My Beloved Family

Pritha

This is my favourite quote about family, "...a baby is born with a need to be loved, and never outgrows it." –Frank A. Clark

Personally, i do think that's what a family is build for.

And i believe, we are what our family are. Setiap anak punya kepekaan yang sama untuk belajar apapun dalam hidup dan lingkungan pertama paling esensial buat mereka belajar, ya keluarga.

Gue lahir di tengah-tengah keluarga yang simpel dan adaptif. Sekalipun kental sama nilai-nilai budaya Jawa, orang tua gue termasuk penganut sistem "…kalau bisa satu, ya kenapa harus dua." Tapi sistem yang sama tidak mereka terapkan untuk memutuskan jumlah anak, karena mereka berkeyakinan, "..anak satu, itu nggak seru. Kemungkinan nanti anaknya selfish. Anak dua, itu pusing, karena jumlah genap itu berbahaya buat voting. Kalau anaknya tiga kan, passss." *diucapkan dengan raut wajah puassss*

Meskipun sejak kecil–dan sampai sekarangpun–gue suka misah misuh soal kekesalan gue menjadi sulung. Apa pasal?

Karena anak sulung, suka tidak suka, sadar atau tidak, pastinya akan dijadikan contoh teladan untuk adik-adik lain. Teman-teman gue yang kebanyakan bungsu bilang betapa si Kakak menyebalkan karena suka main suruh. Apakah gue suka main suruh? Ya, kalau Bapak nyuruh gue ngambilin A dan Ibu minta gue ngerjain B, salah satunya pasti gue lempar ke Adek. Tapi menurutkah adek gue? Boro-boro. Lalu apa hubungannya sama contoh teladan?

*Contoh teladan kan tanggung jawab moralnya berat. Iya nggak?*

Mungkin, tapi bukan itu.

Orang lain mungkin menganggap contoh teladan seorang kakak perempuan adalah anak manis yang pintar, baik hati dan tidak sombong, rajin menabung, dapat nilai A+ untuk semua mata pelajaran, bisa mengucap tiga bahasa dan main enam alat musik *ini jelas bukan gue…mungkin sih gue, tapi gue versi sintingnya* de el el. Tapi hal sama tidak berlaku untuk kedua orang tua gue tercinta.

Menurut beliau-beliau, cara terbaik untuk menunjukkan dan mengasah keteladanan itu adalah…dengan sering-sering disuruh!! Jadilah, gue kesaal sekali menjadi sulung karena apapun yang terjadi, untuk hal apapun, dalam keadaan apapun, mereka akan dengan senang hati memanggil nama gue untuk nyuruh gue duluan. Dan kalau sesekali gue mengajukan nama adek-adek gue sebagai gantinya, maka,

"…adek kamu tuh masih kecil…mana kuat."

"…kalo adek yang belanja ntar ga bisa milih…"

"…udahlah, Ibu lagi pengen nyuruh kamu nih." *ini nih, ini, kalimat yang paling bikin kepala gue mengepul*

Pernah sekali waktu gue bertanya, kenapa anak-anak Ibu harus lahir dengan jarak masing-masing 4 tahun? Kenapa nggak setahun-setahun aja biar gedenya bareng-bareng? Jadi nggak ada tuh istilah gue menghabiskan waktu membersihkan lantai sepagian cuma biar adek bisa meratakan mainannya lagi di lantai, nggak ada tangan-tangan mungil usil yang mematahkan jepit-jepit gue, atau sosok yang nangis jerit-jerit dan mengakibatkan gue dijewer gara-gara gue nggak mau keseriusan gue baca buku terputus buat menyerahkan kursi nyaman gue untuk dia main rumah-rumahan. Jawaban Ibu adalah,

"…wah, susah dong kalo setahun-setahun, satu, nanti kalian nggak bisa minum ASI sampe 48 bulan, dua, pas kenaikan kelas Bapak bisa pusing mikirin uang gedung, dan tiga, kalo jaraknya empat tahun kan ada yang bisa disuruh, hehehehehehehe." *gue: tertawa menangis*

Herannya, Saudara-Saudara, entah karena gue yang korslet atau mereka yang ndablek, sampai mereka cukup besar untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah, tetap saja, mereka susaaahh buat disuruh.

Ada masa di mana kami selalu berantem karena gue adalah orang yang benci sama something messy. Sedangkan adek-adek gue mungkin malah pewe banget sama keberantakan. Nggak percaya, lihatlah kamar Adinda cewek gue…dari luar, pintu ketutup, yah standar, kayak kamar. Kita buka pintu, dan kita akan berpikir ulang itu kamar atau gudang.

Rinciannya:

  • 1 kasur dengan dipan tanpa kaki
  • 1 buntelan selimut (bukan lipatan lho ya) di atas kasur
  • 1 kelompok buku berserakan di bawah tempat tidur
  • 1 kelompok baju yang nggak jadi dipakai di atas kasur
  • 1 meja belajar
  • 1 tumpukan buku yang menutupi meja belajar
  • 1 genggam alat tulis di sela-sela buku
  • Beberapa tempat pensil di sela alat tulis
  • 1 kursi meja belajar
  • 1 kelompok baju habis dipakai di punggung kursi
  • Beberapa tas di atas kursi
  • 2 lemari baju
  • Beberapa bulatan baju yang akan tumpah saat lemari dibuka
  • 1 meja rias
  • 1 genggam aksesoris yang tersebar
  • Selaci dalaman yang saking berantakannya kelihatan kayak perca sisa jahitan
  • 1 rak buku dengan setengah centi debu
  • Kumpulan dari barang-barang di atas selain kasur, lemari, meja rias, dan rak ditambah setumpuk mainan dan segunung sampah di lantai.

Dengan catatan: luas kamarnya hanya separo luas kamar gue. Betapa hebatnya adek gue, meletakkan dua kali lebih banyak barang dalam kamarnya. Ckckck. Kamar itu dibuat setelah gue protes habis-habisan dan orang tua gue capek mendengar gue berantem tiap hari saat kita masih sekamar.

Adinda cowok gue, karena baru kelas 3 SD, belum menghasilkan apapun dalam kamarnya kecuali berkotak-kotak mainan dan laci baju yang berantakan akibat asal tarik. Semoga saja dia akan mau belajar merapikannya sendiri :'''' (

Baru akhir-akhir ini, kita sama-sama belajar untuk bisa jadi lebih rukun, terutama sama Saras. Alasannya sederhana, dia udah kelas 7 sekarang dan mulai benar-benar menjadi cewek. Alasan lainnya: dia punya pacar, and she wants to has someone to share with.

Meski sifat kami bertiga sangat berbeda (satu yang sama: sama-sama ngeyel), orang tua kami tetap memberlakukan aturan yang sama dan mengajarkan pada kami esensi yang sama dari keluarga yang mereka bentuk.

  1. Percayalah kalau Allah itu ada dan selalu tahu baik buruknya kalian
  2. Jangan jadi pemalas
  3. Hargai orang lain sebagaimana kalian hargai diri sendiri, dan sebaliknya
  4. Jadilah orang yang tahu diri
  5. Hukum karma itu bukan kentut
  6. Apa yang Bapak dan Ibu sampaikan juga bukan!

Simpel, improvisable, dan tepat sasaran. Begitulah.

Gue pribadi menganggap orang tua gue cukup cool. Mereka bisa berbaur dengan kehidupan kami, tanpa kehilangan citra teladan dan wibawa sebagai orang tua. Satu hal lagi yang gue suka: mereka tidak malu mengakui kesalahan, pada anak-anaknya sekalipun. Mulai dari kesalahan yang konyol sampai yang serius, mereka selalu terbuka, bicara, dan berharap kami tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi.

Overall, hidup dalam keluarga gue membuat gue merasa terhibur oleh pertunjukan srimulat tiap hari. Seperti dialog di suatu siang sepulang gue sekolah ini:

Ibu : Pak, John Travolta itu cakep lho..

Bapak : Nggak ah.

Ibu : Masa sih? Cakep ah!

Bapak : Nggak! Cakepan aku lah..

Ibu : Idiiih, kucing juga tau dia lebih cakep!

Bapak : Kan yang jadi suamimu aku, bukan dia. Berarti aku dong lebih cakep.

Gue : zzzzzz….

Postingan berisi kumpulan cerita srimulat akan menyusul kemudian ; p

Beranjak besar, gue baru sadar, betapa gue beruntung punya orang tua yang sadar pentingnya membiasakan anak untuk disuruh sejak kecil. Terhindar dari kemanjaan yang nggak perlu dan menyebalkan, bisa merasakan enaknya jadi orang mandiri, dan pastinya, lebih terampil mengerjakan kerjaan-kerjaan rumah.

So, nggak ada cerita anak-anak orang tua gue bakal kelabakan mengurus diri sendiri kalau sudah saatnya nanti ngekos, misalnya (apalagi Saras, gue percaya Ibu kosnya yang mungkin kelabakan, bukan dia hehehe jangan deng yaa, belajar rapi doong kamuu aduuuuh).


Picture :
Waterloo, Vik O

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.