Berbeda-beda, Tetapi Tetap Satu

Dewi Aichi – Brazil

Bhinneka Tunggal Ika, adalah sebuah tulisan pada pita yang dipampang di antara kaki burung Garuda yang merupakan lambang negara Indonesia. Bhinneka Tunggal Ika artinya berbeda-beda tetapi tetap satu, kalimat ini menjelaskan bahwa bumi Indonesia itu sangat beragam baik itu adat dan budaya, pakaian, makanan, bahkan tirus-tirus wajah dan bahasa yang berbeda-beda.

Sebagai warga Indonesia, tentunya kita bangga dengan Indonesia yang memiliki keragaman. Terlepas dari para penguasa yang tamak, Indonesia tetap merupakan negara yang cantik secara alam dan geografis.

Keragaman bahasa menurutku adalah sebuah keajaiban yang luar biasa. Teman-teman , terutama yang tinggal di luar Indonesia pastinya menguasai bahasa di mana kita tempati, jika kita tidak ingin kesulitan. Banyak di antara kita , berbahasa Inggris, Belanda, Jerman, Spanyol,Jepang, Korea dan sebagainya. Tapi dengan bahasa daerah yang berada di Indonesia sendiri, kita bahkan tidak mengerti sama sekali.

Saya pribadi mengaku bahwa, hanya bahasa Jawalah yang saya mengerti, itupun tidak sempurna, kalau sudah di tingkat bahasa halus, saya juga merasa kesulitan. Teman kita di Baltyra yang berada di Perancis pernah menulis artikel tentang bahasa Perancis, tidak ada salahnya jika kita saling mengenalkan dan belajar berbagai bahasa daerah di Indonesia, tentunya teman-teman berasal dari daerah yang berbeda.

Seperti biasanya, bahasa Jawa di Baltyra sangat dominan, mungkin karena rata-rata mengerti bahasa Jawa ya? Atau sebagai ungkapan untuk mengekspresikan perasaan, dengan bahasa yang lebih pas dan mengena. Ini yang menjadi motivasi tulisan saya. Pengen sekali berbagi ilmu tentang bahasa daerah yang sangat beragam. Tentu saja ini tergantung teman-teman ya, terutama yang mengerti bahasa-bahasa daerah, bisa berbagi disini. Jadi tidak ada kesan "bisa berbahasa Jepang, Korea, Mandarin, tapi bahasa Minagkabau, bahasa Tapanuli, Batak, ngga ngerti sama sekali", ini kenyataan bukan?

Bahasa daerah yang ada di Indonesia yang jumlahnya kurang lebih ada 400 bahasa daerah, sudah sangat memprihatinkan. Banyak bahasa daerah yang terancam punah. Tentu saja kita tidak mau menjadi saksi sejarah, di mana nantinya pengguna bahasa daerah hanya bisa kita dengar lewat cerita atau buku dongeng. Duh…..musnah!

Bahasa Indonesia dijadikan jati diri bangsa ketika tepat diadakan sumpah pemuda tanggal 28 Oktober 1928. Ketika itu, Soekarno tidak memilih bahasa sendiri (Jawa), sebagai bahasa Nasional yang saat itu digunakan oleh mayoritas. Namun beliau memilih bahasa Indonesia yang diambil dari bahasa Melayu Riau. Sebenarnya waktu itu ada 3 bahasa usulan untuk dijadikan bahasa nasional, yaitu bahasa Jawa, bahasa Indonesia, bahasa Belanda. Tetapi akhirnya Soekarno menjatuhkan pilihannya yaitu bahasa Indonesia.

Alasannya, jika yang dipilih Bahasa Belanda, ini akan menyakitkan rakyat Indonesia karena Belanda yang telah menjajah bangsa Indonesia sekian lama. Kalau seandainya bahasa Jawa yang dijadikan bahasa Nasional, ini juga akan merasa tidak adil bagi suku-suku, atau puak lain di negara Indonesia, mereka mungkin saja akan merasa dijajah oleh suku Jawa yang merupakan mayoritas di Republik Indonesia.

Bahasa Indonesia adalah bahasa paling sederhana susunan tata bahasanya. Tidak ada tingkatan tingkatan yang menunjukkan status sosial , derajat dan sebagainya. Justru bahasa Jawa merupakan bahasa yang rumit sekali tata bahasanya. Bahasa Jawa mempunya tingkatan bahasa halus, sedang, kasar, yang dipergunakan untuk orang berbeda dari segi usia, derajat maupun pangkat. Bila pengguna kurang memahami bahasa Jawa, kesalahan penggunaan kata-kata bisa menimbulkan kesan negatif.

Saya pengen sekali tau apakah bahasa daerah lainnya juga demikian rumit tatabahasanya? Bagi teman-teman Baltyra yang berasal dari selain Jawa, mungkin bisa berbagi di sini, agar kita bisa lebih mengenal bahasa dari bangsa sendiri.

Yang saya tau, banyak sekali ungkapan-ungkapan bahasa Jawa yang tidak bisa diungkapkan dengan bahasa Indonesia. Ini membuktikan bahwa, kosa kata bahasa Indonesia lebih sedikit dibanding kosa kata bahasa Jawa.

Dengan demikian, marilah kita lestarikan, kita tingkatkan lagi pengetahuan kita mengenai bahasa-bahasa daerah yang kita miliki. jangan sampai musnah, jangan hanya dibiarkan dan dilupakan, yang akhirnya hanya tinggal kenangan. Lebih parah lagi jika suatu saat salah satu bahasa kita dicuri dan dimiliki negara lain, baru kita kebakaran jenggot. Kemarin dibiarkan saja, pas tau-tau diambil orang, teriak-teriak. Maka jangan sampai hal ini terjadi.

Baiklah, untuk mengakhiri tulisan ini, dimulai dari diriku sendiri untuk mengirimkan beberapa patah kata berbahasa Jawa, nanti silahkan teman-teman saling tukar bahasa ya…!

RUNGOKNA DONGENGE GURUMU

"dino setu awan (hari sabtu siang)
bocah-bocah kelas siji wis kesel (anak-anak kelas satu sudah lelah)
kanggo tamba kesel(untuk mengobati rasa lelah)
bu dewi ndongeng(bu dewi mendongeng)
bocah-bocah katon anteng(anak-anak kelihatan tenang)
mirengake dongenge guru (mendengarkan cerita guru)

kancil karo kethek(kancil dan monyet)
kancil mlaku-mlaku ana tengah alas (kancil jalan-jalan di tengah sawah)
kancil weruh gedhang mateng (kancil melihat pisang yang sudah matang)
kancil kepingin banget (kancil ingin sekali)
kancil ora bisa menek(kancil tidak bisa memanjat)

kancil golek akal (kancil mencari akal)
kancil ngampiri kethek(kancil menghampiri monyet)
kethek menek ngunduh gedhang (monyet memanjat untuk memetik pisang)
kancil njagani ngisore (kancil menunggu di bawahnya)

gedhange ditibakke siji-siji (pisangnya dijatuhkan satu per satu)
saben tiba siji dipangan kancil (setiap jatuh satu, pisangnya dimakan kancil)
nganti gedhange entek (sampai pisangnya habis)

kethek mudhun arep mangan gedhang (monyet turun mau makan pisang)
kethek kaget gedhange wis entek (monyet kaget, pisangnya sudah habis)
kancil mlayu wedi dioyak kethek (kancil ketakutan dikejar monyet)
kancil ora ngerti yen ana sumur (kancil tidak tau kalau ada sumur)
kancil keceblung sumur (kancil masuk ke dalam sumur)"

About Dewi Aichi

Berasal dari Sleman Jogjakarta, saya blasteran (antar kelurahan maksudnya), happily married to a Brazilian guy. Dari Jogja merambah dunia. Pernikahan lintas benua adalah pilihannya. Setelah beberapa tahun di Distrik Aichi, Jepang, sekarang tinggal di Brazil bersama keluarga tercintanya. Tingkat sudrunnya setara dengan saudara-saudara sepersudrunannya seperti Nur Mberok, Elnino, Fire dan jelas Lani van Kona. Di sini saya bukan siapa-siapa dan bukan apa-apa, saya hanya sekedar menulis apa yang saya rasakan, apa yang saya alami, dan apa yang menarik buat saya untuk ditulis. Jika ini bermanfaat untuk diri saya sendiri dan juga untuk teman-teman, saya sangat bersyukur

My Facebook Arsip Artikel Website

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.