Resensi Wolf Totem

Rina S – Bogor

Judul buku  : Wolf Totem

Penulis  : Jiang Rong (Lu Jiamin)

Penerbit  : Hikmah

Tahun  : Desember 2009

Hal   : 616 halaman

“Perang menuntut kesabaran,” sahut Bilgee lirih. ”Peluang menampakkan diri hanya pada mereka yang sabar, baik manusia maupun hewan, dan hanya mereka yang sanggup memanfaatkan peluang-peluang itu. Menurutmu bagaimana Jengis Khan sanggup mengalahkan pasukan-pasukan Jin (Cina) yang berukuran besar dengan jumlah tentara berkuda sesedikit itu? Dan semua bangsa yang jatuh ke tangannya?

Kesabaran itu pula  yang dilakukan serigala Olonbulag. Untuk menikmati pesta pembantaian rusa, serigala harus menunggu hingga lima atau enam tahun, saat rusa bermigrasi dalam jumlah ribuan di awal musim dingin.  Penyerangan dimulai setelah serigala  mengintai dan menunggu hingga pagi hari.  Karena walaupun sedang tidur, hidung dan telinga rusa tetap waspada hingga jika ada bahaya rusa akan melesat lari dan kecepatan berlari seekor rusa bukanlah tandingan serigala. Untuk itu seekor serigala akan menunggu hingga rusa tertidur  dan bangun di pagi hari dengan kandung kemih penuh. Dan itulah saat tepat seekor serigala menerkam mangsanya karena rusa tidak bisa berlari sambil berkemih.

Pada saat yang sama, manusia mengintai pembantaian itu dan menunggu saat yang tepat untuk mengusir serigala dan menjarah rusa tangkapan serigala. Kulit rusa dihargai lebih tinggi dari upah mengembala dan daging rusa panggang segar adalah makanan terlezat di padang rumput. Akibatnya diawal musim semi serigala yang kelaparan akan turun gunung dan menjarah hewan ternak.  Kisah diatas hanya sekelumit ‘pertempuran’ tanpa akhir antara serigala, nomad dan keganasan alam di padang rumput Mongolia Dalam.

Berawal pada musim dingin tahun 1967, Chen Zhen satu dari ribuan pelajar yang menuruti seruan Pemimpin Mao untuk ‘turun ke desa’.
Chen Zhen dikirim ke  Olonbulag, Banner* Ujimchin di kawasan Mongolia Dalam bagian utara. Bagi Chen Zhen dan beberapa pelajar ‘turun gunung’ ini adalah kesempatan mendapat kehidupan yang tenang  dan mereka  tidak sepenuhnya ‘menuruti’ Pemimpin Mao. Chen Zhen melakukan perlawanan dengan cara membawa dua dus buku berisi buku-buku yang dilarang pemerintahan Mao karena dinilai kapitalis dan anti revolusioner. seperti buku-buku sejarah dan literatur Cina dan novel-novel sastra klasik karya penulis besar dunia seperti Balzac dan Tolstoy. Buku-buku itu akhirnya beredar dikalangan pelajar secara sembunyi-sembunyi dan menjadi barang yang mempunyai daya tawar cukup tinggi.

Sebagai masyarakat nomaden – hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dengan membangun perkemahan dan mendirikan tenda bundar berwarna putih yang disebut yurt – dan alam berupa padang rumput, mata pencaharian utama masyarakat Mongolia Dalam adalah berburu dan pengembala domba, beternak sapi dan kuda.  Dan Chen Zhen bekerja sebagai penggembala domba, suatu perkerjaan yang nilai lebih santai di banding memelihara kuda atau berburu.

Wilayah Mongolia Dalam terkenal dengan keganasan alamnya, badan salju yang bisa berlangsung berhari-hari dan serangan nyamuk ganas di musim kemarau. Untuk bertahan hidup selain harus bersaing dengan alam juga dengan hewan sebagai penghuni padang rumput seperti serigala, rusa, tikus dan marmut. Bersaing untuk mendapatkan lahan untuk hewan ternak dan bersaing mendapatkan hewan buruan. Dan itulah hal yang menarik perhatian sekaligus membuat Chen Zhen kagum. Namun yang lebih mengejutkan sekaligus membuat Chen Zhen ‘mencari tahu’ ternyata bagi masyarakat Mongolia serigala bukankah sekedar hewan buruan tapi sekaligus Totem mereka. Padahal bagi masyarakat Cina, serigala adalah momok yang menakutkan. Serigala mengancam ternak dan pertanian mereka.

Satu persatu, berkat kedekatannya dengan Bilgee – seorang lelaki tua asli Mongolia yang dituakan dan berpengaruh, sebab mengapa serigala menjadi totem mereka terungkap. Setelah mengikuti setiap perburuan dan melihat dari dekat perilaku serigala, Chen Zhen mengamini pendapat Bilgee bahwa serigala adalah binatang yang cerdas. Dan mereka meyakini dari serigalalah leluhur mereka, Jengis Khan dan prajuritnya belajar hal ihwal strategi perang militer, keberanian, kekerasan, kemampuan mengorganisir dan mampu bertahan hidup ketika harus melintasi ribuan kilometer dengan menunggang kuda untuk sebuah penaklukan. Membentangkan kekuasaan sepanjang daratan Asia (Cina, Rusia, Persia, Asia tengah dan Asia tenggara)  dan sebagian Eropa.  Sebuah penaklukan yang dilakukan suku primitif buta hurup dari negeri yang kering dan sengsara.

Novel yang memenangi Man Asian Literacy Prize tahun 2007 ini diangkat dari kisah nyata penulisnya, seorang intelektual  Cina bernama pena Jiang Rong. Dalam novelnya ia berperan sebagai Chen Zhen, seorang intelektual muda Cina yang menghabiskan lebih dari satu dekade hidupnya di wilayah Mongolia Dalam. Walaupun baru diterbitkan dalam versi bahasa Indonesia akhir tahun lalu sebenarnya novel ini terbit untuk pertama kali tahun 2004 dan  telah terjual lebih dari empat juta kopi. 

Deskripsi langskap-lanskap padang rumput, detail sebuah perburuan,  interaksi antara manusia, binatang dan alam yang komplek jalin menjalin menjadi satu  dengan bahasa yang mengalir dan hidup membuat buku setebal 616 halaman ini terasa lebih tipis. Tak bisa berhenti membaca. Saya pikir ini  tidak lepas dari penerjemahnya, yang begitu apik dan tepat memilih setiap kata sehingga walaupun terjemahan ‘emosi’ penulisnya tetap terasa, tidak kaku  dan tidak kehilangan ruh ‘sastra’nya.

Dengan setting novel yang terjadi pada periode 1966-1976, saat kondisi suhu politik Cina ‘panas’ tidak bisa tidak novel ini bersinggungan dengan isu politik yang terjadi tahun itu. Dan di sini terlihat Jiang Rong sangat  hati-hati dalam mengkaitkan cerita dalam novel ini dengan situasi politik atau pemegang kekuasaan di Cina saat itu. Alasannya, mungkin karena yang menjadi inti cerita dan pesan yang ingin disampaikan Jiang Rong dalam novel memoar ini bukan apa dan bagaimana politik di Cina saat itu. Sebut saja ketiadaan penjelasan mengenai mengapa para pelajar termasuk dirinya yang dikirim Olonbulag diharuskan bekerja seperti layaknya masyarakat setempat. Atau perihal kampanye ‘empat lama’ yaitu menghapusan gagasan lama, adat-istiadat lama, kebiasaan lama dan praktik lama, yang hanya sedikit disinggung. Pun penjelasan mengenai  produksi yang harus memenuhi quota yang ditetapkan, jumlah jam kerja, denda,  dan keberadaan perwakilan militer yang mengatur dan menguasai masyarakat. Untuk pembaca yang tidak tahu situasi politik di Cina saat mungkin akan agak membingungkan, walaupun tidak mengurangi  esensi novel ini secara keseluruhan namun terasa ada ruang yang kosong.  Atau Rong menghindari ini untuk menghindari bukunya di cekal peredarannya oleh pemerintah?

Lepas dari itu, mengutip yang dikatakan Rong pada sebuah media massa di Cina. “I spent 30 years thinking, and six years writing ‘Wolf Totem’, and my only hope was to produce an appealing story.” Hasilnya bukan sekedar novel yang menarik namun rekaman jejak  sebuah kebudayaan yang hilang. Eksodus warga Cina etnis Han, etnis mayoritas sekaligus etnis dari mana penulis berasal ke wilayah Mongolia dengan membawa ide modernitas, pembukaan lahan pertanian secara besar-besaran, mendirikan rumah-rumah permanen, dan perintah pemusnahan serigala secara masal menyebabkan kebudayaan-kebudayaan asli Mongolia tergerus. Alasan pelarangan hidup berpindah-pindah adalah untuk menghindari kekeringan di padang rumput akibat pertanian yang eksesif dan perpindahan peternakan. Dalam novel ini Rong mengupas dengan detail bagaimana masyarakat Mongolia mempertahankan padang rumput dan menjaga ekosistemnya adalah dengan cara hidup berpindah-pindah dan simbiosis mutualismenya dengan serigala.

Chen Zhen sudah jatuh hati pada serigala dan bertekad menyelamatkan serigala, dengan cara merawat seekor anak serigala. Suatu hal yang bertentangan dengan masyarakat Mongolia yang mendewakan serigala dan pemerintah yang memerintahkan pemusnahan. Namun Chen Zhen tetap dengan tekadnya, dengan alasan untuk mempelajari karakter serigala akhirnya  perwakilan penguasaa militer, Bao Shungui mengijinkan dan mendukungnya. Mampukah Chen Zhen dan teman-temannya menyelamatkan kawanan serigala dan membentung pembukaan lahan pertanian di kawasan Mongolia Dalam?

Kehadiran buku ini bukan tanpa kritik. Seorang   kritikus Jerman Wolfgang Kubin menilai buku ini fasis karena bisa menimbulkan kebencian dari salah satu pihak.

Don’t judge the book from the cover, tapi saya pikir soal cover buku terkait dengan selera dan setiap orang bisa berbeda menilai cover buku. Dan menurut saya cover buku ini kurang menarik, pertama kurang artistik walupun saya akan kebingungan jika ditanya definisi artistik. Kedua, terlalu biasa atau tidak membuat orang penasaran untuk membacanya. Lepas dari itu, saya suka novel ini karena kandungan historis nya dan memuat banyak hal soal keseimbangan alam. Ehm, kabarnya buku ini akan segera difilmkan, kita tunggu saja dan berharap sebagus novelnya.

Salam….

 

Beberapa istilah

Banner : Unit administrasi yang setara dengan county (semacam kabupaten)

Totem : Sebuah kepercayaan keagamaan. Totem biasanya adalah hewan atau figure alam yang secara spiritual mewakili sekelompok orang atau suku.

Sekilas tentang penulis:

Jiang Rong adalah nama pena dari Lu Jiamin. Akibat  The Great Proletarian Cultural Revolution atau Revolusi Budaya yang dilakukan Mao (1966), ia dan ribuan pelajar Cina lain harus “kembali ke desa dan memetik ‘pelajaran’ dari pada petani”. Akibat revolusi ini ujian masuk perguruan tinggi dibatalkan selama satu dekade.   Tahun 1978 Lu Jiamin kembali ke Beijing dan meneruskan pendidikan di Akademi Ilmu Sosial lalu bekerja sebagai akademisi (dosen) di Universitas Beijing dan pensiun pada tahun 2006.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.