Waiting

Waiting
Ha Jin; Vintage International; 308p

Handoko Widagdo
Februari 2010

Apa yang anda lakukan ketika tiba-tiba anda sadar bahwa anda telah sedemikian dalam terbelenggu dengan tradisi dan aturan? Anda tersadar ketika semuanya sudah terlambat? Ketika semuanya sudah menjadi sangat kompleks? Padahal anda ingin keluar dari situasi tersebut. Itulah yang dialami oleh Lin Kong.

Sebagai seorang dokter tentara, Lin Kong tiba-tiba sadar bahwa dia telah terjerumus sedemikian dalam pada suatu masalah. Ia jatuh cinta ketika sudah mempunyai istri, bahkan anak. Sementara tradisi dan aturan tidak memungkinkannya berpoligami. Sedangkan aturan yang berlaku, apalagi sebagai pejabat militer, membuat dirinya sangat sulit melakukan perceraian. Apa yang harus dilakukannya?

Lin Kong harus menikah ketika masih mahasiswa. Pernikahannya adalah untuk memenuhi tradisi. Saat itu ibunya sakit. Harus ada yang merawat. Akhirnya, atas bujukan ayahnya, Lin Kong menikahi gadis pilihan orangtuanya. Sesudah pernikahan kehidupan Lin Kong berjalan biasa saja. Meski tidak mencintai istrinya, mereka hidup selayaknya suami istri dan akhirnya mempunyai anak perempuan.

Lin Kong hidup jauh dari keluarganya, karena dia bertugas sebagai dokter tentara. Sementara istrinya melaksanakan tugas sebagai istri/perempuan China pada umumnya. Menjalankan tradisi sebagai seorang istri yang berbakti. Shuyu, demikian nama istri Lin Kong, merawat mertua perempuannya sampai meninggal. Kemudian, ketika mertua lelakinya sakit, dia juga yang merawatnya sampai mangkat. Shuyu mengerjakan semua tugas rumah tangga dan membesarkan anak perempuannya. Shuyu adalah gambaran istri sempurna menurut norma tradisi yang berlaku.

Witing tresno jalaran saka kulina (cinta berawal karena selalu bersama). Manna Wu adalah seorang bidan yang sekaligus adalah murid Lin Kong di rumah sakit tentara. Saat Manna bersedih karena ditinggal menikah oleh kekasihnya, dia berkonsultasi kepada Lin Kong. Dia memilih Lin Kong, karena Lin Kong adalah lelaki yang dingin, baik dan tidak tertarik kepada perempuan. Lin Kong sudah beristri dan beranak. Jadi tak akan ada gosip antara Manna Wu dengan Lin Kong jika Manna Wu meminta nasihat Lin Kong. Dan memang tidak terjadi apapun saat itu. Namun kedekatan yang terus-menerus menimbulkan saling tertarik diantara mereka. Lin Kong tersadar bahwa seumur hidup baru kali ini dia jatuh cinta kepada seorang perempuan.

Persoalan menjadi muncul ketika Lin Kong mencoba menceraikan istrinya. Setiap tahun, waktu cutinya dipakai untuk kembali ke kampung dan mengurus perceraiannya. Sebagai istri yang patuh, Shuyu setuju saja untuk bercerai. Namun, saat hakim menanyainya, apakah Shuyu setuju dengan permintaan cerai istrinya, dia hanya menangis. Tangisan Shuyu diartikan oleh hakim, bahwa Shuyu tidak setuju untuk bercerai. Demikianlah terjadi terus menerus selama beberapa tahun.

Pernah Lin Kong mencoba mencarikan jodoh bagi Manna Wu. Namun dua percobaan gagal semuanya. Pertama adalah mengenalkan Manna dengan sepupu Lin Kong yang ditinggal mati istrinya. Sayangnya Manna merasa tidak jatuh cinta kepada si sepupu Lin Kong tersebut. Percobaan kedua adalah menjodohkan Manna dengan pejabat tinggi partai yang sedang mencari istri.

Manna tertarik dan menyukai, namun sayang ternyata si pejabat memilih gadis lain. Dua pengalaman pahit ini membuat keduanya kembali pada pilihan, yaitu Lin Kong menceraikan istrinya dan mereka akan menikah. Setelah percobaan selama 17 tahun tidak berhasil, pada tahun kedelapan-belas, Lin Kong membawa kasus ini ke pengadilan perceraian militer. Sebab ada aturan bahwa jika anggota militer sudah tidak saling hidup bersama, maka salah satu dari mereka bisa mengajukan perceraian tanpa perlu persetujuan dari pasangannya. Maka perceraian terjadilah.

Selanjutnya, Lin Kong dan Manna menikah dan dikaruniai anak laki-laki kembar. Sayang, setelah melahirkan, Manna menjadi menurun kesehatannya. Saat yang demikian, Lin Kong menjadi merasa bersalah kepada kedua perempuan tersebut. Saat dua hari menjelang perayaan musim semi, Manna meminta Lin Kong untuk mengunjungi Shuyu dan Hua, anaknya yang saat itu sudah menjadi gadis. Rencananya, Lin Kong hanya ingin mengantar buah saja dan kemudian kembali sebelum petang. Namun, karena dia hadir saat sudah senja, Lin Kong bergabung dengan Shuyu dan Hua untuk makan malam. Kesedihan Lin Kong, karena merasa bersalah, membuat dia mabuk di rumah Shuyu. Dia menyesal akan semua hal yang telah terjadi, tetapi sekaligus merasa bahwa apa yang telah dilakukan adalah hal yang memang seharusnya terjadi.

Demikianlah kisah percintaan yang berbalut dengan tradisi dan aturan. Ha Jin, seorang penulis asli China yang saat ini menjadi profesor di Boston University, menggambarkan bagaimana pertentangan batin antara individualisme dengan tradisi yang terjadi di China melalui sosok Lin Kong.

About Handoko Widagdo

Berasal dari Purwodadi, melanglang buana ke berpuluh negara. Dengan passion di bidang pendidikan, sekarang berkarya di lembaga yang sangat memerhatikan pendidikan Indonesia. Berkeluarga dan tinggal di Solo, kebahagiaannya beserta istri bertambah lengkap dengan 3 anak yang semuanya sudah menjelang dewasa.

My Facebook Arsip Artikel

Share This Post

Google1DeliciousDiggGoogleStumbleuponRedditTechnoratiYahooBloggerRSS

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *