Mie Instan & Minyak Goreng (Part 1)

J C Thursday, 25 February 2010

| Viewed 2986 times, 5 times today | 104 Comments |
Josh Chen – Global Citizen
 
Lho? Kenapa kok mie instan dan minyak goreng?
 
Belakangan ada beberapa artikel dari OsaKI dan Pak Handoko mengenai masalah pangan di Indonesia, alternatif pangan, diversifikasi pangan, dsb, menginspirasi artikel ini. Setelah ditulis, ternyata artikel ini lebih panjang dari yang diperkirakan, oleh karena itu akan dipecah menjadi 2 bagian.
 
Bagian 1 akan membahas seputar mie instan dan karbohidrat, dan Bagian 2 akan membahas minyak goreng dan hubungan antara mie instan dan minyak goreng.
 
Mie instan sekarang sudah menjadi “makanan pokok bayangan” setelah nasi! Tak ada nasi mie instan pun jadi…kira-kira begitulah semboyan masyarakat kita sekarang ini. Sementara minyak goreng sudah menjadi “minuman” keseharian kita. Apa yang tidak digoreng? Ada tempe, telor, tahu, bakwan, kerupuk, ikan, dendeng, ayam, tumis menumis, dsb, hampir seluruh aspek kegiatan makan memakan kita tak lepas dari minyak goreng dan derivatifnya.
 
Mie Instan & Carb-Addict
 
Fenomena mie instan sungguh luar biasa. Dalam perkembangannya 20 tahun terakhir di Indonesia dan juga dunia. Masih jelas dalam ingatan semasa SD, pergi ke PRPP (singkatan apa lupa, Pekan Raya Pembangunan P…) semacam Pekan Raya Jakarta, tapi ini di Semarang, dengan peserta dari Jawa Tengah, di situ biasa ada stand dari beberapa produser mie instan yang menjajakan mie’nya, dimasak di tempat dan dinikmati langsung oleh pengunjung.
 
Masa itu rasanya keberadaan mie instan di meja makan dan lemari dapur keluarga Indonesia belumlah sedahsyat sekarang ini. Namun sekarang, keberadaan mie instan sudah begitu luas dan menyusup ke seluruh lapisan masyarakat. Dari gerobak angkringan, warung kaki lima, warteg, kantin, rumah kost, rumah tangga, semua tak lepas dari keberadaan mie instan ini.
 
Noodle, mie, atau ada orang yang menyebut bakmi. Dari mana kah mie ini berasal? Tidak susah ditebak, ya memang, dari negeri China. Orang Italia, Arab dan China sama-sama claim bahwa merekalah penemu mie, tapi yang jelas bukti dan jejak tertulis tercatat ditemukan di jaman East Han Dynasty di antara tahun 25 – 220 Masehi. Dan jejak tertua ditemukan bulan Oktober 2005 di situs Lajia (Qijia culture) di pinggiran Yellow River di Qinghai terbuat dari foxtail millet dan broomcorn millet.
 
Secara umum mie/noodle didefinisikan sebagai: adonan tipis dan panjang, digulung dan dimasak dalam cairan mendidih. Cairan mendidih ini bisa air, bisa kuah, bisa minyak, sehingga bisa dikatakan bahwa cairan mendidih adalah media pemasak mie. Kata noodle sendiri ditengarai dari bahasa Jerman nudel dan kemungkinan berasal dari akar kata nodus (knot = simpul) dari bahasa Latin. Sementara kata “mie” berasal dari dialek Hokkian dari kata “mian” (baca: mien, ).
 
Jenis-jenis mie menurut bahan bakunya:
  • Millet
  • Wheat atau gandum
  • Rice
  • Mung bean
  • Potato atau canna starch
  • Buckwheat
Itulah 'mainstream' bahan baku mie di seluruh dunia. Namun demikian makin banyak lagi bahan mie yang divariasi dan dimodifikasi dari jagung misalnya, ketela rambat, singkong dsb. Tapi wheat atau gandum masih memegang urutan tertinggi dalam dunia per-noodle-an.
 
Ide untuk membuat instant noodle adalah untuk mengawetkan. Jejak awal instant noodle ini dari Qing Dynasty, yimian digoreng dengan cara deep fried untuk disimpan dalam jangka waktu lama.
 
Instant noodle modern ditemukan pertama kali oleh Momofuku Ando seorang Taiwan yang pindah ke Jepang. Beliau ini sekaligus adalah pendiri Nissin Foods, salah satu pembuat instant noodle terbesar di dunia. Metode sederhana beliau awalnya adalah memasak mie dalam kuah yang ada rasanya, kemudian deep fried dengan minyak kelapa sawit untuk mengeringkannya sehingga menjadi kering sama sekali.
 
Untuk memakan tinggal dipanaskan dengan air panas saja. Beberapa metode pembuatan instant noodle dicoba beliau, termasuk cara pengasapan dan penggaraman, serta penggorengan dengan minyak goreng jenis lain, tetap saja akhirnya penggorengan dengan minyak sawit yang terbaik.
 
Tahun 1958 Nissin meluncurkan mie instan yang pertama, Chicken Ramen di Osaka. Lompatan bersejarah berikutnya di tahun 1971 ketika Nissin memperkenalkan cup noodles kepada dunia. Dan disusul pengembangan lainnya termasuk menambahkan sayuran yang dikeringkan untuk melengkapi hidangan mie tsb.
 
Di tahun 2000 survey yang diadakan di Jepang mendapati bahwa mie instan merupakan temuan yang paling penting di abad ini. Diikuti dengan karaoke, bahkan compact disc hanya menempati urutan ke 5. Menurut Instant Ramen Manufacturers Association dan World Instant Noodles Association, negara-negara di Asia lah yang menempati jawara baik pembuatan dan konsumsi.
 
Di tahun 2005 saja 85 miliar bungkus instant noodles dimakan di seluruh dunia. China menempati jawara pertama dalam konsumsi dan produksi kira-kira 50 miliar bungkus, Indonesia malah melampaui Jepang (dapat dimengerti karena jumlah penduduknya) mencapai 15 miliar bungkus, Jepang sekitar 6 miliar bungkus. Namun juara per kapita dipegang oleh penduduk Korea Selatan yaitu 69 bungkus/orang/tahun. Dalam 5 tahun belakangan jumlah tsb sudah berlipat ganda paling tidak mendekati 2x lipatnya.
 

Nilai perputaran uang untuk mie instan di Indonesia mencapai Rp. 15 TRILIUN di tahun 2008 saja. Konsumsi per kapita di Indonesia adalah 63 bungkus/orang/tahun. Pertumbuhan mie instan mulai melesat sejak tahun 2004 di mana hanya 979.628 ton menjadi 1.691.588 ton di 2006 dengan pertumbuhan rata-rata 18.6% per tahun, tertinggi di dunia!!
 
Untuk tahun 2009, diperkirakan sudah mencapai kapasitas produksi mendekati 1,9juta ton, bertumbuh 8.9% dari 2008.

Dengan makin membesarnya produksi mie instan di seluruh dunia dan makin populernya di mana-mana, kebutuhan minyak sawit terus meningkat. Mayoritas produksi minyak sawit di dunia adalah untuk proses produksi mie instan ini. Bukan lah untuk bio-diesel seperti anggapan dan propaganda pecinta lingkungan.

Berapa banyak minyak sawit yang dimasukkan ke tanki kendaraan dibandingkan dengan minyak sawit yang digunakan untuk proses produksi mie instan, jelas tidak bisa dibandingkan sama sekali.
 
Penemu mie instan Momofuku Ando tutup usia di 96 tahun pada 2007. Jasa-jasanya untuk the most popular culinary in the world akan dikenang sepanjang masa. Tahun 1999 dibuka museum khusus instant noodles di Ikeda dengan nama Momofuku Ando Instant Ramen Museum.
 
 
 
Sebelum menutup mata, Sang Penemu puas mencapai impian terbesarnya, yaitu membawa mie instan'nya menembus angkasa luar. Di bulan July 2005, Nissin memperkenalkan vacuum packed instant noodle yang dibuat khusus untuk astronot Jepang, Soichi Noguchi yang dibawa dalam misi ke luar angkasa Discovery di bawah NASA Space Shuttle Program.
 
Sadar tidak sadar, posisi mie sudah mulai menggeser sedikit demi sedikit makanan pokok nasi untuk sebagian masyarakat Asia. Kemudahan, kepraktisan dan kaya akan rasa menjadikan mie instan pilihan utama. Bahkan banyak sekali masyarakat Indonesia yang menjadikan mie instan sebagai “lauk” teman nasi… ini namanya “espresso carbo” alias double shot carbohydrate intake!
 
Popularitas mie instan menembus lintas batas benua dan negara. Tidaklah mengherankan di tiap toko Asia di manapun di dunia jika kita melihat tumpukan di salah satu rak terdapat berbagai merek dan jenis mie intan, dan tentu bukan hal aneh jika melihat merek Indonesia.
 
Sebagai orang Asia, karbohidrat tak bisa dilepaskan dari perut kita. Karbohidrat sendiri memang salah satu unsur penting macronutrient yang diperlukan tubuh untuk beraktivitas. Energi, regenerasi sel, nurtrient sel otak, dan masih banyak lagi memerlukan asupan karbohidrat.
 
Namun kebanyakan orang tidak menyadari asupan karbohidrat dalam pangan sehari-hari biasanya melebihi jumlah yang sebenarnya dibutuhkan oleh tubuh. Inilah awal mula kegemukan untuk orang Asia. Berbeda dengan kebanyakan di negara Barat, obesity dikarenakan asupan makanan berlemak tinggi dan porsi super, di Asia, kegemukan lebih disebabkan karena asupan berlebih karbohidrat.
 
Apalagi untuk kebanyakan orang Indonesia, ada anggapan dan sugesti serasa belum makan kalau belum kena nasi. Untuk beberapa nasi-addict kelas berat, malah lebih “mengerikan” lagi. Mie goreng, bihun kuah, bihun goreng, sohun, kudu dimakan pakai nasi sebagai lauk.
 
Karbohidrat terbagi 2, yaitu karbohidrat sederhana (simple carbohydrate) dan karbohidrat kompleks (complex carbohydrate).
  • Simple carbohydrates are digested quickly. Many simple carbohydrates contain refined sugars and few essential vitamins and minerals. Examples include fruits, fruit juice, milk, yoghurt, honey, molasses and sugar.
  • Complex carbohydrates take longer to digest and are usually packed with fibre, vitamins and minerals. Examples are vegetables, breads, cereals, legumes and pasta.
(ivillage.co.uk)

 
 
Beberapa contoh simple dan complex carbohydrate:
 
 
Jika anda ingin langsing dan lebih fit dalam beraktivitas sehari-hari, tinggalkan intake simple carbohydrate anda. Nasi adalah salah satu simple carbohydrate yang “jahat”. Memang rasa mengenyangkan nasi belum ada tandingannya, karena nasi tercerna hampir seketika dan mengandung kadar gula yang tinggi, sehingga efek menenangkan dan mengenyangkan itulah yang dirasakan oleh para penikmat nasi.
 
Sementara complex carbohydrate dicerna lebih lambat oleh sistem pencernaan kita, memberikan distribusi energy lebih merata sepanjang hari, namun efek “bius” sugar-shot yang menenangkan itulah yang dirasakan hilang oleh para nasi-addict.
 
Mie instan jelas komponen utamanya terigu. Karbohidrat lagi! Proses pembuatannya, juga menggunakan minyak dalam jumlah yang sungguh generous. Bumbunya, proses pembuatan mie’nya (akan dipaparkan dalam Part 2), untuk menggoreng mie’nya sendiri sampai kering begitu. Proses bukan hanya dengan dryer, tapi banyak melibatkan komponen minyak sawit.
 
Masih ditambah dengan satu dosis shot lagi, yaitu MSG-shot! Monosodium Glutamate dalam jumlah yang juga generous menjadi pemeran utama kenapa mie instan begitu nikmat dan begitu nagih. MSG atau bumbu penyedap – sebenarnya penamaan yang salah kaprah – menjadikan syaraf pengecap kita merasakan nikmatsedap luar biasa.
 
Kenapa salah kaprah dengan nama “bumbu penyedap”? Karena sebenarnya MSG adalah “nerves-cheating-agent”, yang bertugas “menipu” syaraf pengecap kita untuk menyampaikan ke otak bahwa rasa yang dikecap itu nikmatsedap.
 
Apa hubungannya dengan efek ketagihan, kesehatan dan minyak goreng? Akan disambung di Part 2, karena kalau diteruskan bisa jadi panjang sekali.
 
to be continued
 
 
Reference:
http://en.wikipedia.org/wiki/Instant_noodles
http://instantnoodles.org/
http://www.informatik.uni-stuttgart.de/menschen/hohldir/soups.html
http://noodleson.com/review/category/indonesian-brand/
http://noodleson.com/review/
http://www.opensourcefood.com/people/JohnZhang/recipes/chow-instant-noodles
http://en.wikipedia.org/wiki/Noodle
Categories: Info
Tags:

104 Comments to “Mie Instan & Minyak Goreng (Part 1)”

Pages: « 11 10 9 8 [7] 6 5 4 3 2 1 »

  1. 70
    Imeii Says:

    JC.. semuanya balik lagi ke prioritas, kebutuhan dan keinginan keluarga masing2… mmh, kalo semua orang kayak aku sih, wah toko2 (tertentu) pada tutup dan bangkrut hehe.. kadang bukan ngga mampu beli, kadang juga kepengen baget, tapi on the second thought, selain itu belajar dari pengalaman, kalo ngga butuh banget, mending ngga beli deh, soalnya bakal waste money, jadi tumpukan debu, begitu juga kalo beli yang aku pengen banget tapi ngga butuh, biasanya cuman jadi pajangan, lama2 masuk kantong plastik dan taro di closet…

  2. 69
    Kornelya Says:

    Suhu aku jadi pedagang Crock aja kalau begitu. kok sampai segitu mahal .
    Gileee, harga pasar Amerika dipenghujung summer bisa disale $5. Salam!!!

  3. 68
    J C Says:

    Tambahan ah pidato’ne…

    Tidak ada yang salah dengan nyalon, meni-pedi, fitness di tempat mahal (masih heran wae, wong barang’e podo, kok rega’ne ampun selisih’e), tidak ada yang salah gonta-ganti warna rambut…di INDONESIA ini, hal-hal demikian menguras kocek luar biasa, beda dengan di luar sana, income level, leisure dan kebutuhan rumah tangga masih dalam pos skala pengeluaran yang kurang lebih berimbang…tidak demikian halnya di Indonesia…

    Contoh saja: sandal Crocs yang sempat ngetren luar biasa, antre’nya sampe hueboh pas dibuka di Indonesia, berapa harga sandal Crocs? Di sini minimal sekitar 750rb…lebih mahal dari luar negeri sendiri, sementara nilai uang kita justru di bawah mata uang luar negeri sana….opo gak keblinger coba? Bukan ngiri lho ya…bukan sombong, kalo mau beli Crocs saja, banyak sekali keluarga menengah (plus atas) di sini masih sanggup, tapi kalo aku kok eman-eman, sandal ngono lho, rega’ne kok semono…hihihi…750rb kalo dibelikan olive oil entuk piro? Dibelikan minyak kelapa kualitas bagus entuk piro? Dibelikan beras merah kualitas super entuk piro kilo hayo?

    Beda halnya kalo secara finansial memang sudah amat-sangat-mapan sekali, duit tinggal metik dari pohon di pekarangan rumah, kalo sandalnya saja 750rb, ya mungkin snack’nya sore hari wis caviar…hihihi…

  4. 67
    Sophie Says:

    Buto, bengi2 kumat ja, lha suka suka dewe , duit duit sendiri mau buat golf, mau beli olive oil buat kumkum, mau beli sepatu jut2an yah suka suka waelah..

  5. 66
    J C Says:

    Nev: lah monggo kalo diajak perang duren, beliau’nya pasti menang lah…hahahaha….wong aku ora doyan duren, jelas mlayu disik…hahaha…

  6. 65
    J C Says:

    Peony: horrrreeeee…asiiiikk ada resep baru lagi…boleh juga tuh variasi mie instan…sebenernya gak masalah tho, kirim dulu lomba, menang gak menang ikutan dulu, menang gak menang kirim ke Baltyra khan gak masalah juga…sapa tau menang, lebih ciamik lagi, liputan lagi…hehehe…

    Imeii: tengkyu sudah mampir, canola oil bagus tuh, di sini muahaaaallll…hihihi…

    Kornelya: betuuuulllll…hidup minyak kelapa dan salam nyiur melambai juga…

    Buto Kudus: itulah kenapa aku bilang makanan sehat SEBENERNYA TIDAK MAHAL…mahal itu relatif toh? Bener kowe ngomong “pesticide-free” hidroponik-organik-menik-menik-pating-tlenik emang lebih mahal daripada yang full-pesticide, dsb, dsb….TAPIIIIII…kesadaran dan penempatan skala prioritas lah yang kurang pas…makanya aku balik maneh, balik maneh ke ROKOK…

    Keluarga menengah (aku gak bilang sugih-mblegedu atau miskin papa-tak-punya-apa-apa lho ya), sebenernya MAMPU untuk hidup lebih sehat dengan penempatan skala prioritas yang lebih baik. Rokok, pulsa handphone untuk keperluan ora kanggo gawe (chatting, Facebook, YM). Nyalon, ngecat rambut belang-blontheng ungu-ijo-biru minimal 300-500rb, tiap 1-2 bulan sekali ganti kelir, sampe rambut’e koyok sikat kawat njepat kabeh. Karena njepat kabeh, creambath “teratur” tho mau tak mau, opo ora duit maneh…

    Belom lagi kalo nyalon kayak artikel Dewi Aichi, kuku diobar-abir juga. Itu baru sang istri, sang suami ora gelem kalah, nyalon juga, meni-pedi juga, rambut dikelir juga, fitness di tempat fitness yang di mall sing jarene bareng celeb, atau sing jarene bintang lima punya fitness. Padahal angkat junjung ning omah juga iso tho, cuci mobil sendiri juga fitness tho, tapi sopir yang disuruh cuci mobil n poles mobil, setrika baju dhewe bantu istri juga podo karo SPA n SAUNA tho?

    Sang istri tuku sepatu n tas bermerek, jut-jut rega’ne, tapi beli minyak goreng ya seadanya lah, sing penting iso nggo masak, numis, wis cukup…

    Itu lho sing ta’maksud skala prioritas dan makanan sehat tidak harus mahal…hihihi…malah pidato bengi-bengi…

  7. 64
    nevergiveupyo Says:

    kornelya : klo gitu besok ngasih rekomendasi untuk simbok ah… makasih infonyaaa..

    JL : wah..kurangajar tenan ya si buto? nggolek perkara wae kui Oom… ditantang pesta duren wae po py?

  8. 63
    Jl Says:

    Buto, lha kok bolak2 kok mlayu nang rokok meneh. Makanan sehat tetep selalu lebih mahal. Contohnya la minyak yg sehat katanya minyak kelapa, harganya lebih mahal apa lebih murah dari minyak sawit? Apalagi kalo mau yg lebih sehat kaya minyak jagung apa biji bunga matahari opo nggak lebih mahal lagi. Trus beras merah sama beras biasa , sehat mana? Beras merah to? Harganya mahal mana. Trus elninut bilang makan sayur2 lalap2an tomat , wortel, apa sdh dijamin pasti lebih sehat? Apa nanemnya gak disemprot pake pestisida? Dibandingkan sayuran sejenis yg alami ato misalnya kaya hidroponik , harganya pasti lebih mahal to? Mahal memang relative . Jadi menurutku makanan yg sehat selalu lebih mahal dibandingkan dgn makanan yg sama. Apalagi pengetahuan makanan sehat gak selalu mahal, harganya pasti lebih mahal dr yg dak punya pengetahuan . Betul?

  9. 62
    Kornelya Says:

    Minyak kelapa harus dibedakan yang Hydrogenated dan yang alami (Natural coconut oil). Minyak kelapa yang diproduksi ala rumahan di Indonesia termasuk yang natural, sangat baik karena HDL( High Density Lipoprotein) “good cholestrol” nya tinggi. Salam Nyiur Melambai!!

  10. 61
    Imeii Says:

    aku ngga sampai addicted makan mie instant, biasanya kumakan kalo malas atau kehabisan ide masak aja.. ngga sebulan sekali… kalo minyak masak biasanya pakai canola oil

    ada orang emang belum merasa kenyang kalo belum makan nasi, walaupun udah makan mie atau bihun semangkok, tetap harus makan nasi beberapa sendok, kalo aku sih, perutku juga kalo kelamaan ngga makan nasi kadang bakal keruyukan minta nasi

    JC.. ditunggu kelanjutannya, kalo udah melihat cara bikinnya, mungkin akan mundur teratur (pan katanya pakai minyak banyak)

    Mea… minyak kelapa emang wangi, tapi kalo kelamaan jadi bau tengik ye…

Pages: « 11 10 9 8 [7] 6 5 4 3 2 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar.

Image (JPEG, max 50KB, please)

Archives



Internet Sehat

Advanced NewsPaper customized by Team Baltyra.com