Cinta Seperti Uban

Cinde Laras

Lama aku mengingat kapan pertama kali kita bertemu. Dulu sekali, hampir sejauh 22 taun yang lalu. Betapa jalan yang kita tempuh sangat panjang dan berliku. Aku ingat ketika pertama kau hadir dalam keseharianku. Muncul tiba-tiba seperti kumbang yang terbang entah dari mana. Mengetuk pintu, dan berkata….
"Kenalan, yuk!"

Ah…, sesungguhnya aku tak pernah benar-benar kesepian. Pun aku tak pernah benar-benar ingin membagi hatiku. Tapi senyummu tak dapat segera pergi, biar sudah kucoba pejamkan mataku berkali-kali. Dan aku yang kau hampiri berkali-kali ini jadi merasa kehilangan saat kau tiba-tiba tak datang. Termangu menunggu di muka pintu, berharap kau datang dengan senyummu. Ahh…, masa itu. Andai aku dapat mengulangnya sekali lagi….

Lalu bertahun-tahun sesudahnya kita berjalan beriringan, menyusuri sejuknya udara pegunungan tempat kita sering bergandengan. Berdua saja denganmu. Dan aku nikmati betul indahnya senyum itu. Kenangan yang melekatkanku pada kasihmu. Lalu bertaut, kau tak mau biarkan jari manisku sepi tanpa sematan pengikat hatimu. Aku berikan jemari terindahku untuk kau tandai di hari itu. Aku akan jadi milikmu….

Dan ketika saat yang ditunggu itu datang, kau berjanji di hadapan Tuhan. Hanya padamu, dan bukan pada yang lain, aku menyerahkan sepenuhnya hati dan jiwaku. Lalu kita melanjutkan hidup berdua saja, tanpa siapa-siapa. Dalam rumah mungil yang kau beli dengan keringat sejak pagi berangkat mengejar kereta, hingga kembali saat malam telah menyelimut. Di seberang Rawa Pladen yang rawan itu, aku setia menunggumu pulang. Sepi…, hanya berteman bunyi jangkrik dan sahutan kodok di tepian sepanjang malam.

Hingga hadir satu-demi-satu hadiah itu, anak-anak kita. Semua dirayakan, semua menyenangkan. Sementara roda terus berputar naik dan turun tanpa mampu kita cegah, dan kita melaluinya dengan segala coba. Ujian yang datang silih-berganti mengisi hidup, menorehkan nilai dalam raport kita masing-masing. Kau dengan salah dan benarmu, aku dengan salah dan benarku. Dan biar seperti apapun yang kita lihat dalam kedua raport itu, kita masih heran mengapa kita masih teguh berada disini, berpegang erat satu sama lain, sedangkan sebelah tangan kita yang lain ketat menggenggam hadiah-hadiah itu, anak-anak kita. Telah 22 taun sejak aku mengenalmu, sebegitu jauhnya. Dan di bulan ini, tepat sudah 17 tahun status kita saling terikat. Tidakkah kau ingat ?

Aku pandangi wajahmu dalam tidurmu yang lelap. Aku lihat warna putih yang menempel di kumis dan rambutmu. Tak sadar, aku menoleh pada cermin, dan melihat warna putih yang sama pada rambutku disana. Lalu tiba-tiba aku teringat akan raport-raport itu. Hhh…, betapa ujian yang telah kita tempuh telah membuat kita matang dan tua dalam sekejap. Dan orang-orang yang ada di luaran itu juga masih saja heran mengapa kita masih saling berpegang erat disini, menggenggam hadiah-hadiah yang kita miliki dengan sepenuh hati. Lalu terngiang di telingaku bisik lirihmu tadi pagi….

"Jangan kau semir ubanmu…. Biarkan saja begini….", dan bibirku tersenyum kelu mengingatnya.
Kekasihku, seandainya saja kau tak pernah ragu, cintaku tumbuh seperti uban yang ada di kepalaku.

picture : thehairazor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.