Kala Senja

Pritha

Percaya tak percaya, aku belum pernah benar-benar menatap bagaimana rupanya sinar temaram keemasan yang terlihat saat matahari akan terbenam di ufuk barat sebuah pantai. Namun aku yakin, pemandangan itu pasti begitu indah. Dan entah mengapa, melihatmu, membuatku merasa bahwa aku sudah benar-benar menatap senja yang seperti itu.

Kamu yang selalu hadir dalam keseharianku tanpa tepi. Dalam setiap lapis roti tawar isi di pagi hari, dalam setiap lembar buku catatan pelajaran yang menjemukan, dalam setiap langkah yang kulalui ke kedai bahan pangan dan setiap denting senar gitar yang kupetik saat kesunyian datang. Kamu, kamu, dan kamu…dan aku selalu ingin lagi, lagi, dan lagi…tanpa pernah sedikitpun aku merasa bosan. Sungguh aneh. Kadang aku berpikir, apa sih yang sebenarnya sudah kamu lakukan padaku?

Hampir empat tahun, itu yang akan kukatakan untuk menjawab pertanyaan tentang sudah berapa lama aku ada bersamamu. Wah! Udah lama banget, begitulah cara mereka menanggapi seringkali, dan aku akan mengangkat sudut bibirku, merasa sedikit bangga, terutama jika di luar sana ada siapapun yang berharap bisa menggantikan tempatku…meski kurasa nyaris tak akan ada yang mau (hahaha : D).

Itu memang waktu yang lama, cukup lama untuk kita saling mengerti, cukup lama untuk jadi multi-alasan bagi sekaligus beberapa hal yang selalu aku herankan tentang kamu: kamu yang sepertinya tidak pernah cemburu, tidak pernah takut kehilangan, dan tidak pernah berhenti mencoba membuatku kesal dengan sejuta lelucon menyebalkan.

Tapi kamu sudah telanjur tahu bahwa apapun yang terjadi aku tidak akan pergi, seperti kamu yang juga tidak, dan bahwa aku sudah paham tentang kebiasaanmu melupakan kunci, celana panjang hitammu yang tinggal satu-satunya sejak kakimu bertambah panjang, dan kegemasanmu menggigit hidungku, seperti kamu paham soal aku yang tak bisa makan pedas, tak takut pada serangga, dan sering salah membedakan arah kanan dan kiri.

Betapapun sebuah hari berakhir dengan kalimat terakhir yang kudengar darimu adalah sebuah keisengan, aku bakal merindukanmu pada menit kesepuluh sejak sosokmu menghilang di pertigaan. Merindukan wangi kemejamu, leluconmu, tawa dan tatapmu, pelukan dan kecup yang orang lain tak pernah tahu…dan aku tahu, tak akan ada hati lain bisa terasa seperti hatimu.

Menatapmu, serupa menatap senja. Memang itu berarti terang akan hilang dan semalam harus lewat sampai matahari terbit dan hari dimulai lagi, tapi senja adalah saat di mana aku bisa menikmati waktu, mengingat apa yang telah terjadi dan berpikir untuk esok hari, dalam sebuah keyakinan bahwa aku tak akan sendiri, karena ada dirimu.

Selalu ada dirimu.
Kau yang akan meraih tanganku menyusuri batas ombak dan memastikanku terus berjalan. Hingga senja kita berubah fajar.

Picture : pdphoto


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.