Bagong Julianto, Sekayu-Sumsel
Catatan September 2009
Lagi mudik ke Solo. Masih cukup waktu berperan sebagai Pakdhe bagi dua keponakan saya yang baru kehilangan Yangkungnya, Bapak saya yang baru saja berpulang dalam usia 70 tahun. Satu peran yang rutin dijalankan Yangkung adalah mengantar si sulung/Yufar berlatih menari di Keraton Mangkunegaran. Peran itu saya emban sementara. Sekalian bernostalgia.
Jadul, masih SMP masuk keraton karena berteman dengan salah satu putri garwo ampil/selir raja. Putri keraton yang nyempal dari kungkungan adat istana, memberontak khas ABG putri jadul: manjat pohon belimbing serta melempar-lemparkannya ke kami yang melongo senang di bawahnya!
Belimbing keraton yang jauh lebih enak, manis dan besar dari belimbing bangkok. Putri keraton yang beberapa kali pamer kelebatan pubisnya ke sesama kawan putrinya saat ganti seragam baju olah raga di dalam kelas. Untung (sekaligus sial) peraturan ketat. Siswa lelaki ganti baju di luar kelas. Susah payah kami nginjen ngintip sang putri. Yang nampak hanyalah meja yang berjumpalitan dan derai tawa para siswi sialan itu! Semprul!

Yufar sedang persiapan ujian tari gembala, dikawani Agus

Latihan tari memecut tanpa alat peraga

Tari kreasi modern, dugangan/bambangan/macho

Para pelatih tari dan keluarga yang mengantar menunggui
Bagi kami bakat si Yufar ini adalah talenta, sebuah anugerah/gift dari Yang Maha Pemberi. Tidak jelas keberadaan bakat seni tari di keluarga kami. Bapak saya sekedar nyanyi dari Nat King Cole sampai Waljinah dan Sapari. Ibu babar blas gak pernah terdengar lengkap bernyanyi bersenandung. Mas saya memang melukis, mematung dan menulis halus dan bagus. Adik saya olah raga. Ibu si Yufar juga babar blas gak pernah nyanyi lengkap, sekali menari waktu SMP sementara Bapaknya justru senang bicara sosial politik warung hik, membahas kiprah Jokowi walikota Solo. Haaa, mungkin ketularan polah tari Pakdhenya, sedikit sekali padahal…….
Jadul Pakdhe si sulung ini juga berlatih dan dipaksa menari. Di Mangkubumen, adalah keluarga besar Mulato, penyiar RRI Solo yang diberkahi belasan putra-putri. Salah satu anaknya, Mas Tommy punya bakat EO bocah jadul. Membuat pertunjukan wayang orang anak secara kampung di halaman rumah jadul yang sangat luas.
Pagar pembatas adalah kain jarik batik bertali yang mudah saja diterobos. Karcisnya senilai harga es lilin/es mambo/es puter, dibuat dari sobekan kertas karton dengan secarik tulisan KARCIS dan tanda tangan Mas Tommy Mulato. Sangat rawan pemalsuan. Tapi siapa juga yang mau malsukan?! Atau memboikot pertunjukan bocah kampung?! Siapa yang mau menghadapi mas’e Solo asal Mangkubumen?! Dan kolaborasinya dengan preman Ngapeman, Gilingan dan Ngebrusan?! Ah, rasanya gak ada yang berani!
Lhah, di perhelatan wayang orang anak kampung Mangkubumen itulah saya didapuk/dicasting jadi Gareng. Tidak ada bakat saya jadi wayang, menaripun belum pernah! Lagi pula, kami berombongan dari kampung Turisari niatnya adalah mau menonton. Sebagian beli karcis, sebagian menumpang dan sebagian kecil berniat mbhludhus, seperti Bonek: masuk tanpa beli karcis!
Entah kenapa, pelakon Gareng gak datang. Dan sayapun gak tahu, gerangan siapa Sutradara ngawur yang memaksa saya jadi pengganti. Sekejap saya dilatih cara berjalan Gareng. Gareng adalah satu tokoh yang invalid/disable. Kaki pengkor, tangan ceko, jari kaku terurai dan mata juling! Dhuh, Biyung nasibku! Ucapan singkat yang harus saya ucapkan kepada Arjuno adalah: “Nggih, sendiko dhawuh!”. Sudah, itu saja. Dua kali masuk pentas, lakon saya selesai. Gak ada honor dhuwit. Honornya sebuah pisang rebus dan segelas teh manis. Saya gak merasa hebat jadi Gareng.
Saat SMP, dengan pengaruh budaya rock yang dijejalkan majalah Aktuil pada saat itu, saya seperti kebanyakan kawan sebaya menganggap: apapun tentang wayang dan gamelan adalah ndesit/udik/ndeso, hina dan gak perlu dipelajari. Satu sikap tidak terpuji. Yang hebat adalah Black Sabbath, Alice Cooper, Deep Purple, Rolling Stones dan Queen! Juga Uriah Heep, Trenchem Solo, God Bless dan AKA.
Itulah sebabnya, saat rehat pelajaran, kami serombongan siswa begajul masuk ruang gamelan dan memukuli gamelan dengan sepenuh tenaga memproduksi suara gedombrangan yang sungguh memekakkan telinga. Kami berhenti ketika Pak Katiman, guru karawitan menyerbu masuk dan menjeweri kami satu persatu. Saya seperti selalu diawasi oleh Pak Katiman hingga kelas tiga dan puncaknya adalah saat pesta perpisahan saya dipaksa jadi salah satu Buto muridnya Niwotokawoco.
Tiga bulan lebih kami dilatih menari. Pelatihnya adalah mas mahasiswa seni tari. Gagah namun lembut halus dan sangat sopan dalam membentuk kekakuan badan kami. Sebagai Buto, kami bakal dua kali pentas. Sekali adegan pembukaan/jejer (e pada sepi), dan sekali perang mengeroyok Arjuno. Dua tiga kali memukul, kami harus menggelundung dan mati kalah oleh sepak terjangan Arjuno. Tokoh Arjuno diperankan oleh Hardono, mas’e Solo yang memang ngganteng aktivis OSIS. Tokoh Sembadra, pasangan Arjuno diperankan oleh Ratna, putri juragan batik yang memang putih cantik.
Rasanya kami tahu diri dan rela jika mereka memang berpasangan dan yang-yangan. Gak bakalan kami para Buto bisa menandingi kegantengan Hardono. Sungguh sesak penat jadi Buto. Rambut gimbal sungguh berat, juga mesti menggigit gigi taring sebesar sendok garpu. Gak nampak wajah asli. Hanya sorot mata saja, selebihnya wajah dibedaki dan memakai aneka perhiasan di telinga dan dada. Sekali lagi,sama sekali gak ada perasaan hebat jadi Buto.

Semakin dini dilatih tari, semakin lentur. Butuh ekstra kesabaran para pelatih

Tekun, khidmat menerima ajaran. Tari alusan, lembut gemulai

Disiplin, spartan, kecintaan terhadap seni tradisi yang sungguh membanggakan

Para calon duta budaya bangsa, bakalan jadi pengemban mulia seni tradisi
Sekarang, saya bangga melihat para ABG ini yang secara spartan dan penuh sadar diri mengasah bakat menarinya. Mereka berasal dari seluruh penjuru Solo dan sekitarnya. Anak banyak golongan masyarakat. Para pelatih adalah dari Group Tari Suryo Sumirat, sebuah group yang sering pentas di tingkat nasional dan intrernasional serta mendapat banyak penghargaan.
Para bocah ini terlihat sangat menikmati kegiatan tari menari itu.Tidak seperti saya yang pernah mencemooh seni tradisional ini. Sungguh mereka akan menjadi duta budaya. Ketika si Agus saya tanya: “Mau ikut latihan menari ‘Gus?”, jelas sekali jawabnya: “Nggak mau! Agus mau jadi pemain bola seperti Cristian Ronaldo!” Ah, bakat yang lain lagi rupanya! Pemain bola! Tapi saya jadul seringnya jadi pemain serep dan jadi Back saja. Mudah-mudahan saja tercapai cita-cita si Agus, setidaknya itu lebih bagus daripada jawabannya beberapa tahun lalu di kebun: “Mau jadi operator tractor”. Atau saat diajak jalan ke kota: “Mau jadi tukang parkir!”. Namanya juga anak-anak!
Sampunnnnnn. Suwunnnnnn.
(BGJ, 160210)
July 11th, 2010 at 22:52
Alumni smp n 3 mas?sama dunk…wah ngeri klo pak katiman marah…
February 21st, 2010 at 10:48
Waduh senang banget ada Yufar yang energik dan antusias belajar menari….jadi ingat waktu masih kecil juga ikutan belajar menari. Baru-baru ini juga daftar lagi kursus menari Jawa – sayang belum sempat hadir di kelas.
February 20th, 2010 at 23:52
Syanti>>>
Trims,…
Bagong ‘kan ada gembul dan ginak-ginuk. Kalau Gareng mesti kurus gering mekingking…. pas tenan, saat itu saya kecil precil gering mekingking…… hehehe…….
February 20th, 2010 at 23:42
Mas Hand’>>>>
Betul juga, sutradara jeli…… hahaha dijejeli glali……
Aslinya karena saya kecil precil, pasti disuruh apapun manut. Lhah, unthul bawang ‘kok!
Saat itu saya gemobyos keringeten, susah sekali ngikuti bunyi krecekan gamelan dengan gerakan kaki penthor satu, tangan ceko jemari kithing sekaligus kepala serentak glelengan…… Suloyo tenan! Untung panggungnya kecil, gak sampai tiga meter saya melangkah glelengan…….
February 20th, 2010 at 21:53
Untuk mas Bagong …kok enggak kepilih jadi Bagong ya !!!
Tapi saya rasa tokoh Gareng lebih baik daripada Arjuna, biar cakep and guantheng tapi terlalu halus kayak perempuan hehehe!