Belajar Ketangguhan Dari Para Gurem

SAW – Bandung

Sobat Baltyra yang berbahagia, …

Ikut merasa senang dengan segala yang sudah Baltyra berikan pada kita semua, kini, dengan tampilannya yang luar biasa. Hmm,… semoga kita semakin betah dan nyaman bercengkerama di dalamnya.

Kali ini saya ingin menceritakan tentang apa yang saya dapatkan dari interaksi saya dengan para pengusaha mikro. Ya, ‘mikro’, bukan ‘kecil’ lho…, tapi yang keciiiillll sekali. Ada juga juga yang menyebutnya sebagai pedagang ‘GUREM” Mereka adalah pedagang-pedagang yang tergabung dalam sebuah Lembaga Pemberdayaan Masyarakat yang saya berkecimpung di dalamnya. Tidak banyak, baru sekitar 35an orang.

Pada dasarnya, mereka adalah ibu-ibu rumah tangga yang memilki dedikasi luar biasa pada keluarganya, Kecintaan pada keluarga menjadikan mereka pribadi-pribadi yang tangguh, ulet dan tentu saja kreatif. Mereka saya bagi dalam dua ketegori, pedagang makanan dan pedagang non makanan.

Sobat Baltyra, …

Ternyata aktifitas mikro mereka merupakan pilar kekuatan bagi perekonomian keluarga. Jadi, meski kecil, tapi memilki arti yang besar bagi kontribusi perekonomian keluarga mereka. Sebut saja untuk pedagang makanan : mereka memproduksi rempeyek, kemudian ada sebagian yang menjadi penjualnya, menyalurkan ke pelanggan-pelanggan. Ada juga yang menjual nasi kuning di depan rumahnya tiap pagi. Atau pedagang makanan kecil/kue-kue untuk dititipkan ke tetangga, sekaligus menerima pesanan. Sementara ada juga yang membuka catering, dari yang kecil-kecilan sampai akhirnya sudah bisa berkembang menjadi besar

Kemudian, bagi pengusaha non makanan, ada yang menjahit, merajut, memasang payet, merias pengantin, salon khusus wanita, bahkan ada yang menjadi coordinator pembayaran rekening listrik, pam dan telepon.

Dari aktifitas harian ibu-ibu rumah tangga inilah, banyak kebutuhan keluarga di topangnya. Mikro secara analisis ilmu perekonomian, namun memiliki peran yang Makro bagi penunjang perekonomian keluarga mereka.

Lingkup pengusaha mikro ini baru sebatas kelurahan. Itu pun baru mencakup beberapa RW. Namun mereka telah mampu berkarya secara sinergis, bahu membahu membangun kekuatan bisnis di lingkungan tersebut.

Sebut saja untuk pengusaha katering, jika pesanan banyak, maka kebutuhan kue-kue akan di sub orderkan pada pengusaha kue-kue. Demikian juga jika salah seorang pengusaha kue tersebut mendapatkan order, biasanya akan dibagi-bagi dengan yang lainnya. Misal, satu dus  kue ada 4 macam. Maka satu atau dua macam kue akan dibagikan pada pengusaha kue yang lain. Sebuah sinergis yang manis.

Secara berkala, pengusaha mikro ini kami beri motivasi, pengarahan dan pembekalan-pembekalan yang lain. Setidaknya, wawasan mereka juga akhirnya terbuka dan iklim usaha bisa tetap dijaga dan ditingkatkan. Sementara jika ada kendala, bisa dipetakan untuk dicarikan solusinya.

Berinteraksi dengan mereka, banyak hal yang saya dapatkan. Banyak pelajaran kehidupan bisa saya petik. Untuk itulah, saya juga tetap bersemangat mengetuk pintu-pintu perusahaan atau pun perkantoran guna mendapatkan bantuan bagi peningkatan kapasitas ibu-ibu yang luar biasa ini. Bahkan tahun kemarin (2009) kami bisa dapatkan pengguliran Dana Hibah Kemasyarakatan dari Pemerintah Kota Cimahi.

Begitulah sobat Baltyra, … meski keciiiillll, tapi memulai itu lebih bermakna. Daripada sekedar berangan-angan besar, namun tidak jua memulai langkah. Padahal, memulai, menunggu atau menunda, sama-sama menghabiskan waktu. Namun, bukankah yang memiliki kemungkinan adalah mereka yang berani memulai? Wallohu a’lam bish showwab.

Terima kasih sudah membaca. Silakan tinggalkan komentar.

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.