Kemunafikan Kaum Moralis Terhadap Anak

Kornelya – New York

Beberapa bulan lalu Alexa menuliskan lika-liku kisah cintanya dengan gadis kecil yang diasuhnya. Minggu lalu kembali saya membaca berita di Detik.com, tentang Indah dan Bonita (adik/kakak)  yang memperebutkan Britney gadis kecil berumur 9 tahun. Secara garis besar dituliskan, Bonita adalah ibu kandung Britney yang  “karena satu dan lain hal” menitipkan anaknya saat masih berumur 3 HARI pada kakaknya Indah.

Sebagai seorang ibu saya bisa membayangkan bagaimana kuatnya ikatan bathin antara Indah dan Britney. Sembilan tahun bukan perjalanan singkat bagi ikatan cinta antara ibu dan anak. Hanya cinta pada anak yang tidak akan pernah pudar, cinta itu bersemi dan bertumbuh setiap hari, cinta anak mengalahkan rasa nggilani kata pak Bagong.

Sayangnya tanpa menghiraukan keinginan anak, Polda Metro Jaya memutuskan/ menuturkan secara YURIDIS Indah berhak mengasuh anak biologisnya, tanpa dijelaskan pasal mana yang memperkuat keputusan ini. Apakah sekarang Britney masih berada di Indonesia atau sudah dibawa ke Belanda hanya Indah dan pihak imigrasi yang tahu.

Selama proses perebutan ini, Institusi Perlindungan Hak Anak Nasional ataupun Menteri peranan wanita tidak memberi komentar atau intervensinya. Tidak ada home visiting seperti yang dilakukan pada Al, El dan Dul anak Dhani dan Maia menjelang perceraian. Tidak ada pembahasan mengenai dampak  psikology Britney bila secara paksa terpisah dari wanita yang dia tahu sebagai ibunya. Pelayanan hukum yang selective membuat rakyat apatis/ hopeless.

Saya tidak tahu apakah Indah melahirkan sebelum menikah atau tidak, namun budaya kita yang menganut paham “anak haram” bagi anak yang lahir di luar nikah, serta membebaskan lelaki pemilik sperma dari child support membuat banyak wanita-wanita rela melakukan hal-hal bodoh, seperti membuang anak, serahkan hak pengasuhan atau aborsi tanpa berpikir resiko yang akan datang.

Sebagai contoh kasus Chicha Muchtar, dia harus berjuang melalui proses hukum untuk mendapat pengakuan. Sepuluh tahun lalu sahabat saya jatuh cinta pada anak di luar nikah ayahnya. Saat kami datang untuk perkenalan sebelum proses tunangan , setelah mengetahui nama ayah calon mantunya, ibu sang pacar serta merta berujar, “perkawinan ini tidak boleh terjadi, tidak akan pernah terjadi”.

Perkawinan dibatalkan luka lama terkuak, yang terlihat hanya cultural dan religious ego. Melahirkan anak di luar nikah memang hal yang tidak dikehendaki/ illegal di Indonesia, tetapi hukum harus mempunyai dinamika, mengakomodasi kepentingan anak, juga semestinya mengatur tanggung jawab  orang tua terhadap anak, terlepas mereka menikah atau tidak.

Meninggalkan anak dalam usia tiga hari, lalu dengan mudah memenangkan hak asuh 9 tahun kemudian. Dalam kasus ini saya tak tahu persis, orang tua asuh yang bersusah payah membesarkan selama 9 tahun dianggap sebagai lembaga pegadaian anak, atau penegak hukum yang menggadaikan “hukum” untuk memperoleh hak asuh. Yang mampu menebus akan dapat hak asuh. 

 Fenomena anak lahir di luar nikah terutama kalangan remaja sesungguhnya bisa dicegah atau ditekan, bila pemerintah dan masyarakat, menurunkan sedikit moral “bar” berkompromi dengan fakta. Pembagian kondom diharamkan, katanya kegiatan itu sama dengan mempromosikan seks bebas, sementara realita membuktikan anak remaja yang hamil di luar nikah terus meningkat.

Kita menetapkan standar moral tinggi, sementara jurus basis berupa Pendidikan budi pekerti dihapus dari kurikulum, pendidikan seks samar-samar. Jika ilmu menutup PADA (paha dan dada), serta jurus mengendalikan kehendak si”burung” bagi remaja tidak dikemas dan diajarkan dalam bahasa pendidikan, tanpa kita sadari anak remaja kita yang masih kita anggap “bayi” secara diam-diam sudah menjadi ayah/ibu.

Saya yakin tidak ada orang tua yang menghendaki anaknya menjadi ayah/ibu sebelum waktunya, namun perjalanan hidup tidak sesuai rencana atau keinginan kita.  Malang benar nasib wanita yang melahirkan anak di luar nikah di Indonesia, dianggap cacat moral oleh tetangga, kadang dikucilkan keluarga bahkan dipisahkan secara paksa dari anaknya untuk menutup aib, atau berusaha menghidupkan anak sendiri, sementara lelaki pemilik bomb cell, bila tidak mau menikahi,bisa bebas berkeliaran tanpa beban moral, kecuali bila didesak oleh keluarga wanita dengan sentuhan ancaman.

Di mata saya, memisahkan anak dari ibu dengan menitipkan anak pada pihak ketiga baik itu keluarga atau lembaga social dengan alasan untuk menutup “aib”, merupakan sisi negative budaya ketimuran kita yang menunjukan sikap pengecut, arogan dan munafik. Salam!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.