Cinde Laras
Heeeeeh…, sebenarnya capek juga jadi konsumen melulu. Tak ingat-ingat dari kecil, bisaku cuma belanja ke pasar, ke toko, ke swalayan, ke mal. Geregetan, pengen banget aku bisa hidup tanpa belanja. Bisa gak ya ? Jadi inget acara Oprah yang pernah ngajakin semua orang buat motong credit card sama-sama. KREKKK, putuslah si kartu jadi dua, gak bisa lagi buat ngutang. Salut deh….
“Jangan jajan, ya…. Ini sudah dibawain ibu bekal minum sama kue…”, begitu kataku tiap pagi saat mengantar anak-anak ke depan pintu waktu mobil antar-jemput mereka tiba.
Tidak jajan !, itu pesan yang sering kali aku ajarkan. Sebisa mungkin kami buat sendiri makanan yang kami butuhkan. Meski untuk bahan-bahannya, kami tak bisa lepas dari kegiatan belanja. Tapi sulit untuk menjaga anak kita agar bisa seperti yang kita inginkan. Di sekolah, anak seorang office boy aja punya uang jajan, sementara anakku tidak. Kadang aku dengar ungkapan iri yang mereka rasakan.
“Bu, masak si Fulan kalo ke sekolah bawa uang jajan 15 ribu sehari, kayak gitu masih suka malakin temennya, minta diberi uang buat beli makanan. Katanya uang 15 ribu kurang…?”, kata anakku sepulang sekolah.
Anak yang dia bicarakan punya ortu yang kerjanya di sebuah bank BUMN, hanya staf biasa. Tapi jajannya ?, alamak…. Aku belum pernah memberi uang sebanyak itu buat anakku meski kami cukup mampu dibanding ortu si teman anakku. Jajan, jajan, jajan…. Anak sekarang konsumtif sekali.
“Jangan biasakan jajan. Makanan dari rumah pasti lebih sehat dan enak. Keadaan hidup orang itu tidak tentu. Kadang ada, kadang nggak ada. Maka kamu mesti belajar berhemat. Jajan itu pemborosan….”, kataku pada anak bungsu kami, dan dia mendengarkanku bicara dengan kedua mata terbelalak, terbuka lebar memandangku. Salahku juga. Mungkin dia belum mengerti apa yang kubicarakan, umurnya memang masih 7 tahun. Tapi setidaknya aku sudah berusaha memberinya dasar pemikiran yang baik, menurut aku.
“Aku mau puding, dong…”, kata anak keduaku.
“Kita bikin aja, ambil empat kaleng susu beruang, agar-agar putih, sama coklat bubuk di rak sebelah sana…. ‘Kan bisa jadi banyak, Dik”, bujukku waktu si anak minta dibelikan semangkuk plastik kecil puding di rak chiller sebuah pasar swalayan. Untungnya si anak mau dibujuk, jadilah kami bikin seloyang puding di rumah seusai belanja, cukup untuk disantap ramai-ramai.
“KFC !, aku mau KFC !”, seru si bungsu.
“Ya…, nanti kita bikin KFC”, jawabku kalem. Bukan lantas beli ayam goreng di KFC, tapi aku bikin sendiri. Lain dikit nggak pa-pa, yang penting murih. Dan minyaknya baru, bukan yang sudah dibuat nggoreng berkali-kali. Maka gorengan juga lebih bisa diterima tenggorokan karena minyaknya nggak galak dan nggak bikin kena radang.
“Kenapa Bapak sama Ibu beli kebun ?”, tanya anak bungsu waktu kami memutuskan membeli sebuah kebun di Parung.
“Karena Bapak sama Ibu mau bertani…”.
“Kenapa mau bertani ?”.
“Biar bisa nanam sayur sendiri, pelihara ikan sendiri, pelihara ayam sendiri, nanam buah sendiri…. Kebun itu manfaatnya banyak, Dik…”.
“Kenapa nggak beli aja ?”.
“Kan kalau bisa nanam, kita bisa menjual sayur sama ikan sendiri. Kita jadi dapat duit. Mau masak tinggal petik, mau ikan tinggal mancing, mau ayam tinggal motong. Enak ‘kan ?”.
Yup, mengajak anak-anak untuk produktif memang bagiku lebih bagus daripada mengajari mereka konsumtif. Anak-anak lain diajari gitu juga gak ya ?
Ilustrasi:
2.bp.blogspot.com/_IZoHIOigUNA/S…gals.jpg
February 26th, 2010 at 07:43
@Awesome: Mau ? Entar kalo kebun ane udah jadi…. Tapi belajar bertani pake buku juga bisa, kalo ane belajar dari suami. Biar dia yang tau teori, ane mah pelaksanaannya aja, yang penting tau pakemnya.