Cinde Laras
Franklin hadir di kolam kecil tengah rumah yang langsung berhadapan dengan langit di atasnya. Tubuhnya cuma sebesar 10 cm sewaktu kami membelinya waktu itu dari Rumah Matahari yang sekarang sudah tak lagi ada di Plaza Bintaro.
Bibirnya selalu tersenyum, sama sekali tak pernah bersuara. Dengan sabar dia akan selalu menunggu acara makan tiba, lalu lehernya yang mendekam dalam kerapas itu akan segera terjulur saat santapannya terapung dalam air di kolam. Tak pernah berisik, tak pernah protes. Meski kadang kami lupa memberinya makan, dia hanya menjulurkan lehernya ke permukaan atas kolam, lalu menyelam lagi. Hidupnya damai sekali. Itu 6 tahun yang lalu.
Franklin kini sudah berkerapas sebesar 25 cm diagonal, bibirnya masih tersenyum, tapi seluruh bagian tubuhnya sudah tak lagi mungil seperti dulu. Pakannya sudah tidak lagi pelet, tapi ikan hidup dan udang segar. Meski seperti biasa, kami kadang lupa memberinya makan sampai berhari-hari. Toh, dia tak pernah protes, tak pernah berisik, tak pernah mendesah.
Cuma menjulurkan leher dan berusaha menaiki pagar pembatas kolam yang cuma terbuat dari beton silinder ukuran 20 cm. Pun tak pernah berhasil keluar dari sana. Lalu dengan sabar dia akan menyelam kembali. Menunggu saat kami ingat membelikannya pakan. Malangnya…. Apa jadinya bila Franklin bisa bicara ? Akan berteriak jugakah dia ? Aku ragu…. Franklin adalah simbol kesabaran yang nyata.
Berkaca dari dunia sempit Franklin yang cuma seupil dengan ukuran kolam yang cuma 1 m x 2 m itu, rasanya keadaan kami yang manusia ini sangat jauh lebih makmur. Kami tinggal dalam rumah kecil yang cuma seluas 84 m2, yang meski berlantai dua tapi tetap saja kadang terasa sempit bila kedatangan tamu karena jumlah kamar yang cuma muat untuk kami berlima. Bedanya, kami bisa bergerak keluar "kolam" tempat tinggal kami, berkelana setiap hari kemanapun tujuan yang kami jalani.
Sudah bersyukurkah kami pada apa yang kami dapat lakukan ini ? Proteskah kami bila dalam perjalanan masih menemukan kemacetan ? Berteriakkah kami bila tak kunjung dapat layanan saat makan siang di restoran ? Atau akan mengeluhkah kami pada panasnya udara dalam mobil angkutan umum saat perjalanan ?
Hhh….. Bila kami adalah Franklin, pasti kami tak akan pernah mengeluh, tak akan pernah protes, dan tak akan pernah berisik. Kami pasti cuma akan berusaha menjulurkan leher melihat keadaan, lalu duduk kembali dengan tenang dan penuh kesabaran. Menyadari kenyataan ini, rasanya kami perlu merasa malu pada Franklin…. Astaghfirullah….
Picture : blavish
February 25th, 2010 at 11:30
@Bagong: Memang bikin adem, bikin sabar : )
@JC: Welcome, JC. Cuma renungan ringan biar aku tetep ingat untuk sabar. Wis tuwo je
February 25th, 2010 at 11:28
@Dewi Aichi: Kayak Sulaiman dong ?
@DJ: Memang kura-kura….. Bukan ikan neh : )
@Handoko: Gak sih, kura-kura sawah biasa, kalo nilik dari profilnya kayak yang khas ditemukan di Sumatera (kerapas agak gepeng, mulut senyum).