Masjid Sheikh Zayed

Edy Harjito Friday, 26 February 2010

| Viewed 1132 times, 1 times today | 26 Comments |

Edy – Doha

Dalam perjalanan ke Dubai, saya menyempatkan mampir dan sholat di mesjid Syeikh Zayed di kota Abu Dabhi. Mesjid ini diresmikan thn 2007, bulan Ramadhan, terletak di tempat yg strategis diantara 2 jembatan besar Mussafah dan Maqta. Nama mesjid diambil dari presiden pertama dan penemu UAE yakni Sheikh Zayed Bin Sultan Al Nahyan dan sekaligus dikuburkan disamping mesjid ini. Termasuk dalam 7 mesjid terbesar di dunia.

Mesjid ini juga dikenal sebagai Abu Dhabi Grand Mosque , terbuat mainly dari marmer seluas lebih dari 22,000 m2, empat menara setinggi 107 m dan 57 buah domes. Konon menara ini harus dipotong dari rencana semula agar tidak melebihi menara di Masjidil Harram Mekah. Mesjid juga disediakan lapanagn terbuka untuk menampung jamaah seluas 7,000 m2. Mampu menampung jamaah sebanyak 40.000, sedangkan di dalam mesjid menampung 9000 jamaah.

Arsitektur mesjid ini diilhami oleh 2 mesjid besar yakni Mesjid Badshahi di Lahore – Pakistan dan Mesjid Hasan II di Casablanca serat dikombinasikan dengn arsitektur arab.

Karpet dibuat dan didesign oleh artist dari Iran Ali Khaliqi, seluas 5627 m2, beratnya mencapai 47 ton (35 ton wool dan 12 ton katun, terdapat 2,268,000 jahitan dan tanpa sambungan, maksudnya karpet seluas itu hanya 1 gulungan.

Di dalam mesjid terdapat 7 lampu yang megah, terbuat dari tembaga dan dilapisi emas, diimport dari German. Karpet dan lampu ini mengalahkan record yang terdapat di mesjid Oman Sultan Qaboos.

Mengenai biaya pembangunan mesjid dengan pernik2 nya tidak perlu dibahas ya, yang jelas mahal banget, karena kebanyakan material dari marmer. Yang special dari mesjid ini adalah, dibolehkannya non muslim memasuki area mesjid, bahkan sampai di tempat mimbar nya, sebuah terobosan yang sangat berani dan berguna bagi kedamaian antar umat beragama.

Saya jadi tidak punya utang lagi dengan saudara2ku non Muslim, karena saya sering blusukan ke gereja, vihara, klenteng bila sedang jalan2. Silahkan datang ke mesjid Syaikh Zayed di AbuDabhi ini.

Salam damai selalu,
Edy – Doha

Categories: Jalan-jalan
Tags:

26 Comments to “Masjid Sheikh Zayed”

Pages: « 3 [2] 1 »

  1. 20
    Alexa Says:

    Masjid yang cantik dengan kubah2 putih yang indah…semoga banyak yang beribadah dengan khusyuk disana. Saya ingat suatu saat sholat di suatu masjid di Jakarta…..baru pertamakali saya masuk sana dan rasanya mak nyees gitu. Eh imam mesjid yang diimpor langsung dari Makah bilang …”Apa benar perasaan saya….bahwa banyak orang yang masuk masjid ini merasa adem banget dan berkeinginan mati disini?”….Ternyata mak nyees itu bukan perasaan saya aja.

    Dan enggak semua masjid bisa “menyebarkan” aroma seperti itu.

  2. 19
    Lani Says:

    ISK : saya se77777 dgn dirimu, apa salahnya klu cm masuk mesjid tp bukan islam dan sebaliknya yg islam masuk gereja ya ngga? kan sama2 tempat ibadah……aneh2 aja org yg berpikiran bilang TIDAK BOLEH……..

  3. 18
    Kornelya Says:

    Pa Iwan, yang fanatik buta itu hanya sepitik, agama manapun punya kelompok fanatik buta. It is a dream to clean them up. Tetapi membatasi kegiatan mereka agar tidak mengusik orang diluar kelompoknya mungkin bisa, jika ada policat will dari yang kuasa. Amiin!!, anakku dibilang cantik. Salam!!

  4. 17
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Kornelya, pertama anakmu cakep (telat komennya). Nah, kedua saya juga bangga jadi muslim Indonesia. Agak beda dengan muslim2 lainnya. Mungkin masih ada muslim fanatik buta, tapi ini sampah yang akan dibersihkan sampai hilang dari bumi Indonesia menjelang tahun 2020 nanti. Tunggu aja…

  5. 16
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Om Edy, saya pernah baca sebuah sekolah Islam di Kompas. Mereka mengajarkan dan jalan-jalan ke gereja bagi siswanya sebagai bagian dari pelajaran. Ini bagus sekali buat mengenal perbedaan. Bahkan, tokoh NU Aqil Siradj sering tampil ceramah di gereja-gereja. Saya mau (mungkin nggak bisa kali) ada pastor atau pendeta ceramah di mesjid dalam acara Maulid Nabi. Toh acara ini bukan ritual ibadah kok. Lebih ekstrim undang pastor atau pendeta ceramah Jumatan (jangan dijadikan imam sholat!). Nah, baru kereen. Apalagi pendetanya atau pastornya dari sebuah gereja di Beirut yang bahasa Arabnya paseh (fluently). Hmmm…margotop…

  6. 15
    Edy Says:

    JC: game karpete nganggo enggrang hehhee
    pak ISK: Makanya orang2 spt Gus Dur, cak Nun, cak Nur dan kita yang berpikiran progesif begitu tidak disukai umat Islam. Paradok ya

  7. 14
    Kornelya Says:

    Pa Iwan, Mesjid di Indonesia tidak melarang nonMuslim masuk ke Mesjid. Waktu kecil kami sering ikut teman yang belajar Qur’an malah sampai ketiduran dilantai Mesjid yang menurutku adem. Setelah di Jakarta sudah beberapa kali masuk mesji Sunda Kelapa, Pondok Indah, A’Tin atau mesjid lainnya entah untuk menghadiri pernikahan teman/kerabat ,menemani saudara menonton lomba baca Qur’an bahkan pameran tahunan Mesjid Istiqlal. Suami saya bepersepsi seperti yang mas Iwan katakan, nonMuslim tidak diperbolehkan. Saat ke Jogya dan saya ajak masuk ke Mesjid Agung, do’i cium lantainya sampai menitikan air mata. Pada hal hanya sampai dipintu masuk.
    Indonesia adalah Indonesia dengan segala kemajemukannya. I’m proud of my Indonesian Muslim. Salam!!

  8. 13
    J C Says:

    Mas Edy, matur nuwun foto nglencer’e…kuwi gawe’ne batik piye yo? Menek sepiro duwur’e?

  9. 12
    IWAN SATYANEGARA KAMAH Says:

    Orang Islam aneh-aneh dan suka bikin peraturan sendiri-sendiri. Orang manapun boleh masuk mesjid. Terserah dia dari agama apapun. Yang tidak boleh adalah masalah teknis, kotor atau tidak kotor. Siapapun boleh masuk mesjid. Burung aja pada terbang di atas Kabah, dalam Masjid Istiqlal. Apalagi kalau burung itu berak… Crot.

  10. 11
    Adhe Says:

    Mas Edy, thanks ya infonya.

Pages: « 3 [2] 1 »

Terima kasih sudah membaca. Silahkan tinggalkan komentar.

Image (JPEG, max 50KB, please)

Komentar Terbaru

Archives



Internet Sehat

Advanced NewsPaper customized by Team Baltyra.com