Ayo ke Rumah Gajah di Tahun Macan!

Ayo ke Rumah Gajah di Tahun Macan! Daripada lihat Buaya dan Cicak berantem. Ajak Kancil. Kalau bisa Tikus jangan ikut!

Iwan Satyanegara Kamah – Jakarta

SEJARAH kita penuh dengan kehadiran dunia binatang di atas panggung. Masa silam kita mengenal seorang raja bijak bernama Hayam Wuruk. Siapa tak kenal pula Gajah Mada? Sederet nama punya tingkah gemilang bahkan kontroversial di masa silam kita. Sebut saja Lembu Tal, Kebo Ijo atau Pangeran Gagak Baning.
 
Bukankah Belanda menjuluki Sultan Hasanuddin nan perkasa dari Makassar dengan sebutan “Ayam Jantan dari Timur”?
 
Binatang juga dianggap lambang keperkasaan. Mana ada jenis persenjataan memakai nama bunga atau nama jagoan. Yang ada tank Leopard, tank Panther, anti aircraft Wildcat atau tank destroyer Elefant. Lha, di garasi rumah Anda isinya apa? Kebanyakan Kijang atau Panther!

Sumpah serapah sering yang mencuat dari mulut kita, selalu menyebut daftar nama-nama hewan! Kapan kita menyebut, “dasar anggrek!”, “mampus kau krisan!” atau “kurang ajar kemuning!”. Tidak pernah dan janggal terdengar!

Orang yang rakus dan sering mencuri diam diam, kita sebut tikus. Belakang muncul peran baru untuk buaya dan cicak. Dua binatang ini mencuat untuk menjuluki dua institusi besar negara, yang berseteru.

Jaman revolusi ketika negeri ini masih belia, kita banyak punya perumpamaan binatang. Soekarno selalu menyebut semangat rakyatnya seperti binatang, “Tetap Terbanglah Rajawali”, dalam judul pidato kenegaraannya pada 17 Agustus.

Tokoh penting negeri, Perdana Menteri Sutan Sjahrir, bangga disebut “Si Kancil”. Ia terkenal lihai keluar dari masalah pelik dalam waktu sempit. Saya pernah menatap dan melihat dari dekat sebuah patung hewan. Dia membisu selama seabad lebih, tapi menjadi saksi sambil melihat betapa cepat perubahan yang ada di sekelilingnya. Kehadirannya begitu terkenal meski hanya terpaku selama 130 lebih di tempat itu.
 
Patung itu patung seekor gajah. Ia berdiri di atas sebuah tugu kecil, tepat di depan sebuah museum besar yang menyimpan banyak memori negeri ini.
 
Gedung mega bak istana seorang pangeran itu, seolah makin lama makin meredup namanya. Orang malas menyebut gedung mentereng nan kokoh dengan sebutan Museum Nasional. “Oh, Gedong Gajah”, kata kebanyakan orang ketika disebut sebuah museum besar dekat Tugu Monas.
 
Dulu ketika semasa sekolah dasar, saya kebingungan masuk gedung ini. Ternyata tak ada gajah di dalamnya. Juga tak ada rangka binatang itu dipertontonkan kepada khayalak yang ingin tahu sejarah binatang itu, yang nenek moyangnya bernama mammoth.
 
Saya akhirnya menyadari, ternyata patung binatang gajah itu adalah pemberian seorang raja dari negeri jauh, Siam, atau sekarang akrab dilidah orang dengan sebutan Thailand. Sang maharaja datang berhari-hari ke sini untuk sebuah kunjungan persahabatan di bulan Maret 1871. Ia datang dan menghadiahkan patung gajah itu untuk rakyat sini dan juga untuk Singapura.
 
Bedanya patung gajah di Singapura dipajang di depan gedung parlemen dan anehnya gedung tak disebut Elephant House, tapi Parliament House.
 
Apakah sama kedua patung gajah yang dihadiahkan oleh Raja Chulalongkornatau biasa disebut Raja Rama V dari Thailand itu, yang juga kakek kandungRaja VIII atau Raja Bhumipol Adulyadej?
 
Jawabannya bisa sangat filosofis. Entah mengapa. Patung gajah untuk Singapura ternyata membuat negeri kecil itu menjadi seperti negeri besar bagai gajah. Besar dalam segala hal. Ekonomi, perdagangan, keuangan, keteraturan, kedisiplinan, juga kebersihan (di negeri ini meludah sembarangan bisa didenda!).
 
Bagaimana dengan kita? Patung gajah itu justru makin mengkerdilkan negeri inidan mengecilkan semua ukuran prestasi kita. Dan parahnya, semua yang memilukan itu seolah disimpan seperti dalam museum di dalam gedung itu. Dilestarikan dan tetap dijaga. Menyedihkan!
 
Gedung Gajah itu bukan hanya menyimpan benda-benda mati yang menakjubkan pada kejayaan masa lampau kita. Tempat itu juga seperti menyimpan sesuatu atau melestarikan kebodohan, ketololan dan kemunduran yang kita lakukan dan kerjakan.
 
Dalam mitologi Hindu, gajah yang disimbolkan dalam wujud bernama Ganesh,adalah dewa pengetahuan (Institut Teknologi Bandung menjadikannya sebagai lambang). Entah mengapa, tanda sifat-sifat itu tidak sepenuhnya tercermin dan melekat pada kita.
 
 
Atau memang itu adalah patung gajah dan bukan Ganesh? Dan gajah yang kita dapat adalah gajah yang pesakitan kakinya. Tak bisa kemana-mana, pasif, lamban dan menyusahkan. Tak heran negeri ini banyak berkeliaran binatang di dalamnya.
 
Ada banyak ‘tikus’ yang selalu menggoroti barang dan milik orang yang kita sebut koruptor. Banyak orang luar bilang, justru di negeri ini sarangnya ‘tikus'. Bahkan banyak juga ‘srigala’ yang tidak punya belas kasihan memakan dan menakuti sesamanya.
 
Susah sekali kita mencari kancil-kancil nan cerdik, yang bisa mengatasi masalah dengan baik dan lihai. Bagaimana berharap ada kancil, pemimpinnya saja disamakan seperti kerbau?
 
Karena membiarkan pasif buaya dan cicak berkelahi tak seimbang. Dan sedihnya, malah sifat negatif kerbau yang ingin dipermasalahkan dari banyak orang.
 
Sebenarnya, bila benda-benda mati yang tersimpan dalam Gedung Gajah itu membisu diam, yang terdengar bukanlah “kejayaan” ataupun “prestasi” kita masa silam. Tetapi kebisuan kita pada masalah yang hadapi. Juga ketidakpedulian kita pada milik kita sendiri dan milik orang lain. Sebuah pesan mendalam untuk kemunduran.
 
Buktinya, saya terkejut dan terhentak untuk segera pergi ke Gedung Gajah secepatnya. Pasalnya, saya diajak oleh sebuah perusahaan jaringan kedai kopi dunia ternama, yang ingin semua orang Indonesia pergi ke museum dalam rangka Tahun Kunjung Museum 2010.
 
Tujuannya membuka jendela pikiran pada kebesaran dan sebuah prestasi yang pernah dihasilkan oleh bangsa ini. Dan sedihnya, perusahaan kedai kopi itu justru dari Amerika!

Saya ingin mengajak kembali anak saya ke Gedung Gajah dan museum lain. Untuk membuktikan kita bukan binatang. (*)

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.