Haruskah Gayatri Terus Menari?

Alexa – Jakarta

Hai Baltyrans, senang bisa menjumpai Anda setelah nyaris sebulan ini saya tepar lahir-batin (on off gitu sih) -tapi sosoknya ini begitu menarik perhatianku dan membangkitkan semangat. Tiba-tiba aku sudah di depan kompi menuliskan tentang dia.

Sosoknya itu Sangat Menarik

Aku mulai memperhatikan sosoknya saat dia selalu tampil secara teatrikal tiap kali mereka melancarkan demo menuntut haknya di Bank Century, terlebih lagi saat seorang klienku juga mengingatkan akan penampilan wanita satu itu, “Xa, lihat perempuan itu –luar biasa mental dan endurancenya, heran dia enggak sampai gila atau stroke ya.” Aku mengiyakan dan jadi kaget saat klienku memberitahu bahwa uang wanita itu hilang di Bank Century sebesar Rp. 70 Milyar. (Redaksi mohon ditampilkan beberapa gambar dari aksi teatrikal Gayatri).

Belakangan  saat DPR membentuk Pansus Century – sedikit banyak sebagai orang yang berkecimpung di dunia perbankan dan keuangan sekian belas tahun aku jadi memahami apa yang terjadi di belakang carut marut Bank Century. Tapi di sini rasanya tidak perlu dibahas lagi hal itu – tiap hari TVOne dan Metro TV sudah berebut menayangkan langsung sidang Pansus, wawancara dengan anggota Pansus dan kunjungan Pansus mencari fakta ke daerah-daerah.

Sebagai marketer dunia keuangan aku sangat kagum dengan marketer dari Bank Century, bayangkan dengan klasifikasi bank kelas gurem begitu Bank Century bisa menjaring dana empat BUMN kelas atas sebanyak Rp. 400 Milyar (salah satunya Jamsostek sebesar Rp. 200 Milyar).

Jadi ingat waktu masih di bank  tempat aku bekerja yang masuk dalam 5 besar bank di Indonesia ternyata dianggap tidak cukup besar oleh mereka. Padahal BUMN sendiri ada ketentuan dari Menkeu cuman boleh menyimpan dana pada bank yang masuk sepuluh besar. Kunjungan marketingku didampingi Regional Manager cuman menghasilkan perolehan dana Rp. 5 Milyar dengan segala treatment istimewa – special rate di atas rate deposito yang berlaku, sebagian dana dipergunakan sebagai jaminan pinjaman karyawan mereka ke tempat kami.

Sebenarnya waktu itu dengan segala treatment  yang kami berikan itu (treatment harus dapat approval dari Direksi kami) aku sudah merasa malees banget,  aku sempat request ke direktur supaya gak usah ambil aja tuh BUMN – tapi si Boss Besar bilang gak papa deh ambil aja sapa tau bisa dapat yang lebih besar nantinya. Lebih gusar lagi ternyata pas dapat slip laporan dana kita di Jamsostek sebagai karyawan eh ternyata rate pengembangan investasinya separoh dari rate deposito yang kami berikan, enggak masuk akal khan? Belum selesai gondoknya….belum juga pinjaman karyawan mereka lunas, eh manajemen mereka dengan kekeuh sumekeh menarik deposito mereka , lagi-lagi Boss Besar kami mengizinkan.

Saya jadi mengerti kenapa Menteri Keuangan dan Gubernur BI mengambil keputusan untuk menyelamatkan Bank Century – rasanya menyelamatkan dana-dana BUMN itu menjadi salah satu alasannya. Coba kalau Bank Century itu ditutup maka bisa dipastikan dana BUMN tersebut akan amblas …ziiip, zero sebab dana yang dijamin LPS hanya sebatas Rp. 2Milyar/ nasabah saja.

Terus bagaimana nasib Gayatri dan teman-temannya.  Saat dengar pendapat antara para nasabah tersebut dengan Pansus serta direktur Bank Century, maka jawaban Direktur Bank Century adalah:

“Dana tersebut bukan merupakan dana yang disimpan di Bank, kami sudah membantu menghubungi pihak Bapepam untuk menyelesaikan karena dana tersebut ditaruh di Reksadana di Anta Boga. Pada akhirnya pihak Bapepam telah mencabut izin Anta Boga sebagai Manajer Investasi jadi Anta Boga sekarang hanya merupakan PT Biasa jadi silahkan menggugat sendiri ke PT.Anta Boga dalam hubungan  sebagai hubungan hutang biasa biasa.”

Saya mendengarnya cuman bisa menganga….aku jadi ikut-ikutan gaya Agnes Monica kek MoEngga kek dengan mengangkat tangan kiri dan kuhadapi telapak kiriku ke muka orang itu…”hellow, plis  ngomong ama tangan deh.”

Enggak heran para nasabah seperti Pak Siput, Bu Gayatri ngamuk luar biasa…mereka menjelaskan bahwa pada intinya mereka adalah deposan dari Bank Century. Dana mereka dipindahkan secara diam-diam oleh para banker di sana dengan memalsukan tandatangan mereka dan tiap bulan mereka menerima bunga ke rekening tabungan yang besarnya tidak berbeda dengan bunga deposito waktu itu (yakni sebesar 13% p.a).

Apakah ini omong kosong atau kenyataan?

Jika mau ditelusuri tentunya mudah saja tinggal periksa dokumen-dokumen yang ada kalau perlu periksa di Lab Kepolisian dan para ahli forensik -apakah tandatangan sah atau tidak. Tapi jadi ingat juga kasus Citibank yang tahun kemarin diributkan, saat itu terkuak fakta bahwa banyak deposan Citibank yang dananya beralih ke Lehman Brother ternyata tidak mendapat informasi yang cukup dari banker yang bersangkutan – mereka hanya diminta segera tandatangan saja. Akibatnya saat Lehman Brother bangkrut banyak nasabah Citibank jadi korban dan pihak Bank dengan tenang mendalilkan bahwa nasabah telah menandatangani dokumen jadi seharusnya nasabah sudah tahu konsekwensinya. Sosok yang vokal memperjuangkan dananya adalah Randy Lianggara seorang jurnalis dari Jakarta Post.

Beberapa nasabah Anta Boga ini ada yang hingga bunuh diri dari seorang pria berusia 40 tahun dengan dana Rp. 125juta yang selalu memainkan biola dengan lagu menyayat hati saat demo, notaris Diana Soebiantoro (48) yang kehilangan depositonya Rp.450 juta  dan hingga meninggalnya -pihak keluarga tak mampu membelikan peti mati , hingga seorang Rektor dari Universitas Atma Jaya, Jogjakarta yang kehilangan Rp. 16 Milyar. Kurang lebihnya saya menduga bahwa Bapak Rektor ini menaruh dana dari Atma Jaya Jogjakarta ke Century-Anta Boga jadi begitu dana itu hilang maka Pak Rektor merasa punya kewajiban moral yang tak tertanggungkan sehingga beliau memilih untuk mengakhiri hidupnya.

Mereka menceritakan bagaimana Sri Mulyani hanya mengutus seorang humas menemui mereka saat mereka menghadap ke Departemen Keuangan. Dan bagaimana Firdaus Jaelani selaku kepala  Lembaga Penjaminan Simpanan tidak mau mengurusi dana mereka. Yang dilupakan oleh para Bapak dan Ibu Pejabat itu adalah Bank Century adalah Bank yang resmi beroperasi di Indonesia – tunduk pada peraturan Bank Indonesia dan Bapepam karena merupakan Perusahaan Terbuka. Artinya Setahun minimal ada sekitar empat kali audit dari BI dan Bapepam. Apakah dipasarkannya produk Anta Boga ini tidak pernah dipertanyakan dan dikomentari oleh Auditor dari Institusi Pemeriksa?

Dan  apa yang dikatakan oleh anggota Pansus dari Partai Demokrat- Achsanul Qosasih usai mengunjungi Bank Century Surabaya? Dia  mengatakan bahwa Gayatri berbohong karena dana Gayatri cuman Rp. 2.8 Milyar bukan Rp. 70Milyar….Kemana Bp Achsanul Qosasih selama rapat Pansus berlangsung… sudah jelas Bu Gayatri dalam rapat itu bilang bahwa dana dia Rp. 2.8 Milyar sementara dana keluarganya Rp. 67 Milyar. Lebih jauh Achsanul Qosasih mengatakan bahwa Diana Soebiantoro masih hidup tanpa menghadirkan sosok Diana Soebiantoro itu sendiri….

Awalnya para partai anggota Pansus tidak memiliki pendapat yang sama dan kompak dalam kesimpulan yang akan diambil. Tetapi Partai Demokrat diakui telah melakukan lobbi-lobbi khusus terutama kepada partai anggota koalisi. Makanya Kompas, edisi Sabtu, 20 Februari 2010 menurunkan tulisan M.Hernowo :Permainan Politik Bank Century – Semua Sudah Diatur. Sekedar mengamini predikisi JB Kristianto – Pengamat dari CSIS saat Pansus Century dibentuk: Semua pada akhirnya akan berakhir pada kompromi-kompromi politik.

Padahal dalam Rapat Pansus sempat mereka melontarkan kekecewaan pada PPATK karena tidak mau memberikan data aliran dana, tetapi manakala data aliran dana sudah disampaikan, mereka malah tidak mau mengungkapkannya. Sehingga Koran Jakarta menaruh kalimat dalam headline mereka tanggal 17 Februari 2010 – Pansus Hanya Buang Waktu : Aliran Dana Tidak Akan Diungkap.

So, saya kok jadi setuju bahwa Pansus hanya Buang Waktu saja.

Jadi, apakah Gayatri harus terus menari?    

 

Referensi & Ilustrasi:
http://metrotvnew.com/index…/sri-gayatri-dianggap-berbohong
Jawa Pos

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *