Thursday, 25 February 2010
SAW – Bandung
Sobat Baltyra yang berbahagia, …
Ikut merasa senang dengan segala yang sudah Baltyra berikan pada kita semua, kini, dengan tampilannya yang luar biasa. Hmm,… semoga kita semakin betah dan nyaman bercengkerama di dalamnya.
Kali ini saya ingin menceritakan tentang apa yang saya dapatkan dari interaksi saya dengan para pengusaha mikro. Ya, ‘mikro’, bukan ‘kecil’ lho…, tapi yang keciiiillll sekali. Ada juga juga yang menyebutnya sebagai pedagang ‘GUREM” Mereka adalah pedagang-pedagang yang tergabung dalam sebuah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat yang saya berkecimpung di dalamnya. Tidak banyak, baru sekitar 35an orang.
Pada dasarnya, mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang memilki dedikasi luar biasa pada keluarganya, Kecintaan pada keluarga menjadikan mereka pribadi-pribadi yang tangguh, ulet dan tentu saja kreatif. Mereka saya bagi dalam dua ketegori, pedagang makanan dan pedagang non makanan.
Sobat Baltyra, …
Ternyata aktifitas mikro mereka merupakan pilar kekuatan bagi perekonomian keluarga. Jadi, meski kecil, tapi memilki arti yang besar bagi kontribusi perekonomian keluarga mereka. Sebut saja untuk pedagang makanan : mereka memproduksi rempeyek, kemudian ada sebagian yang menjadi penjualnya, menyalurkan ke pelanggan-pelanggan. Ada juga yang menjual nasi kuning di depan rumahnya tiap pagi. Atau pedagang makanan kecil/kue-kue untuk dititipkan ke tetangga, sekaligus menerima pesanan. Sementara ada juga yang membuka catering, dari yang kecil-kecilan sampai akhirnya sudah bisa berkembang menjadi besar
Kemudian, bagi pengusaha non makanan, ada yang menjahit, merajut, memasang payet, merias pengantin, salon khusus wanita, bahkan ada yang menjadi coordinator pembayaran rekening listrik, pam dan telepon.
Dari aktifitas harian ibu-ibu rumah tangga inilah, banyak kebutuhan keluarga di topangnya. Mikro secara analisis ilmu perekonomian, namun memiliki peran yang Makro bagi penunjang perekonomian keluarga mereka.
Lingkup pengusaha mikro ini baru sebatas kelurahan. Itu pun baru mencakup beberapa RW. Namun mereka telah mampu berkarya secara sinergis, bahu membahu membangun kekuatan bisnis di lingkungan tersebut.
Sebut saja untuk pengusaha katering, jika pesanan banyak, maka kebutuhan kue-kue akan di sub orderkan pada pengusaha kue-kue. Demikian juga jika salah seorang pengusaha kue tersebut mendapatkan order, biasanya akan dibagi-bagi dengan yang lainnya. Misal, satu dus kue ada 4 macam. Maka satu atau dua macam kue akan dibagikan pada pengusaha kue yang lain. Sebuah sinergis yang manis.
Secara berkala, pengusaha mikro ini kami beri motivasi, pengarahan dan pembekalan-pembekalan yang lain. Setidaknya, wawasan mereka juga akhirnya terbuka dan iklim usaha bisa tetap dijaga dan ditingkatkan. Sementara jika ada kendala, bisa dipetakan untuk dicarikan solusinya.
Berinteraksi dengan mereka, banyak hal yang saya dapatkan. Banyak pelajaran kehidupan bisa saya petik. Untuk itulah, saya juga tetap bersemangat mengetuk pintu-pintu perusahaan atau pun perkantoran guna mendapatkan bantuan bagi peningkatan kapasitas ibu-ibu yang luar biasa ini. Bahkan tahun kemarin (2009) kami bisa dapatkan pengguliran Dana Hibah Kemasyarakatan dari Pemerintah Kota Cimahi.
Begitulah sobat Baltyra, … meski keciiiillll, tapi memulai itu lebih bermakna. Daripada sekedar berangan-angan besar, namun tidak jua memulai langkah. Padahal, memulai, menunggu atau menunda, sama-sama menghabiskan waktu. Namun, bukankah yang memiliki kemungkinan adalah mereka yang berani memulai? Wallohu a’lam bish showwab.
February 26th, 2010 at 12:20
Hahahahahaha…
Rupanya pakai diproses ya SAW…..
Pantasan indah nian,prosesnya pasti suangat luamaaaaaa….!!!
Salam Damai dari Mainz…..
February 26th, 2010 at 12:02
sekecil apapun namanya klo usaha sendiri dan pegang duit sendiri adalah sangat memuaskan bagi seorg wanita….buat saya lho mba saw. sukses selalu ya mba!
February 26th, 2010 at 08:35
@ Om Dj, Mbak Syanti : ternyata satu almamater ya… Tapi ngomong2, … kalo awal 70an Om Dj. Lulus SMP, … saya belum di proses kayaknya Om… hehehe…
@ Mbak Kornelya : Ada mbak,… yg pake komputer maupun yang tangan/mesin biasa ala tasikmalaya. Kalo perlu info, bisa ke sawiji68@yahoo.co.id>>>>>>>. (Admiiiinnn…., ini masuk ke promosi ga ya…., moga2 ga di sensor. hehehe …. )
February 26th, 2010 at 08:29
@ OM JC : Byuh,… mo usaha aja kok kados mekaten to…
Tapi memang menurut kisah temen2 begitu, … Sekedar menjual kerudung aja harus sembunyi2. Kalo ketahuan bisa berabe. Benar2 sisi positif bagi kita di sini yang harus kita syukuri.
@ Mbak Silvia : haturnuhun udah berkenan mampir…
February 26th, 2010 at 00:14
Syanty….
O…rupanya Alumni SMAK Dago juga…???
Puji TUHAN….!!!
Maaf Dj. hanya sampai kenaikan kelas 2 saja di SMAK Dago…
Lantas lari ke Makassar dan tamat di Makassar…
Dj. tamat SMA awal tahun 70…
Syanti tamat tahun barapa….???
Dj. saat kelas 1 SMAK dago di kelas 1C….Sedikit dibelakang…
Saat itu direktornya,Bapak Nasution…
February 25th, 2010 at 23:36
SAW, punya kelompok yang nanganin bordir ngga? Jika ada boleh, halo-halo !! Salam, piyem Bandung!!
February 25th, 2010 at 21:28
Terima kasih untuk tulisannya.
memang wanita itu pada umumnya sangat ulet …berusaha membantu perekonomian keluarga.
Untuk DJ….rupanya lamuni SMAK Dago ya….siapa tahu kita kenal hehehe….lulusan th berapa?
February 25th, 2010 at 12:29
Neneng Saw….
Nuhun atuh…..
Dj. kan awal tahun 60 tinggal di Ciumbuleuit dan juga di Cipaganti ( bunderan Siam ) depan POM Benzin….
SD Hidup Baru,SMPK Bahureksa dan SMAK Dago…..
Cimahi ingat saat pendidikan meliter saja….hahahahaha….!!!
Tapi dulu Cimahi masih sepi….
Puji TUHAN….!!! 2008 kemarin masih bisa reunian dengan teman-teman SMPK….
Bahkan Kepala sekolahnya ( ibu Tan Eng Bok ) hadir walau harus terbang dari Holland dan sudah diatas 80….
Bandung….jadi ingin makan BaTaGor di Cibunut…..hahahahaha….!!!
Salam manis dari Mainz….
February 25th, 2010 at 12:25
Matur nuwun sanget salam panjenengan, salam juga kagem keluarga nggih, Pak…
Lha nggih ngaten niku, kalo mau usaha sendiri, di Indonesia lah tempatnya…