seorang guru. Kalau gurunya irit bicara, bagaimana muridnya bisa paham apa yang dia ajarkan? Bukankah dengan banyaknya dialog, seorang guru akan lebih banyak memperoleh pengertian tentang sejauh mana muridnya mengerti pelajar yang dia sampaikan?

Tapi entahlah, mungkin pemahamanku ini cuma sekedar kulit. Barangkali aku memang akan lebih tau bila melihat dan mendengar apa yang akan disampaikan MT nanti. Bukan cuma dari iklan yang aku lihat. Semoga saja, pemahamanku tak jauh berbeda dari apa yang akan dia bicarakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.