My Name is Khan dan Identitas

Hariatni Novitasari – Surabaya

Di tengah guyuran hujan deras, aku menonton My Name is Khan (MNIK). Dari awal pertujukan, mataku sudah bocor. Hidung rasanya juga menjadi mampet. Teman yang duduk disebelahku, juga sesenggrukan. Syal yang aku bawa sudah basah oleh airmata dan ingus kami.

Kalau dipikir, ini bukan pertama kalinya aku menonton film India, dan airmataku rasanya seperti dikuras. Aku banyak menonton film India, dan selalu saja, aku terbawa perasaan drama Hindustan ini. Selain MNIK, yang paling paling nangisnya adalah waktu menonton Kabi Khusi Kabi Gam (KKKG). Sepanjang tiga jam film ini, aku tidak henti-hentinya menangis. Sampai pagi akan berangkat kuliah dijemput teman, dan terkejut melihatku, “Kamu barusan menangis?” Aku malah bingung. “Nangis? Nangis kenapa? Aku tidak apa-apa kok…” Temanku insist, “Lha itu, matamu bengkak dan sendu gitu..” Kontan, aku melihat ke cermin, dan alamak, benar temanku tadi. Mataku bengkak dan sembab. Konyolnya, aku baru ingat mengapa mukaku seperti itu. Gara-gara nangis waktu nonton film! Jadilah hari itu, aku ke kampus pakai kacamata hitam, untuk menutupi mataku yang bengkak. Semua orang mengira aku kena belek…

Mengapa film India sering membuatku menangis? Apa yang membuatku menjadi merasa terharu? Pertama, memang sudah dari sono-nya aku gampang sekali terharu. Gampang mewek-mewek gitu kalau nonton. Kedua, nilai dan pesan yang dibawa di dalam film India pasti membuatku menjadi lebih terharu. Seperti hubungan anak dan orang tua. Akan jelas sangat terlihat kepatuhan anak kepada orang tuanya, ikatan kekeluargaan dan martabat keluarga. Kata-kata penuh makna dalam yang diucapkan dalam dialog-dialog, yang sangat mencerminkan nilai dan budaya yang dijunjung oleh masyarakat India. Kepatuhan kepada kedua orang tua seperti kepatuhan mereka kepada agama.

Namun, di sisi lain, juga menggambarkan ironisnya hubungan antara kaya dan miskin, yang perbedaannya sangat mencolok. Mereka yang hidup di rumah sangat mewah, sedangkan lainnya hidup di daerah slum. Juga hubungan antara tuan tanah dan para petani penggarap. Ini masih ditambahi dengan bumbu-bumbu duel ala India yang aneh. Yang kalau sedang gelut, sound effect-nya pasti bunyi bertalu-talu. Tidak ketinggalan, nyanyian dan tarian yang ada hampir di setiap scene. Tarian dan nyanyian bisa membentuk cerita sendiri. Sepertinya, belum pernah ada film India tanpa nyanyian dan tarian.

Terlepas dari duel-duel, dan tarian-tarian itu, selalu saja, ada pesan yang ingin disampaikan dalam film India. Atau juga, dalam semua film. Hanya saja, kadang pesan yang ingin disampaikan itu kuat atau tidak. Tidak bermaksud untuk membuat resensi MNIK, tapi terasa benar pesan yang ingin disampaikan oleh Karan Johar dalam film-nya ini.

Kajol dan Shah Rukh Khan sebelumnya kita kenal dalam debut Kuch Kuch Hota Hai (KKHH) di awal tahun 2000-an. Film ini sangat sukses di pasaran. Televisi-televisi memutar berulang-ulang film ini. Setelah film ini, mereka juga sempat main bareng kembali dalam KKKG, tetapi tidak teramat sukses. Meskipun di film ini juga diwarnai dengan bintang senior seperti Amita Bachan. Mereka berdua itu, pasangan yang bisa menemukan chemistry kalau main bareng. Seperti Tom Hanks dan Meg Ryan.

Keduanya, lalu dipertemukan kembali dalam MNIK. Film ini menerima sambutan yang luar biasa. Tidak saja dalam pemutaran di berbagai tempat di dunia, seperti Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, Timur Tengah dan Asia Tenggara, tetapi juga merupakan salah satu film yang diputar di Festival Film Internasional Berlin ke-60.

Sebagai seorang muslim yang tinggal di USA, Rizvan Khan (SRK) merasakan sekali dampak serangan 911 ini. Anak lelaki tirinya, Sameer harus dikeroyok oleh teman sekolahnya sampai meninggal dunia di lapangan sepak bola. Sampai 6 bulan kematiannya, tidak seorangpun yang mengaku, dan kasus ditutup. Salon yang dibuka istrinya (Mandira) harus ditutup, dan adik iparnya (Hasina) yang dosen di sebuah universitas harus melepaskan jilbabnya. Banyak orang kemudian melepaskan identitas diri (termasuk identitas agama) untuk menyelamatkan dirinya, dan tidak menjadi sasaran kemarahan orang kulit putih. Mereka yang menganut Sigh harus melepaskan udeng-udeng mereka. Orang-orang berjenggot dicurigai sebagai teroris.

Dalam diri Khan, sejak kecil tertanam telah sebuah nilai universal dari ibunya, “Di dunia ini, hanya ada orang baik dan orang buruk. Tidak ada Muslim baik atau Muslim Jahat. Hindu baik atau Hindu Jahat.” Kata-kata itu ibunya sampaikan ketika terjadinya kerusuhan antara Hindu dan Islam di India pada 1983. Nilai itulah yang dipegang oleh Khan. Agama menjadi bagian dari identitas kita, sejak kita dilahirkan. Meski sempat dilarang adiknya, Zakir, Khan tetap menikahi Mandira meskipun dia Hindu. Khan menjadikan itu sebagai jawaban keberatan adiknya. Akhirnya, Zakir memutuskan tali persaudaraan dengan Khan. Khan tetap menikah dengan Mandira karena dia adalah orang yang melakukan perbuatan-perbuatan baik. Bukan perbuatan-perbuatan jahat.

Karena sangat sedih dengan kematian anaknya, Mandira beranggapan bahwa anaknya meninggal gara-gara mengganti marga anaknya dengan “Khan”. Itu adalah sebuah kesalahan. Nama Khan menunjukkan marga seorang Islam. Mandira mengatakan kalau saja anaknya tidak berganti marga, Sam tidak akan mati. Dalam kemarahannya, Mandira mengatakan kepada Khan untuk pergi dari rumah. Khan bertanya, kapan dia bisa kembali. Mandira menjawab, setelah dia bertemu dengan presiden Amerika Serikat. Khan, yang juga penderita sindrom Aspergene (sejenis autis), bertanya, kalau dia bertemu dengan presiden apa yang harus dia sampaikan. Mandira menjawab, “My name is Khan, and I'm not a terrorist”. Sejak 28 November 2007, Khan menjelajahi negeri Paman Sam dan berupaya untuk bertemu dengan presiden, seraya merapalkan berulang kata-kata, My name is Khan, and I'm not a terrorist.

Kalau dipikir dan dicermati dengan dalam, dua hal itu sama-sama berkaitan dengan identitas. Khan, adalah sebuah marga bagi orang Islam. Sebuah marga, agama dan suku pada akhirnya akan melekat pada diri menusia menadi sebuah IDENTITAS diri. Paska 911, orang Islam akan identik dengan teroris.

Dalam sebuah wawancara pada Agustus 2009, SRK menyampaikan, bahwa film itu tidak saja berkisah tentang 911, tetapi juga hubungan antara individu, serta individu dengan negara. Dalam wawancara yang lainnya, SRK menyampaikan, kalau film itu juga mengandung nilai melihat hubungan antara Islam dan Barat yang telah berubah dalam beberapa dekade ini. Dalam sosok Khan, diungkapkan kalau Islam adalah agama dengan jalan damai, bukan agama jalan perang.

Perjalanan Khan untuk bertemu dengan presiden adalah perjalanan untuk menunjukkan identitasnya, kalau seorang muslim itu bukan seorang teroris. Tidak ada agama yang buruk. Yang membedakan adalah perilaku orang-orang-nya. Upaya Khan ini, tidak saja ditentang banyak orang dari pemeluk agama lain. Tetapi juga orang Islam sendiri yang diwakili oleh Dr. Arif Rahman, seorang dokter di RS. St, Bennedict.

Di dalam film ini, beberapa orang berkomentar, kalau boleh saja, seorang warga negara bertemu dengan presidennya untuk menyampaikan uneg-unegnya, seperti yang disampaikan SRK dalam wawancaranya. Rakyat memiliki hak untuk bertemu dengan pemimpinnya.

Film ini memang berakhir dengan happy ending. Khan pada akhirnya bertemu dengan presiden. Tetapi, bukan Bush, seperti yang hendak ditemui Khan pada awalnya. Tetapi, presiden sudah berganti dengan Barack Obama. Khan menjadi simbol kembalinya “identitas” yang sempat ditutupi. Seperti misalnya Hasina yang kembali mengenakan jilbabnya. Kata Hasina dalam kuliahnya (yang kata-kata persisnya aku sedikit lupa), “Aku sekarang sedang melawan diriku sendiri. Kalau aku mengajarkan tentang identitas, inilah identitasku. Ini tidak saja bagian dari identas (agama), tetapi juga telah menjadi bagian dari hidupku”.

Well, MNIK, menurutku pribadi memang film yang sangat bagus. Baik secara ide, pesan, maupun juga akting para pemainnya. SRK, sangat menjiwai perannya sebagai seorang penderita autis. Nyanyian memang tetap ada, tetapi tidak sebanyak di film India kebanyakan. Tarian satu-satunya hanya ada pada saat pernikahan Khan dengan Mandira. Hmmm…apalah artinya film India tanpa tarian…. Pasti garing dehhh….

picture : bollywood.com, sharulkhan blog.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.